Kereta “mewah” Kualanamu

Beberapa waktu lalu, pertama kalinya saya menggunakan jasa transportasi Kereta Kualanamu dari Bandara Kualanamu ke Stasiun Kereta Medan. Lebih afdol sebagai anker (anak kereta) kalau sudah mencoba naik transportasi umum kebanggaan orang Sumatera Utara ini. Secara frekuensi, keretanya tidak sesering Commuter Line di Jabodetabek, tapi rata-rata satu jam sekali pasti ada. Waktu tempuh ke Kota Medan berkisar antara 40-50an menit.

Kenapa waktu tempuhnya bisa beda-beda? Karena waktu tempuh tiap perjalanan sudah dihitung dengan waktu berhenti di tengah jalan saat gantian rel dengan kereta lain. Dengan kata lain, jika tidak ada insiden luar biasa maka durasi perjalanan akan tepat waktu.

Berbeda dengan CommLine yang tiap hari saya tumpangi. Penumpang hanya tau kalau durasi perjalanan normal tanpa hambatan dari Bekasi ke Manggarai sekitar 27-30 menit, itu dengan kecepatan optimal dan gak pake antre gantian rel atau masuk stasiun besar Jatinegara atau Manggarai. Sementara setiap hari, ada saja kereta2 yang mesti antre masuk stasiun maupun gantian rel dengan kereta jarak jauh. Penumpang diminta untuk mengalkulasi dan menghapal sendiri durasi tiap perjalanan kereta.

Di sana, stasiunnya sangat keren dan dilengkapi dengan ruang tunggu yang sangat luas! Terasa bersih. Cling banget! Macam habis dipel. 😂 Sedangkan di sini, hanya di beberapa tempat saja yang sudah menggunakan ubin, itu pun setiap hari dipel tapi ga tampak kayak habis dipel 😅 Meski demikian, kondisi kayak bgini udah lumayan membaik banget dibandingkan dengan kondisi stasiun saat saya kuliah dulu (sepuluh tahunan lalu laaah).

Di sana pula, jumlah penumpang pun dibatasi dengan jumlah kursi. Ga ada cerita penumpang berdiri meski waktu tempuhnya hanya sebentar. Maka, di waktu prime time, memesan tiket jauh sebelum waktu keberangkatan akan sangat disarankan.

Sementara itu, jumlah penumpang kereta CL dibatasi dengan konsensus para penumpang. Yes, jika di suatu pintu gerbong sudah terlihat sangat penuh, maka bisa saja para penumpang terutama yang berdiri di depan pintu menolak penumpang yang mau ikut naik. Pemandangan ini sangat lumrah terjadi, apalagi jika penumpang ular kaleng ini sudah bisa berempati terhadap daging kornet yang sering dipaksakan muatannya dalam wadah.

Namun demikian, dilihat dari harga tiketnya, rasanya semua jadi make sense. Ada harga, ada rupa. Tiket perjalanan durasi kurang dari satu jam dan sudah pasti dapat nomor kursi serta jaminan ketepatan waktu berangkat dan tiba dibanderol sebesar IDR 100,000. Sementara tiket Bekasi-Manggarai hanya IDR 2,000 sajaaaa!!

Saya mah Alhamdulillaahhh, tiket kereta dari Kota Satelit ke Pusat Kota Jakarta cuma segitu. Ga kebayang mesti bayar seratus ribu tiap hari sekali jalan dengan fasilitas yang sama kerennya dengan Kualanamu… 😅😅😅

Advertisements

Pantai Ular (Ngurtavur), Kei Island, Maluku

IMG_7984

Ngurtavur Beach

Pantai Ngurtavur, terletak di Pulau Warbal, Kepulauan Kei Kecil, Kab. Maluku Tenggara, Maluku, Indonesia. Pantai ini disebut juga sebagai Pantai Ular karena pantai ini memiliki gusung yang mengular sepanjang 2 km dengan lebar kira-kira 7 meter. Gusung ini baru bisa terlihat demikian saat kondisi air surut. Wisatawan dapat berjalan sepanjang gusung dan merasakan sensasi berjalan di tengah laut (karena kanan dan kirinya langsung pantai laut). Kawasan pantai Ngurtavur ini dalam setahun belakangan tertutup untuk wisatawan karena termasuk daerah yang dilindungi adat setempat. Tepat di pangkal pantai mengular dipasang sasi (janur, semacam penanda area adat yang terlarang dikunjungi).

IMG_7996

Sasi, penanda area adat yang terlarang dikunjungi

Sebenarnya wisatawan masih bisa berkunjung dan menikmati keelokan pantai Ngurtavur ini, tapi memang ada sejumlah prosedur yang perlu dilakukan, seperti meminta izin terlebih dahulu ke kepada desa dan ketua adat. Itulah yang kami lakukan saat mengunjungi pantai eksotis ini. Begini ceritanya…

Sejak dari pantai Ngurbloat, kami ingin sekali mengunjungi Pantai Ngurtavur. Padahal spot tersebut ga ada di paket itenarary kami, so kami harus menambah biayanya (most likely tour agent memang tidak akan memasukan spot ini ke paketnya karena ya itu tadi, area tersebut terlarang secara adat). Berbekal tekat kuat (cailaahhh….) dan kegigihan tour guide kami yang ingin memuaskan kliennya yang BM (banyak mau) ini, akhirnya berangkatlah kami ke pantai Ngurtavur. So much thanks yaaa Kakaban Trip team!! 😀

foto 3 kursi kondangan

Kapal yang membawa kami ke Pantai Ngurtavur lengkap dengan kursi kondangannya, hehehe…

DCIM104GOPRO

On our way to Ngurtavur Beach

Perjalanan kami pun sempat mengalami kendala. Lihat gambar di atas, yaps, itu penampakan kapal motor yang kami tumpangi, lengkap dengan kursi plastik bak di kondangan! Hahaha… tour guide kami ini emang juara untuk memuaskan kliennya mengarungi lautan kurleb satu jam. Tapi ternyata, gulungan ombak lumayan bikin khawatir di tengah jalan. Akhirnya, kami menepi ke sebuah pulau untuk ganti formasi duduk. Yaps, akhirnya kami belasan orang ini duduk di bawah, selonjoran. Kursi plastik bebas tugas, mr. boatman pun lebih tenang mengarungi lautan!

