What to do in Gili Trawangan, Lombok, NTB – Indonesia

Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa kawan saya berwisata ke Gili Trawangan. Ini adalah trip pertama saya ke Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat. Karena trip pertama, makanya saya cukup antusias untuk cari tau tentang apa yang bisa saya lakukan di sana, hehehe… Ternyata setelah dijalani ke sana langsung, saya menyimpulkan ada TIGA hal utama yang harus kamu lakukan selama di Gili Trawangan.

Gili Trawangan, Lombok, NTB – Indonesia


Apa saja sih?

PERTAMA adalah lupakan diet, timbangan, dan segala hal terkait karena di Gili Trawangan itu kamu bisa bangeeet wisata kuliner!! Mayoritas resto memang menawarkan kuliner khas mancanegara terutama Eropa yang paling banyak ditemui ya semacam pizza, burger, dan salad.

img_8321

Must try: Cheese-nya mantap!!

img_8391

Burger ala Manta Dive

img_8670

Salad ala Bamboo Restaurant

img_1781

Scallywags.. ini juga must try! 🙂

Pecinta seafood segar ga boleh melewatkan resto Scallywags! Dibandingkan resto lainnya memang mereka patok harga agak mahal tapi buat saya it’s worth every penny :))

Ada juga resto atau warung makan yang menyediakan menu khas Masakan Sasak Lombok. Berkat informasi seorang teman yang antusias, kami berhasil menemukan warung Ibu Dewi yang lokasinya agak melosok dekat dermaga. Apa istimewanya? Konon kabarnya, warung ibu Dewi yang menjual masakan khas Sasak dengan harga ala warteg di Pulau Jawa ini sudah mendunia, beberapa kali diliput di media nasional apalagi setelah membantu memasok catering untuk film Arisan-nya Nia Dinata. Rasa masakannya pun maknyusss! Highly recommended!!

KEDUA adalah bakar kalori. Sesiap apapun kamu untuk naik berat badannya, di sini, jangan lewatkan kesempatan untuk bakar kalori dengan cara yang paling asik! Paling gampang mah jalan kaki. Kamu anaknya males banget buat jalan kaki? Kamu bisa sewa sepeda biar bisa kemana-mana ga pake jalan kaki. Memang, di Gili Trawangan ini, transportasinya Cuma ada tiga cara: jalan kaki, naik sepeda (disewakan harian sekitar 25-50rb/day), atau naik cidomo (di Pulau Jawa lebih dikenal dengan nama Andong atau Delman).

Saya ga terlalu menyarankan untuk sering-sering naik cidomo karena cukup mahal (kisaran 75 – 150rb sekali jalan, tergantung jarak). Lagipula, jalan utama di Gili Trawangan ini sangat ramah buat pejalan kaki maupun pesepeda. Ga ada trotoar atau jalur khusus sih tapi cukup memanjakan pejalan kaki atau pesepeda. Gimana ga manjain kalau tiap seratus meter atau kurang, kita bisa nemuin Gelato shop?!? 20-25rb per scoop sajaaaa…. Hahaha… Jadi makan lagi deh… 😀

Mau bakar kalori beneran? Gili Trawangan adalah tempat yang sangat kondusif untuk olahraga air! Yess, mayoritas penginapan di sini punya pool sendiri. Tapi masak udah ke pulau begini ga main di pantai atau laut sih? Ya terserah mood lah.. Mau berenang di kolam renang, ada. Mau berenang di pinggir pantai ya tinggal jalan kaki/naik sepeda.

Mau snorkeling atau diving di sekitar Gili pun aksesnya mudah. Banyak banget operator snorkeling atau diving di Gili Trawangan yang menawarkan paketan maupun ala carte ataupun jasa trip harian. Sila dipilih yang sesuai mood dan kantong, tentunya 😉

Selain itu, beberapa tempat juga membuka kelas Yoga maupun olahraga lainnya seperti kano dan sebagainya.

KETIGA ya yang namanya liburan biasanya maunya santai ya… Jangan lupa enjoy your holiday, relax and chillin. Bar hoping ataupun hanya sekedar duduk duduk di beanbag pinggir pantai sambil nikmatin semilir angin dan suara ombak plus nonton layar tancep pun bisa dilakukan di Gili Trawangan. Seru kan!

Advertisements

Itinerary Divetrip ke Wakatobi (Tomia Island), Indonesia

Kali ini saya akan bercerita mengenai detail itinerary dan juga biaya yang saya habiskan untuk trip diving ke Wakatobi. Jika ingin menduplikasi trip saya tapi gak pake diving, ya tinggal dikurangi saja biaya divingnya, hehehe… Untuk spot snorkeling kurang lebih sama dengan spot diving, beda kedalaman dan perlengkapannya saja, hehe..

Saya bersama 15 teman jalan saya menggunakan operator travel Kakaban Trip (KT) untuk keseluruhan wisatanya, sedangkan divingnya bekerja sama dengan Tomia Scuba Dive (TSD). Ini kali ketiga kami bekerjasama dengan KT (sebelumnya trip ke Kepulauan Komodo dan Pulau Kei Kecil, rincian kedua trip tersebut bisa dibaca pada postingan saya sebelumnya). Kalau mau kontak ke Kakaban Trip bisa via Instagramnya @KakabanTrip atau ke Tomia Scuba Dive bisa langsung Whatsapp or telp ke dr Yudi +6282187877751 atau check on http://www.tomiascubadive.com

Trip ini sudah kami rencanakan sejak November 2015 silam (kira-kira 6 bulan sebelum keberangkatan). Perencanaan dan booking dari jauh hari sangat disarankan, apalagi jika berencana trip di tanggal long weekend/high season! Karena di Pulau Tomia belum banyak penginapan. Siapa cepat dia dapat. Kami nyaris tidak mendapatkan penginapan. Akhirnya kami ber 16 ini pun harus rela dibagi dua kelompok yang diinapkan di dua penginapan yang berbeda.

