Menginap di LOB (Live On Board) bertabur gemintang di langit Flores

Kali ini saya mau bercerita pengalaman saya berlibur dengan tinggal di kapal di salah satu spot Indonesia Timur. Eh ini beda dengan tinggal di kapal cruise yang mewah seperti di film-film, atau tinggal di kapal ferry yang biasanya untuk menyeberang antar pulau lhoo…

Ini penampakan kapal LOB kami yang sedang bersandar di Pulau Gili Laba Darat

Ini penampakan kapal LOB kami yang sedang bersandar di Pulau Gili Laba Darat

Jadi, saya dan sepuluh kawan baru saya pernah ikutan open-trip menjelajah di kepulauan Komodo, Flores, NTT dengan menggunakan kapal LOB (Live On Board), di pertengahan 2014. Kapal yang digunakan sejenis pinisi mini. Kapal ini memiliki empat ruangan tidur, satu ruangan pengemudi/kapten, dua toilet, dan satu dapur, serta satu dipan serbaguna (bisa untuk santai, duduk-duduk, ruang makan bersama, kalau malam jadi tempat tidur para awak kapal), juga dek kapal yang bisa digunakan untuk bersantai, berjemur, maupun menikmati taburan gemintang di malam hari.

Kalau siang hari, kami biasa berkumpul di dipan panjang serbaguna ini..

Kalau siang hari, kami biasa berkumpul di dipan panjang serbaguna ini..

Kami, bersebelas, plus satu kapten dan tiga orang awak kapal, serta satu guide lokal tinggal bersama di satu kapal ini selama kurang lebih 4 hari tiga malam. Sebenarnya lebih pas disebut tiga hari tiga malam sih, karena hari pertama dan terakhir gak sampai setengah hari pun.

Sunset yang menyambut kami dalam petualangan LOB ini :)

Sunset yang menyambut kami dalam petualangan LOB ini 🙂

Ada beberapa aturan tinggal di kapal ini. Pertama, harus hemat air! Iya, kami mandi dengan air tawar yang khusus dibawa dari Labuan Bajo. Sementara itu, untuk urusan siram menyiram feses, kami menggunakan air laut. Sanking mesti berhemat air tawar banget, kami pun hanya mandi satu hari sekali saja, hahaha.. Jorok? Engga lah! Begini lho kira-kira aktivitas keseharian kami selama LOB: Bangun tidur, cuci muka, sikat gigi, ganti baju, sarapan, lalu trekking di pulau-pulau. Lalu balik ke kapal, bergerak lagi, dan nyebur ke laut. Naik ke kapal, makan, kapal bergerak ke spot lain, trus berenang lagi. Gitu terus sampai sore, baru deh mandi pake air tawar, hehehe…

Demi berhemat air tawar, mandi pun dilakukan di luar toilet, hahaha... x))

Demi berhemat air tawar, mandi pun dilakukan di luar toilet, hahaha… x))

Kedua, listrik hanya dinyalakan di waktu-waktu tertentu, yakni petang hingga dini hari. Dan karena listriknya menggunakan diesel maka aliran listriknya pun ga stabil. So, you better prepare yourself with powerbank. Jadi, nge-charge gadget dengan powerbank yang sudah dicharge semalaman pada listrik dari diesel itu. Lumayan lah kita bisa survive! Karena gadget smartphone ga banyak ngabisin batre juga karena di sana tuh signal jarang, hehehe… Ohiya, ga ada AC pun! Tapi tenang, ga butuh AC juga karena dengan buka jendela, angin cepoi-cepoi pun mampu meninabobokan kami.

Salah saut penampakan kamar mungil kami yang terletak di bawah dipan atas..

Salah satu penampakan kamar mungil kami yang terletak di bawah dipan atas..

