Kereta “mewah” Kualanamu

Beberapa waktu lalu, pertama kalinya saya menggunakan jasa transportasi Kereta Kualanamu dari Bandara Kualanamu ke Stasiun Kereta Medan. Lebih afdol sebagai anker (anak kereta) kalau sudah mencoba naik transportasi umum kebanggaan orang Sumatera Utara ini. Secara frekuensi, keretanya tidak sesering Commuter Line di Jabodetabek, tapi rata-rata satu jam sekali pasti ada. Waktu tempuh ke Kota Medan berkisar antara 40-50an menit.

Kenapa waktu tempuhnya bisa beda-beda? Karena waktu tempuh tiap perjalanan sudah dihitung dengan waktu berhenti di tengah jalan saat gantian rel dengan kereta lain. Dengan kata lain, jika tidak ada insiden luar biasa maka durasi perjalanan akan tepat waktu.

Berbeda dengan CommLine yang tiap hari saya tumpangi. Penumpang hanya tau kalau durasi perjalanan normal tanpa hambatan dari Bekasi ke Manggarai sekitar 27-30 menit, itu dengan kecepatan optimal dan gak pake antre gantian rel atau masuk stasiun besar Jatinegara atau Manggarai. Sementara setiap hari, ada saja kereta2 yang mesti antre masuk stasiun maupun gantian rel dengan kereta jarak jauh. Penumpang diminta untuk mengalkulasi dan menghapal sendiri durasi tiap perjalanan kereta.

Di sana, stasiunnya sangat keren dan dilengkapi dengan ruang tunggu yang sangat luas! Terasa bersih. Cling banget! Macam habis dipel. 😂 Sedangkan di sini, hanya di beberapa tempat saja yang sudah menggunakan ubin, itu pun setiap hari dipel tapi ga tampak kayak habis dipel 😅 Meski demikian, kondisi kayak bgini udah lumayan membaik banget dibandingkan dengan kondisi stasiun saat saya kuliah dulu (sepuluh tahunan lalu laaah).

Di sana pula, jumlah penumpang pun dibatasi dengan jumlah kursi. Ga ada cerita penumpang berdiri meski waktu tempuhnya hanya sebentar. Maka, di waktu prime time, memesan tiket jauh sebelum waktu keberangkatan akan sangat disarankan.

Sementara itu, jumlah penumpang kereta CL dibatasi dengan konsensus para penumpang. Yes, jika di suatu pintu gerbong sudah terlihat sangat penuh, maka bisa saja para penumpang terutama yang berdiri di depan pintu menolak penumpang yang mau ikut naik. Pemandangan ini sangat lumrah terjadi, apalagi jika penumpang ular kaleng ini sudah bisa berempati terhadap daging kornet yang sering dipaksakan muatannya dalam wadah.

Namun demikian, dilihat dari harga tiketnya, rasanya semua jadi make sense. Ada harga, ada rupa. Tiket perjalanan durasi kurang dari satu jam dan sudah pasti dapat nomor kursi serta jaminan ketepatan waktu berangkat dan tiba dibanderol sebesar IDR 100,000. Sementara tiket Bekasi-Manggarai hanya IDR 2,000 sajaaaa!!

Saya mah Alhamdulillaahhh, tiket kereta dari Kota Satelit ke Pusat Kota Jakarta cuma segitu. Ga kebayang mesti bayar seratus ribu tiap hari sekali jalan dengan fasilitas yang sama kerennya dengan Kualanamu… 😅😅😅

Advertisements

Pantai Ular (Ngurtavur), Kei Island, Maluku

IMG_7984

Ngurtavur Beach

Pantai Ngurtavur, terletak di Pulau Warbal, Kepulauan Kei Kecil, Kab. Maluku Tenggara, Maluku, Indonesia. Pantai ini disebut juga sebagai Pantai Ular karena pantai ini memiliki gusung yang mengular sepanjang 2 km dengan lebar kira-kira 7 meter. Gusung ini baru bisa terlihat demikian saat kondisi air surut. Wisatawan dapat berjalan sepanjang gusung dan merasakan sensasi berjalan di tengah laut (karena kanan dan kirinya langsung pantai laut). Kawasan pantai Ngurtavur ini dalam setahun belakangan tertutup untuk wisatawan karena termasuk daerah yang dilindungi adat setempat. Tepat di pangkal pantai mengular dipasang sasi (janur, semacam penanda area adat yang terlarang dikunjungi).

IMG_7996

Sasi, penanda area adat yang terlarang dikunjungi

Sebenarnya wisatawan masih bisa berkunjung dan menikmati keelokan pantai Ngurtavur ini, tapi memang ada sejumlah prosedur yang perlu dilakukan, seperti meminta izin terlebih dahulu ke kepada desa dan ketua adat. Itulah yang kami lakukan saat mengunjungi pantai eksotis ini. Begini ceritanya…

Sejak dari pantai Ngurbloat, kami ingin sekali mengunjungi Pantai Ngurtavur. Padahal spot tersebut ga ada di paket itenarary kami, so kami harus menambah biayanya (most likely tour agent memang tidak akan memasukan spot ini ke paketnya karena ya itu tadi, area tersebut terlarang secara adat). Berbekal tekat kuat (cailaahhh….) dan kegigihan tour guide kami yang ingin memuaskan kliennya yang BM (banyak mau) ini, akhirnya berangkatlah kami ke pantai Ngurtavur. So much thanks yaaa Kakaban Trip team!! 😀

foto 3 kursi kondangan

Kapal yang membawa kami ke Pantai Ngurtavur lengkap dengan kursi kondangannya, hehehe…

DCIM104GOPRO

On our way to Ngurtavur Beach

Perjalanan kami pun sempat mengalami kendala. Lihat gambar di atas, yaps, itu penampakan kapal motor yang kami tumpangi, lengkap dengan kursi plastik bak di kondangan! Hahaha… tour guide kami ini emang juara untuk memuaskan kliennya mengarungi lautan kurleb satu jam. Tapi ternyata, gulungan ombak lumayan bikin khawatir di tengah jalan. Akhirnya, kami menepi ke sebuah pulau untuk ganti formasi duduk. Yaps, akhirnya kami belasan orang ini duduk di bawah, selonjoran. Kursi plastik bebas tugas, mr. boatman pun lebih tenang mengarungi lautan!

