Belajar menghormati perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur

Puncak perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur selalu menarik banyak wisatawan, termasuk saya dan temen-temen saya yang belum pernah menyaksikan langsung. Tahun 2013 lalu, kami pun pergi ke Yogya, khusus untuk menyaksikan langsung perayaan umat Buddha langsung di Candi Borobudur. Sama dengan kebanyakan turis lainnya, kami pun menanti ritual pelepasan seribu lampion, yang menjadi penanda berakhirnya prosesi Waisak tahun ini.

Ritual prosesi ibadah Waisak biasanya sudah dimulai dari hari sebelumnya. Namun, biasanya ga banyak diikuti oleh para turis. Makin mendekat ke puncak perayaan, makin banyak turis yang ingin menonton.

Pada hari tersebut sedari pagi hari, sudah berlangsung prosesi kirab biksu dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, salah satu bagian dari prosesi Waisak. Beberapa jalan yang menghubungkan Candi Mendut dan Candi Borobudur pun ditutup sedari pagi. Kalau ingin mengikuti proses sedari pagi hari, pastikan sudah mempelajari rute utama dan jalan alternatifnya. Semakin sore, akan semakin banyak turis yang bergabung untuk menyaksikan. Kemacetan di jalan arah Candi Borobudur tak kan terhindari menjelang sore hari.

Beruntungnya rombongan kami dipandu oleh orang yang paham medan (bukan Medannya Sumut yak :p), sehingga kami ga terlalu lama kejebak macet.

Pastikan sudah tiba dan masuk area Candi Borobudur sebelum jam 5 sore, karena pada jam tersebut pintu masuk akan ditutup untuk persiapan perayaan prosesi puncak Waisak. Paling lambat banget satu jam sebelumnya sudah harus tiba, karena mesti spare waktu untuk ngantri tiket masuk dan jalan ke pintu masuknya.

Sekalian mau pengakuan dosa nih. Mestinya saat masuk ke area wisata Candi Borobudur, kami tidak diperkenankan bawa makanan, tapi kami malah menyelundupkan makanan yang sudah kami persiapkan. But we promise to not nyampah there. We did it! Di dalam area sana pasti akan lama sekali, paling tidak bocah-bocah yang bersama saya ini tak kan rewel soal haus dan lapar. :p

Saat memasuki area taman wisata Candi, sempatkan lah membaca tata cara jalan-jalan di area candi. Ada yang ngeh gak aturan jalan-jalan di Candi Borobudur? Jadi, ada aturannya nih Guys. Kalo masuk dari arah Barat, maka keluar/turunnya gak boleh dari Barat lagi, musti dari arah lain. Trus di setiap lantai mau muter, musti belok kiri dan berjalan searah jarum jam (jadi naik tangga, lalu belok kiri ngiterin candi), trus keluar/turun dari tangga arah yang berbeda dengan tangga masuk.

candi borobudur disterilkan dari pengunjung

Singkat cerita, kami tidak sempat naik ke candi karena sudah jam 5 dan area candi hendak disterilkan untuk persiapan prosesi. Kami pun beranjak ke area perayaan Waisak, panggung utama. Tim saya yang bersebelas ini pun berpisah sesuai dengan maunya masing-masing.

Saya dan dua orang teman mendapatkan spot asik di pinggir stage utama sebelah kanan. We were so excited!! Saat itu, sudah banyak pengunjung yang duduk-duduk memenuhi bibir stage bagian depan, banyak yang udah ready dengan alat perangnya: SLR cam + Tripod + aksesoris2 tambahannya.

pelataran stage utama

Panitia berpolo shirt “Buddhis Muda Indonesia” bikin amazed saat mereka membersihkan stage. Benda-benda asing, kerikil, daun-daun yang jatuh, serangga-serangga yang ada di atas stage, dipungut-pungutin. Detail banget. Segitunya musti bersih nih stage utama untuk dijadikan area prosesi puncak ibadah Waisak. Serangga yang belum mati, dipungut lalu dipindahkan ke pot bunga di pinggir stage. Dikembalikan ke habitatnya.