Di ujung lorong itu adalah toilet mungil kami berukuran 50x50cm kayaknya, hehehe.. dan di pinggir ini lah kami menjemur pakaian renang kami

Di ujung lorong itu adalah toilet mungil kami berukuran 50x50cm kayaknya, hehehe.. dan di pinggir ini lah kami menjemur pakaian renang kami

Ketiga, be effective be efficient! Terutama juga soal tempat. Ini kapal memang kecil dan mestinya ya cukup menampung kami belasan orang. Tapi emang dasar orang kota biasa di tempat yang luas ya mesti adaptasi juga. Kamar tidur itu cukup untuk berdua. Artinya, cukup untuk dua orang tidur selonjoran, saja. Iya, ga bisa deh tuh kamu tidur dengan berbagai macam gaya, sempit cin! Kira-kira hanya 2m x 1m x 2 m. Untuk kamar saya, lebih sempit lagi karena diperuntukkan empat orang dengan tempat tidur tingkat. Saya kebetulan dapet kebagian tidur di kasur bawah, bangun tidur mesti pelan-pelan kalau ga mau kepala terbentur tempat tidur atas, hehehe…

Mau berfoto dengan view yang OK?! Wah, segambreng banget view bagus di mari... Motret ngasal juga jadinya WOW! :)

Mau berfoto dengan view yang OK?! Wah, segambreng banget view bagus di mari… Motret ngasal juga jadinya WOW! 🙂

Keempat, enjoy your trip! Seriously, ini pengalaman yang asik banget! Selain pemandangan yang ga abis-abis bikin terpana, udara yang segar, makanan buatan para awak kapal ini enak-enak banget! Entah berlebihan atau kami yang emang ga ada pilihan lain juga dan laper. Tapi kayaknya emang enak-enak banget ya. Ga melulu disuguhin makanan laut, seringnya malah makanan internasional. Ya, mungkin karena para awak kapal lebih sering punya client turis asing ketimbang lokal.

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Selamat makan :)

Selamat makan 🙂

Kelima, always prepare for the worst case! Hmmm, this might be a very rare moment, but this happened to us. And we’ll never forget it! Kejadiannya pas di hari ketiga, sore-sore, lagi bengong antara capek abis trekking di dua tempat dan abis berenang juga, abis ngemil-ngemil lucu, kapal pun bertolak menuju Pulau Kalong. Ngejar sebelum sunset untuk dapetin momen kalong beterbangan dengan latar sunset gitu.

BRAK! Tiba-tiba kapal oleng, yang lagi pada bengong pun shock langsung cari pegangan, beberapa barang yang berada di atas dipan dan meja pun bergulingan ke satu sisi oleng kapal. Saya yang saat itu lagi megang DSLR milik saya bergegas memasukannya ke drybag saya, juga DSLR teman saya yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan saya. Antisipasi kapal oleng dan kita mesti nyebur bersama barang-barang gak tahan air ini. Beberapa awak pun sibuk turun ke air dan kapten berusaha menyeimbangkan kapal dengan memberikan instruksi di sisi mana kami harus berdiri. Seisi kapal panik, well, at least, kami, si anak kota bersebelas ini jelas PANIK! Sementara kapten masih bisa hahahehe, juga para awak kapal terlihat biasa saja. Setelah kapal sedikit terkendali, kapten pun turun ke air. Oh my God! Kapal pun dinyatakan karam karena menabrak karang!

Well yess, kami pun mesti mengurangi beban kapal agar kapal bisa didorong menjauhi karang. Dan satu ember gentong besar berisi air tawar yang sudah kami hemat-hemat itu pun harus dibuang isinya. Huhuhu, cedih! Padahal ini malam terakhir untuk bisa agak puas menggunakan air tawar itu untuk mandi. Setelah kondisi kapal lumayan stabil, kami mencoba cari bala bantuan, dengan teriak-teriak dan melambaikan handuk ke arah kapal manapun yang terlihat di jangkauan mata kami. Singkat cerita, kapal karam kami berhasil diselamatkan oleh kapal daruratnya Black Manta (kapal LOB juga tapi yang kelas VVIP gitu, jauh lebih besar, mewah, gagah, cruise-nya Flores deh nih!).

Nah, itu ruangan sang kapten mengemudikan kapal

Nah, itu ruangan sang kapten mengemudikan kapal

Ketua rombongan kami, Mas Dito justru yang kelihatan paling panik. Ia pun bergegas menelpon pihak agen wisata yang berada di kota dan meminta agar kami bisa bermalam di Labuan Bajo saja sebagai pertanggungjawaban. Kejadian ini ternyata menyinggung sang kapten kapal, si orang Flores asli. Kami pun ditegur karena dianggap tidak memercayai dia dan timnya untuk bisa solve problem. Drama bergulir, kami diem-dieman, hahahaha… Tapi akhirnya mencair juga karena kami semua ternyata lapar x)))

Sungguh pengalaman yang ga bakalan terlupa deh… x)))

*All photographs courtesy of Mas Dito, Mba Fidia, Kak Anita, Kak Felona, and me.