DCIM104GOPRO

Bye bye kursi kondangan…. Siap-siap dihantam ombak!!

Setelah hampir satu jam, kami pun tiba di pantai Ngurtavur. Kondisi saat itu, air masih pasang sehingga gusung mengular belum tampak. Tour guide lokal kami meminta agar kami tidak bermain terlalu jauh dulu, sementara ia akan pergi minta izin ke kepala desa dan ketua adat. Kami pun menurut, hanya berfoto-foto santai di area itu. Tak lama kami pun dihampiri oleh seorang warga. Aktivitas hahahehe dan fotafoto kami pun terhenti. Long short story, beliau menegur dan menasehati kami. Kami pun menurut, mendengarkan teguran, nasihat, dan cerita beliau. Beliau juga meminta kami untuk meminta izin terlebih dahulu ke kepala desa dan ketua adat, ya kami semua. Waduuuhh, ga boleh banget nih main-main dan potapoto di mari, pak?!?

IMG_5940

Warga yang menegur rombongan kami (sebelah kiri)

Untungnya tour guide lokal kami segera datang dengan mengantongi izin dari kepala desa dan ketua adat untuk kami mengeksplorasi pantai Ngurtavur. Yeaaayy! Bapak-bapak yang tadi menegur kami pun menjadi ramah, ia mengajak kami ke kapalnya yang penuh dengan rumput laut hasil panen. Saya dan beberapa teman mencicip rumput laut asli dari laut tersebut. Hmm, enak… Cuma yaa gitu, rasa air laut, hihihi…

IMG_7955

Rumput laut rasa air laut yang sangat otentik x))

Jam menunjukkan pukul 1 siang dan air belum juga surut. Kami pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Tak lupa mengajak si bapak tadi untuk piknik makan siang bersama kami. Makanan dan minuman dibawa dari Kei Kecil, karena di lokasi ini tidak ada yang jual makanan or semacamnya. Berhubung pulau dan pantai ini memang tidak dikondisikan sebagai area wisata, fasilitas umumnya pun minim seperti toilet. Jangan harap ada bilik dengan toilet yang minim. Bahkan ada biliknya (yang terbuat dari dedaunan) saja sudah bersyukur, hehehe.. di dalamnya ga ada toilet, ya kalau mau buang air ya di tanah saja langsung. Oia, jangan lupa juga bawa plastik untuk membawa sampah pribadi yaa… 😉

 

IMG_5946

Selagi menanti air surut

Setelah makan siang, saya bermain perahu kano, sementara beberapa teman ada yang sudah asik berfoto-foto dengan sasi, ada pula yang boci di pinggir pantai. Memang, menurut bapak yang menegur kami tadi, air biasanya surut pukul 3 siang hingga pukul 11 malam. Sementara, saat kami tiba di sana baru pukul 12 siang.

IMG_8158

Main kano for the first time! 😀

IMG_4443

De’ Tantes boci..

Kami pun mulai berjalan menyusuri gusung mengular saat air mulai surut di pukul 2 siang. Kami bertujuhbelas yang anak kota tulen ini pun bahagia banget bisa main di pantai Ngurtavur dan ngalamin sensasi jalan di antara dua sisi pantai. Pasirnya halus banget, ga perlu pake alas kaki, malah jadi berat atau beresiko hilang terbawa arus pantai. Sesekali, air membasahi kaki kami saat melintasi gusung yang agak rendah.

DCIM105GOPRO

Cantiiiiiik bangets………..pantainya <3<3

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berjalan di tengah laut

Pemandangannya pun menakjubkan, pasir putih berpadu warna tosca air laut dan biru langit, ditambah ga ada orang lain lagi selain kami di sana. Kehadiran segerombolan burung Pelican Australia di pantai Ngurtavur ini pun menambah kebahagiaan kami. Ga setiap waktu, segerombilan Pelican Australia mampir ke Indonesia, khususnya ke pantai Ngurtavur ini.

IMG_8502

Pelican Australia aja senang ke Pantai Ngurtavur 🙂

DCIM108GOPROG5754842.

Group photo di ujungnya gusung Ngurtavur

Tak terasa, akhirnya kami pun sampai juga di ujung gusung pasir ini, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Wah, cepat juga ya.. tak terasa kulit sudah menggosong dan kain pantai yang kami jemur di pulau pun sudah kering lagi. Kapal yang kami labuhkan di pinggir pulaupun menjemput kami di ujung gusung (Alhamdulillah yaa cin, ga perlu balik lagi jalan 2 kilo, hahaha…).

Well, it’s time to go back to pulau Kei Kecil. See ya, Pantai Ngurtavur!

IMG_8619

See ya!

Credit photo by  Rahadi Ari “Kakaban Trip”, Rahma Tarigan, Dito Hendrato, and my private collection. 

