Good bye 2016, Hello 2017

For 2016, I would like to discover many skills by stepping outside my comfort zone, enjoying life, more grateful, and beย happier.

~~Gue, di “Happy First Anniversary, My Blog!”

Memutuskan mengambil lisence open water dive bisa dibilang salah satu perwujudan resolusi tahun 2016.

Kalau dipikir-pikir, ngapain juga ambil lisence diving. Pertama nih, paling basic, bernapas pake mulut. Itu aja menjadi adaptasi tersendiri. Belum adaptasi dengan peralatannya yang ga ringan dan ga mudah.. Belum lagi ada banyak skill dan aturan yang mesti dikuasai untuk bisa menyelam dengan baik dan benar. Maklum yaa, menyelam ini olahraga paling beresiko nomor dua setelah terjun payung. Lalai dikit, fatal akibatnya.

Kedua, peralatannya men! Berat, ribet, mahal! Phew!!

Tapi sekalinya udah ngantongin license, duh ti ati banget, bisa ketagihan. Kalau dua bulan ga nyelem, bisa sakaw parah! Hahahaa.. I wanna blame it on youuu, Rendy!! Pria yang dengan semangatnya mendorong saya untuk ambil license sebelum trip ke Wakatobi. Dive com dan regulator for seserahan pliss!

img_3930

#BestNine2016 ala Instagram @Adzaniah

Terbukti kalau flashback ke belakang, trip yang saya lalui didominasi dengan trip diving dan business trip. Divetrip 2016 diantaranya, saya ke Pulau Sepa (Kab. Kepulauan Seribu) untuk ujian Open Water, ke Pulau Wangiwangi dan Pulau Tomia (Wakatobi, Sulawesi) pengalaman dive trip pertama setelah pegang license OW diver, ke Pulau Genteng Kecil (Kab. Kepulauan Seribu) untuk family trip skalian jajal diving lagi, ke Gili Trawangan (Lombok, NTB) dan Pulau Pramuka (Kab. Kepulauan Seribu) untuk divetrip lagi. Total ada LIMA dive trip di sepanjang 2016.

img_5431

Gear up di Genteng Kecil

DCIM102GOPROG0064031.

After dive di Pulau Pramuka

img_0126

Menyelam di Tomia

img_8848

Leaving home from Lombok

DCIM102GOPROGOPR2934.

After dive di Gili Trawangan

Diantara divetrip, terselip juga bepergian ke Surabaya, Medan, Makassar, dan Yogyakarta untuk business trip, hahaha…

Untuk semua yang sudah terlalui di 2016…

Alhamdulillah untuk trip yang selalu mengesankan sepanjang tahun 2016.ย Alhamdulillah untuk office mates yang makin kompak dan makin asik.

Alhamdulillah untuk keluarga yang selalu mendukung apa yang saya lakukan di sepanjang tahun. Alhamdulillah untuk teman-teman yang selalu ada ๐Ÿ™‚ Alhamdulillah untuk pasangan yang diketemukan di awal tahun dan memberi warna di sepanjang tahun 2016. Iya, ini lagi bahas kamu yang bikin aku tongpes sejak ikutin saran kamu ambil license diving, hahahaa…

Harapan yang ideal untuk 2017, semoga segala target di tahun 2017 bisa tercapai, more advance in everything ๐Ÿ™‚

Ya, setidaknya bisa kayak tahun 2016 kemarin laah, bisa keluar lagi dari comfort zone, makin nikmatin hidup, makin banyak bersyukur, dan makin berbahagia ๐Ÿ™‚

Amin!

Oh, and Happy 2nd Anniversary, My Blog! ๐Ÿ™‚

Advertisements

What to do in Gili Trawangan, Lombok, NTB – Indonesia

Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa kawan saya berwisata ke Gili Trawangan. Ini adalah trip pertama saya ke Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat. Karena trip pertama, makanya saya cukup antusias untuk cari tau tentang apa yang bisa saya lakukan di sana, heheheโ€ฆ Ternyata setelah dijalani ke sana langsung, saya menyimpulkan ada TIGA hal utama yang harus kamu lakukan selama di Gili Trawangan.

Gili Trawangan, Lombok, NTB – Indonesia


Apa saja sih?