DCIM104GOPRO

Bye bye kursi kondangan…. Siap-siap dihantam ombak!!

Setelah hampir satu jam, kami pun tiba di pantai Ngurtavur. Kondisi saat itu, air masih pasang sehingga gusung mengular belum tampak. Tour guide lokal kami meminta agar kami tidak bermain terlalu jauh dulu, sementara ia akan pergi minta izin ke kepala desa dan ketua adat. Kami pun menurut, hanya berfoto-foto santai di area itu. Tak lama kami pun dihampiri oleh seorang warga. Aktivitas hahahehe dan fotafoto kami pun terhenti. Long short story, beliau menegur dan menasehati kami. Kami pun menurut, mendengarkan teguran, nasihat, dan cerita beliau. Beliau juga meminta kami untuk meminta izin terlebih dahulu ke kepala desa dan ketua adat, ya kami semua. Waduuuhh, ga boleh banget nih main-main dan potapoto di mari, pak?!?

IMG_5940

Warga yang menegur rombongan kami (sebelah kiri)

Untungnya tour guide lokal kami segera datang dengan mengantongi izin dari kepala desa dan ketua adat untuk kami mengeksplorasi pantai Ngurtavur. Yeaaayy! Bapak-bapak yang tadi menegur kami pun menjadi ramah, ia mengajak kami ke kapalnya yang penuh dengan rumput laut hasil panen. Saya dan beberapa teman mencicip rumput laut asli dari laut tersebut. Hmm, enak… Cuma yaa gitu, rasa air laut, hihihi…

IMG_7955

Rumput laut rasa air laut yang sangat otentik x))

Jam menunjukkan pukul 1 siang dan air belum juga surut. Kami pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Tak lupa mengajak si bapak tadi untuk piknik makan siang bersama kami. Makanan dan minuman dibawa dari Kei Kecil, karena di lokasi ini tidak ada yang jual makanan or semacamnya. Berhubung pulau dan pantai ini memang tidak dikondisikan sebagai area wisata, fasilitas umumnya pun minim seperti toilet. Jangan harap ada bilik dengan toilet yang minim. Bahkan ada biliknya (yang terbuat dari dedaunan) saja sudah bersyukur, hehehe.. di dalamnya ga ada toilet, ya kalau mau buang air ya di tanah saja langsung. Oia, jangan lupa juga bawa plastik untuk membawa sampah pribadi yaa… 😉

 

IMG_5946

Selagi menanti air surut

Setelah makan siang, saya bermain perahu kano, sementara beberapa teman ada yang sudah asik berfoto-foto dengan sasi, ada pula yang boci di pinggir pantai. Memang, menurut bapak yang menegur kami tadi, air biasanya surut pukul 3 siang hingga pukul 11 malam. Sementara, saat kami tiba di sana baru pukul 12 siang.

IMG_8158

Main kano for the first time! 😀

IMG_4443

De’ Tantes boci..

Kami pun mulai berjalan menyusuri gusung mengular saat air mulai surut di pukul 2 siang. Kami bertujuhbelas yang anak kota tulen ini pun bahagia banget bisa main di pantai Ngurtavur dan ngalamin sensasi jalan di antara dua sisi pantai. Pasirnya halus banget, ga perlu pake alas kaki, malah jadi berat atau beresiko hilang terbawa arus pantai. Sesekali, air membasahi kaki kami saat melintasi gusung yang agak rendah.

DCIM105GOPRO

Cantiiiiiik bangets………..pantainya <3<3

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berjalan di tengah laut

Pemandangannya pun menakjubkan, pasir putih berpadu warna tosca air laut dan biru langit, ditambah ga ada orang lain lagi selain kami di sana. Kehadiran segerombolan burung Pelican Australia di pantai Ngurtavur ini pun menambah kebahagiaan kami. Ga setiap waktu, segerombilan Pelican Australia mampir ke Indonesia, khususnya ke pantai Ngurtavur ini.

IMG_8502

Pelican Australia aja senang ke Pantai Ngurtavur 🙂

DCIM108GOPROG5754842.

Group photo di ujungnya gusung Ngurtavur

Tak terasa, akhirnya kami pun sampai juga di ujung gusung pasir ini, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Wah, cepat juga ya.. tak terasa kulit sudah menggosong dan kain pantai yang kami jemur di pulau pun sudah kering lagi. Kapal yang kami labuhkan di pinggir pulaupun menjemput kami di ujung gusung (Alhamdulillah yaa cin, ga perlu balik lagi jalan 2 kilo, hahaha…).

Well, it’s time to go back to pulau Kei Kecil. See ya, Pantai Ngurtavur!

IMG_8619

See ya!

Credit photo by  Rahadi Ari “Kakaban Trip”, Rahma Tarigan, Dito Hendrato, and my private collection. 

Menginap di LOB (Live On Board) bertabur gemintang di langit Flores

Kali ini saya mau bercerita pengalaman saya berlibur dengan tinggal di kapal di salah satu spot Indonesia Timur. Eh ini beda dengan tinggal di kapal cruise yang mewah seperti di film-film, atau tinggal di kapal ferry yang biasanya untuk menyeberang antar pulau lhoo…

Ini penampakan kapal LOB kami yang sedang bersandar di Pulau Gili Laba Darat

Ini penampakan kapal LOB kami yang sedang bersandar di Pulau Gili Laba Darat

Jadi, saya dan sepuluh kawan baru saya pernah ikutan open-trip menjelajah di kepulauan Komodo, Flores, NTT dengan menggunakan kapal LOB (Live On Board), di pertengahan 2014. Kapal yang digunakan sejenis pinisi mini. Kapal ini memiliki empat ruangan tidur, satu ruangan pengemudi/kapten, dua toilet, dan satu dapur, serta satu dipan serbaguna (bisa untuk santai, duduk-duduk, ruang makan bersama, kalau malam jadi tempat tidur para awak kapal), juga dek kapal yang bisa digunakan untuk bersantai, berjemur, maupun menikmati taburan gemintang di malam hari.