Wisata Konflik di Kupang

Kayak gak lagi di Indonesia Timur! Indah banget nih jalanan kota Kupang yang bersih dan rindang

Kayak gak lagi di Indonesia Timur! Indah banget nih jalanan kota Kupang yang bersih dan rindang

November 2013 lalu, saya ditugaskan ke Kota Kupang, ibukota dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berlokasi di pulau Timor, yang sebagian areanya merupakan Negara Timor Leste, suatu negara yang pada tahun 2002 memerdekakan diri berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdirinya Negara Timor Leste bukan hanya perkara satu bagian lepas dari NKRI dan berdikari sendiri. Tetapi juga meninggalkan sejuta masalah kemanusiaan. Saya akan ceritakan kemudian.

Tarifnya masih 60.000IDR

Tarifnya masih 60.000IDR

Selamat datang di Kota Kupang :D

Selamat datang di Kota Kupang 😀

Seperti biasa, perjalanan biztrip akan didominasi oleh agenda kerja dengan selipan jalan-jalan menikmati kota, tentu saja, hehehe… Namun, kali ini berbeda. Jadwal yang berubah di tengah jalan membuat saya memiliki lebih banyak waktu luang untuk eksplorasi ketimbang untuk bekerja, yeay! #eh

Taman Doa

Taman Doa

Hari pertama saya tiba di sana, saya habiskan untuk berjalan-jalan di sekitar penginapan. Saya pun mengontak teman kuliah saya, Bang Dekson. Sebenarnya, jaman kuliah dulu sih ga pernah ngobrol dikit pun sama dia, tapi saya aware dengan eksistensinya di sekitaran kantin kampus. Sebelum saya tiba di Kupang, saya mengontak salah satu teman seangkatan saya di kampus, menanyakan apakah dia masih tinggal di Kupang. Ternyata sudah pindah tugas dan saya direkomendasikan untuk mengontak Dekson. Jadi lah, sore itu saya bertemu dengan Dekson dan dikenalkan dengan Kupang di sore hari. Kami makan ikan bakar di tempat kulineran dekat pantai Teddis.

Ikan segar yang dapat ditemukan di sekitaran Pantai Tedis

Ikan segar yang dapat ditemukan di sekitaran Pantai Tedis

Saya menginap di Hotel Flobamora 2 dengan biaya 250.000/malam (harga tahun 2013), dengan fasilitas kamar mandi dalam dan sebuah ruang tamu. Iya, jadi total ada tiga ruangan di kamar saya. Hotel ini terletak di pinggir jalan besar pusat perbelanjaan.

Hotel Flobamora 2 tampak depan

Hotel Flobamora 2 tampak depan

Hotel tempat saya menginap 2 malam

Hotel tempat saya menginap 2 malam

Jangan bayangkan pusat perbelanjaan itu seperti mall besar di Jakarta ya. Pusat perbelanjaan yang saya maksud itu lebih seperti satu jalan dengan deretan toko-toko aneka macam produk jualan, dari baju hingga perangkat elektronik. Di sana belum ada mall. Adanya hanya Ramayana Robinson (dua lantai) dan satu gerai KFC di depannya.

(Mall) Ramayana satu-satunya di Kota Kupang

(Mall) Ramayana satu-satunya di Kota Kupang

Resto fastfood KFC satu satunya di Kota Kupang

Resto fastfood KFC satu satunya di Kota Kupang

Hari berikutnya, saya habiskan untuk bekerja sekaligus mengeksplorasi kota Kupang, sebuah kota kecil di Timur. Tata kotanya pun cukup apik, mudah sekali menghapal pola jalan di sana. Saya sama sekali tidak nyasar di kota yang saat itu belum tersedia detail jalannya di Gmap. Kebetulan pagi itu, Dekson sedang ada kerjaan, jadi saya pun bepergian sendiri menggunakan angkot. Jangan bayangkan angkotnya seperti di pulau Jawa ya..hehehe.. Angkot di Kupang ini cukup heboh penampilannya. Sama halnya seperti di Manado, angkot di kota Kupang ini juga tak kalah hingar bingar dari diskotek-diskotek di Jakarta. Sound system yang digarap serius, pilihan lagu-lagu yang update, dan juga aksesoris mobil yang menarik.

Teropong, spedometer, boneka ular panjang berwarna-warni, gantungan bintang, ah you named it lah, banyak bangettt aksesorisnya!! x)))

Teropong, spedometer, boneka ular panjang berwarna-warni, gantungan bintang, ah you named it lah, banyak bangettt aksesorisnya!! x)))

Dimana lagi bisa nemu angkot berCCTV dengan layar pemantaunya ada di sebelah spion tengah pengemudi?!?

Dimana lagi bisa nemu angkot berCCTV dengan layar pemantaunya ada di sebelah spion tengah pengemudi?!?

speaker soundsystem umumnya diletakkan di bawah jok penumpang, heboh lah ini angkot!

speaker soundsystem umumnya diletakkan di bawah jok penumpang, heboh lah ini angkot!

Penampakan angkot Kupang di Jalan utama kota Kupang

Penampakan angkot Kupang di Jalan utama kota Kupang

Gimana gak dibilang update, kalau di awal November 2013, angkot yang saya tumpangi sudah memainkan lagu-lagunya Adele yang bahkan di Jakarta saja belum happening banget! X))

Di hari ketiga, saya diajak berkeliling sampai ke luar Kota Kupang oleh Dekson. Yang menarik, saya tidak diajak melihat tempat wisata melainkan ke daerah rentan konflik. Wow!!