Suasana di belakang stage depan dan sekitar candi pun sudah ramai. Di sana, ada lilin-lilin kecil berpola yang siap dinyalakan. salah satu bagian pola bertuliskan “Happy Vesakday”.

lilin waisak

Tepat di depan deretan lilin-lilin juga sudah banyak pengunjung yang duduk-duduk sambil mengenakan payung. Sebagian diantaranya juga sudah ready dengan alat perang fotografinya. Mereka menunggu momen lilin-lilin dinyalakan dan para biksu berjalan mengitari area dalam candi melakukan prosesi Pradaksina.

candi borobudur

Kami jalan lagi ke arah depan stage, ceritanya mau dapet view pengunjung+stage utama+Borobudur. Usaha banget, jalan diantara ribuan orang. Diantara barisan pengunjung, panitia membelah kerumunan untuk jalan tamu-tamu kehormatan mereka menuju naik ke stage utama.
Sempat saat kami lagi nyari spot foto, panitia minta untuk bergeser buka jalan. Meski jadi berdesakan dengan yang lain, ya gapapa. Manut ama panitia. Apalagi panitianya sangat santun minta tolongnya. Malu dan gak tau diri lah kalau gak manut.

Akhirnya kami sampai di spot agak jauh ke belakang barisan pengunjung, persis menghadap stage utama. Meski jauh namun spot yang kami (saya lebih tepatnya) cari akhirnya kami dapatkan: view pengunjung+stage utama+Borobudur. Lalu kami duduk di area tersebut, beralaskan plastik yang sudah kami siapkan dan buka payung karena saat itu gerimisnya makin deras.

Di depan stage, panitia sudah menyiapkan karpet terpal orange untuk pengunjung duduk menikmati acara.

Pukul 19:30, hujan makin deras, emosi pengunjung mulai ga terkontrol karena acara tak kunjung dimulai. MC menenangkan pengunjung dan mengajak bersyukur atas berkah hujan yang turun. Ia menyebutkan “Hujan adalah berkah yang patut disyukuri”, ia juga mengingatkan akan ajaran Buddha mengenai pengorbanan.

Pengunjung menyambut dengan “Huuuu” keras.

Hah?! Saya siyok dengan reaksi pngunjung. Hellooo… Orang-orang ini sadar gak sih apa yang mereka lakukan?! Nyokap juga bilang hujan itu berkah dari Tuhan. Mungkin bagi umat Buddha pun juga demikian. Iya atau gak, gak pantes banget nih orang-orang nge-Huuu-in turunnya hujan. Iya, memang pengunjung jadi keujanan dan basah kedinginan, tapi ini nontonin acara outdoor di musim penghujan.

kerumunan pengunjung

MC umumkan acara belum dapat dimulai karena masih menunggu tamu-tamu kehormatan mereka antara lain Menteri Agama RI, Gubernur Jateng, dan beberapa pemuka agama Budha. “Maaf, acara belum dapat kami mulai karena masih menunggu kedatangan Menteri Agama, Suryadarma Ali,” kata pembawa acara. Sontak, pengunjung menyoraki dengan teriakan “huuuu” yang lebih panjang dan keras.
Tak sedikit yang memaki. “Huuu…. Lama!” “Kapan acara lampionnya?,” kira-kira begitu keluhan pengunjung-pengunjung itu. MC pun mencoba menenangkan pengunjung dengan menggunakan kata-kata mutiara dari kitab ajaran Buddha dan tentang ajaran Pengorbanan.
Saya yakin seyakin-yakinnya, gak ada satupun panitia/umat Buddha yg menginginkan / menyengajakan hal tersebut. Saya jadi emosi dan malu dengan kelakuan pengunjung yang norak!! Ish.. gemes!!
Jam 8 malam, akhirnya tamu-tamu kehormatan datang. Kedatangannya disambut sorakan kecewa yang panjang dari pengunjung. Sorakan ini juga terdengar saat pak Menteri membacakan sambutan dan saat pemuka agama Buddha menyebutkan namanya.

Puncak candi borobudur

Sorakan kemarahan juga terdengar jelas saat Pak Gubernur memberikan sambutan yang menyelipkan pesan-pesan kampanye. Kebetulan, keesokan harinya merupakan hari pilkada Jawa Tengah. Yaaa… ini mah saya juga kesel. Sempet-sempetnya kampanye terselubung di acara keagamaan begini. Tapi ya gak nge-huuuu-in juga sih.