Kalau siang hari, kami biasa berkumpul di dipan panjang serbaguna ini..

Kalau siang hari, kami biasa berkumpul di dipan panjang serbaguna ini..

Kami, bersebelas, plus satu kapten dan tiga orang awak kapal, serta satu guide lokal tinggal bersama di satu kapal ini selama kurang lebih 4 hari tiga malam. Sebenarnya lebih pas disebut tiga hari tiga malam sih, karena hari pertama dan terakhir gak sampai setengah hari pun.

Sunset yang menyambut kami dalam petualangan LOB ini :)

Sunset yang menyambut kami dalam petualangan LOB ini 🙂

Ada beberapa aturan tinggal di kapal ini. Pertama, harus hemat air! Iya, kami mandi dengan air tawar yang khusus dibawa dari Labuan Bajo. Sementara itu, untuk urusan siram menyiram feses, kami menggunakan air laut. Sanking mesti berhemat air tawar banget, kami pun hanya mandi satu hari sekali saja, hahaha.. Jorok? Engga lah! Begini lho kira-kira aktivitas keseharian kami selama LOB: Bangun tidur, cuci muka, sikat gigi, ganti baju, sarapan, lalu trekking di pulau-pulau. Lalu balik ke kapal, bergerak lagi, dan nyebur ke laut. Naik ke kapal, makan, kapal bergerak ke spot lain, trus berenang lagi. Gitu terus sampai sore, baru deh mandi pake air tawar, hehehe…

Demi berhemat air tawar, mandi pun dilakukan di luar toilet, hahaha... x))

Demi berhemat air tawar, mandi pun dilakukan di luar toilet, hahaha… x))

Kedua, listrik hanya dinyalakan di waktu-waktu tertentu, yakni petang hingga dini hari. Dan karena listriknya menggunakan diesel maka aliran listriknya pun ga stabil. So, you better prepare yourself with powerbank. Jadi, nge-charge gadget dengan powerbank yang sudah dicharge semalaman pada listrik dari diesel itu. Lumayan lah kita bisa survive! Karena gadget smartphone ga banyak ngabisin batre juga karena di sana tuh signal jarang, hehehe… Ohiya, ga ada AC pun! Tapi tenang, ga butuh AC juga karena dengan buka jendela, angin cepoi-cepoi pun mampu meninabobokan kami.

Salah saut penampakan kamar mungil kami yang terletak di bawah dipan atas..

Salah satu penampakan kamar mungil kami yang terletak di bawah dipan atas..

Di ujung lorong itu adalah toilet mungil kami berukuran 50x50cm kayaknya, hehehe.. dan di pinggir ini lah kami menjemur pakaian renang kami

Di ujung lorong itu adalah toilet mungil kami berukuran 50x50cm kayaknya, hehehe.. dan di pinggir ini lah kami menjemur pakaian renang kami

Ketiga, be effective be efficient! Terutama juga soal tempat. Ini kapal memang kecil dan mestinya ya cukup menampung kami belasan orang. Tapi emang dasar orang kota biasa di tempat yang luas ya mesti adaptasi juga. Kamar tidur itu cukup untuk berdua. Artinya, cukup untuk dua orang tidur selonjoran, saja. Iya, ga bisa deh tuh kamu tidur dengan berbagai macam gaya, sempit cin! Kira-kira hanya 2m x 1m x 2 m. Untuk kamar saya, lebih sempit lagi karena diperuntukkan empat orang dengan tempat tidur tingkat. Saya kebetulan dapet kebagian tidur di kasur bawah, bangun tidur mesti pelan-pelan kalau ga mau kepala terbentur tempat tidur atas, hehehe…

Mau berfoto dengan view yang OK?! Wah, segambreng banget view bagus di mari... Motret ngasal juga jadinya WOW! :)

Mau berfoto dengan view yang OK?! Wah, segambreng banget view bagus di mari… Motret ngasal juga jadinya WOW! 🙂

Keempat, enjoy your trip! Seriously, ini pengalaman yang asik banget! Selain pemandangan yang ga abis-abis bikin terpana, udara yang segar, makanan buatan para awak kapal ini enak-enak banget! Entah berlebihan atau kami yang emang ga ada pilihan lain juga dan laper. Tapi kayaknya emang enak-enak banget ya. Ga melulu disuguhin makanan laut, seringnya malah makanan internasional. Ya, mungkin karena para awak kapal lebih sering punya client turis asing ketimbang lokal.

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Selamat makan :)

Selamat makan 🙂

Kelima, always prepare for the worst case! Hmmm, this might be a very rare moment, but this happened to us. And we’ll never forget it! Kejadiannya pas di hari ketiga, sore-sore, lagi bengong antara capek abis trekking di dua tempat dan abis berenang juga, abis ngemil-ngemil lucu, kapal pun bertolak menuju Pulau Kalong. Ngejar sebelum sunset untuk dapetin momen kalong beterbangan dengan latar sunset gitu.

BRAK! Tiba-tiba kapal oleng, yang lagi pada bengong pun shock langsung cari pegangan, beberapa barang yang berada di atas dipan dan meja pun bergulingan ke satu sisi oleng kapal. Saya yang saat itu lagi megang DSLR milik saya bergegas memasukannya ke drybag saya, juga DSLR teman saya yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan saya. Antisipasi kapal oleng dan kita mesti nyebur bersama barang-barang gak tahan air ini. Beberapa awak pun sibuk turun ke air dan kapten berusaha menyeimbangkan kapal dengan memberikan instruksi di sisi mana kami harus berdiri. Seisi kapal panik, well, at least, kami, si anak kota bersebelas ini jelas PANIK! Sementara kapten masih bisa hahahehe, juga para awak kapal terlihat biasa saja. Setelah kapal sedikit terkendali, kapten pun turun ke air. Oh my God! Kapal pun dinyatakan karam karena menabrak karang!