PERTAMA adalah lupakan diet, timbangan, dan segala hal terkait karena di Gili Trawangan itu kamu bisa bangeeet wisata kuliner!! Mayoritas resto memang menawarkan kuliner khas mancanegara terutama Eropa yang paling banyak ditemui ya semacam pizza, burger, dan salad.

img_8321

Must try: Cheese-nya mantap!!

img_8391

Burger ala Manta Dive

img_8670

Salad ala Bamboo Restaurant

img_1781

Scallywags.. ini juga must try! ๐Ÿ™‚

Pecinta seafood segar ga boleh melewatkan resto Scallywags! Dibandingkan resto lainnya memang mereka patok harga agak mahal tapi buat saya it’s worth every penny :))

Ada juga resto atau warung makan yang menyediakan menu khas Masakan Sasak Lombok. Berkat informasi seorang teman yang antusias, kami berhasil menemukan warung Ibu Dewiย yang lokasinya agak melosok dekat dermaga. Apa istimewanya? Konon kabarnya, warung ibu Dewiย yang menjual masakan khas Sasak dengan harga ala warteg di Pulau Jawa ini sudah mendunia, beberapa kali diliput di media nasional apalagi setelah membantu memasok catering untuk film Arisan-nya Nia Dinata. Rasa masakannya pun maknyusss! Highly recommended!!

KEDUA adalah bakar kalori. Sesiap apapun kamu untuk naik berat badannya, di sini, jangan lewatkan kesempatan untuk bakar kalori dengan cara yang paling asik! Paling gampang mah jalan kaki. Kamu anaknya males banget buat jalan kaki? Kamu bisa sewa sepeda biar bisa kemana-mana ga pake jalan kaki. Memang, di Gili Trawangan ini, transportasinya Cuma ada tiga cara: jalan kaki, naik sepeda (disewakan harian sekitar 25-50rb/day), atau naik cidomo (di Pulau Jawa lebih dikenal dengan nama Andong atau Delman).

Saya ga terlalu menyarankan untuk sering-sering naik cidomo karena cukup mahal (kisaran 75 โ€“ 150rb sekali jalan, tergantung jarak). Lagipula, jalan utama di Gili Trawangan ini sangat ramah buat pejalan kaki maupun pesepeda. Ga ada trotoar atau jalur khusus sih tapi cukup memanjakan pejalan kaki atau pesepeda. Gimana ga manjain kalau tiap seratus meter atau kurang, kita bisa nemuin Gelato shop?!? 20-25rb per scoop sajaaaa…. Hahahaโ€ฆ Jadi makan lagi dehโ€ฆ ๐Ÿ˜€

Mau bakar kalori beneran? Gili Trawangan adalah tempat yang sangat kondusif untuk olahraga air! Yess, mayoritas penginapan di sini punya pool sendiri. Tapi masak udah ke pulau begini ga main di pantai atau laut sih? Ya terserah mood lah.. Mau berenang di kolam renang, ada. Mau berenang di pinggir pantai ya tinggal jalan kaki/naik sepeda.

Mau snorkeling atau diving di sekitar Gili pun aksesnya mudah. Banyak banget operator snorkeling atau diving di Gili Trawangan yang menawarkan paketan maupun ala carte ataupun jasa trip harian. Sila dipilih yang sesuai mood dan kantong, tentunya ๐Ÿ˜‰

Selain itu, beberapa tempat juga membuka kelas Yoga maupun olahraga lainnya seperti kano dan sebagainya.

KETIGA ya yang namanya liburan biasanya maunya santai yaโ€ฆ Jangan lupa enjoy your holiday, relax and chillin. Bar hoping ataupun hanya sekedar duduk duduk di beanbag pinggir pantai sambil nikmatin semilir angin dan suara ombak plus nonton layar tancep pun bisa dilakukan di Gili Trawangan. Seru kan!

Itinerary Divetrip ke Wakatobi (Tomia Island), Indonesia

Kali ini saya akan bercerita mengenai detail itinerary dan juga biaya yang saya habiskan untuk trip diving ke Wakatobi. Jika ingin menduplikasi trip saya tapi gak pake diving, ya tinggal dikurangi saja biaya divingnya, hehehe… Untuk spot snorkeling kurang lebih sama dengan spot diving, beda kedalaman dan perlengkapannya saja, hehe..