Satu hal yang rada saya sesali di trip ini adalah saat itu saya kurang optimal mempersiapkan camera gear! Padahal…duh, viewnya breathtaking banget! So, saya sarankan, kalau DSLR atau mirror-less terlalu serius or berat buat lu ajak serta, paling tidak bawalah GoPro atau action-cam merek lainnya. Aselik, gak bawah lautnya, ga atas langitnya……phew! TOP MARKOTOB!! 😀

Biaya trip ke wakatobi ini dibanderol oleh KT sebesar 5,750,000 (tidak termasuk tiket pesawat PP). Memang kami yang meminta agar biaya trip di luar tiket pesawat agar kami lebih leluasa mengatur jam dan maskapai serta luwes menyesuaikan dengan agenda tersendiri setelah trip Wakatobi ini. Untuk biaya divingnya sendiri sekitar 3,400,000 untuk 7 kali dive selama dua hari.

Biaya tiket pesawat Lion Air dan Wings Air dari Jakarta-Wangiwangi dengan dua kali transit di Makassar dan Kendari sebesar Rp 1,600,000 – Rp 2,200,000. Itu untuk satu kali jalan. Baliknya kami menggunakan Wings Air dari Wangiwangi ke Makassar dengan satu kali transit di Kendari seharga Rp 800,000; lalu lanjut dengan Garuda Indonesia dari Makassar ke Jakarta seharga Rp 898,000

Total flight PP Sekitar 3.5 – 4 juta.

Bicara soal perjalanannya sendiri, makan waktu sekitar 16 jam dari rumah saya di Bekasi sampai tiba di penginapan di Pulau Tomia. Lama banget memang, gini rinciannya:

– 1 jam dari rumah Bekasi ke Airport Soetta di tengah malem buta
– 3 jam nunggu boarding pesawatnya
– 2.5 jam terbang dari Jakarta ke Makassar dengan Lion Air
– 2 jam transit di Makassar
– 1 jam terbang dari Makassar ke Kendari dengan Wings Air ATR
– 0.5 jam transit di Kendari
– 1 jam terbang dari Kendari ke Wangiwangi
– 0.5 jam dari Bandara Matohari ke Dermaga Wanci
– 4.5 jam naik perahu motor dari Pulau Wangiwangi ke Pulau Tomia
– 0.5 jam turunin barang-barang, jalan kaki dari dermaga ke penginapan

Phew! Iya, memang sepanjang itu perjalanannya, hehehe…

Jadi hari pertama memang bakalan habis untuk perjalanan saja. Hari kedua ketiga untuk diving dan snorkeling. Sorenya kami main di pantai dan puncak pulau Tomia. Hari keempat island hopping ke Pulau Ndaa di pagi hari dan berkemas kembali ke Pulau Wangiwangi. Kemudian bermalam di Patuno Resort. Hari ke lima, trip Wakatobi selesai. Dari kami ber-enambelas berpisah di Bandara Wangi-Wangi, ada yang lanjut ke Sumbori, ada yang ke Makassar, adapula yang langsung pulang ke Jakarta.

Yaps, That’s it!

Tunggu cerita tentang trip di Wakatobi-nya di postingan selanjutnya. Untuk dokumentasi keindahan Wakatobi bisa ditemukan di akun Instagram saya: @Adzaniah 😉

A journey to be a certified PADI Open Water Diver

Awal Maret 2016 akhirnya saya memutuskan untuk apply Open Water Dive course and license. It takes one year from the very first time I took Trial Scuba Diving (TSD) from NAUI and then I took TSD from PADI at the end of 2015.

Saya (dan beberapa teman) berencana trip awal Mei 2016 ke Wakatobi, sebuah kepulauan di Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya.

Yaps, karena itu lah akhirnya yang mendorong diri saya untuk bergegas ambil license open water. Rasanya agak nanggung ke Wakatobi tapi gak nyelem, hehehe… Meskipun yaaaa, dengan snorkeling aja viewnya udah gila-gilaan bagusnya. Nah, apalagi sampe nyelem lebih dalam, hehehe…

Saya dan teman saya, Vina dan Vania (yang ini baru kenal pas di kelas pertama), ambil course di Bubbles Dive Center yang berlokasi di belakang Lotte Shopping Avenue, Kuningan Jakarta. Mereka punya kolam renang sendiri sedalam 1 dan 7 meter. Nah ini yang jadi salah satu alasan kenapa ambil license di Bubbles, lebih privat dan nyaman. Meski harus merogoh kocek lebih dalam, hehehe.. Untuk paket OWD course sampai dapat licensenya dibanderol seharga IDR 6,3 juta.

Kami mulai kelas pertama di tanggal 20 Maret 2016 dengan Mas Tommy sebagai pengajar alias Dive Master (DM). Kontennya ada tes berenang 200m, ngapung 10 menit, kelas kolam, dan kelas teori di dalam kelas. Selain itu, ada pula materi yang perlu kami pelajari sendiri di luar jam belajar yakni materi di buku panduan dan juga materi berupa video pengajaran yang harus kami tonton. Kelas pertama saya dan Vina lalui dengan lancar (meski badan rasa mau rontok, hehehe… capek bangets, serius!!), sementara Vania masih kurang nyaman dengan mask clearing. Memang, belajar diving dan diving itu sendiri selain soal keamanan, kenyamanan juga tak kalah penting. Segala gear yang nempel ama badan kita diusahakan se-fit mungkin ama kontur badan kita agar pergerakan di dalam air pun bisa mudah dinikmati.

Kelas kedua yang mestinya berlangsung di 26 Maret 2016 tertunda karena ada salah satu dari kami yang tiba-tiba berhalangan. Nah, ini salah satu enak/ga enaknya kursus diving. Karena jumlah peserta sedikit, kita jadi bisa menentukan sendiri jadwalnya. Namun, jika kita ambil kursusnya barengan dengan teman-teman, akan cenderung nyari waktu yang semua pada bisa.

Kelas kedua pun diundur ke tanggal 10 April 2016, namun sayangnya di tanggal tersebut saya malah ga enak badan. Karena alasan mengejar waktu ujian (dengan harapan bisa dapet lisence sebelum saya trip ke Wakatobi), akhirnya kelas tersebut pun tetap diadakan tanpa kehadiran saya. Vina dan Vania pun benar-benar mengasah skill-skill dasar di dalam kolam dan kelas.