Ga deng, sebenarnya, saat itu, bang Dekson ini mau ngajakin makan jagung susu di pinggir pantai. Katanya dia, jagung pinggir pantai yang enaak itu adanya di luar kota Kupang. Sayangnya, sampai di lokasi ternyata sedang tidak ada yang berjualan. Kepalang tanggung sudah jauh-jauh keluar kota, jadilah ia memberikan tour ke daerah pinggiran sekitar Kota Kupang.

Seperti yang saya sebutkan di awal, lepasnya provinsi Timor Leste dari NKRI, membawa segudang masalah bagi Indonesia sendiri. Banyak penduduk asli Timor Leste yang masih ingin menjadi warga negara Indonesia, sehingga mereka pun berpindah dan menjadi pengungsi di negara sendiri. Kamp-kamp pengungsian yang disediakan pemerintah Indonesia tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pengungsi yang banyak. Sehingga banyak pengungsi yang akhirnya berusaha mandiri hidup di luar kamp dan bergabung dengan penduduk asli sekitar.

salah satu rumah penduduk pengungsi

salah satu rumah penduduk pengungsi

rumah penduduk

rumah penduduk

Di sepanjang jalan yang kami lewati adalah pemukiman penduduk dengan jarak antar rumah yang berjauhan dan juga tipe rumah yang berbeda. Rumah dengan bangunan batu bata, beton, semen merupakan ciri rumah penduduk asli. Sedangkan rumah dengan bangunan temporer seperti dari bambu, rotan, tempahan pisang merupakan ciri rumah penduduk pengungsi.

Rumah pengungsi diantara pemukiman penduduk

Rumah pengungsi diantara pemukiman penduduk

Kepindahan mereka ke lokasi baru bukan tanpa membawa masalah. Misalnya saja, soal kebutuhan dasar. Sebagian besar area NTT merupakan daerah yang tandus, kurang air, curah hujannya pun rendah. Hanya ada beberapa sungai dengan debit air yang cukup untuk menghidupi penduduk di sekitarnya. Jadi, bisa dibayangkan jika tiba-tiba ada penambahan penduduk yang cukup signifikan di suatu daerah. Mata air di sana mungkin tidak mencukupi. Tak hanya itu, pasokan makanan pun juga kurang memadai. Kecukupan kesediaan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan lainnya pun mengikuti. Tak bisa dihindari konflik antar warga pun terjadi. Penduduk dengan rumah temporer yang mudah dibakar/hancurkan pun menjadi sasaran empuk untuk menebar teror pengusiran. Buat mereka, nyawa bayar nyawa. Tauran warga yang memakan korban pun tak jarang terjadi di sekitar sini.

Miris ya! Di satu sisi, para pengungsi ini masih pengen jadi warga negara RI. Tapi di sisi lain, kayak ga diterima di negaranya sendiri. T_T

Dengan kebutuhan pokok yang berat terpenuhi dan suhu udara yang cenderung panas dan kering, menjadi wajar jika orang sana cenderung berwatak keras dan mudah tersulut emosinya. Tapi jangan salah, mereka ini sebenarnya ramah. Coba saja sapa mereka dengan ramah, mereka pasti akan memberikan senyuman yang lebih lebar dari yang orang Indonesia Barat bisa berikan 😀

Jagung bakar pinggir pantai Tedis

Jagung bakar pinggir pantai Tedis

Suasana sore di Pantai Tedis

Suasana sore di Pantai Tedis

Sore harinya, bang Dekson menepati janjinya untuk mengajak saya makan jagung bakar di pinggir Pantai, tapi di pantai Teddy Kota Kupang. Salah satu spot wisata penduduk maupun turis, Pantai Teddy. Setelah makan jagung bakar dan menikmati sunset di pantai Teddy, kami pun beranjak untuk ke toko oleh-oleh. Saya penasaran ingin membeli kain Kupang. Dekson kemudian mengajak saya makan sate ayam yang katanya paling enak di Kupang.

Sate ayam paling enak di kota Kupang

Sate ayam paling enak di kota Kupang

Bang Dexon yang berulangtahun dan menemani saya di Kupang Trip kali ini

Bang Dexon yang berulangtahun dan menemani saya di Kupang Trip kali ini

Saat itu, saya bilang, “Eh, makan sate tuh kan ga bagus buat kesehatan karena ada sisa pembakaran yang juga akan kita makan di dagingnya.” Seketika itu juga, abang saya satu ini ngakak! Di tengah makan malam itu, ayahnya menelpon untuk ngucapin selamat ultah. Aaah, ternyata ultah kau hari ini, bang!! Haseeekkk, ada yang bayarin makan maleemmm… hiphip hoeraaa!! \\^,^// *Padahal ultah kami hanya beda dua hari, hihihi.. Sesama scorpion ternyata!

Sunrise di Kota Kupang

Sunrise di Kota Kupang

Keesokan harinya, diantarkan oleh taksi hotel, saya pun beranjak ke Bandara. Sepanjang jalan, saya mendapati kecantikan Kota Kupang ini. Sungguh, saya mesti kembali untuk eksplorasi lebih banyak di kota ini. Semoga!