Saya bersama 15 teman jalan saya menggunakan operator travel Kakaban Trip (KT) untuk keseluruhan wisatanya, sedangkan divingnya bekerja sama dengan Tomia Scuba Dive (TSD). Ini kali ketiga kami bekerjasama dengan KT (sebelumnya trip ke Kepulauan Komodo dan Pulau Kei Kecil, rincian kedua trip tersebut bisa dibaca pada postingan saya sebelumnya). Kalau mau kontak ke Kakaban Trip bisa via Instagramnya @KakabanTrip atau ke Tomia Scuba Dive bisa langsung Whatsapp or telp ke dr Yudi +6282187877751 atau check on http://www.tomiascubadive.com

Trip ini sudah kami rencanakan sejak November 2015 silam (kira-kira 6 bulan sebelum keberangkatan). Perencanaan dan booking dari jauh hari sangat disarankan, apalagi jika berencana trip di tanggal long weekend/high season! Karena di Pulau Tomia belum banyak penginapan. Siapa cepat dia dapat. Kami nyaris tidak mendapatkan penginapan. Akhirnya kami ber 16 ini pun harus rela dibagi dua kelompok yang diinapkan di dua penginapan yang berbeda.

Satu hal yang rada saya sesali di trip ini adalah saat itu saya kurang optimal mempersiapkan camera gear! Padahal…duh, viewnya breathtaking banget! So, saya sarankan, kalau DSLR atau mirror-less terlalu serius or berat buat lu ajak serta, paling tidak bawalah GoPro atau action-cam merek lainnya. Aselik, gak bawah lautnya, ga atas langitnya……phew! TOP MARKOTOB!! ๐Ÿ˜€

Biaya trip ke wakatobi ini dibanderol oleh KT sebesar 5,750,000 (tidak termasuk tiket pesawat PP). Memang kami yang meminta agar biaya trip di luar tiket pesawat agar kami lebih leluasa mengatur jam dan maskapai serta luwes menyesuaikan dengan agenda tersendiri setelah trip Wakatobi ini. Untuk biaya divingnya sendiri sekitar 3,400,000 untuk 7 kali dive selama dua hari.

Biaya tiket pesawat Lion Air dan Wings Air dari Jakarta-Wangiwangi dengan dua kali transit di Makassar dan Kendari sebesar Rp 1,600,000 – Rp 2,200,000. Itu untuk satu kali jalan. Baliknya kami menggunakan Wings Air dari Wangiwangi ke Makassar dengan satu kali transit di Kendari seharga Rp 800,000; lalu lanjut dengan Garuda Indonesia dari Makassar ke Jakarta seharga Rp 898,000

Total flight PP Sekitar 3.5 – 4 juta.

Bicara soal perjalanannya sendiri, makan waktu sekitar 16 jam dari rumah saya di Bekasi sampai tiba di penginapan di Pulau Tomia. Lama banget memang, gini rinciannya:

– 1 jam dari rumah Bekasi ke Airport Soetta di tengah malem buta
– 3 jam nunggu boarding pesawatnya
– 2.5 jam terbang dari Jakarta ke Makassar dengan Lion Air
– 2 jam transit di Makassar
– 1 jam terbang dari Makassar ke Kendari dengan Wings Air ATR
– 0.5 jam transit di Kendari
– 1 jam terbang dari Kendari ke Wangiwangi
– 0.5 jam dari Bandara Matohari ke Dermaga Wanci
– 4.5 jam naik perahu motor dari Pulau Wangiwangi ke Pulau Tomia
– 0.5 jam turunin barang-barang, jalan kaki dari dermaga ke penginapan

Phew! Iya, memang sepanjang itu perjalanannya, hehehe…

Jadi hari pertama memang bakalan habis untuk perjalanan saja. Hari kedua ketiga untuk diving dan snorkeling. Sorenya kami main di pantai dan puncak pulau Tomia. Hari keempat island hopping ke Pulau Ndaa di pagi hari dan berkemas kembali ke Pulau Wangiwangi. Kemudian bermalam di Patuno Resort. Hari ke lima, trip Wakatobi selesai. Dari kami ber-enambelas berpisah di Bandara Wangi-Wangi, ada yang lanjut ke Sumbori, ada yang ke Makassar, adapula yang langsung pulang ke Jakarta.

Yaps, That’s it!

Tunggu cerita tentang trip di Wakatobi-nya di postingan selanjutnya. Untuk dokumentasi keindahan Wakatobi bisa ditemukan di akun Instagram saya: @Adzaniah ๐Ÿ˜‰

A journey to be a certified PADI Open Water Diver

Awal Maret 2016 akhirnya saya memutuskan untuk apply Open Water Dive course and license. It takes one year from the very first time I took Trial Scuba Diving (TSD) from NAUI and then I took TSD from PADI at the end of 2015.

Saya (dan beberapa teman) berencana trip awal Mei 2016 ke Wakatobi, sebuah kepulauan di Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya.