Kelas ketiga pun diadakan pada tanggal 18 April 2016 dengan full kelas kolam dan teori dari pagi hingga sore hari, ini akibat saya skip kelas di minggu sebelumnya jadi materi skill pun harus dikebut dengan lebih menitikberatkan pada mengasah skill dasar saya. Di kelas kali ini, salah satu rekan trip saya, Rahma, ikutan kelas untuk refreshment karena dia sudah lama ga diving sebelum nanti turun diving lagi di Wakatobi.

Di kelas ketiga ini, saya pribadi betul-betul kesulitan menguasai beberapa skill seperti ngatur bouyancy sampe bisa netral, hovering susyeee yee..hehehe.. But then, lees than one minute sih akhirnya bisa. Well, iniiii baru di kolam nih yaaa, yang belum ada arus dan lain-lainnya.. Di kelas ketiga ini pula kami dapet bonus belajar free diving! Meskipun udah pernah nyoba-nyoba free dive di kolam renang umum pas belajar ama pacar, tapi tetep aja susyee yee untuk bisa apnea ke dalem trus berenang sebelum akhirnya muncul lagi di permukaan, hehehehe..

Setelah lulus semua uji dan tes teori maupun kolam, pada tanggal 23-24 April 2016, kami pun ujian open water di laut, tepatnya di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu. Totalnya akan ada 4 kali dive selama di sana.

Ini cerita yang akan saya ceritakan lebih detail. Karena cerita ini akan bikin kamu-kamu mungkin akan mempertimbangkan lagi dan lagi untuk ambil lisence Diving ini. Here we go!

 

IMG_20160423_133455

Pulau Sepa, Kepulauan Seribu. Lokasi ini memang sering dijadikan tempat ujian diving 🙂

Hari pertama:
Dive 1:
Target: inget semua yang dipelajari di kolam, tenang.. Deep and sloooow… Don’t panic and enjoy the views!

Everything went smoothly. Ga pake mikir. Sanking ga mikirnya, disuruh nempel ama buddy, ya beneran nempel.. Kmana-mana bareng, sampe turun lebih dalam ninggalin Dive Master (DM), Mas Tommy, pun bareng! Hingga akhirnya tetiba bisa mikir, malah ga bisa control buoyancy, naik deh ke permukaan bagai balon udara..berdua juga! Duh, jangan dicontoh ya.. Ini bahaya banget.. Sampe atas, abis lah kami diomelin DM 😅😅

Dive 2:
Target: Jangan jauh-jauh dari Mas Tommy, usahain stay di atasnya dia. Yang ada, gue dan Vina kebanyakan mikir malah ga bs mempertahankan posisi. Boro-boro bisa hovering, bisa gak heboh naik turun aja susah banget! Alhasil kami bergandengan tangan dan makin intim!! Hahahadeeuuuhh… 😂😂😂😂

Di akhir hari, sempat kami, para student, ini menertawakan kelakuan kami. Ngapaiiin coba deh ambil kursus menyelam?! Udah lah mahal (gearsnya, lisencenya, trip divingnya, dll), ribet (bawa alatnya, persiapannya, mesti mikul tabung gas yg super berat mampus gilak, beresin peralatannya stelah diving, dll), bahaya bangeet (well, konon diving itu olahraga beresiko tinggi kedua setelah terjun payung yaa..), musti adaptasinya susah (yoi, biasa napas pake idung, saat diving mesti napas nitrogen pake mulut.. Phew!), dll, dst, dsb..

But, we are at the point of no return! Just go ahead… \m/  😇🙌


Hari kedua:
Dive 3:
Target: tenaaanngg…musti bisa hovering pokoknya! Tapi sanking hebohnya, gue jadi boros napas. Tabung awal paling banyak 220lt, tapi paling cepet abis.. Yang lain masih 70-120lt, gue udah 40lt.. Kacau! 😅😂


Dive 4:
Target: Let it be lah.. 😅 Enjoy aja, jangan kebanyakan mikir.. Deeep and slooooowww….. Dan berkat kesabaran DM gue, mas Tommy, akhirnya berhasil juga gue hovering, meski gayanya juga masih aneh, hahaha… And this was the gong, finally, when we arrived the surface, he said, “Congratulations, you are now a diver!!”


Yeheeeyyyyyy….. 🎉🎉🎉🎉🎉

Akhirnya satu resolusi tahun 2015 saya bisa terealisasi, meski telat setahun, hehehe.. 😁😎

Buat kalian yang kepikiran mau ambil lisence diving, pikirin baik-baik dulu deh.. Ribet dan nyusahin banget, aselik!! Tapiiii, kalo pengen liat keindahan bawah laut dengan mata kepala sendiri, well, it’s worth every penny laahhh…

And, Wakatobi, here we come!!! 😍😇🙌🌊🏊

#OWDlisence #openwater #latepost

Kereta “mewah” Kualanamu

Beberapa waktu lalu, pertama kalinya saya menggunakan jasa transportasi Kereta Kualanamu dari Bandara Kualanamu ke Stasiun Kereta Medan. Lebih afdol sebagai anker (anak kereta) kalau sudah mencoba naik transportasi umum kebanggaan orang Sumatera Utara ini. Secara frekuensi, keretanya tidak sesering Commuter Line di Jabodetabek, tapi rata-rata satu jam sekali pasti ada. Waktu tempuh ke Kota Medan berkisar antara 40-50an menit.

Kenapa waktu tempuhnya bisa beda-beda? Karena waktu tempuh tiap perjalanan sudah dihitung dengan waktu berhenti di tengah jalan saat gantian rel dengan kereta lain. Dengan kata lain, jika tidak ada insiden luar biasa maka durasi perjalanan akan tepat waktu.