Advertisements

Double trekking at Taman Nasional Kelimutu

IMG_7983

Yeheeyyy…. Akhirnya kami tiba juga di puncak view point dari Gunung Danau Kelimutu, Desa Moni, Kabupaten Ende, Flores, NTT ini. Hmmmm, tapi mana Danau Kelimutunya ya? Sejauh mata memandang hanya kabut putih saja yang terlihat. Memang, saat itu masih pukul 5.30 pagi, cuaca mendung sesekali gerimis, kabut pun masih enggan beranjak menyelimuti area Taman Nasional Kelimutu hingga kami tidak bisa melihat yang mana danaunya. Ditemani para monyet gunung yang berkeliaran dan menjadi objek foto, kami dan wisatawan lain pun menanti hingga kabut naik.

Pagar pembatas area danau yang tertutup kabut

Satu malam sebelumnya, kami menginap di salah satu losmen warga lokal di Desa Moni. Ini merupakan desa yang lokasinya paling dekat dengan Taman Nasional Kelimutu, spot wisata wajib kunjung jika Anda bertandang ke Kabupaten Ende, Flores, NTT. Ryan, Guide plus driver kami, menjemput di penginapan sekitar pukul 4 pagi untuk mulai trip ke TN Kelimutu ini agar kami bisa mendapatkan momen matahari terbit di atas tugu view point TN Kelimutu.

Meski saat itu cuaca kurang cerah, alias mendung disertai hujan rintik-rintik, kami toh tetap melanjutkan rencana perjalanan kami. Tiba di lokasi parkir TN setengah jam kemudian dan kondisi suhu udara dingin mencekam disertai hujan. Ah, tak ada satupun dari kami yang berani turun keluar dari mobil. Bbrrrrrrrr…….!!

hutan arboretum

Sekitar pukul lima pagi, hujan sudah mereda dan kami pun memutuskan untuk memulai pendakian. Trek menuju view point sudah tersedia, wisatawan tinggal mengikuti saja alur jalan setapak dan papan penunjuk jalan yang terpasang di sepanjang trek.

Selain Danau tiga warna, kawasan wisata ini juga merupakan hutan Arboretum dengan koleksi floranya. Jalur pendakian dimulai dengan jalan setapak masuk hutan yang rimbun. Meski dilatarbelakangi kisah mistis pada ketiga danau berwarna Kelimutu, namun kawasan wisata ini tidak terkesan mencekam dan mengerikan koq.

View point pertama

Setelah berjalan kira-kira lima ratus meter, kami pun tiba di view point pertama. Di sini kami menikmati pemandangan salah satu danau berwarna Kelimutu, yakni yang terletak paling rendah bernama Danau Tiwu Ata Mbupu, atau danau jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Bersebelahan berbatas sedikit celah diantara dinding keduanya adalah Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, atau danau untuk jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Dari view point pertama, kedua danau ini sudah bisa terlihat, meski Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai belum terlihat sepenuhnya.

Trekking lagi ke view point tugu puncak, barulah bisa melihat ketiga danau. Yang terletak di paling timur atau paling atas adalah Danau Tiwu Ata Polo atau danau untuk jiwa-jiwa orang jahat yang telah meninggal. Danau ini terlihat paling mencekam warna dan auranya. Ketiga danau ini diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh-roh orang yang sudah meninggal dan diyakini memiliki kekuatan alam yang sangat besar.

Tidak ada yang tahu pasti kedalaman dari ketiga danau Kelimutu ini. Beberapa kali penelitian dengan berbagai metode dilakukan tak juga membuahkan hasil. Salah satu usahanya dengan menenggelamkan tali dengan pemberat ke dalam danau namun tali tersebut pun akhirnya tenggelam. Konon memang segala sesuatu yang sudah terjatuh ke dalam danau tak bisa naik lagi, dari benda-benda kecil hingga besar sampai manusia. Keterangan kedalaman yang tertera di papan informasi hanyalah perkiraan saja dari kesimpulan penelitian yang telah dilakukan.