Well yess, kami pun mesti mengurangi beban kapal agar kapal bisa didorong menjauhi karang. Dan satu ember gentong besar berisi air tawar yang sudah kami hemat-hemat itu pun harus dibuang isinya. Huhuhu, cedih! Padahal ini malam terakhir untuk bisa agak puas menggunakan air tawar itu untuk mandi. Setelah kondisi kapal lumayan stabil, kami mencoba cari bala bantuan, dengan teriak-teriak dan melambaikan handuk ke arah kapal manapun yang terlihat di jangkauan mata kami. Singkat cerita, kapal karam kami berhasil diselamatkan oleh kapal daruratnya Black Manta (kapal LOB juga tapi yang kelas VVIP gitu, jauh lebih besar, mewah, gagah, cruise-nya Flores deh nih!).

Nah, itu ruangan sang kapten mengemudikan kapal

Nah, itu ruangan sang kapten mengemudikan kapal

Ketua rombongan kami, Mas Dito justru yang kelihatan paling panik. Ia pun bergegas menelpon pihak agen wisata yang berada di kota dan meminta agar kami bisa bermalam di Labuan Bajo saja sebagai pertanggungjawaban. Kejadian ini ternyata menyinggung sang kapten kapal, si orang Flores asli. Kami pun ditegur karena dianggap tidak memercayai dia dan timnya untuk bisa solve problem. Drama bergulir, kami diem-dieman, hahahaha… Tapi akhirnya mencair juga karena kami semua ternyata lapar x)))

Sungguh pengalaman yang ga bakalan terlupa deh… x)))

*All photographs courtesy of Mas Dito, Mba Fidia, Kak Anita, Kak Felona, and me.

Wisata Konflik di Kupang

Kayak gak lagi di Indonesia Timur! Indah banget nih jalanan kota Kupang yang bersih dan rindang

Kayak gak lagi di Indonesia Timur! Indah banget nih jalanan kota Kupang yang bersih dan rindang

November 2013 lalu, saya ditugaskan ke Kota Kupang, ibukota dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berlokasi di pulau Timor, yang sebagian areanya merupakan Negara Timor Leste, suatu negara yang pada tahun 2002 memerdekakan diri berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdirinya Negara Timor Leste bukan hanya perkara satu bagian lepas dari NKRI dan berdikari sendiri. Tetapi juga meninggalkan sejuta masalah kemanusiaan. Saya akan ceritakan kemudian.

Tarifnya masih 60.000IDR

Tarifnya masih 60.000IDR

Selamat datang di Kota Kupang :D

Selamat datang di Kota Kupang 😀

Seperti biasa, perjalanan biztrip akan didominasi oleh agenda kerja dengan selipan jalan-jalan menikmati kota, tentu saja, hehehe… Namun, kali ini berbeda. Jadwal yang berubah di tengah jalan membuat saya memiliki lebih banyak waktu luang untuk eksplorasi ketimbang untuk bekerja, yeay! #eh

Taman Doa

Taman Doa

Hari pertama saya tiba di sana, saya habiskan untuk berjalan-jalan di sekitar penginapan. Saya pun mengontak teman kuliah saya, Bang Dekson. Sebenarnya, jaman kuliah dulu sih ga pernah ngobrol dikit pun sama dia, tapi saya aware dengan eksistensinya di sekitaran kantin kampus. Sebelum saya tiba di Kupang, saya mengontak salah satu teman seangkatan saya di kampus, menanyakan apakah dia masih tinggal di Kupang. Ternyata sudah pindah tugas dan saya direkomendasikan untuk mengontak Dekson. Jadi lah, sore itu saya bertemu dengan Dekson dan dikenalkan dengan Kupang di sore hari. Kami makan ikan bakar di tempat kulineran dekat pantai Teddis.

Ikan segar yang dapat ditemukan di sekitaran Pantai Tedis

Ikan segar yang dapat ditemukan di sekitaran Pantai Tedis

Saya menginap di Hotel Flobamora 2 dengan biaya 250.000/malam (harga tahun 2013), dengan fasilitas kamar mandi dalam dan sebuah ruang tamu. Iya, jadi total ada tiga ruangan di kamar saya. Hotel ini terletak di pinggir jalan besar pusat perbelanjaan.

Hotel Flobamora 2 tampak depan

Hotel Flobamora 2 tampak depan

Hotel tempat saya menginap 2 malam

Hotel tempat saya menginap 2 malam

Jangan bayangkan pusat perbelanjaan itu seperti mall besar di Jakarta ya. Pusat perbelanjaan yang saya maksud itu lebih seperti satu jalan dengan deretan toko-toko aneka macam produk jualan, dari baju hingga perangkat elektronik. Di sana belum ada mall. Adanya hanya Ramayana Robinson (dua lantai) dan satu gerai KFC di depannya.

(Mall) Ramayana satu-satunya di Kota Kupang

(Mall) Ramayana satu-satunya di Kota Kupang

Resto fastfood KFC satu satunya di Kota Kupang

Resto fastfood KFC satu satunya di Kota Kupang

Hari berikutnya, saya habiskan untuk bekerja sekaligus mengeksplorasi kota Kupang, sebuah kota kecil di Timur. Tata kotanya pun cukup apik, mudah sekali menghapal pola jalan di sana. Saya sama sekali tidak nyasar di kota yang saat itu belum tersedia detail jalannya di Gmap. Kebetulan pagi itu, Dekson sedang ada kerjaan, jadi saya pun bepergian sendiri menggunakan angkot. Jangan bayangkan angkotnya seperti di pulau Jawa ya..hehehe.. Angkot di Kupang ini cukup heboh penampilannya. Sama halnya seperti di Manado, angkot di kota Kupang ini juga tak kalah hingar bingar dari diskotek-diskotek di Jakarta. Sound system yang digarap serius, pilihan lagu-lagu yang update, dan juga aksesoris mobil yang menarik.