Yaps, karena itu lah akhirnya yang mendorong diri saya untuk bergegas ambil license open water. Rasanya agak nanggung ke Wakatobi tapi gak nyelem, hehehe… Meskipun yaaaa, dengan snorkeling aja viewnya udah gila-gilaan bagusnya. Nah, apalagi sampe nyelem lebih dalam, hehehe…

Saya dan teman saya, Vina dan Vania (yang ini baru kenal pas di kelas pertama), ambil course di Bubbles Dive Center yang berlokasi di belakang Lotte Shopping Avenue, Kuningan Jakarta. Mereka punya kolam renang sendiri sedalam 1 dan 7 meter. Nah ini yang jadi salah satu alasan kenapa ambil license di Bubbles, lebih privat dan nyaman. Meski harus merogoh kocek lebih dalam, hehehe.. Untuk paket OWD course sampai dapat licensenya dibanderol seharga IDR 6,3 juta.

Kami mulai kelas pertama di tanggal 20 Maret 2016 dengan Mas Tommy sebagai pengajar alias Dive Master (DM). Kontennya ada tes berenang 200m, ngapung 10 menit, kelas kolam, dan kelas teori di dalam kelas. Selain itu, ada pula materi yang perlu kami pelajari sendiri di luar jam belajar yakni materi di buku panduan dan juga materi berupa video pengajaran yang harus kami tonton. Kelas pertama saya dan Vina lalui dengan lancar (meski badan rasa mau rontok, hehehe… capek bangets, serius!!), sementara Vania masih kurang nyaman dengan mask clearing. Memang, belajar diving dan diving itu sendiri selain soal keamanan, kenyamanan juga tak kalah penting. Segala gear yang nempel ama badan kita diusahakan se-fit mungkin ama kontur badan kita agar pergerakan di dalam air pun bisa mudah dinikmati.

Kelas kedua yang mestinya berlangsung di 26 Maret 2016 tertunda karena ada salah satu dari kami yang tiba-tiba berhalangan. Nah, ini salah satu enak/ga enaknya kursus diving. Karena jumlah peserta sedikit, kita jadi bisa menentukan sendiri jadwalnya. Namun, jika kita ambil kursusnya barengan dengan teman-teman, akan cenderung nyari waktu yang semua pada bisa.

Kelas kedua pun diundur ke tanggal 10 April 2016, namun sayangnya di tanggal tersebut saya malah ga enak badan. Karena alasan mengejar waktu ujian (dengan harapan bisa dapet lisence sebelum saya trip ke Wakatobi), akhirnya kelas tersebut pun tetap diadakan tanpa kehadiran saya. Vina dan Vania pun benar-benar mengasah skill-skill dasar di dalam kolam dan kelas.

Kelas ketiga pun diadakan pada tanggal 18 April 2016 dengan full kelas kolam dan teori dari pagi hingga sore hari, ini akibat saya skip kelas di minggu sebelumnya jadi materi skill pun harus dikebut dengan lebih menitikberatkan pada mengasah skill dasar saya. Di kelas kali ini, salah satu rekan trip saya, Rahma, ikutan kelas untuk refreshment karena dia sudah lama ga diving sebelum nanti turun diving lagi di Wakatobi.

Di kelas ketiga ini, saya pribadi betul-betul kesulitan menguasai beberapa skill seperti ngatur bouyancy sampe bisa netral, hovering susyeee yee..hehehe.. But then, lees than one minute sih akhirnya bisa. Well, iniiii baru di kolam nih yaaa, yang belum ada arus dan lain-lainnya.. Di kelas ketiga ini pula kami dapet bonus belajar free diving! Meskipun udah pernah nyoba-nyoba free dive di kolam renang umum pas belajar ama pacar, tapi tetep aja susyee yee untuk bisa apnea ke dalem trus berenang sebelum akhirnya muncul lagi di permukaan, hehehehe..

Setelah lulus semua uji dan tes teori maupun kolam, pada tanggal 23-24 April 2016, kami pun ujian open water di laut, tepatnya di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu. Totalnya akan ada 4 kali dive selama di sana.

Ini cerita yang akan saya ceritakan lebih detail. Karena cerita ini akan bikin kamu-kamu mungkin akan mempertimbangkan lagi dan lagi untuk ambil lisence Diving ini. Here we go!

 

IMG_20160423_133455

Pulau Sepa, Kepulauan Seribu. Lokasi ini memang sering dijadikan tempat ujian diving ๐Ÿ™‚

Hari pertama:
Dive 1:
Target: inget semua yang dipelajari di kolam, tenang.. Deep and sloooow… Don’t panic and enjoy the views!