Driver taksi di Kupang yang mengantar saya kembali ke Bandara El Tari, Kupang

Driver taksi di Kupang yang mengantar saya kembali ke Bandara El Tari, Kupang

Kenalan sama nona manis dari Maumere, NTT

Kenalan sama nona manis dari Maumere, NTT

Penerbangan saya ke Denpasar mesti transit dulu ke Maumere, Flores. Saya yang kebutuhan eksplorasinya tinggi pun minta izin ikut turun dari pesawat untuk sekedar menghirup udara tanah Flores dan foto-foto. Gak boleh sebenarnya karena hanya transit untuk turunin dan naikin penumpang saja, hehehe.. Dari sini saya berkenalan dengan satu gadis manis asal Maumere bernama Berti yang hendak ke Jakarta untuk English camp di kampus UI (Ah, kampus saya!!). Kami bertukar nomor telpon dan hingga kini masih sering kontak.. 😀

Double trekking at Taman Nasional Kelimutu

IMG_7983

Yeheeyyy…. Akhirnya kami tiba juga di puncak view point dari Gunung Danau Kelimutu, Desa Moni, Kabupaten Ende, Flores, NTT ini. Hmmmm, tapi mana Danau Kelimutunya ya? Sejauh mata memandang hanya kabut putih saja yang terlihat. Memang, saat itu masih pukul 5.30 pagi, cuaca mendung sesekali gerimis, kabut pun masih enggan beranjak menyelimuti area Taman Nasional Kelimutu hingga kami tidak bisa melihat yang mana danaunya. Ditemani para monyet gunung yang berkeliaran dan menjadi objek foto, kami dan wisatawan lain pun menanti hingga kabut naik.

Pagar pembatas area danau yang tertutup kabut

Satu malam sebelumnya, kami menginap di salah satu losmen warga lokal di Desa Moni. Ini merupakan desa yang lokasinya paling dekat dengan Taman Nasional Kelimutu, spot wisata wajib kunjung jika Anda bertandang ke Kabupaten Ende, Flores, NTT. Ryan, Guide plus driver kami, menjemput di penginapan sekitar pukul 4 pagi untuk mulai trip ke TN Kelimutu ini agar kami bisa mendapatkan momen matahari terbit di atas tugu view point TN Kelimutu.

Meski saat itu cuaca kurang cerah, alias mendung disertai hujan rintik-rintik, kami toh tetap melanjutkan rencana perjalanan kami. Tiba di lokasi parkir TN setengah jam kemudian dan kondisi suhu udara dingin mencekam disertai hujan. Ah, tak ada satupun dari kami yang berani turun keluar dari mobil. Bbrrrrrrrr…….!!

hutan arboretum

Sekitar pukul lima pagi, hujan sudah mereda dan kami pun memutuskan untuk memulai pendakian. Trek menuju view point sudah tersedia, wisatawan tinggal mengikuti saja alur jalan setapak dan papan penunjuk jalan yang terpasang di sepanjang trek.

Selain Danau tiga warna, kawasan wisata ini juga merupakan hutan Arboretum dengan koleksi floranya. Jalur pendakian dimulai dengan jalan setapak masuk hutan yang rimbun. Meski dilatarbelakangi kisah mistis pada ketiga danau berwarna Kelimutu, namun kawasan wisata ini tidak terkesan mencekam dan mengerikan koq.

View point pertama

Setelah berjalan kira-kira lima ratus meter, kami pun tiba di view point pertama. Di sini kami menikmati pemandangan salah satu danau berwarna Kelimutu, yakni yang terletak paling rendah bernama Danau Tiwu Ata Mbupu, atau danau jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Bersebelahan berbatas sedikit celah diantara dinding keduanya adalah Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, atau danau untuk jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Dari view point pertama, kedua danau ini sudah bisa terlihat, meski Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai belum terlihat sepenuhnya.

Trekking lagi ke view point tugu puncak, barulah bisa melihat ketiga danau. Yang terletak di paling timur atau paling atas adalah Danau Tiwu Ata Polo atau danau untuk jiwa-jiwa orang jahat yang telah meninggal. Danau ini terlihat paling mencekam warna dan auranya. Ketiga danau ini diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh-roh orang yang sudah meninggal dan diyakini memiliki kekuatan alam yang sangat besar.

Tidak ada yang tahu pasti kedalaman dari ketiga danau Kelimutu ini. Beberapa kali penelitian dengan berbagai metode dilakukan tak juga membuahkan hasil. Salah satu usahanya dengan menenggelamkan tali dengan pemberat ke dalam danau namun tali tersebut pun akhirnya tenggelam. Konon memang segala sesuatu yang sudah terjatuh ke dalam danau tak bisa naik lagi, dari benda-benda kecil hingga besar sampai manusia. Keterangan kedalaman yang tertera di papan informasi hanyalah perkiraan saja dari kesimpulan penelitian yang telah dilakukan.

Danau ini tak pernah kekeringan juga kebanjiran, apapun musimnya. Ketiga danau ini memiliki warna yang berbeda-beda satu sama lain dan kerap berubah warna dari waktu ke waktu. Para ahli geologi percaya perubahan warna ini disebabkan karena kandungan mineral vulkanik, lumut di dalam danau, juga dari pedar cahaya matahari. Pada saat kami mengunjunginya, warnanya yakni hijau toska, hijau lumut, dan merah cokelat pekat. Meski demikian, cerita mistis mengenai ketiga danau ini masih dipercaya oleh penduduk di Flores.

trek ke view point puncak

Puas menikmati pemandangan di view point pertama, kami pun melanjutkan trekking ke puncak tugu view point. Jalannya lebih menanjak tapi sudah dilengkapi dengan tangga dan pagar pembatas. Sejauh tidak iseng melewati area yang tidak disarankan sih aman-aman saja. Tiba di atas sudah ada beberapa wisatawan yang didominasi dengan wisatawan asing.

Ya, kawasan Indonesia Timur, termasuk TN Kelimutu ini memang lebih menarik minat wisatawan asing ketimbang domestik. Mereka seperti ada di mana-mana. Seperti saat kami baru mau berangkat dari penginapan, tahu-tahu sudah ada satu bule perempuan di mobil yang kami carter. Lho!

