Bertandang ke Karaton Solo Surakarta Hadiningrat

Perjalanan saya mengunjungi Karaton Surakarta Hadiningrat agak terhambat karena insiden kebakaran di Pasar Klewer. Beberapa jalan menuju Karaton ditutup agar tidak menghalangi akses petugas pemadam dan pihak terkaitke Pasar Klewer. Lokasi kebakaran memang masih dalam area kekaratonan. Luas memang.

Naik taksi maupun naik becak, sang pengemudi tak mahal memberikan berbagai macam informasi mengenai area kekaratonan ini. Dari mulai masuk area pemukiman warga. Beberapa rumah dalam satu area yang dibatasi dengan satu pintu besar sebagai pintu masuk. Mungkin ibarat satu RT gitu kali yah.

Awalnya saat melewati satu jalanan yang kanan kiri tembok putih besar, terdapat beberapa pintu layu besar yang tertutup. Saya pikir, wah besar sekali rumah rumah di daerah dekat karaton, pintunya saja sebesar ini, tapi kenapa gak ada jendelanya ya? Tembok saja dengan satu pintu besar.

Ketika melewati beberapa pintu besar yang kebetulan terbuka, ternyata di dalamnya terdapat jalanan lagi dengan sejumlah rumah rumah penduduk. Oalaah, pintu pintu besar ini semacam cluster mini tooh..

Supir taksi menurunkan saya di depan loket pembelian tiket masuk di area belakang karaton. Tk jauh dari loket tiket, ada pintu besar tertutup yang di depannya dijaga oleh dua orang abdi dalem (bener gak sih namanya abdi dalem?!). Beberapa wisatawan bergantian berfoto di depan pintu besar tersebut bersama kedua abdi dalem.

20150107-163014.jpg

Di bagian depan pintu masuk area Karaton dan Museum Karaton, ada patung besar Sultan Hamengkubuwono X yang juga ramai dijadikan spot foto oleh wisatawan.

Memasuki area karaton yang berupa halaman dan pendopo, ada beberapa peraturan yang mesti dipatuhi. Tidak boleh mengenakan kacamata hitam, tidak boleh mengenakan topi, berpakaian sopan, dan mengenakan sepatu. Okeh, meski panas banget, topi kipas beserta sunglasses saya ini mesti masuk ke tas dulu. Untungnya udah browsing sebelum kemari, jadi pas make celana panjang dan kaos berlengan serta sneaker.

Tapi tenang aja, untuk yang mengenakan celana/rok pendek, akan dipinjamkan kain batik (seperti saat mengunjungi Pura Besakih di Bali). Untuk yang mengenakan sendal, maka sendal harus dititipkan dan masuk area karaton tanpa alas kaki alias nyeker!!

Sebagai orang Jawa (yang lahir, tumbuh besar di Jakarta), saya memahami aturan ini. Apalagi Solo yang masih menjunjung tinggi nilai kesopanan. Berpakaian itu ya mesti tertutup sampai ke mata kaki. Untuk alas kaki, sandal dianggap sebagai alas kaki yang dikenakan di dalam rumah dan saat le toilet, sehingga tidak diperkenankan masuk ke area karaton yang dianggap suci. Topi dan kacamata? Ah, nanti juga tau kenapa 🙂

image

Ini area halaman dan pendopo karaton. Satu satunya area yang diperbolehkan untuk dimasuki oleh wisatawan. Halaman yang sangat rindang meski pohon pohonnya memiliki daun jarang jarang. Suasananya adem dan sejuk. Padahal sebelum memasuki area ini, yang juga outdoor, rasanya mentari dan hawanya sangat panas! You dont even need hat and or sunglasses here..

image

Puas berfoto dan berkeliling, saya pun beranjak ke area museum karaton. Beberapa benda pusaka seperti kereta kencana, periuk nasi, dan lainnya dipamerkan di sana. Entah asli atau replika tapi hawa di area museum rasanya kental nuansa kleniknya, meski tidak ada kesan menyeramkan ya.

image

Keluar dari area museum, saya dihampiri satu tukang becak, ditawari diantar berkeliling area kekaratonan Surakarta ini. Herannya, meski banyak abang becak tapi yang menghampiri saya hanya satu orang saja. Respect others? Maybe.
image