Everything went smoothly. Ga pake mikir. Sanking ga mikirnya, disuruh nempel ama buddy, ya beneran nempel.. Kmana-mana bareng, sampe turun lebih dalam ninggalin Dive Master (DM), Mas Tommy, pun bareng! Hingga akhirnya tetiba bisa mikir, malah ga bisa control buoyancy, naik deh ke permukaan bagai balon udara..berdua juga! Duh, jangan dicontoh ya.. Ini bahaya banget.. Sampe atas, abis lah kami diomelin DM ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Dive 2:
Target: Jangan jauh-jauh dari Mas Tommy, usahain stay di atasnya dia. Yang ada, gue dan Vina kebanyakan mikir malah ga bs mempertahankan posisi. Boro-boro bisa hovering, bisa gak heboh naik turun aja susah banget! Alhasil kami bergandengan tangan dan makin intim!! Hahahadeeuuuhh… ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Di akhir hari, sempat kami, para student, ini menertawakan kelakuan kami. Ngapaiiin coba deh ambil kursus menyelam?! Udah lah mahal (gearsnya, lisencenya, trip divingnya, dll), ribet (bawa alatnya, persiapannya, mesti mikul tabung gas yg super berat mampus gilak, beresin peralatannya stelah diving, dll), bahaya bangeet (well, konon diving itu olahraga beresiko tinggi kedua setelah terjun payung yaa..), musti adaptasinya susah (yoi, biasa napas pake idung, saat diving mesti napas nitrogen pake mulut.. Phew!), dll, dst, dsb..

But, we are at the point of no return! Just go ahead… \m/  ๐Ÿ˜‡๐Ÿ™Œ


Hari kedua:
Dive 3:
Target: tenaaanngg…musti bisa hovering pokoknya! Tapi sanking hebohnya, gue jadi boros napas. Tabung awal paling banyak 220lt, tapi paling cepet abis.. Yang lain masih 70-120lt, gue udah 40lt.. Kacau! ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚


Dive 4:
Target: Let it be lah.. ๐Ÿ˜… Enjoy aja, jangan kebanyakan mikir.. Deeep and slooooowww….. Dan berkat kesabaran DM gue, mas Tommy, akhirnya berhasil juga gue hovering, meski gayanya juga masih aneh, hahaha… And this was the gong, finally, when we arrived the surface, he said, “Congratulations, you are now a diver!!”


Yeheeeyyyyyy….. ๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰

Akhirnya satu resolusi tahun 2015 saya bisa terealisasi, meski telat setahun, hehehe.. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜Ž

Buat kalian yang kepikiran mau ambil lisence diving, pikirin baik-baik dulu deh.. Ribet dan nyusahin banget, aselik!! Tapiiii, kalo pengen liat keindahan bawah laut dengan mata kepala sendiri, well, it’s worth every penny laahhh…

And, Wakatobi, here we come!!! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ™Œ๐ŸŒŠ๐ŸŠ

#OWDlisence #openwater #latepost

Kereta “mewah” Kualanamu

Beberapa waktu lalu, pertama kalinya saya menggunakan jasa transportasi Kereta Kualanamu dari Bandara Kualanamu ke Stasiun Kereta Medan. Lebih afdol sebagai anker (anak kereta) kalau sudah mencoba naik transportasi umum kebanggaan orang Sumatera Utara ini. Secara frekuensi, keretanya tidak sesering Commuter Line di Jabodetabek, tapi rata-rata satu jam sekali pasti ada. Waktu tempuh ke Kota Medan berkisar antara 40-50an menit.

Kenapa waktu tempuhnya bisa beda-beda? Karena waktu tempuh tiap perjalanan sudah dihitung dengan waktu berhenti di tengah jalan saat gantian rel dengan kereta lain. Dengan kata lain, jika tidak ada insiden luar biasa maka durasi perjalanan akan tepat waktu.

Berbeda dengan CommLine yang tiap hari saya tumpangi. Penumpang hanya tau kalau durasi perjalanan normal tanpa hambatan dari Bekasi ke Manggarai sekitar 27-30 menit, itu dengan kecepatan optimal dan gak pake antre gantian rel atau masuk stasiun besar Jatinegara atau Manggarai. Sementara setiap hari, ada saja kereta2 yang mesti antre masuk stasiun maupun gantian rel dengan kereta jarak jauh. Penumpang diminta untuk mengalkulasi dan menghapal sendiri durasi tiap perjalanan kereta.