Sebagai tuan rumah yang baik, kami bersedia berbagi kendaraan dengan si bule kere ini. Namanya Anna, bekerja di salah satu NGO di Kupang. Sepanjang perjalanan di mobil, ia banyak bertanya mengenai beberapa spot wisata di Indonesia. Salah satu yang saya ingat, ia bertanya tentang Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di Kota Semarang. Wow! Bahkan wisatawan lokal saja mungkin masih lebih tertarik ke Masjid Istiqlal di Kota Jakarta Pusat karena kesohorannya. Padahal, menurut saya, Masjid Agung Jawa Tengah ini lebih menawarkan keunikan untuk menarik wisatawan seperti adanya payung raksasa bak di Masjidil Haram, Arab Saudi, juga menara Masjid untuk bisa melihat Kota Semarang dari ketinggian.

prasasti di atas view point puncak

Setelah kira-kira satu setengah jam menunggu dan kabut masih setia terbang rendah, wisatawan asing pun sudah banyak yang meninggalkan area view point utama ini. Tersisa beberapa wisatawan lokal yang karena kesamaan nasip (gagal mendapatkan momen sunrise di atas puncak view point Kelimutu untuk difoto), yang berujung pada selfie bersama, hahahaha… Yayayaa…. Ada hikmahnya juga nunggu lama, jadi nambah teman baru 🙂

para penjaja di atas puncak gunung kelimutu

Anyway, di atas view point ini, ada seorang ibu berjualan kudapan pagi seperti Popmie, kopi seduhan, jambu kelutuk (iyah!), dan lainnya. Juga ada lapak jualan kain tenun khas Flores. Sambil menunggu, kami pun menyeduh Popmie yang dibanderol seharga sepuluh ribu rupiah (harga di akhir Mei 2014). Air seduhan yang mendidih ini segera mendingin karena suhu udara di atas sana. Mesti hati-hati memang, kayaknya sudah mendingin tapi koq lidah serasa terbakar, hehehe…

Atas saran guide kami, dan juga banyak wisatawan yang turun gunung, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Desa Moni dan kembali lagi saat cuaca sudah cerah. Kami kembali ke penginapan untuk sarapan dan beristirahat.

Sekitar pukul sepuluh pagi, kami kembali ke TN Kelimutu. Saat itu, kabut sudah naik, suhu sudah lebih bersahabat, dan keindahan ketiga danau berwarna Kelimutu pun sudah dapat dinikmati (dan difoto, tentunya).

IMG_7962

Menjelajah Gorontalo

Salah satu business trip yang pernah saya jalani adalah ke Gorontalo. Berangkat sedari pagi hari dari Kota Manado via mobil travel yang tarifnya ditentukan dari posisi kursi. Saya pilih di tengah, saat itu tarifnya masih Rp 80.000/seat.

Mobil Toyota Avanza yang saya tumpangi terisi penuh dengan mayoritas ibu-ibu yang doyan ngomong, ramai sepanjang perjalanan. Kami mulai perjalanan pukul 8 pagi menyusuri jalan raya Trans Sulawesi.

Mobil ini beberapa kali berhenti di pinggir jalan sesuai rekues penumpangnya. Iya, bisa rekues pokoknya. Mau jajan buah-buahan pinggir jalan atau snack ringan atau mau buang air, tinggal bilang ke pak supirnya.

View sepanjang jalan Trans Sulawesi ini kalau tidak hutan elok, pemukiman ala Sulawesi, ya pantai nan cantik.. Luwar biasa! ❤

IMG-20120209-WA0019

Pukul 6 sore, mobil travel ini selesai mengantarkan saya ke penginapan. Saya pun bergegas check in dan prepare untuk meeting malam dengan tim lapangan saya di Gorontalo.

687

Keesokan harinya, saya mulai petualangan saya di Gorontalo. Dengan menyewa sebuah bentor, saya pun berkeliling. Kota ini tidak ramai. Meski belum ada mall, namun penduduknya peduli penampilan. Buktinya hampir di tiap jalan ada sedikitnya satu distro (toko pakaian) dan satu salon. bahkan ada satu jalan, di daerah dekat perbukitan, salonnya banyak sekali. Saya sempat berpikir apakah memang mata pencaharian penduduk di sini adalah usaha salon ya?

Meski belum ada mall, tapi ada satu bangunan pusat perbelanjaan yang didominasi oleh department store Matahari dan beberapa gerai makanan. Juga ada satu gerai resto fastfood KFC di kota ini. Ah, senangnya!

IMG-20120210-WA0000

Makanan khas di Gorontalo adalah Binte Biluhuta, semacam bubur tapi pake sayuran dan jagung. Kira-kira penampakannya seperti ini. Makanan ini bisa ditemukan dimana-mana sepertinya. Saya memesannya untuk sarapan pagi di Pasar Sentral di Gorontalo. Sebenarnya rasanya enak, tapi karena saat itu saya belum doyan makan sayur jadinya ga saya habiskan -__-*

686

Makanan oleh-oleh khas Gorontalo adalah Pia. Iya, Pia. Rasanya berbeda dengan Pia yang basa ditemukan di Pulau Jawa maupun Pulau Sumatera. Pia Gorontalo lebih kering dengan keju panggang dan ukuran kue yang cenderung lebih besar. Yummy!

Karena ini biztrip maka waktu saya didominasi untuk urusan pekerjaan. Hanya di selipan waktu luang saja bisa agak ngabur dikit untuk melihat kota Gorontalo. Salah satunya mengunjungi pinggir laut Gorontalo (letaknya di pelabuhan Gorontalo).