Saat sambutan dari pemuka agama Buddha, pengunjung pun terdengar tak bisa tenang. Di sana-sini terdengar suara teriakan dan tawa mereka. Rasanya pengen saya tempelengin satu-satu nih pengunjung yang ga bisa menghargai empunya acara!

 Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dari biksu-biksu sembilan majelis yang hadir saat itu.
Nah ini, kekesalan saya memuncak pada pengunjung-pengunjung yang gak tau diri.
Saat itu hujan masih turun deras, dan mirisnya pada saat pembacaan doa, pengunjung meringsek naik ke panggung untuk mengambil gambar dari jarak dekat. Oh my God, it’s a chaos!! Sang pemimpin doa yang menggunakan mic pun meminta tolong dengan sangat agar pengunjung turun dari stage utama.

view bodobudur dan stage utama

Saya sudah tak mengerti lagi dimana empati para pengunjung yang gak sopan itu. Selama ini saya hanya sering melihat dari foto maupun video saja. Saat itu, kejadian tak mengenakkan tersebut terjadi di depan mata saya.

Prosesi puncak ibadah Waisak ini udah gak khusuk lagi bagi saya. Semoga para biksu memiliki ketahanan mental yang berkali lipat dari saya sehingga gangguan dari pengunjung gak mengganggu konsentrasi ibadah mereka, Amin!

Akhirnya, saya dan teman-teman meninggalkan lokasi perayaan pukul 23.00 malam. Itu belum sampai selesai dan pelepasan lampion ditunda karena cuaca tidak memungkinkan. Pengunjung yang sudah membayar, pulang dengan bersungut-sungut. Ya kalo cuma mau nerbangin lampion mah di mana aja juga bisa, ga perlu ganggu ibadah umat lain lah. Wishes kalian juga tak kan terkabul dengan bersungut-sungut seperti itu, hehehe..

So, guys, tolong banget ya. Kalau mau datang ke perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur, please behave.. Itu acara keagamaan umat Buddha. Mereka senang koq bisa berbagi kebahagiaan dengan memperbolehkan acara ibadahnya ditontonin khalayak banyak. Tapi mereka lagi ibadah. Bayangkan kita lagi beribadah terus ada gangguan dari umat agama lain, ga asik kan?! Saling menghormati ya 🙂

Advertisements

Candi Prambanan, penolakan cinta a la Loro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Laki-laki jaman sekarang mesti bersyukur karena syarat cinta diterima tak serumit yang dialami laki-laki di zaman kerajaan dulu kala. Raden Bandung Bondowoso misalnya. Ia diminta membuat 1000 candi dalam waktu satu malam sebagai syarat cintanya diterima oleh Loro Jonggrang. Bandung Bondowoso nyaris berhasil jika saja Loro Jonggrang (yang sebenarnya ingin menolak cinta Bandung Bondowoso) tidak merekayasa waktu seakan sudah pagi. Bandung Bondowoso yang merasa dikelabui (dan yang terpenting, cintanya ditolak) pun marah dan mengutuk Loro Jonggrang menjadi Arca.

image

Candi Prambanan, atau yang sering juga disebut sebagai Candi Loro Jonggrang, konon adalah mahakarya cinta sang Bandung Bondowoso. Legenda asal muasal Candi Prambanan ini masih diceritakan hingga saat ini. Meski cerita aslinya mungkin ya tidak seperti ini, tentunya.

Candi Prambanan yang dibangun sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur merupakan candi Hindu termegah yang pernah dibangun di Jawa Kuno.
image

Pada Mei 2006 terjadi gempa bumi skala 5,9 SR di daerah Bantul dan sekitarnya. Kawasan Candi Prambanan pun telak terkena dampaknya. Banyak bangunan candi yang rusak parah terutama Candi Brahma.
Hingga akhir Desember 2014 lalu, kawasan candi masih dalam proses pemugaran. Namun demikian, kawasan wisata ini tetap dibuka untuk umum. Ada satu monumen kecil di dalam zona inti sebagai penanda dahsyatnya gempa bumi tersebut.