Di sana, stasiunnya sangat keren dan dilengkapi dengan ruang tunggu yang sangat luas! Terasa bersih. Cling banget! Macam habis dipel. ๐Ÿ˜‚ Sedangkan di sini, hanya di beberapa tempat saja yang sudah menggunakan ubin, itu pun setiap hari dipel tapi ga tampak kayak habis dipel ๐Ÿ˜… Meski demikian, kondisi kayak bgini udah lumayan membaik banget dibandingkan dengan kondisi stasiun saat saya kuliah dulu (sepuluh tahunan lalu laaah).

Di sana pula, jumlah penumpang pun dibatasi dengan jumlah kursi. Ga ada cerita penumpang berdiri meski waktu tempuhnya hanya sebentar. Maka, di waktu prime time, memesan tiket jauh sebelum waktu keberangkatan akan sangat disarankan.

Sementara itu, jumlah penumpang kereta CL dibatasi dengan konsensus para penumpang. Yes, jika di suatu pintu gerbong sudah terlihat sangat penuh, maka bisa saja para penumpang terutama yang berdiri di depan pintu menolak penumpang yang mau ikut naik. Pemandangan ini sangat lumrah terjadi, apalagi jika penumpang ular kaleng ini sudah bisa berempati terhadap daging kornet yang sering dipaksakan muatannya dalam wadah.

Namun demikian, dilihat dari harga tiketnya, rasanya semua jadi make sense. Ada harga, ada rupa. Tiket perjalanan durasi kurang dari satu jam dan sudah pasti dapat nomor kursi serta jaminan ketepatan waktu berangkat dan tiba dibanderol sebesar IDR 100,000. Sementara tiket Bekasi-Manggarai hanya IDR 2,000 sajaaaa!!

Saya mah Alhamdulillaahhh, tiket kereta dari Kota Satelit ke Pusat Kota Jakarta cuma segitu. Ga kebayang mesti bayar seratus ribu tiap hari sekali jalan dengan fasilitas yang sama kerennya dengan Kualanamu… ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

“Ngenest” di penghujung 2015

Di penghujung tahun 2015 dapet kesempatan untuk menghadiri gala premiere film “Ngenest”. Film bergenre drama komedi yang diangkat dari trilogi buku “Ngetawain Hidup ala Ernest” ini dibintangi dan disutradarai sendiri oleh si penulisnya langsung Ernest Prakasa. Sebelum bergelut di dunia cinematografi, Ernest sendiri sudah lebih dulu terkenal sebagai seorang komika (Stand Up Comedian).
IMG_20151228_194826

“Terima kasih udah nonton film papa aku..”, ujar Sky sesaat sebelum pemutaran perdana film Ngenest

Film keluaran StarVision ini bercerita tentang keresahan Ernest sebagai seorang keturunan Cina. Sejak masa kecilnya, ia sering di-bully sekitarnya hingga meninggalkan trauma mendalam diย diri Ernest. Ia pun bertekad untuk menikah dengan pribumi agar keturunannya tidak mengalami kepahitan yang ia rasakan sebagai keturunan Cina.

Menurut saya, ini adalah film Indonesia terbaik tahun 2015! Bagaimana tidak?! Alur cerita pas, tidak berlebihan. Pacing juga terasa pas, gak bikin ngantuk, sukses pula memainkan emosi penonton hingga mencapai klimaks. Perasaan sepanjang nonton pun campur aduk, dari senang, miris, kzl, sedih (sampai menitikan air mata!), sampai bahagia lagi.. Konten cerita juga disampaikan dengan sangat keren! Meski sarat komedi namun message utama keresahan Ernest tetap kental terasa. Saya bahkan bisa bilang this movie is really touchy!

Selepas nonton, Ernest dan keluarga stand by di pintu keluar studio (mungkin) untuk kasih kesempatan para penonton untuk bisa berinteraksi atau ngasi feedback langsung ke dia. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mungkin Ernest masih ingat. Saat itu saya bilang ke dia, “Filmnya bagus, saya jadi sedih!”

Ernest (mungkin) bingung, dia bilang, “Koq sedih? Seneng dong mestinya..”

*kebanyakan “mungkin” yaa.. biar samaan ama sontreknya gituu, hihihi… I love the soundtrack by The Overtunes as well!!!