Teropong, spedometer, boneka ular panjang berwarna-warni, gantungan bintang, ah you named it lah, banyak bangettt aksesorisnya!! x)))

Teropong, spedometer, boneka ular panjang berwarna-warni, gantungan bintang, ah you named it lah, banyak bangettt aksesorisnya!! x)))

Dimana lagi bisa nemu angkot berCCTV dengan layar pemantaunya ada di sebelah spion tengah pengemudi?!?

Dimana lagi bisa nemu angkot berCCTV dengan layar pemantaunya ada di sebelah spion tengah pengemudi?!?

speaker soundsystem umumnya diletakkan di bawah jok penumpang, heboh lah ini angkot!

speaker soundsystem umumnya diletakkan di bawah jok penumpang, heboh lah ini angkot!

Penampakan angkot Kupang di Jalan utama kota Kupang

Penampakan angkot Kupang di Jalan utama kota Kupang

Gimana gak dibilang update, kalau di awal November 2013, angkot yang saya tumpangi sudah memainkan lagu-lagunya Adele yang bahkan di Jakarta saja belum happening banget! X))

Di hari ketiga, saya diajak berkeliling sampai ke luar Kota Kupang oleh Dekson. Yang menarik, saya tidak diajak melihat tempat wisata melainkan ke daerah rentan konflik. Wow!!

Ga deng, sebenarnya, saat itu, bang Dekson ini mau ngajakin makan jagung susu di pinggir pantai. Katanya dia, jagung pinggir pantai yang enaak itu adanya di luar kota Kupang. Sayangnya, sampai di lokasi ternyata sedang tidak ada yang berjualan. Kepalang tanggung sudah jauh-jauh keluar kota, jadilah ia memberikan tour ke daerah pinggiran sekitar Kota Kupang.

Seperti yang saya sebutkan di awal, lepasnya provinsi Timor Leste dari NKRI, membawa segudang masalah bagi Indonesia sendiri. Banyak penduduk asli Timor Leste yang masih ingin menjadi warga negara Indonesia, sehingga mereka pun berpindah dan menjadi pengungsi di negara sendiri. Kamp-kamp pengungsian yang disediakan pemerintah Indonesia tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pengungsi yang banyak. Sehingga banyak pengungsi yang akhirnya berusaha mandiri hidup di luar kamp dan bergabung dengan penduduk asli sekitar.

salah satu rumah penduduk pengungsi

salah satu rumah penduduk pengungsi

rumah penduduk

rumah penduduk

Di sepanjang jalan yang kami lewati adalah pemukiman penduduk dengan jarak antar rumah yang berjauhan dan juga tipe rumah yang berbeda. Rumah dengan bangunan batu bata, beton, semen merupakan ciri rumah penduduk asli. Sedangkan rumah dengan bangunan temporer seperti dari bambu, rotan, tempahan pisang merupakan ciri rumah penduduk pengungsi.

Rumah pengungsi diantara pemukiman penduduk

Rumah pengungsi diantara pemukiman penduduk

Kepindahan mereka ke lokasi baru bukan tanpa membawa masalah. Misalnya saja, soal kebutuhan dasar. Sebagian besar area NTT merupakan daerah yang tandus, kurang air, curah hujannya pun rendah. Hanya ada beberapa sungai dengan debit air yang cukup untuk menghidupi penduduk di sekitarnya. Jadi, bisa dibayangkan jika tiba-tiba ada penambahan penduduk yang cukup signifikan di suatu daerah. Mata air di sana mungkin tidak mencukupi. Tak hanya itu, pasokan makanan pun juga kurang memadai. Kecukupan kesediaan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan lainnya pun mengikuti. Tak bisa dihindari konflik antar warga pun terjadi. Penduduk dengan rumah temporer yang mudah dibakar/hancurkan pun menjadi sasaran empuk untuk menebar teror pengusiran. Buat mereka, nyawa bayar nyawa. Tauran warga yang memakan korban pun tak jarang terjadi di sekitar sini.

Miris ya! Di satu sisi, para pengungsi ini masih pengen jadi warga negara RI. Tapi di sisi lain, kayak ga diterima di negaranya sendiri. T_T

Dengan kebutuhan pokok yang berat terpenuhi dan suhu udara yang cenderung panas dan kering, menjadi wajar jika orang sana cenderung berwatak keras dan mudah tersulut emosinya. Tapi jangan salah, mereka ini sebenarnya ramah. Coba saja sapa mereka dengan ramah, mereka pasti akan memberikan senyuman yang lebih lebar dari yang orang Indonesia Barat bisa berikan 😀

Jagung bakar pinggir pantai Tedis

Jagung bakar pinggir pantai Tedis

Suasana sore di Pantai Tedis

Suasana sore di Pantai Tedis

Sore harinya, bang Dekson menepati janjinya untuk mengajak saya makan jagung bakar di pinggir Pantai, tapi di pantai Teddy Kota Kupang. Salah satu spot wisata penduduk maupun turis, Pantai Teddy. Setelah makan jagung bakar dan menikmati sunset di pantai Teddy, kami pun beranjak untuk ke toko oleh-oleh. Saya penasaran ingin membeli kain Kupang. Dekson kemudian mengajak saya makan sate ayam yang katanya paling enak di Kupang.

Sate ayam paling enak di kota Kupang

Sate ayam paling enak di kota Kupang

Bang Dexon yang berulangtahun dan menemani saya di Kupang Trip kali ini

Bang Dexon yang berulangtahun dan menemani saya di Kupang Trip kali ini

Saat itu, saya bilang, “Eh, makan sate tuh kan ga bagus buat kesehatan karena ada sisa pembakaran yang juga akan kita makan di dagingnya.” Seketika itu juga, abang saya satu ini ngakak! Di tengah makan malam itu, ayahnya menelpon untuk ngucapin selamat ultah. Aaah, ternyata ultah kau hari ini, bang!! Haseeekkk, ada yang bayarin makan maleemmm… hiphip hoeraaa!! \\^,^// *Padahal ultah kami hanya beda dua hari, hihihi.. Sesama scorpion ternyata!