Berbeda dengan CommLine yang tiap hari saya tumpangi. Penumpang hanya tau kalau durasi perjalanan normal tanpa hambatan dari Bekasi ke Manggarai sekitar 27-30 menit, itu dengan kecepatan optimal dan gak pake antre gantian rel atau masuk stasiun besar Jatinegara atau Manggarai. Sementara setiap hari, ada saja kereta2 yang mesti antre masuk stasiun maupun gantian rel dengan kereta jarak jauh. Penumpang diminta untuk mengalkulasi dan menghapal sendiri durasi tiap perjalanan kereta.

Di sana, stasiunnya sangat keren dan dilengkapi dengan ruang tunggu yang sangat luas! Terasa bersih. Cling banget! Macam habis dipel. 😂 Sedangkan di sini, hanya di beberapa tempat saja yang sudah menggunakan ubin, itu pun setiap hari dipel tapi ga tampak kayak habis dipel 😅 Meski demikian, kondisi kayak bgini udah lumayan membaik banget dibandingkan dengan kondisi stasiun saat saya kuliah dulu (sepuluh tahunan lalu laaah).

Di sana pula, jumlah penumpang pun dibatasi dengan jumlah kursi. Ga ada cerita penumpang berdiri meski waktu tempuhnya hanya sebentar. Maka, di waktu prime time, memesan tiket jauh sebelum waktu keberangkatan akan sangat disarankan.

Sementara itu, jumlah penumpang kereta CL dibatasi dengan konsensus para penumpang. Yes, jika di suatu pintu gerbong sudah terlihat sangat penuh, maka bisa saja para penumpang terutama yang berdiri di depan pintu menolak penumpang yang mau ikut naik. Pemandangan ini sangat lumrah terjadi, apalagi jika penumpang ular kaleng ini sudah bisa berempati terhadap daging kornet yang sering dipaksakan muatannya dalam wadah.

Namun demikian, dilihat dari harga tiketnya, rasanya semua jadi make sense. Ada harga, ada rupa. Tiket perjalanan durasi kurang dari satu jam dan sudah pasti dapat nomor kursi serta jaminan ketepatan waktu berangkat dan tiba dibanderol sebesar IDR 100,000. Sementara tiket Bekasi-Manggarai hanya IDR 2,000 sajaaaa!!

Saya mah Alhamdulillaahhh, tiket kereta dari Kota Satelit ke Pusat Kota Jakarta cuma segitu. Ga kebayang mesti bayar seratus ribu tiap hari sekali jalan dengan fasilitas yang sama kerennya dengan Kualanamu… 😅😅😅

Pantai Ular (Ngurtavur), Kei Island, Maluku

IMG_7984

Ngurtavur Beach

Pantai Ngurtavur, terletak di Pulau Warbal, Kepulauan Kei Kecil, Kab. Maluku Tenggara, Maluku, Indonesia. Pantai ini disebut juga sebagai Pantai Ular karena pantai ini memiliki gusung yang mengular sepanjang 2 km dengan lebar kira-kira 7 meter. Gusung ini baru bisa terlihat demikian saat kondisi air surut. Wisatawan dapat berjalan sepanjang gusung dan merasakan sensasi berjalan di tengah laut (karena kanan dan kirinya langsung pantai laut). Kawasan pantai Ngurtavur ini dalam setahun belakangan tertutup untuk wisatawan karena termasuk daerah yang dilindungi adat setempat. Tepat di pangkal pantai mengular dipasang sasi (janur, semacam penanda area adat yang terlarang dikunjungi).

IMG_7996

Sasi, penanda area adat yang terlarang dikunjungi

Sebenarnya wisatawan masih bisa berkunjung dan menikmati keelokan pantai Ngurtavur ini, tapi memang ada sejumlah prosedur yang perlu dilakukan, seperti meminta izin terlebih dahulu ke kepada desa dan ketua adat. Itulah yang kami lakukan saat mengunjungi pantai eksotis ini. Begini ceritanya…

Sejak dari pantai Ngurbloat, kami ingin sekali mengunjungi Pantai Ngurtavur. Padahal spot tersebut ga ada di paket itenarary kami, so kami harus menambah biayanya (most likely tour agent memang tidak akan memasukan spot ini ke paketnya karena ya itu tadi, area tersebut terlarang secara adat). Berbekal tekat kuat (cailaahhh….) dan kegigihan tour guide kami yang ingin memuaskan kliennya yang BM (banyak mau) ini, akhirnya berangkatlah kami ke pantai Ngurtavur. So much thanks yaaa Kakaban Trip team!! 😀

foto 3 kursi kondangan

Kapal yang membawa kami ke Pantai Ngurtavur lengkap dengan kursi kondangannya, hehehe…

DCIM104GOPRO

On our way to Ngurtavur Beach

Perjalanan kami pun sempat mengalami kendala. Lihat gambar di atas, yaps, itu penampakan kapal motor yang kami tumpangi, lengkap dengan kursi plastik bak di kondangan! Hahaha… tour guide kami ini emang juara untuk memuaskan kliennya mengarungi lautan kurleb satu jam. Tapi ternyata, gulungan ombak lumayan bikin khawatir di tengah jalan. Akhirnya, kami menepi ke sebuah pulau untuk ganti formasi duduk. Yaps, akhirnya kami belasan orang ini duduk di bawah, selonjoran. Kursi plastik bebas tugas, mr. boatman pun lebih tenang mengarungi lautan!

DCIM104GOPRO

Bye bye kursi kondangan…. Siap-siap dihantam ombak!!

Setelah hampir satu jam, kami pun tiba di pantai Ngurtavur. Kondisi saat itu, air masih pasang sehingga gusung mengular belum tampak. Tour guide lokal kami meminta agar kami tidak bermain terlalu jauh dulu, sementara ia akan pergi minta izin ke kepala desa dan ketua adat. Kami pun menurut, hanya berfoto-foto santai di area itu. Tak lama kami pun dihampiri oleh seorang warga. Aktivitas hahahehe dan fotafoto kami pun terhenti. Long short story, beliau menegur dan menasehati kami. Kami pun menurut, mendengarkan teguran, nasihat, dan cerita beliau. Beliau juga meminta kami untuk meminta izin terlebih dahulu ke kepala desa dan ketua adat, ya kami semua. Waduuuhh, ga boleh banget nih main-main dan potapoto di mari, pak?!?