IMG_20151228_192225

Nonton duluan sebelum rilis 30 Desember 2015 lalu ๐Ÿ˜‰

Yang sebenarnya mau saya katakan tuh begini… Maaf ini agak spoiler buat yang belum nonton. Sepertiga (atau seperempat) bagian terakhir film ini adalah bagian terpenting, yang kalau eksekusinya buruk maka gak bakalan ninggalin kesan yang mendalam bahkan bikin penonton (at least gue) jadi sedih. Di bagian tersebut diceritakan kekalutan Ernest karena pasangannya (Meira) makin gencar minta dibuahi (aduh, diksi gue parah banget… ya gitu lah maksudnya.. ngerti kan) karena sudah tidak sabar ingin punya anak. Long short story, Ernest setuju kemudian diceritakan Meira hamil dan Ernest makin hari makin kalut menanti kelahiran buah hatinya (yang ada kmungkinan memiliki ciri fisik orang Cina). Entah ini beneran atau gak (di buku sih bagian kekalutan ini kayaknya ga ada yah kan yah?! Belum baca ulang nih saya) tapi nuansa efek bullying jaman masih muda itu berasa banget. Terlihat ekspresi keputusasaannya yang meskipun sudah berhasil nikah ama pribumi tapi masih ada juga kemungkinan anaknya memiliki ciri fisik keturunan Cina.

And that makes me sad!

Yang berkeliaran di kepala gue: “Gila ya, Bullying effect sampai segitunya banget!!” Rasanya pengen jitakin satu-satu bocah-bocah hingga orang dewasa yang hari gini masih aja ngebully orang lain hanya karena alasan beda suku, agama, ras, IQ, kelas sosial, dan alasan-alasan gak penting lainnya.

Trus bikin gue jadi pengen balik jadi so-called aktivis anti-bullying yang ngasih training ke sekolah-sekolah di bawah payung Yayasan Sejiwa atau Kampus Psikologi UI like the old days… Iya, nanti gue ceritain di postingan yang lain yah soal aktivitas gue ini. Sekarangย kan lagi bahas soal film Ngenest! Hehehe..

Okeh, mari balik bahas filmnya.

Thanks to Arie Kriting yang katanya berperan untuk mengoptimalkan unsur-unsur komedi yang betebaran di film ini. Aselik, lucuknya asik.. Gak maksa and so natural!! Banyak ketawa lepas sepanjang nonton.

Talent lain yang juga saya acungi jempol adalah pasangan papa mamanya Meira (hahaha.. Ini mah luwar biyasaaakkk lucuknya!!), Acho (yang jadi dokter kandungan), Duo Awwe dan Adjisdoaibu (yang juga jadi host di pemutaran Perdana film ini..!!), dan juga komika komika lainnya.

Saya sih mau banget nonton film ini lagi di bioskop!

Anyway, selama pengalaman saya nonton Gala Premiere sejak Lima tahun terakhir… Ini event gala premiere yang niat, berkonsep, dan paling menghibur!! Hostnya yang semangat banget ngelawak terus sepanjang sebelum dan sesudah pemutaran. Kapan lagi ngantri keluar studio kelar nonton ditemani oleh dua host kocak…?!? Mevvaah!! *standing ovation to @Adjisdoaibu @awwe_

IMG_20151228_214215

Ngantre keluar studio gak pernah se-entertaining ini!! x))

Si Bintang utama, Ernest Prakasa sendiri dengan muka sumringah di dekat pintu keluar, asik berinteraksi dengan penontonnya. Juga yang gak kalah keren dan (menurut gue) Cina banget…. Souvenir Gala Premiere berupa Angpau merah mengkilat dengan logo film Ngenest. Ternyata isinya stiker, gantungan kunci, kalender mungil, dan magnet kulkas.. Semuanya berlogo promo film Ngenest. It’s a great strategy sik.. Ketimbang bagi-bagi kaos yang mungkin cuma dipake sesekali doang, itu pun dipake di rumah yang exposure promonya mungkin ga banyak. Mending stiker, gantungan kunci yang mungkin akan dipake dan lebih banyak orang yang liat. Murah dan tujuannya tercapai! Brilian… Me Likey!!

IMG_20151228_233943

Dapet angpau dari Ernest! ๐Ÿ™‚

Oh my! Koq saya jadi rasis gini sik?!? Maaf yaa, Nest.. *toyor-toyor gue*

Happy first anniversary, my blog :)

Yeaaayy, satu tahun sudah saya eksis di dunia per-blog-an, khususnya di adzaniah.com ini. Thank you for all reader ๐Ÿ™‚

Blog ini adalah komitmen saya untuk tetap menulis dan berbagi pengalaman. Biar makin komit, saya ambil paket berbayar, biar berasa rugi kalau tidak nge-blog, hehehe..). Target posting sebulan dua kali bisa dibilang tidak terlalu sukses karena mulai pertengahan tahun 2015, postingan pun makin jarang (bahkan kadang hanya me-repost postingan orang lain). I donโ€™t want to blame my schedule, then, hahaha… Memang saya-nya saja yang makin jadi pemalas! *toyor*

Jadi inget tahun lalu, bikin akunnya aja pake didorong-dorong teman saya, Agungpuma (empunya ngobrolbasket.com dan ngobrolmotorcross.com). Thanks, dude!