691

Setelah ke Pelabuhan, saya pun bergegas ke tempat oleh-oleh untuk membeli beberapa buah tangan. Tak lama, kembali ke penginapan untuk check out dan beranjak ke Bandara Jalaludin yang terletak lumayan jauh di Kabupaten Gorontalo. Dan saya ke sana naik ojek motor. Iya, dengan membawa segambreng bawaan selama satu minggu @,@

690

Saya memang belum sempat sesana kemari di Gorontalo ini, padahal katanya nih, bawah lautnya itu indah banget! Memang mesti kembali lagi ke Gorontalo untuk bener-bener liburan nih.. See you, Gorontalo! 😀

-Februari 2012-

Belajar menghormati perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur

Puncak perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur selalu menarik banyak wisatawan, termasuk saya dan temen-temen saya yang belum pernah menyaksikan langsung. Tahun 2013 lalu, kami pun pergi ke Yogya, khusus untuk menyaksikan langsung perayaan umat Buddha langsung di Candi Borobudur. Sama dengan kebanyakan turis lainnya, kami pun menanti ritual pelepasan seribu lampion, yang menjadi penanda berakhirnya prosesi Waisak tahun ini.

Ritual prosesi ibadah Waisak biasanya sudah dimulai dari hari sebelumnya. Namun, biasanya ga banyak diikuti oleh para turis. Makin mendekat ke puncak perayaan, makin banyak turis yang ingin menonton.

Pada hari tersebut sedari pagi hari, sudah berlangsung prosesi kirab biksu dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, salah satu bagian dari prosesi Waisak. Beberapa jalan yang menghubungkan Candi Mendut dan Candi Borobudur pun ditutup sedari pagi. Kalau ingin mengikuti proses sedari pagi hari, pastikan sudah mempelajari rute utama dan jalan alternatifnya. Semakin sore, akan semakin banyak turis yang bergabung untuk menyaksikan. Kemacetan di jalan arah Candi Borobudur tak kan terhindari menjelang sore hari.

Beruntungnya rombongan kami dipandu oleh orang yang paham medan (bukan Medannya Sumut yak :p), sehingga kami ga terlalu lama kejebak macet.

Pastikan sudah tiba dan masuk area Candi Borobudur sebelum jam 5 sore, karena pada jam tersebut pintu masuk akan ditutup untuk persiapan perayaan prosesi puncak Waisak. Paling lambat banget satu jam sebelumnya sudah harus tiba, karena mesti spare waktu untuk ngantri tiket masuk dan jalan ke pintu masuknya.

Sekalian mau pengakuan dosa nih. Mestinya saat masuk ke area wisata Candi Borobudur, kami tidak diperkenankan bawa makanan, tapi kami malah menyelundupkan makanan yang sudah kami persiapkan. But we promise to not nyampah there. We did it! Di dalam area sana pasti akan lama sekali, paling tidak bocah-bocah yang bersama saya ini tak kan rewel soal haus dan lapar. :p

Saat memasuki area taman wisata Candi, sempatkan lah membaca tata cara jalan-jalan di area candi. Ada yang ngeh gak aturan jalan-jalan di Candi Borobudur? Jadi, ada aturannya nih Guys. Kalo masuk dari arah Barat, maka keluar/turunnya gak boleh dari Barat lagi, musti dari arah lain. Trus di setiap lantai mau muter, musti belok kiri dan berjalan searah jarum jam (jadi naik tangga, lalu belok kiri ngiterin candi), trus keluar/turun dari tangga arah yang berbeda dengan tangga masuk.

candi borobudur disterilkan dari pengunjung

Singkat cerita, kami tidak sempat naik ke candi karena sudah jam 5 dan area candi hendak disterilkan untuk persiapan prosesi. Kami pun beranjak ke area perayaan Waisak, panggung utama. Tim saya yang bersebelas ini pun berpisah sesuai dengan maunya masing-masing.

Saya dan dua orang teman mendapatkan spot asik di pinggir stage utama sebelah kanan. We were so excited!! Saat itu, sudah banyak pengunjung yang duduk-duduk memenuhi bibir stage bagian depan, banyak yang udah ready dengan alat perangnya: SLR cam + Tripod + aksesoris2 tambahannya.

pelataran stage utama

Panitia berpolo shirt “Buddhis Muda Indonesia” bikin amazed saat mereka membersihkan stage. Benda-benda asing, kerikil, daun-daun yang jatuh, serangga-serangga yang ada di atas stage, dipungut-pungutin. Detail banget. Segitunya musti bersih nih stage utama untuk dijadikan area prosesi puncak ibadah Waisak. Serangga yang belum mati, dipungut lalu dipindahkan ke pot bunga di pinggir stage. Dikembalikan ke habitatnya.

Suasana di belakang stage depan dan sekitar candi pun sudah ramai. Di sana, ada lilin-lilin kecil berpola yang siap dinyalakan. salah satu bagian pola bertuliskan “Happy Vesakday”.

lilin waisak

Tepat di depan deretan lilin-lilin juga sudah banyak pengunjung yang duduk-duduk sambil mengenakan payung. Sebagian diantaranya juga sudah ready dengan alat perang fotografinya. Mereka menunggu momen lilin-lilin dinyalakan dan para biksu berjalan mengitari area dalam candi melakukan prosesi Pradaksina.

candi borobudur

Kami jalan lagi ke arah depan stage, ceritanya mau dapet view pengunjung+stage utama+Borobudur. Usaha banget, jalan diantara ribuan orang. Diantara barisan pengunjung, panitia membelah kerumunan untuk jalan tamu-tamu kehormatan mereka menuju naik ke stage utama.
Sempat saat kami lagi nyari spot foto, panitia minta untuk bergeser buka jalan. Meski jadi berdesakan dengan yang lain, ya gapapa. Manut ama panitia. Apalagi panitianya sangat santun minta tolongnya. Malu dan gak tau diri lah kalau gak manut.