Danau ini tak pernah kekeringan juga kebanjiran, apapun musimnya. Ketiga danau ini memiliki warna yang berbeda-beda satu sama lain dan kerap berubah warna dari waktu ke waktu. Para ahli geologi percaya perubahan warna ini disebabkan karena kandungan mineral vulkanik, lumut di dalam danau, juga dari pedar cahaya matahari. Pada saat kami mengunjunginya, warnanya yakni hijau toska, hijau lumut, dan merah cokelat pekat. Meski demikian, cerita mistis mengenai ketiga danau ini masih dipercaya oleh penduduk di Flores.

trek ke view point puncak

Puas menikmati pemandangan di view point pertama, kami pun melanjutkan trekking ke puncak tugu view point. Jalannya lebih menanjak tapi sudah dilengkapi dengan tangga dan pagar pembatas. Sejauh tidak iseng melewati area yang tidak disarankan sih aman-aman saja. Tiba di atas sudah ada beberapa wisatawan yang didominasi dengan wisatawan asing.

Ya, kawasan Indonesia Timur, termasuk TN Kelimutu ini memang lebih menarik minat wisatawan asing ketimbang domestik. Mereka seperti ada di mana-mana. Seperti saat kami baru mau berangkat dari penginapan, tahu-tahu sudah ada satu bule perempuan di mobil yang kami carter. Lho!

Sebagai tuan rumah yang baik, kami bersedia berbagi kendaraan dengan si bule kere ini. Namanya Anna, bekerja di salah satu NGO di Kupang. Sepanjang perjalanan di mobil, ia banyak bertanya mengenai beberapa spot wisata di Indonesia. Salah satu yang saya ingat, ia bertanya tentang Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di Kota Semarang. Wow! Bahkan wisatawan lokal saja mungkin masih lebih tertarik ke Masjid Istiqlal di Kota Jakarta Pusat karena kesohorannya. Padahal, menurut saya, Masjid Agung Jawa Tengah ini lebih menawarkan keunikan untuk menarik wisatawan seperti adanya payung raksasa bak di Masjidil Haram, Arab Saudi, juga menara Masjid untuk bisa melihat Kota Semarang dari ketinggian.

prasasti di atas view point puncak

Setelah kira-kira satu setengah jam menunggu dan kabut masih setia terbang rendah, wisatawan asing pun sudah banyak yang meninggalkan area view point utama ini. Tersisa beberapa wisatawan lokal yang karena kesamaan nasip (gagal mendapatkan momen sunrise di atas puncak view point Kelimutu untuk difoto), yang berujung pada selfie bersama, hahahaha… Yayayaa…. Ada hikmahnya juga nunggu lama, jadi nambah teman baru 🙂

para penjaja di atas puncak gunung kelimutu

Anyway, di atas view point ini, ada seorang ibu berjualan kudapan pagi seperti Popmie, kopi seduhan, jambu kelutuk (iyah!), dan lainnya. Juga ada lapak jualan kain tenun khas Flores. Sambil menunggu, kami pun menyeduh Popmie yang dibanderol seharga sepuluh ribu rupiah (harga di akhir Mei 2014). Air seduhan yang mendidih ini segera mendingin karena suhu udara di atas sana. Mesti hati-hati memang, kayaknya sudah mendingin tapi koq lidah serasa terbakar, hehehe…

Atas saran guide kami, dan juga banyak wisatawan yang turun gunung, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Desa Moni dan kembali lagi saat cuaca sudah cerah. Kami kembali ke penginapan untuk sarapan dan beristirahat.

Sekitar pukul sepuluh pagi, kami kembali ke TN Kelimutu. Saat itu, kabut sudah naik, suhu sudah lebih bersahabat, dan keindahan ketiga danau berwarna Kelimutu pun sudah dapat dinikmati (dan difoto, tentunya).

IMG_7962

#FloresTrip : Meet the KOMODO !!

26 Mei 2014.

Loh Buaya, Pulau Rinca, merupakan lokasi pusat kunjungan wisatawan yang mau melihat komodo, si reptil purba raksasa dari jarak “dekat” di habitat aslinya. Selain di Pulau Rinca, ada beberapa pulau lagi habitat komodo di dalam TN Komodo ini yakni di Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Gili Motang, Pulau Nusa Kode, dan juga pulau-pulau lain yang lebih kecil. Meskipun demikian, komodo tak lagi ditemukan di Pulau Padar, jadi yang mau trekking di Pulau Padar, Insha Allah, aman (huuuff…). Luas TN Komodo sendiri mencapai 173 ribu hektar meliputi wilayah darat dan lautan. Hey, komodo bisa berenang lhoo.. Ati-ati yaa kalau lagi snorkeling di area ini.. Gak deng, katanya sih sudah jarang ditemukan komodo yang asik berenang di spot snorkeling di area TN Komodo ini 😀

IMG_5305Bersebelas di Dermaga Loh Buaya

file000483Our boat

Kawasan ini ditetapkan menjadi TN Komodo sejak tahun 1980. Kemudian ditetapkan pula menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Beberapa tahun lalu, tepatnya 2011, kawasan ini masuk dalam The New 7 Wonders, bersama dengan Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain.