Awalnya mau fokus di traveling,tapi seiring berjalannya waktu, topiknya pun melebar kemana-mana. Beberapa kali juga saya cek statistik akun saya ini, memang yang paling banyak dibaca justru topik umum non-traveling. Seperti postingan tentang transportasi online atau seputar Chia Seeds, atau review film ternyata jauh lebih disukai / lebih banyak dibaca. Readernya bisa mencapai ribuan.

Meski sudah tidak benar-benar fokus ke traveling saja, spiritnya sih sama, berbagi informasi.

Beberapa waktu lalu saya menemukan gambar ini beredar di Facebook saya (Kurang tahu originalnya dari siapa, jadi gak bisa kasih sumber fotonya, maaf..). Hmm, itโ€™s steal my attention at that time! Dipikir-pikir (namanya juga anak T mentok, kebanyakan mikir memang sih.. hehehe..), bener juga sih.. Kalau saban momen pergantian tahun, biasanya kan mikir: Apa aja yang sudah berhasil dicapai (based on resolusi awal tahun), apa saja yang ga ada di resolusi tapi eh bisa tercapai juga, apa aja yang belum bisa tercapai dan butuh evaluasi agar bisa dicapai tahun depan.

0793df79-9058-4958-afe3-57500b837e4e-medium

As a J person, I do things based on what Iโ€™d targeted. Tapi sebagai orang yang pengen semuanya balance, saya berusaha fleksibel. Dalam arti, saya gak se-ambisius itu koq ngejar semua yang saya targetin, apalagi kalau target-target saya berhubungan dengan orang lain juga. Misalnya, nikah. Dulu sempet punya target bisa nikah sebelum usia 30. Sekarang, ketemu jodoh aja belum, ya sudah. Hal ini gak bikin saya bersikap โ€œmau aja lah sama yang mau sama gueโ€. Intinya saya ga mau maksa, saya pemilih, dan saya pun berkompromi juga.

Helloooowh, saya nyari responden untuk penelitian saja, harus benar-benar pas dengan kriteria ideal. Padahal cuma buat responden selama beberapa jam saja lho. Nah, apalagi untuk nyari pasangan yang untuk selamanya? #eh

So, yess, I will be married when I am (and him, of course) really READY!

Untuk mencapainya, ya pantesin diri aja dulu. Sembari terbuka saja, jika ada yang ngajakin kenalan atau jalan bareng. Hey, jalan bareng berduaan itu bukan nge-date ya! In my definition, dating is when two persons are in romantic relationship. Iya, kalau sudah resmi pacaran, baru deh namanya nge-date.

Sembari gak ada pasangan, ya puas-puasin dulu lah punya banyak teman dari berbagai kalangan, ngabisin waktu dengan keluarga, melakukan hal-hal yang ingin dilakukanโ€ฆ Focus on making great memories with surroundings.

Sempat kepikiran untuk mencoba mewujudkan mimpi jaman dulu, kuliah lagi di luar negeri. Iya, dulu sempet pengen kuliah di Belanda (thatโ€™s why pernah ambil kuliah program studi Belanda di UI tahun 2003 silam). Kenapa Belanda? Saya juga tidak tahu awalnya. Sekarang baru realize banyak budaya di Belanda yang cocok dengan ke-ESTJ-an saya. Bisa makin saklek nih kalau sampai terwujud tinggal di sana, heheheโ€ฆ Kumpulin modal dulu kali yah. Secara rencana nikah dan berkeluarga entah kapan bisa terwujud, duitnya bisa digunakan untuk yang lain dulu, meheheheโ€ฆ

Above all, saya masih ngerasa kurang โ€œmemberiโ€. Tangan masih sering ada di bawah, ketimbang di atas. Terinspirasi dari Raya juga, sekarang kalau mau trip kemana-mana, saya usahakan bawa buku bacaan. Akan diusahain banget ketemu dengan penduduk lokal (terutama anak-anak).

Life paradox: Melipatgandakan senang-senang dengan cara berbagi senang-senang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Let’s do this!!

Well, thanks 2015! You gave me priceless experiences, mostly Iโ€™d never ever imagine.

For 2016, I would like to discover many skills by stepping outside my comfort zone, enjoying life, more grateful, and be happier.