Sunrise di Kota Kupang

Sunrise di Kota Kupang

Keesokan harinya, diantarkan oleh taksi hotel, saya pun beranjak ke Bandara. Sepanjang jalan, saya mendapati kecantikan Kota Kupang ini. Sungguh, saya mesti kembali untuk eksplorasi lebih banyak di kota ini. Semoga!

Driver taksi di Kupang yang mengantar saya kembali ke Bandara El Tari, Kupang

Driver taksi di Kupang yang mengantar saya kembali ke Bandara El Tari, Kupang

Kenalan sama nona manis dari Maumere, NTT

Kenalan sama nona manis dari Maumere, NTT

Penerbangan saya ke Denpasar mesti transit dulu ke Maumere, Flores. Saya yang kebutuhan eksplorasinya tinggi pun minta izin ikut turun dari pesawat untuk sekedar menghirup udara tanah Flores dan foto-foto. Gak boleh sebenarnya karena hanya transit untuk turunin dan naikin penumpang saja, hehehe.. Dari sini saya berkenalan dengan satu gadis manis asal Maumere bernama Berti yang hendak ke Jakarta untuk English camp di kampus UI (Ah, kampus saya!!). Kami bertukar nomor telpon dan hingga kini masih sering kontak.. 😀

Double trekking at Taman Nasional Kelimutu

IMG_7983

Yeheeyyy…. Akhirnya kami tiba juga di puncak view point dari Gunung Danau Kelimutu, Desa Moni, Kabupaten Ende, Flores, NTT ini. Hmmmm, tapi mana Danau Kelimutunya ya? Sejauh mata memandang hanya kabut putih saja yang terlihat. Memang, saat itu masih pukul 5.30 pagi, cuaca mendung sesekali gerimis, kabut pun masih enggan beranjak menyelimuti area Taman Nasional Kelimutu hingga kami tidak bisa melihat yang mana danaunya. Ditemani para monyet gunung yang berkeliaran dan menjadi objek foto, kami dan wisatawan lain pun menanti hingga kabut naik.

Pagar pembatas area danau yang tertutup kabut

Satu malam sebelumnya, kami menginap di salah satu losmen warga lokal di Desa Moni. Ini merupakan desa yang lokasinya paling dekat dengan Taman Nasional Kelimutu, spot wisata wajib kunjung jika Anda bertandang ke Kabupaten Ende, Flores, NTT. Ryan, Guide plus driver kami, menjemput di penginapan sekitar pukul 4 pagi untuk mulai trip ke TN Kelimutu ini agar kami bisa mendapatkan momen matahari terbit di atas tugu view point TN Kelimutu.

Meski saat itu cuaca kurang cerah, alias mendung disertai hujan rintik-rintik, kami toh tetap melanjutkan rencana perjalanan kami. Tiba di lokasi parkir TN setengah jam kemudian dan kondisi suhu udara dingin mencekam disertai hujan. Ah, tak ada satupun dari kami yang berani turun keluar dari mobil. Bbrrrrrrrr…….!!

hutan arboretum

Sekitar pukul lima pagi, hujan sudah mereda dan kami pun memutuskan untuk memulai pendakian. Trek menuju view point sudah tersedia, wisatawan tinggal mengikuti saja alur jalan setapak dan papan penunjuk jalan yang terpasang di sepanjang trek.

Selain Danau tiga warna, kawasan wisata ini juga merupakan hutan Arboretum dengan koleksi floranya. Jalur pendakian dimulai dengan jalan setapak masuk hutan yang rimbun. Meski dilatarbelakangi kisah mistis pada ketiga danau berwarna Kelimutu, namun kawasan wisata ini tidak terkesan mencekam dan mengerikan koq.

View point pertama

Setelah berjalan kira-kira lima ratus meter, kami pun tiba di view point pertama. Di sini kami menikmati pemandangan salah satu danau berwarna Kelimutu, yakni yang terletak paling rendah bernama Danau Tiwu Ata Mbupu, atau danau jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Bersebelahan berbatas sedikit celah diantara dinding keduanya adalah Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, atau danau untuk jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Dari view point pertama, kedua danau ini sudah bisa terlihat, meski Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai belum terlihat sepenuhnya.

Trekking lagi ke view point tugu puncak, barulah bisa melihat ketiga danau. Yang terletak di paling timur atau paling atas adalah Danau Tiwu Ata Polo atau danau untuk jiwa-jiwa orang jahat yang telah meninggal. Danau ini terlihat paling mencekam warna dan auranya. Ketiga danau ini diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh-roh orang yang sudah meninggal dan diyakini memiliki kekuatan alam yang sangat besar.

Tidak ada yang tahu pasti kedalaman dari ketiga danau Kelimutu ini. Beberapa kali penelitian dengan berbagai metode dilakukan tak juga membuahkan hasil. Salah satu usahanya dengan menenggelamkan tali dengan pemberat ke dalam danau namun tali tersebut pun akhirnya tenggelam. Konon memang segala sesuatu yang sudah terjatuh ke dalam danau tak bisa naik lagi, dari benda-benda kecil hingga besar sampai manusia. Keterangan kedalaman yang tertera di papan informasi hanyalah perkiraan saja dari kesimpulan penelitian yang telah dilakukan.

Danau ini tak pernah kekeringan juga kebanjiran, apapun musimnya. Ketiga danau ini memiliki warna yang berbeda-beda satu sama lain dan kerap berubah warna dari waktu ke waktu. Para ahli geologi percaya perubahan warna ini disebabkan karena kandungan mineral vulkanik, lumut di dalam danau, juga dari pedar cahaya matahari. Pada saat kami mengunjunginya, warnanya yakni hijau toska, hijau lumut, dan merah cokelat pekat. Meski demikian, cerita mistis mengenai ketiga danau ini masih dipercaya oleh penduduk di Flores.

trek ke view point puncak

Puas menikmati pemandangan di view point pertama, kami pun melanjutkan trekking ke puncak tugu view point. Jalannya lebih menanjak tapi sudah dilengkapi dengan tangga dan pagar pembatas. Sejauh tidak iseng melewati area yang tidak disarankan sih aman-aman saja. Tiba di atas sudah ada beberapa wisatawan yang didominasi dengan wisatawan asing.