IMG_0633_OKLoh Buaya sendiri merupakan kawasan yang berbukit dengan hutan hujan, padang savanna, dan pantai.

file000335file000339Inget, Komodo bukan Komedi, apalagi Komedo.. Hahahaadeuhh.. :p

Komodo sendiri merupakan hewan berjenis reptil purba yang kini terancam punah. Oleh karena itu, Taman Nasional Komodo dibangun untuk menjaga habitat asli, meneliti, dan melindungi komodo dari kepunahan. Saat kami ke sana, ranger (sebutan untuk guide di TN Komodo) mengatakan total tersisa dua ribuan komodo tersebar di area TN Komodo, terutama di hutan hujan, area savanna, dan di pinggir pantai. Komodo adalah hewan karnivora atau pemakan daging, termasuk bangkai binatang yang sudah mati. Umumnya mereka hanya memakan sesama hewan pula, tapi kalau ia sangat lapar atau ada kondisi yang menyebabkannya menjadi lebih agresif, ia bisa pula menyerang manusia. Jangankan pengunjung atau peneliti, komodo pun beberapa kali menyerang sejumlah ranger.

file000364Si Kolor Ijo lagi bermales-malesan di walking track. Komodo satu ini diberi tanda cat hijau di tubuhnya karena sudah menyerang korban dalam beberapa waktu terakhir, salah satunya ranger di TN Komodo sendiri 😥 Itu penampakan Bendi, guide kami.

file000358See that monkeys? Itu hewan makanannya si komodo. Mereka dan juga hewan-hewan hutan lain seperti ular, babi hutan, burung, dll dibiarkan hidup bebas untuk (secara bebas pula) dimangsa oleh komodo. TN Komodo memang tidak secara khusus memberikan santapan secara rutin kepada komodo, katanya mah biar gak ngemanjain komodonya. Ntar makin males nih hewan disuapin makanan, jadi memang dikondisikan senatural mungkin di habitatnya. So, kalau lapar mau makan, buru sendiri mangsanya, berantem rebutan dulu antar sesama komodo.

file000368Salah satu komodo lagi “bersantai” di depan guest house. Pintu itu harus selalu tertutup, pintu kamar, pintu dapur, pintu kantor TNK.. Ya agar komodo gak nyelonong masuk. Bahaya!!

Komodo ini hewan pemalas, kata ranger kami. Setiap hari hanya tidur-tiduran saja, slow moving. Tapi, kita manusia harus terus waspada pada setiap komodo yang kami temui. Memang terlihat sangat malas, tapi bisa jadi ia sedang berkonsentrasi mengincar mangsanya. Kelihatannya anteng ga bergerak, dalam sekejap tau-tau bisa berlari mengejar mangsa. Uniknya, komodo menggunakan lidah untuk mencium bau, hingga jarak 5 kilo. Dan di lidahnya itu berlumur air liur dengan segambreng bakteri yang mematikan. Jadi kalau kena gigit, bukan robekannya yang mematikan, melainkan bakteri yang terkandung di air liurnya yang bikin mati. Gila emang nih hewan purba satu! Gokils!

IMG_0645_OKBeberapa sisa santapan komodo

Untuk para perempuan, please note, jangan kemari saat lagi haid. Kalaupun pas kebetulan lagi haid, stay ajah di kapal ya! Ya sayang sih, udah jauh-jauh ke Flores tapi ga ketemu Komodo, tapi lebih sayang nyawa kan yah?! Hehehe… Kalau masih sempat, coba pergi ke apotek beli obat untuk memperlambat datangnya haid. Kebetulan reptil purba satu ini cukup sensitif dan bisa jadi agresif kalau mencium bau darah.