IMG_5940

Warga yang menegur rombongan kami (sebelah kiri)

Untungnya tour guide lokal kami segera datang dengan mengantongi izin dari kepala desa dan ketua adat untuk kami mengeksplorasi pantai Ngurtavur. Yeaaayy! Bapak-bapak yang tadi menegur kami pun menjadi ramah, ia mengajak kami ke kapalnya yang penuh dengan rumput laut hasil panen. Saya dan beberapa teman mencicip rumput laut asli dari laut tersebut. Hmm, enak… Cuma yaa gitu, rasa air laut, hihihi…

IMG_7955

Rumput laut rasa air laut yang sangat otentik x))

Jam menunjukkan pukul 1 siang dan air belum juga surut. Kami pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Tak lupa mengajak si bapak tadi untuk piknik makan siang bersama kami. Makanan dan minuman dibawa dari Kei Kecil, karena di lokasi ini tidak ada yang jual makanan or semacamnya. Berhubung pulau dan pantai ini memang tidak dikondisikan sebagai area wisata, fasilitas umumnya pun minim seperti toilet. Jangan harap ada bilik dengan toilet yang minim. Bahkan ada biliknya (yang terbuat dari dedaunan) saja sudah bersyukur, hehehe.. di dalamnya ga ada toilet, ya kalau mau buang air ya di tanah saja langsung. Oia, jangan lupa juga bawa plastik untuk membawa sampah pribadi yaa… 😉

 

IMG_5946

Selagi menanti air surut

Setelah makan siang, saya bermain perahu kano, sementara beberapa teman ada yang sudah asik berfoto-foto dengan sasi, ada pula yang boci di pinggir pantai. Memang, menurut bapak yang menegur kami tadi, air biasanya surut pukul 3 siang hingga pukul 11 malam. Sementara, saat kami tiba di sana baru pukul 12 siang.

IMG_8158

Main kano for the first time! 😀

IMG_4443

De’ Tantes boci..

Kami pun mulai berjalan menyusuri gusung mengular saat air mulai surut di pukul 2 siang. Kami bertujuhbelas yang anak kota tulen ini pun bahagia banget bisa main di pantai Ngurtavur dan ngalamin sensasi jalan di antara dua sisi pantai. Pasirnya halus banget, ga perlu pake alas kaki, malah jadi berat atau beresiko hilang terbawa arus pantai. Sesekali, air membasahi kaki kami saat melintasi gusung yang agak rendah.

DCIM105GOPRO

Cantiiiiiik bangets………..pantainya <3<3

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berjalan di tengah laut

Pemandangannya pun menakjubkan, pasir putih berpadu warna tosca air laut dan biru langit, ditambah ga ada orang lain lagi selain kami di sana. Kehadiran segerombolan burung Pelican Australia di pantai Ngurtavur ini pun menambah kebahagiaan kami. Ga setiap waktu, segerombilan Pelican Australia mampir ke Indonesia, khususnya ke pantai Ngurtavur ini.

IMG_8502

Pelican Australia aja senang ke Pantai Ngurtavur 🙂

DCIM108GOPROG5754842.

Group photo di ujungnya gusung Ngurtavur

Tak terasa, akhirnya kami pun sampai juga di ujung gusung pasir ini, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Wah, cepat juga ya.. tak terasa kulit sudah menggosong dan kain pantai yang kami jemur di pulau pun sudah kering lagi. Kapal yang kami labuhkan di pinggir pulaupun menjemput kami di ujung gusung (Alhamdulillah yaa cin, ga perlu balik lagi jalan 2 kilo, hahaha…).

Well, it’s time to go back to pulau Kei Kecil. See ya, Pantai Ngurtavur!

IMG_8619

See ya!

Credit photo by  Rahadi Ari “Kakaban Trip”, Rahma Tarigan, Dito Hendrato, and my private collection. 

Menginap di LOB (Live On Board) bertabur gemintang di langit Flores

Kali ini saya mau bercerita pengalaman saya berlibur dengan tinggal di kapal di salah satu spot Indonesia Timur. Eh ini beda dengan tinggal di kapal cruise yang mewah seperti di film-film, atau tinggal di kapal ferry yang biasanya untuk menyeberang antar pulau lhoo…

Ini penampakan kapal LOB kami yang sedang bersandar di Pulau Gili Laba Darat

Ini penampakan kapal LOB kami yang sedang bersandar di Pulau Gili Laba Darat

Jadi, saya dan sepuluh kawan baru saya pernah ikutan open-trip menjelajah di kepulauan Komodo, Flores, NTT dengan menggunakan kapal LOB (Live On Board), di pertengahan 2014. Kapal yang digunakan sejenis pinisi mini. Kapal ini memiliki empat ruangan tidur, satu ruangan pengemudi/kapten, dua toilet, dan satu dapur, serta satu dipan serbaguna (bisa untuk santai, duduk-duduk, ruang makan bersama, kalau malam jadi tempat tidur para awak kapal), juga dek kapal yang bisa digunakan untuk bersantai, berjemur, maupun menikmati taburan gemintang di malam hari.

Kalau siang hari, kami biasa berkumpul di dipan panjang serbaguna ini..

Kalau siang hari, kami biasa berkumpul di dipan panjang serbaguna ini..

Kami, bersebelas, plus satu kapten dan tiga orang awak kapal, serta satu guide lokal tinggal bersama di satu kapal ini selama kurang lebih 4 hari tiga malam. Sebenarnya lebih pas disebut tiga hari tiga malam sih, karena hari pertama dan terakhir gak sampai setengah hari pun.