Ya, kawasan Indonesia Timur, termasuk TN Kelimutu ini memang lebih menarik minat wisatawan asing ketimbang domestik. Mereka seperti ada di mana-mana. Seperti saat kami baru mau berangkat dari penginapan, tahu-tahu sudah ada satu bule perempuan di mobil yang kami carter. Lho!

Sebagai tuan rumah yang baik, kami bersedia berbagi kendaraan dengan si bule kere ini. Namanya Anna, bekerja di salah satu NGO di Kupang. Sepanjang perjalanan di mobil, ia banyak bertanya mengenai beberapa spot wisata di Indonesia. Salah satu yang saya ingat, ia bertanya tentang Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di Kota Semarang. Wow! Bahkan wisatawan lokal saja mungkin masih lebih tertarik ke Masjid Istiqlal di Kota Jakarta Pusat karena kesohorannya. Padahal, menurut saya, Masjid Agung Jawa Tengah ini lebih menawarkan keunikan untuk menarik wisatawan seperti adanya payung raksasa bak di Masjidil Haram, Arab Saudi, juga menara Masjid untuk bisa melihat Kota Semarang dari ketinggian.

prasasti di atas view point puncak

Setelah kira-kira satu setengah jam menunggu dan kabut masih setia terbang rendah, wisatawan asing pun sudah banyak yang meninggalkan area view point utama ini. Tersisa beberapa wisatawan lokal yang karena kesamaan nasip (gagal mendapatkan momen sunrise di atas puncak view point Kelimutu untuk difoto), yang berujung pada selfie bersama, hahahaha… Yayayaa…. Ada hikmahnya juga nunggu lama, jadi nambah teman baru 🙂

para penjaja di atas puncak gunung kelimutu

Anyway, di atas view point ini, ada seorang ibu berjualan kudapan pagi seperti Popmie, kopi seduhan, jambu kelutuk (iyah!), dan lainnya. Juga ada lapak jualan kain tenun khas Flores. Sambil menunggu, kami pun menyeduh Popmie yang dibanderol seharga sepuluh ribu rupiah (harga di akhir Mei 2014). Air seduhan yang mendidih ini segera mendingin karena suhu udara di atas sana. Mesti hati-hati memang, kayaknya sudah mendingin tapi koq lidah serasa terbakar, hehehe…

Atas saran guide kami, dan juga banyak wisatawan yang turun gunung, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Desa Moni dan kembali lagi saat cuaca sudah cerah. Kami kembali ke penginapan untuk sarapan dan beristirahat.

Sekitar pukul sepuluh pagi, kami kembali ke TN Kelimutu. Saat itu, kabut sudah naik, suhu sudah lebih bersahabat, dan keindahan ketiga danau berwarna Kelimutu pun sudah dapat dinikmati (dan difoto, tentunya).

IMG_7962

#FloresTrip: Trekking di Pulau Gili Lawa Darat

25 Mei 2014. Ini malam pertama kami tinggal di kapal, bermalam di area Gili Lawa. Kami terbangun sedari subuh untuk menikmati permadani taburan bintang di atas sana. Beberapa dari kami memilih tiduran di atas dek kapal. Itu lukisan malam paling indah yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya kala itu. Puas memandangi langit hingga berganti gelap ke terangnya mentari terbit, kami pun bergegas menyantap sarapan pagi kami dan bersiap untuk trekking di Pulau Gili Lawa Darat.

Kawasan Gili Lawa ini merupakan pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Komodo. Selain bisa dicapai dari Labuan Bajo seperti yang kami lakukan, bisa pula berlayar melalui jalur laut dari Lombok. Gili Lawa ada dua bagian, Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Biasanya kapal-kapal yang mau berlayar ke TN Komodo bermalam di kawasan Gili Lawa ini agar tidak terkena angin malam dan arus lautnya cenderung lebih tenang.

Kapal LOB kamiIni kapal LOB kami selama 4D3N

Pukul 06.30 WIB, kapal kami pun bersauh, kami turun membawa perlengkapan trekking seadanya. Iya, seadanya aja, trekking mah gak perlu ribet bawa yang gak perlu: Alat dokumentasi, air minum, dan cemilan secukupnya (durasi trekking PP 2-3 jam). Wong dari trip agent-nya juga kurang detail menginformasikan mengenai medannya, jadi ya bener-bener seadanya ala orang kota banget. Memang medannya tidak berat tapi mungkin perlu ada penjelasan lebih detail agar, paling tidak, wisatawan tidak salah menggunakan alas kaki.

Pulau Gili Lawa DaratPulau Gili Lawa Darat (Kalau lihat begini, bukit savana yang landai kayaknya medannya gancil yah… aslinya maahh…. -____-“)

Medan trekking di Pulau Gili Lawa Darat ini cukup curam dan berbatu tajam. Perlu kesadaran diri yang tinggi untuk menilai kesanggupan diri naik ke atas sana. Tentunya kami naik pun didampingi guide kami, Mas Bendi. Ya tapi emang hanya bersama Bendi aja, sementara kami bersebelas. Bersebelas dengan kondisi fisik dan pengalaman yang beda-beda. Ada yang sudah terbiasa naik gunung, melakukan trekking, ada pula yang baru pertama kali. Ya, saya ini salah satunya! Iya, ini baru pertama kalinya banget! Karena tidak ada pengalaman sebelumnya, tidak ada bayangan pun mengenai medannya (Gaess, kalau sekedar lihat gambar di Google mah kayaknya gampang, landai aman gitu).

Setengah jam pertama mendaki, Belona memutuskan menunggu di bawah saja sementara ada satu orang yang terus melaju bersama guide kami. Iya, dari kami bersebelas, hanya Setian lah yang sudah pernah naik gunung, jadi sekedar trekking di bukit saja mungkin tidak sulit untuknya. Kami mempersilahkannya untuk terus melaju dan melaporkan pada kami pemandangan dari atas sana. Belasan menit kemudian, Siska dan Tasya memutuskan untuk tidak melanjutkan dan kembali turun.