file000342Jalan setapak menuju kantor TNK dan walking track TNK

IMG_7416Ibu calon menteri foto dulu depan kantor TNK :p

Turun di dermaga, kami disambut seorang guide lokal TN Komodo untuk mengikuti jalan setapak menuju kantor TNK. Setelah melapor di kantor TNK, kami melanjutkan trekking ditemani oleh seorang ranger. Ia membawa kami ke sebuah papan berisi peta Loh Buaya dan lima pilihan jalur trekking (2 short trekking, 2 medium trekking, dan 1 long trekking). Selain meminta kami untuk memilih jalur trekking yang ingin kami lewati, ranger juga memberikan brief singkat mengenai Dos and Donts selama berada di kawasan Loh Buaya ini. Sebagian dari kami memilih jalur trekking paling pendek (karena masih berasa capek trekking tiga jam pagi hari tadi).

file000354Ini ranger kami (saya lupa namanya -__-*) lagi ngasih brief singkat soal lima pilihan jalur trekking yang bisa dilalui.

???????????????????????????????Kami yang banyak nanya ini itu dan bapak ranger yang gak lelah ngasih brief singkat DOs and DONTs selama di area TNK ini.

Di area ini pula, terdapat cafetaria, dapur, dan guest house. Belum jalan trekking, kami sudah bertemu sekumpulan komodo sedang bermalas-malasan di bawah dapur. Ya, aroma masakan tak hanya menggoda hidung manusia, komodo pun betah berada di dekat area dapur. Bagi yang juga malas ikut trekking, bisa stay nunggu di cafetaria sambil menonton sekumpulan komodo di dekat area dapur. Tapi jangan berharap banyak di cafetarianya karena hanya menjual snack ringan, minuman kemasan, mie instant kemasan (tidak bisa sekalian dimasakin), juga beberapa aksesoris buah tangan seperti kaos, stiker, gantungan kunci, boneka ala TN Komodo. Kalau tujuan utama kemari hanya mau lihat komodo saja sih ya sudah terpenuhi nih tanpa trekking yang short trek pun.

file000374Ini dapur. Lihat apa yang lagi gegoleran bermalas-malasan di bawahnya!!

file000430Ini si Kolor Ijo, lihat tanda di badannya. Kecil amatan yak, tapi ya mungkin nandain gitu aja juga susah bin ngeri sik.. Hiii…

Rombongan kami pun mulai berjalan. Baru seratusan meter berjalan, kami sudah tiba area liang telur komodo. Pada spot ini, komodo betina menyimpan dan menetaskan telur-telurnya. Musim menikah bagi komodo hanya setahun sekali. Komodo adalah hewan yang setia, tidak suka berganti-ganti pasangan, kecuali pasangannya mati dimangsa komodo lain ia cenderung tak berganti pasangan. Setia, sekaligus jahat juga. Jika sedang lapar dan ga ada mangsa, telur-telur komodo saat menetas bisa langsung disantapnya. Eeerrgghh! Kejam!

file000393Salah satu liang penyimpanan dan penetasan telur Komodo. Kata ranger, pada saat kami ke sana, bukan di masa kawin dan nyimpen telur jadi itu liangnya juga kosong. Bikin liang ini juga tidak mudah bagi Komodo, mereka mesti rebutan ama hewan lain dan juga dengan sesama komodo. Arti “rebutan” bagi komodo itu ya bertarung nyawa, yang survive tetap hidup lah yang akan dapet hal yang direbutkan (liang telur, komodo betina, mangsa, dll).

file000452Salah satu anak komodo usia di bawah satu tahun lagi asik tiduran di atas pohon. Ini kami temukan di pohon tepat depan kafetaria.

Anak komodo yang baru bertelur secara otodidak belajar memanjat pohon untuk survival, menghindari komodo-komodo dewasa lapar yang bisa memangsanya. Selama baru menetas hingga usia dua tahun, anak-anak komodo akan langsung terpisah dari orangtuanya dan survive sendiri di atas pohon.

file000420file000396Aslik deh, ngeliat mereka ini jalan-jalan, ngerinya setengah matik! Gak kebayang mereka lari. Duh, bisa pingsan di tempat kali gw.. hehehe..

Kalau suatu hari ketemu komodo dengan perut menggembung lagi asik tidur-tiduran di bawah matahari yang lagi menyengat, kemungkinan besar dia lagi “masak”. What? Gimana maksudnya? Kalau manusia mau makan daging kan biasanya dimasak dulu yaah di kompor. Kalau komodo masaknya saat itu daging udah ada di dalam perutnya. Agar dapat dicerna lebih baik, ia akan mencari tempat yang panas dan tidur-tiduran di sana. Komodo mah ga setiap hari makan, jadi makanannya disimpan dan dicerna secara bertahap di dalam lambungnya.