Akhirnya kami sampai di spot agak jauh ke belakang barisan pengunjung, persis menghadap stage utama. Meski jauh namun spot yang kami (saya lebih tepatnya) cari akhirnya kami dapatkan: view pengunjung+stage utama+Borobudur. Lalu kami duduk di area tersebut, beralaskan plastik yang sudah kami siapkan dan buka payung karena saat itu gerimisnya makin deras.

Di depan stage, panitia sudah menyiapkan karpet terpal orange untuk pengunjung duduk menikmati acara.

Pukul 19:30, hujan makin deras, emosi pengunjung mulai ga terkontrol karena acara tak kunjung dimulai. MC menenangkan pengunjung dan mengajak bersyukur atas berkah hujan yang turun. Ia menyebutkan “Hujan adalah berkah yang patut disyukuri”, ia juga mengingatkan akan ajaran Buddha mengenai pengorbanan.

Pengunjung menyambut dengan “Huuuu” keras.

Hah?! Saya siyok dengan reaksi pngunjung. Hellooo… Orang-orang ini sadar gak sih apa yang mereka lakukan?! Nyokap juga bilang hujan itu berkah dari Tuhan. Mungkin bagi umat Buddha pun juga demikian. Iya atau gak, gak pantes banget nih orang-orang nge-Huuu-in turunnya hujan. Iya, memang pengunjung jadi keujanan dan basah kedinginan, tapi ini nontonin acara outdoor di musim penghujan.

kerumunan pengunjung

MC umumkan acara belum dapat dimulai karena masih menunggu tamu-tamu kehormatan mereka antara lain Menteri Agama RI, Gubernur Jateng, dan beberapa pemuka agama Budha. “Maaf, acara belum dapat kami mulai karena masih menunggu kedatangan Menteri Agama, Suryadarma Ali,” kata pembawa acara. Sontak, pengunjung menyoraki dengan teriakan “huuuu” yang lebih panjang dan keras.
Tak sedikit yang memaki. “Huuu…. Lama!” “Kapan acara lampionnya?,” kira-kira begitu keluhan pengunjung-pengunjung itu. MC pun mencoba menenangkan pengunjung dengan menggunakan kata-kata mutiara dari kitab ajaran Buddha dan tentang ajaran Pengorbanan.
Saya yakin seyakin-yakinnya, gak ada satupun panitia/umat Buddha yg menginginkan / menyengajakan hal tersebut. Saya jadi emosi dan malu dengan kelakuan pengunjung yang norak!! Ish.. gemes!!
Jam 8 malam, akhirnya tamu-tamu kehormatan datang. Kedatangannya disambut sorakan kecewa yang panjang dari pengunjung. Sorakan ini juga terdengar saat pak Menteri membacakan sambutan dan saat pemuka agama Buddha menyebutkan namanya.

Puncak candi borobudur

Sorakan kemarahan juga terdengar jelas saat Pak Gubernur memberikan sambutan yang menyelipkan pesan-pesan kampanye. Kebetulan, keesokan harinya merupakan hari pilkada Jawa Tengah. Yaaa… ini mah saya juga kesel. Sempet-sempetnya kampanye terselubung di acara keagamaan begini. Tapi ya gak nge-huuuu-in juga sih.

Saat sambutan dari pemuka agama Buddha, pengunjung pun terdengar tak bisa tenang. Di sana-sini terdengar suara teriakan dan tawa mereka. Rasanya pengen saya tempelengin satu-satu nih pengunjung yang ga bisa menghargai empunya acara!

 Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dari biksu-biksu sembilan majelis yang hadir saat itu.
Nah ini, kekesalan saya memuncak pada pengunjung-pengunjung yang gak tau diri.
Saat itu hujan masih turun deras, dan mirisnya pada saat pembacaan doa, pengunjung meringsek naik ke panggung untuk mengambil gambar dari jarak dekat. Oh my God, it’s a chaos!! Sang pemimpin doa yang menggunakan mic pun meminta tolong dengan sangat agar pengunjung turun dari stage utama.

view bodobudur dan stage utama

Saya sudah tak mengerti lagi dimana empati para pengunjung yang gak sopan itu. Selama ini saya hanya sering melihat dari foto maupun video saja. Saat itu, kejadian tak mengenakkan tersebut terjadi di depan mata saya.

Prosesi puncak ibadah Waisak ini udah gak khusuk lagi bagi saya. Semoga para biksu memiliki ketahanan mental yang berkali lipat dari saya sehingga gangguan dari pengunjung gak mengganggu konsentrasi ibadah mereka, Amin!

Akhirnya, saya dan teman-teman meninggalkan lokasi perayaan pukul 23.00 malam. Itu belum sampai selesai dan pelepasan lampion ditunda karena cuaca tidak memungkinkan. Pengunjung yang sudah membayar, pulang dengan bersungut-sungut. Ya kalo cuma mau nerbangin lampion mah di mana aja juga bisa, ga perlu ganggu ibadah umat lain lah. Wishes kalian juga tak kan terkabul dengan bersungut-sungut seperti itu, hehehe..

So, guys, tolong banget ya. Kalau mau datang ke perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur, please behave.. Itu acara keagamaan umat Buddha. Mereka senang koq bisa berbagi kebahagiaan dengan memperbolehkan acara ibadahnya ditontonin khalayak banyak. Tapi mereka lagi ibadah. Bayangkan kita lagi beribadah terus ada gangguan dari umat agama lain, ga asik kan?! Saling menghormati ya 🙂