Akhirnya saya meluluh, deal di angka Rp 20000 untuk sampai ke Kampung Kauman dengan melewati Pasar Klewer. Saya diantar ke pasar Klewer bagian belakang dan bagian depan. Ini bagian depan, meski sudah diberi police line, namun warga dan wisatawan tetap datang sekedar menonton, termasuk saya.

image

Tak jauh dari Pasar Klewer, adalah Masjid Agung Surakarta Hadiningrat. Si abang becak menawarkan diri untuk menunggu sementara saya masuk untuk mengabadikan momen. Saya hanya masuk hingga pekarangannya saja yang saat itu sangat ramai, bersamaan dengan jam sholat Dhuhur.

image

Setelah dari Masjid, kami pun langsung menuju kampung wisata batik Kauman. Abang becak, lagi lagi menawarkan diri menunggu. Ingat pengalaman sulitnya mnencari taksi, saya pun mengiyakan tanpa bernegosiasi harga. Yaudahlahyaaaa…

image

Saya pun keluar masuk beberapa showroom hingga 2,5 jam!!! Ya ampun, gak kerasa bangeets!! Hehehe… Akhirnya saya pun diantar abang becak yg sudah rela menunggu tanpa protes ke tempat teman saya memarkirkan mobilnya. Di perjalanan ia bertanya apakah saya berbelanja di showroom yang terakhir saya datangi. Rupanya, abang becak ataupun supir taksi yang mengantar pelanggan ke showroom tersebut dan terjadi pembelian, maka mereka berhak atas sekian persen rupiah dari total belanjaan si pelanggan. Sayangnya, si abang becak tak diberi uang sama sekali padahal belanjaan saya dan teman saya di sana lumayan, mencapai jutaan!

Advertisements

Kampung Batik Solo, Kampung yang sadar pariwisata

Setelah Pasar Klewer, Kampung batik Laweyan dan Kauman adalah toplist tempat yang harus banget dikunjungi buat pecinta batik. Pada awalnya kedua kampung ini adalah rumah para pembatik yang biasa memasok kain dan pakaian jadi batik ke pasar Klewer.

image

Kemarin Minggu, Pasar Klewer terbakar hingga satu harian penuh. Sulit memadamkan api karena selain bangunan, kain-kain batik berlapis malam juga membuat api sulit dipadamkan. Saya berkunjung ke sana, dalam perjalanan mengeksplorasi area Karaton Surakarta.

image

Kampung Wisata Batik Kauman berada dekat dengan Pasar Klewer dan masih dalam area Karaton Surakarta. Kamu bisa naik becak dari Karaton Surakarta ke Kauman. Ada beberapa showroom yang hanya menjual kain dan pakaian jadi. Ada pula yang juga mempertontonkan proses pembuatan batik. Ada juga toko yang yang sekaligus memamerkan beragam jenis motif batik, seperti halnya museum batik Kauman. Harganya sangat beragam, dari yang ratusan ribu hingga jutaan.

image

Kampung Wisata Batik Laweyan, lokasinya rada jauh dari Kampung Wisata Batik Kauman. Sama halnya seperti di Kauman, Kampung Laweyan pun memiliki daya tarik yang hampir sama. Saya berkunjung ke Omah Laweyan dan menurut saya, motif batik yang ditawarkan lebih saya sukai daripada yang dijajakan di Kauman. Namun emang harganya juga lebih mahal. Kata supir taksi yang mengantar saya, di Omah Laweyan memang cenderung lebih mahal. Ada lagi toko di Laweyan yang harganya lebih murah tapi saya belum sempat ke sana.

image

Solo memang pantas dijuluki kota batik. Sebenarnya tak hanya di Kauman, Laweyan, Danar Hadi, maupun di Pasar Klewer saja, tapi tampaknya di setiap jalan ada toko batik. Ini juga yang menjadikan Solo sebagai kota yang sarat budaya. Batik dan kekaratonan bisa menjadi pusat daya tarik wisatawan dan berdampak secara langsung pada perkembangan ekonomi masyarakatnya. Jika dan hanya jika semua elemen pemerintah dan penduduknya juga sudah sadar pariwisata.