IMG_4924Bersebelas, masih lengkap! Sampai di titik ini saja sebenarnya sudah bisa dapet view mainstream berfoto di Gili Lawa Darat 😉

Sebenarnya, untuk mendapatkan view populer Pulau Gili Lawa Darat tidak perlu hingga sampai ke puncaknya. Tapi namanya sudah jauh jauh sampai ke pulau ini, kalau tidak diusahakan semaksimal mungkin koq ya sayang gitu, hehehe.. Maka, kami yang bertujuh: Saya, Anita, Felona, Wiri, Jessica, Fidia, Dito pun terus melaju.

file000090

Kalo balik badan, foto di atas ini adalah view sebelah kanan. Sementara, foto di bawah ini adalah view samping kiri (yang bisa dinikmati sambil trekking naik, tengok sebelah kanan…). Kalau kata anak jaman sekarang, PETJAAAAHHH, Meeennn!!! <3<3<3file000087

Meski banyak berhenti untuk istirahat ambil napas dan foto-foto, kami persisten terus naik. Medan makin curam dengan bebatuan yang makin tajam, makin seringpula kami terperosok terpeleset terjatuh tertatih, kami terus melaju tanpa guide. Kebetulan Bendi, guide kami, sudah duluan sampai di atas sana bersama Setian. Saya berada di barisan paling depan, berjalan pelan-pelan, nyaris merangkak sanking curamnya, pandangan mata terus ke depan mencari jalan ke atas. Dalam hati terus bergumam, “Come on, don’t give up, dikit lagi sampaaii..” Hingga tiba di satu titik terlintas di pikiran “Ntar turunnya gimana ya, naiknya aja begini?”, saat itulah saya refleks menoleh ke belakang. Saya terhenyak terduduk, kaki gemeter, (katanya Anita yang tepat berada di belakang saya) muka pucat pasi. Mencoba terus tenang dan mencari pijakan dan pegangan pada bebatuan yang ajeg. Seketika itu pula, Anita refleks juga menoleh ke belakang dan bereaksi yang kurang lebih sama seperti saya, shock dengan ketinggian dan kecuraman yang sudah kami lalui dan jadi ngeri sendiri.

“Gimana nih? Lanjut ga?”, saya meragu, karena udah tinggal sedikit lagi sampai puncak bukit tapi treknya makin curam dan tajam.

“Eerr… Gw sampai sini aja deh..”, ujar yang lain.

Kami pun mencari pijakan yang agak landai dan berfoto bersama. Yeaah, we are the mid-trekking team!! We did it!! Bangga!

IMG_4968Bertujuh! Kami tim middle tracking!! Ini fotonya sambil deg-degan jaga keseimbangan… Megang Tongsis GoPro-nya aja mesti dua orang, hahaha…

Kalau naiknya kami setengah jongkok merangkak, maka turunnya pun kami sambil duduk memerosotkan diri. Sebenarnya bisa sih sambil berdiri tapi alas kaki kami tidak memungkinkan, terlalu bahaya. Metode paling aman menggunakan pantat sendiri, hahaha.. Meski tidak sampai atas dan melihat view di balik bukit ini dengan mata kepala sendiri, kami mesti cukup puas dengan pencapaian kami, anak-anak kota yang ga pernah trekking dengan alas kaki yang mungkin kurang proper. Tiba di kapal, nasi goreng telah menanti kami… Yeaaayyy!!

Ternyata Setian sampai kapal lebih dahulu, karena ia dan Bendi melalui jalur trekking lain yang lebih landai. Aah, lesson learned banget nih: Kalau ingin sampai puncak, ga perlu lah nengok-nengok ke belakang, jadinya malah ngeri sendiri dan kembali dikuasai ketakutan-ketakutan. Soal nanti turunnya gimana ya bisa dipikirkan lagi nanti, hihihi.. 😀

House of Raminten: resto gemulai khas Yogyakarta

Adalah Hamzah HS yang berperan sebagai Raminten dalam sebuah sitkom di Yogya TV. Ia kemudian membangun rumah makan House of Raminten ini di Yogyakarta, karena kecintaannya pada makanan dan minuman tradisional khas Yogyakarta seperti jamu dan sego kucing.

Menu yang ditawarkan merupakan menu makanan umum namun disajikan dengan berbeda.

Menu yang biasa ditemukan di angkringan pinggir jalan, naik kelas menjadi makanan restoran dengan harga yang kompetitif (baca: beda tipis). Kita bisa menemukan sego kucing yang harganya di bawah 5000IDR.

20150116-195530.jpg

Tapi, kamu perlu hati-hati dengan segala menu berembel-embel “Jumbo” karena benar-benar ukuran jumbo bangets!!

20150116-195639.jpg

Yang juga unik di House of Raminten ini adalah waiternya yang kabarnya adalah homoseksual. Ini WOW banget! Berapa banyak siih tempat usaha yang bisa open-minded mempekerjakan homoseksual (yang udah coming out)?!? Kalau ada perusahaan yang gembar gembor open minded dan ga bedain orang berdasarkan preferensi seksualnya, pasti tidak ada yang segembar gembor HoR ini yang malah menjadikan ini sebagai diferensiasinya. Pengunjung pun malah makin banyak, bukan jadi takut. Paradox marketing skali kan!

Packaging dari HoR ini pun juga menjadi daya tarik tersendiri. Ruangan resto didesain sedemikian rupa hingga kesan njowo sangat kental sekali. Dengan menggunakan ornamen ukiran-ukiran khas rumah Jawa, musik gamelan, wardrobe waiter yang menggunakan kain batik dan jarik, dan lainnya. Namun demikian, unsur modern pun tak ktinggalan disertakan. Di salah satu sudut terdapat TV LCD dengan channel internasional. House of Raminten beroperasi 24 jam dan masih sering kepenuhi pengunjung.

Nice place to visit nih 🙂

20150116-195918.jpg