Sunset yang menyambut kami dalam petualangan LOB ini :)

Sunset yang menyambut kami dalam petualangan LOB ini 🙂

Ada beberapa aturan tinggal di kapal ini. Pertama, harus hemat air! Iya, kami mandi dengan air tawar yang khusus dibawa dari Labuan Bajo. Sementara itu, untuk urusan siram menyiram feses, kami menggunakan air laut. Sanking mesti berhemat air tawar banget, kami pun hanya mandi satu hari sekali saja, hahaha.. Jorok? Engga lah! Begini lho kira-kira aktivitas keseharian kami selama LOB: Bangun tidur, cuci muka, sikat gigi, ganti baju, sarapan, lalu trekking di pulau-pulau. Lalu balik ke kapal, bergerak lagi, dan nyebur ke laut. Naik ke kapal, makan, kapal bergerak ke spot lain, trus berenang lagi. Gitu terus sampai sore, baru deh mandi pake air tawar, hehehe…

Demi berhemat air tawar, mandi pun dilakukan di luar toilet, hahaha... x))

Demi berhemat air tawar, mandi pun dilakukan di luar toilet, hahaha… x))

Kedua, listrik hanya dinyalakan di waktu-waktu tertentu, yakni petang hingga dini hari. Dan karena listriknya menggunakan diesel maka aliran listriknya pun ga stabil. So, you better prepare yourself with powerbank. Jadi, nge-charge gadget dengan powerbank yang sudah dicharge semalaman pada listrik dari diesel itu. Lumayan lah kita bisa survive! Karena gadget smartphone ga banyak ngabisin batre juga karena di sana tuh signal jarang, hehehe… Ohiya, ga ada AC pun! Tapi tenang, ga butuh AC juga karena dengan buka jendela, angin cepoi-cepoi pun mampu meninabobokan kami.

Salah saut penampakan kamar mungil kami yang terletak di bawah dipan atas..

Salah satu penampakan kamar mungil kami yang terletak di bawah dipan atas..

Di ujung lorong itu adalah toilet mungil kami berukuran 50x50cm kayaknya, hehehe.. dan di pinggir ini lah kami menjemur pakaian renang kami

Di ujung lorong itu adalah toilet mungil kami berukuran 50x50cm kayaknya, hehehe.. dan di pinggir ini lah kami menjemur pakaian renang kami

Ketiga, be effective be efficient! Terutama juga soal tempat. Ini kapal memang kecil dan mestinya ya cukup menampung kami belasan orang. Tapi emang dasar orang kota biasa di tempat yang luas ya mesti adaptasi juga. Kamar tidur itu cukup untuk berdua. Artinya, cukup untuk dua orang tidur selonjoran, saja. Iya, ga bisa deh tuh kamu tidur dengan berbagai macam gaya, sempit cin! Kira-kira hanya 2m x 1m x 2 m. Untuk kamar saya, lebih sempit lagi karena diperuntukkan empat orang dengan tempat tidur tingkat. Saya kebetulan dapet kebagian tidur di kasur bawah, bangun tidur mesti pelan-pelan kalau ga mau kepala terbentur tempat tidur atas, hehehe…

Mau berfoto dengan view yang OK?! Wah, segambreng banget view bagus di mari... Motret ngasal juga jadinya WOW! :)

Mau berfoto dengan view yang OK?! Wah, segambreng banget view bagus di mari… Motret ngasal juga jadinya WOW! 🙂

Keempat, enjoy your trip! Seriously, ini pengalaman yang asik banget! Selain pemandangan yang ga abis-abis bikin terpana, udara yang segar, makanan buatan para awak kapal ini enak-enak banget! Entah berlebihan atau kami yang emang ga ada pilihan lain juga dan laper. Tapi kayaknya emang enak-enak banget ya. Ga melulu disuguhin makanan laut, seringnya malah makanan internasional. Ya, mungkin karena para awak kapal lebih sering punya client turis asing ketimbang lokal.

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Selamat makan :)

Selamat makan 🙂

Kelima, always prepare for the worst case! Hmmm, this might be a very rare moment, but this happened to us. And we’ll never forget it! Kejadiannya pas di hari ketiga, sore-sore, lagi bengong antara capek abis trekking di dua tempat dan abis berenang juga, abis ngemil-ngemil lucu, kapal pun bertolak menuju Pulau Kalong. Ngejar sebelum sunset untuk dapetin momen kalong beterbangan dengan latar sunset gitu.

BRAK! Tiba-tiba kapal oleng, yang lagi pada bengong pun shock langsung cari pegangan, beberapa barang yang berada di atas dipan dan meja pun bergulingan ke satu sisi oleng kapal. Saya yang saat itu lagi megang DSLR milik saya bergegas memasukannya ke drybag saya, juga DSLR teman saya yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan saya. Antisipasi kapal oleng dan kita mesti nyebur bersama barang-barang gak tahan air ini. Beberapa awak pun sibuk turun ke air dan kapten berusaha menyeimbangkan kapal dengan memberikan instruksi di sisi mana kami harus berdiri. Seisi kapal panik, well, at least, kami, si anak kota bersebelas ini jelas PANIK! Sementara kapten masih bisa hahahehe, juga para awak kapal terlihat biasa saja. Setelah kapal sedikit terkendali, kapten pun turun ke air. Oh my God! Kapal pun dinyatakan karam karena menabrak karang!

Well yess, kami pun mesti mengurangi beban kapal agar kapal bisa didorong menjauhi karang. Dan satu ember gentong besar berisi air tawar yang sudah kami hemat-hemat itu pun harus dibuang isinya. Huhuhu, cedih! Padahal ini malam terakhir untuk bisa agak puas menggunakan air tawar itu untuk mandi. Setelah kondisi kapal lumayan stabil, kami mencoba cari bala bantuan, dengan teriak-teriak dan melambaikan handuk ke arah kapal manapun yang terlihat di jangkauan mata kami. Singkat cerita, kapal karam kami berhasil diselamatkan oleh kapal daruratnya Black Manta (kapal LOB juga tapi yang kelas VVIP gitu, jauh lebih besar, mewah, gagah, cruise-nya Flores deh nih!).