Kalau berkunjung di sana, jangan nanya “yang mana Candi Prambanan-nya?” yaaa… Awalnya saya juga bertanya-tanya demikian. Ternyataaaa, Prambanan adalah nama desa lokasi kompleks candi Hindu terbesar ini dibangun. Hadeeeeh..
image

Aslinya nih, ada total 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan tersebut. Tapi saat ini hanya tersisa 18 candi. Delapan candi utama yang terdiri dari tiga candi Trimurti (candi Siwa, Wishnu, dan Brahma), tiga candi Wahana (candi Nandi, Garuda, dan Angsa), dan dua candi Apit (terletak di antara Trimurti dan Wahana). Delapan candi kecil di zona inti yang terdiri dari : empat candi Kelir (di setiap empat penjuru mata angin) dan empat candi patok (di setiap ujung sudut halaman dalam zona inti). Dulu ada 224 candi Perwara yang letaknya di luar zona inti. Tapi sekarang, baru dua candi perwara yang sudah selesai dipugar. Sementara ratusan candi perwara lainnya hanya bertumpuk berserakan mengelilingi zona inti.
image

Naik lah ke area candi utama! Pengunjung diperkenankan naik hingga ruangan terdalam. Di sana ada arca (yang dipercaya sebagai) Loro Djonggrang. Namun di ruang utama tersebut sangatlah gelap dan sejuk. Sejuk ini efek dari dikelilingin bebatuan dan tanpa cahaya, saya rasa.
Memang ada beberapa spot yang ditutup karena alasan keamanan. Karena proses pemugaran dan identifikasi kerusakan belum rampung hingga saat ini. Di depan masing-masing candi utama, terdapat papan informasi yang berisi QR code. Yes, if you wanna know further, you can scan it with your mobile. Simple, paperless!
image

Selain berjalan-jalan di area Candi Prambanan, pengunjung juga bisa menonton pagelaran sendratari Ramayana. Tapi mesti cek jadwalnya terlebih dahulu sebelum berkunjung ke Yogya karena tidak setiap hari ada pementasan. Best view-nya saat pagelaran diadakan di outdoor, yakni saat musim panas, karena kita bisa menonton sendratari dengan berlatarkan Candi Prambanan di malam hari.
image

House of Raminten: resto gemulai khas Yogyakarta

Adalah Hamzah HS yang berperan sebagai Raminten dalam sebuah sitkom di Yogya TV. Ia kemudian membangun rumah makan House of Raminten ini di Yogyakarta, karena kecintaannya pada makanan dan minuman tradisional khas Yogyakarta seperti jamu dan sego kucing.

Menu yang ditawarkan merupakan menu makanan umum namun disajikan dengan berbeda.

Menu yang biasa ditemukan di angkringan pinggir jalan, naik kelas menjadi makanan restoran dengan harga yang kompetitif (baca: beda tipis). Kita bisa menemukan sego kucing yang harganya di bawah 5000IDR.

20150116-195530.jpg

Tapi, kamu perlu hati-hati dengan segala menu berembel-embel “Jumbo” karena benar-benar ukuran jumbo bangets!!

20150116-195639.jpg

Yang juga unik di House of Raminten ini adalah waiternya yang kabarnya adalah homoseksual. Ini WOW banget! Berapa banyak siih tempat usaha yang bisa open-minded mempekerjakan homoseksual (yang udah coming out)?!? Kalau ada perusahaan yang gembar gembor open minded dan ga bedain orang berdasarkan preferensi seksualnya, pasti tidak ada yang segembar gembor HoR ini yang malah menjadikan ini sebagai diferensiasinya. Pengunjung pun malah makin banyak, bukan jadi takut. Paradox marketing skali kan!

Packaging dari HoR ini pun juga menjadi daya tarik tersendiri. Ruangan resto didesain sedemikian rupa hingga kesan njowo sangat kental sekali. Dengan menggunakan ornamen ukiran-ukiran khas rumah Jawa, musik gamelan, wardrobe waiter yang menggunakan kain batik dan jarik, dan lainnya. Namun demikian, unsur modern pun tak ktinggalan disertakan. Di salah satu sudut terdapat TV LCD dengan channel internasional. House of Raminten beroperasi 24 jam dan masih sering kepenuhi pengunjung.

Nice place to visit nih 🙂

20150116-195918.jpg