IMG_7482Lihat muke saya, super ngeriii…. 😀

IMG_7500Saya dan beberapa teman rasanya sudah puas berjalan sampai di liang bertelurnya komodo. So, kami berjalan balik ke arah dapur untuk motret komodo di sana. Sementara itu, lima dari kami meneruskan trekkingnya. Bravooo kakak Setian, Tasya, Siska, Felona, dan Anita!! Mereka berhasil menyelesaikan short trekking full dan menemukan view yang luar biasa di atas bukit Loh Buaya! Very recommended untuk menyelesaikan full track (mau yang pendek, medium, maupun yang panjang).

IMG_0700_OKView dari atas bukit Loh BuayaIMG_0713_OKMereka yang berhasil menyelesaikan short track.. Wooohoooo!!

Untuk berfoto bersama komodo diperlukan keberanian tingkat tinggi. Saya sendiri hanya berani paling dekat sampai radius dua meter, hohoho… Bulu kuduk berdiri mulu, apalagi kalau komodonya lagi berjalan atau menatap tajam ke arah kita, hii… Terima kasih untuk Bendi, our guide, yang mau bantu foto-fotoin komodo dalam jarak yang lebih dekat lagi.

IMG_0656_OKLama kelamaan, berani juga foto dari jarak segini… Thanks Bendi! 😀

???????????????????????????????

Sampai jumpaaa lagii, Komodos…

*Some photos courtesy of Tasya, Anita, and Mas Dito.

#FloresTrip: Trekking di Pulau Gili Lawa Darat

25 Mei 2014. Ini malam pertama kami tinggal di kapal, bermalam di area Gili Lawa. Kami terbangun sedari subuh untuk menikmati permadani taburan bintang di atas sana. Beberapa dari kami memilih tiduran di atas dek kapal. Itu lukisan malam paling indah yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya kala itu. Puas memandangi langit hingga berganti gelap ke terangnya mentari terbit, kami pun bergegas menyantap sarapan pagi kami dan bersiap untuk trekking di Pulau Gili Lawa Darat.

Kawasan Gili Lawa ini merupakan pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Komodo. Selain bisa dicapai dari Labuan Bajo seperti yang kami lakukan, bisa pula berlayar melalui jalur laut dari Lombok. Gili Lawa ada dua bagian, Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Biasanya kapal-kapal yang mau berlayar ke TN Komodo bermalam di kawasan Gili Lawa ini agar tidak terkena angin malam dan arus lautnya cenderung lebih tenang.

Kapal LOB kamiIni kapal LOB kami selama 4D3N

Pukul 06.30 WIB, kapal kami pun bersauh, kami turun membawa perlengkapan trekking seadanya. Iya, seadanya aja, trekking mah gak perlu ribet bawa yang gak perlu: Alat dokumentasi, air minum, dan cemilan secukupnya (durasi trekking PP 2-3 jam). Wong dari trip agent-nya juga kurang detail menginformasikan mengenai medannya, jadi ya bener-bener seadanya ala orang kota banget. Memang medannya tidak berat tapi mungkin perlu ada penjelasan lebih detail agar, paling tidak, wisatawan tidak salah menggunakan alas kaki.

Pulau Gili Lawa DaratPulau Gili Lawa Darat (Kalau lihat begini, bukit savana yang landai kayaknya medannya gancil yah… aslinya maahh…. -____-“)

Medan trekking di Pulau Gili Lawa Darat ini cukup curam dan berbatu tajam. Perlu kesadaran diri yang tinggi untuk menilai kesanggupan diri naik ke atas sana. Tentunya kami naik pun didampingi guide kami, Mas Bendi. Ya tapi emang hanya bersama Bendi aja, sementara kami bersebelas. Bersebelas dengan kondisi fisik dan pengalaman yang beda-beda. Ada yang sudah terbiasa naik gunung, melakukan trekking, ada pula yang baru pertama kali. Ya, saya ini salah satunya! Iya, ini baru pertama kalinya banget! Karena tidak ada pengalaman sebelumnya, tidak ada bayangan pun mengenai medannya (Gaess, kalau sekedar lihat gambar di Google mah kayaknya gampang, landai aman gitu).