Nah, itu ruangan sang kapten mengemudikan kapal

Nah, itu ruangan sang kapten mengemudikan kapal

Ketua rombongan kami, Mas Dito justru yang kelihatan paling panik. Ia pun bergegas menelpon pihak agen wisata yang berada di kota dan meminta agar kami bisa bermalam di Labuan Bajo saja sebagai pertanggungjawaban. Kejadian ini ternyata menyinggung sang kapten kapal, si orang Flores asli. Kami pun ditegur karena dianggap tidak memercayai dia dan timnya untuk bisa solve problem. Drama bergulir, kami diem-dieman, hahahaha… Tapi akhirnya mencair juga karena kami semua ternyata lapar x)))

Sungguh pengalaman yang ga bakalan terlupa deh… x)))

*All photographs courtesy of Mas Dito, Mba Fidia, Kak Anita, Kak Felona, and me.

Wisata Konflik di Kupang

Kayak gak lagi di Indonesia Timur! Indah banget nih jalanan kota Kupang yang bersih dan rindang

Kayak gak lagi di Indonesia Timur! Indah banget nih jalanan kota Kupang yang bersih dan rindang

November 2013 lalu, saya ditugaskan ke Kota Kupang, ibukota dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berlokasi di pulau Timor, yang sebagian areanya merupakan Negara Timor Leste, suatu negara yang pada tahun 2002 memerdekakan diri berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdirinya Negara Timor Leste bukan hanya perkara satu bagian lepas dari NKRI dan berdikari sendiri. Tetapi juga meninggalkan sejuta masalah kemanusiaan. Saya akan ceritakan kemudian.

Tarifnya masih 60.000IDR

Tarifnya masih 60.000IDR

Selamat datang di Kota Kupang :D

Selamat datang di Kota Kupang 😀

Seperti biasa, perjalanan biztrip akan didominasi oleh agenda kerja dengan selipan jalan-jalan menikmati kota, tentu saja, hehehe… Namun, kali ini berbeda. Jadwal yang berubah di tengah jalan membuat saya memiliki lebih banyak waktu luang untuk eksplorasi ketimbang untuk bekerja, yeay! #eh

Taman Doa

Taman Doa

Hari pertama saya tiba di sana, saya habiskan untuk berjalan-jalan di sekitar penginapan. Saya pun mengontak teman kuliah saya, Bang Dekson. Sebenarnya, jaman kuliah dulu sih ga pernah ngobrol dikit pun sama dia, tapi saya aware dengan eksistensinya di sekitaran kantin kampus. Sebelum saya tiba di Kupang, saya mengontak salah satu teman seangkatan saya di kampus, menanyakan apakah dia masih tinggal di Kupang. Ternyata sudah pindah tugas dan saya direkomendasikan untuk mengontak Dekson. Jadi lah, sore itu saya bertemu dengan Dekson dan dikenalkan dengan Kupang di sore hari. Kami makan ikan bakar di tempat kulineran dekat pantai Teddis.

Ikan segar yang dapat ditemukan di sekitaran Pantai Tedis

Ikan segar yang dapat ditemukan di sekitaran Pantai Tedis

Saya menginap di Hotel Flobamora 2 dengan biaya 250.000/malam (harga tahun 2013), dengan fasilitas kamar mandi dalam dan sebuah ruang tamu. Iya, jadi total ada tiga ruangan di kamar saya. Hotel ini terletak di pinggir jalan besar pusat perbelanjaan.

Hotel Flobamora 2 tampak depan

Hotel Flobamora 2 tampak depan

Hotel tempat saya menginap 2 malam

Hotel tempat saya menginap 2 malam

Jangan bayangkan pusat perbelanjaan itu seperti mall besar di Jakarta ya. Pusat perbelanjaan yang saya maksud itu lebih seperti satu jalan dengan deretan toko-toko aneka macam produk jualan, dari baju hingga perangkat elektronik. Di sana belum ada mall. Adanya hanya Ramayana Robinson (dua lantai) dan satu gerai KFC di depannya.

(Mall) Ramayana satu-satunya di Kota Kupang

(Mall) Ramayana satu-satunya di Kota Kupang

Resto fastfood KFC satu satunya di Kota Kupang

Resto fastfood KFC satu satunya di Kota Kupang

Hari berikutnya, saya habiskan untuk bekerja sekaligus mengeksplorasi kota Kupang, sebuah kota kecil di Timur. Tata kotanya pun cukup apik, mudah sekali menghapal pola jalan di sana. Saya sama sekali tidak nyasar di kota yang saat itu belum tersedia detail jalannya di Gmap. Kebetulan pagi itu, Dekson sedang ada kerjaan, jadi saya pun bepergian sendiri menggunakan angkot. Jangan bayangkan angkotnya seperti di pulau Jawa ya..hehehe.. Angkot di Kupang ini cukup heboh penampilannya. Sama halnya seperti di Manado, angkot di kota Kupang ini juga tak kalah hingar bingar dari diskotek-diskotek di Jakarta. Sound system yang digarap serius, pilihan lagu-lagu yang update, dan juga aksesoris mobil yang menarik.

Teropong, spedometer, boneka ular panjang berwarna-warni, gantungan bintang, ah you named it lah, banyak bangettt aksesorisnya!! x)))

Teropong, spedometer, boneka ular panjang berwarna-warni, gantungan bintang, ah you named it lah, banyak bangettt aksesorisnya!! x)))

Dimana lagi bisa nemu angkot berCCTV dengan layar pemantaunya ada di sebelah spion tengah pengemudi?!?

Dimana lagi bisa nemu angkot berCCTV dengan layar pemantaunya ada di sebelah spion tengah pengemudi?!?

speaker soundsystem umumnya diletakkan di bawah jok penumpang, heboh lah ini angkot!

speaker soundsystem umumnya diletakkan di bawah jok penumpang, heboh lah ini angkot!

Penampakan angkot Kupang di Jalan utama kota Kupang

Penampakan angkot Kupang di Jalan utama kota Kupang

Gimana gak dibilang update, kalau di awal November 2013, angkot yang saya tumpangi sudah memainkan lagu-lagunya Adele yang bahkan di Jakarta saja belum happening banget! X))

Di hari ketiga, saya diajak berkeliling sampai ke luar Kota Kupang oleh Dekson. Yang menarik, saya tidak diajak melihat tempat wisata melainkan ke daerah rentan konflik. Wow!!

Ga deng, sebenarnya, saat itu, bang Dekson ini mau ngajakin makan jagung susu di pinggir pantai. Katanya dia, jagung pinggir pantai yang enaak itu adanya di luar kota Kupang. Sayangnya, sampai di lokasi ternyata sedang tidak ada yang berjualan. Kepalang tanggung sudah jauh-jauh keluar kota, jadilah ia memberikan tour ke daerah pinggiran sekitar Kota Kupang.

Seperti yang saya sebutkan di awal, lepasnya provinsi Timor Leste dari NKRI, membawa segudang masalah bagi Indonesia sendiri. Banyak penduduk asli Timor Leste yang masih ingin menjadi warga negara Indonesia, sehingga mereka pun berpindah dan menjadi pengungsi di negara sendiri. Kamp-kamp pengungsian yang disediakan pemerintah Indonesia tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pengungsi yang banyak. Sehingga banyak pengungsi yang akhirnya berusaha mandiri hidup di luar kamp dan bergabung dengan penduduk asli sekitar.

salah satu rumah penduduk pengungsi

salah satu rumah penduduk pengungsi

rumah penduduk

rumah penduduk

Di sepanjang jalan yang kami lewati adalah pemukiman penduduk dengan jarak antar rumah yang berjauhan dan juga tipe rumah yang berbeda. Rumah dengan bangunan batu bata, beton, semen merupakan ciri rumah penduduk asli. Sedangkan rumah dengan bangunan temporer seperti dari bambu, rotan, tempahan pisang merupakan ciri rumah penduduk pengungsi.

Rumah pengungsi diantara pemukiman penduduk

Rumah pengungsi diantara pemukiman penduduk

Kepindahan mereka ke lokasi baru bukan tanpa membawa masalah. Misalnya saja, soal kebutuhan dasar. Sebagian besar area NTT merupakan daerah yang tandus, kurang air, curah hujannya pun rendah. Hanya ada beberapa sungai dengan debit air yang cukup untuk menghidupi penduduk di sekitarnya. Jadi, bisa dibayangkan jika tiba-tiba ada penambahan penduduk yang cukup signifikan di suatu daerah. Mata air di sana mungkin tidak mencukupi. Tak hanya itu, pasokan makanan pun juga kurang memadai. Kecukupan kesediaan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan lainnya pun mengikuti. Tak bisa dihindari konflik antar warga pun terjadi. Penduduk dengan rumah temporer yang mudah dibakar/hancurkan pun menjadi sasaran empuk untuk menebar teror pengusiran. Buat mereka, nyawa bayar nyawa. Tauran warga yang memakan korban pun tak jarang terjadi di sekitar sini.

Miris ya! Di satu sisi, para pengungsi ini masih pengen jadi warga negara RI. Tapi di sisi lain, kayak ga diterima di negaranya sendiri. T_T

Dengan kebutuhan pokok yang berat terpenuhi dan suhu udara yang cenderung panas dan kering, menjadi wajar jika orang sana cenderung berwatak keras dan mudah tersulut emosinya. Tapi jangan salah, mereka ini sebenarnya ramah. Coba saja sapa mereka dengan ramah, mereka pasti akan memberikan senyuman yang lebih lebar dari yang orang Indonesia Barat bisa berikan 😀

Jagung bakar pinggir pantai Tedis

Jagung bakar pinggir pantai Tedis

Suasana sore di Pantai Tedis

Suasana sore di Pantai Tedis

Sore harinya, bang Dekson menepati janjinya untuk mengajak saya makan jagung bakar di pinggir Pantai, tapi di pantai Teddy Kota Kupang. Salah satu spot wisata penduduk maupun turis, Pantai Teddy. Setelah makan jagung bakar dan menikmati sunset di pantai Teddy, kami pun beranjak untuk ke toko oleh-oleh. Saya penasaran ingin membeli kain Kupang. Dekson kemudian mengajak saya makan sate ayam yang katanya paling enak di Kupang.

Sate ayam paling enak di kota Kupang

Sate ayam paling enak di kota Kupang

Bang Dexon yang berulangtahun dan menemani saya di Kupang Trip kali ini

Bang Dexon yang berulangtahun dan menemani saya di Kupang Trip kali ini

Saat itu, saya bilang, “Eh, makan sate tuh kan ga bagus buat kesehatan karena ada sisa pembakaran yang juga akan kita makan di dagingnya.” Seketika itu juga, abang saya satu ini ngakak! Di tengah makan malam itu, ayahnya menelpon untuk ngucapin selamat ultah. Aaah, ternyata ultah kau hari ini, bang!! Haseeekkk, ada yang bayarin makan maleemmm… hiphip hoeraaa!! \\^,^// *Padahal ultah kami hanya beda dua hari, hihihi.. Sesama scorpion ternyata!

Sunrise di Kota Kupang

Sunrise di Kota Kupang

Keesokan harinya, diantarkan oleh taksi hotel, saya pun beranjak ke Bandara. Sepanjang jalan, saya mendapati kecantikan Kota Kupang ini. Sungguh, saya mesti kembali untuk eksplorasi lebih banyak di kota ini. Semoga!

Driver taksi di Kupang yang mengantar saya kembali ke Bandara El Tari, Kupang

Driver taksi di Kupang yang mengantar saya kembali ke Bandara El Tari, Kupang

Kenalan sama nona manis dari Maumere, NTT

Kenalan sama nona manis dari Maumere, NTT

Penerbangan saya ke Denpasar mesti transit dulu ke Maumere, Flores. Saya yang kebutuhan eksplorasinya tinggi pun minta izin ikut turun dari pesawat untuk sekedar menghirup udara tanah Flores dan foto-foto. Gak boleh sebenarnya karena hanya transit untuk turunin dan naikin penumpang saja, hehehe.. Dari sini saya berkenalan dengan satu gadis manis asal Maumere bernama Berti yang hendak ke Jakarta untuk English camp di kampus UI (Ah, kampus saya!!). Kami bertukar nomor telpon dan hingga kini masih sering kontak.. 😀