Setengah jam pertama mendaki, Belona memutuskan menunggu di bawah saja sementara ada satu orang yang terus melaju bersama guide kami. Iya, dari kami bersebelas, hanya Setian lah yang sudah pernah naik gunung, jadi sekedar trekking di bukit saja mungkin tidak sulit untuknya. Kami mempersilahkannya untuk terus melaju dan melaporkan pada kami pemandangan dari atas sana. Belasan menit kemudian, Siska dan Tasya memutuskan untuk tidak melanjutkan dan kembali turun.

IMG_4924Bersebelas, masih lengkap! Sampai di titik ini saja sebenarnya sudah bisa dapet view mainstream berfoto di Gili Lawa Darat 😉

Sebenarnya, untuk mendapatkan view populer Pulau Gili Lawa Darat tidak perlu hingga sampai ke puncaknya. Tapi namanya sudah jauh jauh sampai ke pulau ini, kalau tidak diusahakan semaksimal mungkin koq ya sayang gitu, hehehe.. Maka, kami yang bertujuh: Saya, Anita, Felona, Wiri, Jessica, Fidia, Dito pun terus melaju.

file000090

Kalo balik badan, foto di atas ini adalah view sebelah kanan. Sementara, foto di bawah ini adalah view samping kiri (yang bisa dinikmati sambil trekking naik, tengok sebelah kanan…). Kalau kata anak jaman sekarang, PETJAAAAHHH, Meeennn!!! <3<3<3file000087

Meski banyak berhenti untuk istirahat ambil napas dan foto-foto, kami persisten terus naik. Medan makin curam dengan bebatuan yang makin tajam, makin seringpula kami terperosok terpeleset terjatuh tertatih, kami terus melaju tanpa guide. Kebetulan Bendi, guide kami, sudah duluan sampai di atas sana bersama Setian. Saya berada di barisan paling depan, berjalan pelan-pelan, nyaris merangkak sanking curamnya, pandangan mata terus ke depan mencari jalan ke atas. Dalam hati terus bergumam, “Come on, don’t give up, dikit lagi sampaaii..” Hingga tiba di satu titik terlintas di pikiran “Ntar turunnya gimana ya, naiknya aja begini?”, saat itulah saya refleks menoleh ke belakang. Saya terhenyak terduduk, kaki gemeter, (katanya Anita yang tepat berada di belakang saya) muka pucat pasi. Mencoba terus tenang dan mencari pijakan dan pegangan pada bebatuan yang ajeg. Seketika itu pula, Anita refleks juga menoleh ke belakang dan bereaksi yang kurang lebih sama seperti saya, shock dengan ketinggian dan kecuraman yang sudah kami lalui dan jadi ngeri sendiri.

“Gimana nih? Lanjut ga?”, saya meragu, karena udah tinggal sedikit lagi sampai puncak bukit tapi treknya makin curam dan tajam.

“Eerr… Gw sampai sini aja deh..”, ujar yang lain.

Kami pun mencari pijakan yang agak landai dan berfoto bersama. Yeaah, we are the mid-trekking team!! We did it!! Bangga!

IMG_4968Bertujuh! Kami tim middle tracking!! Ini fotonya sambil deg-degan jaga keseimbangan… Megang Tongsis GoPro-nya aja mesti dua orang, hahaha…

Kalau naiknya kami setengah jongkok merangkak, maka turunnya pun kami sambil duduk memerosotkan diri. Sebenarnya bisa sih sambil berdiri tapi alas kaki kami tidak memungkinkan, terlalu bahaya. Metode paling aman menggunakan pantat sendiri, hahaha.. Meski tidak sampai atas dan melihat view di balik bukit ini dengan mata kepala sendiri, kami mesti cukup puas dengan pencapaian kami, anak-anak kota yang ga pernah trekking dengan alas kaki yang mungkin kurang proper. Tiba di kapal, nasi goreng telah menanti kami… Yeaaayyy!!

Ternyata Setian sampai kapal lebih dahulu, karena ia dan Bendi melalui jalur trekking lain yang lebih landai. Aah, lesson learned banget nih: Kalau ingin sampai puncak, ga perlu lah nengok-nengok ke belakang, jadinya malah ngeri sendiri dan kembali dikuasai ketakutan-ketakutan. Soal nanti turunnya gimana ya bisa dipikirkan lagi nanti, hihihi.. 😀