Menginap di LOB (Live On Board) bertabur gemintang di langit Flores

Kali ini saya mau bercerita pengalaman saya berlibur dengan tinggal di kapal di salah satu spot Indonesia Timur. Eh ini beda dengan tinggal di kapal cruise yang mewah seperti di film-film, atau tinggal di kapal ferry yang biasanya untuk menyeberang antar pulau lhoo…

Ini penampakan kapal LOB kami yang sedang bersandar di Pulau Gili Laba Darat

Ini penampakan kapal LOB kami yang sedang bersandar di Pulau Gili Laba Darat

Jadi, saya dan sepuluh kawan baru saya pernah ikutan open-trip menjelajah di kepulauan Komodo, Flores, NTT dengan menggunakan kapal LOB (Live On Board), di pertengahan 2014. Kapal yang digunakan sejenis pinisi mini. Kapal ini memiliki empat ruangan tidur, satu ruangan pengemudi/kapten, dua toilet, dan satu dapur, serta satu dipan serbaguna (bisa untuk santai, duduk-duduk, ruang makan bersama, kalau malam jadi tempat tidur para awak kapal), juga dek kapal yang bisa digunakan untuk bersantai, berjemur, maupun menikmati taburan gemintang di malam hari.

Kalau siang hari, kami biasa berkumpul di dipan panjang serbaguna ini..

Kalau siang hari, kami biasa berkumpul di dipan panjang serbaguna ini..

Kami, bersebelas, plus satu kapten dan tiga orang awak kapal, serta satu guide lokal tinggal bersama di satu kapal ini selama kurang lebih 4 hari tiga malam. Sebenarnya lebih pas disebut tiga hari tiga malam sih, karena hari pertama dan terakhir gak sampai setengah hari pun.

Sunset yang menyambut kami dalam petualangan LOB ini :)

Sunset yang menyambut kami dalam petualangan LOB ini 🙂

Ada beberapa aturan tinggal di kapal ini. Pertama, harus hemat air! Iya, kami mandi dengan air tawar yang khusus dibawa dari Labuan Bajo. Sementara itu, untuk urusan siram menyiram feses, kami menggunakan air laut. Sanking mesti berhemat air tawar banget, kami pun hanya mandi satu hari sekali saja, hahaha.. Jorok? Engga lah! Begini lho kira-kira aktivitas keseharian kami selama LOB: Bangun tidur, cuci muka, sikat gigi, ganti baju, sarapan, lalu trekking di pulau-pulau. Lalu balik ke kapal, bergerak lagi, dan nyebur ke laut. Naik ke kapal, makan, kapal bergerak ke spot lain, trus berenang lagi. Gitu terus sampai sore, baru deh mandi pake air tawar, hehehe…

Demi berhemat air tawar, mandi pun dilakukan di luar toilet, hahaha... x))

Demi berhemat air tawar, mandi pun dilakukan di luar toilet, hahaha… x))

Kedua, listrik hanya dinyalakan di waktu-waktu tertentu, yakni petang hingga dini hari. Dan karena listriknya menggunakan diesel maka aliran listriknya pun ga stabil. So, you better prepare yourself with powerbank. Jadi, nge-charge gadget dengan powerbank yang sudah dicharge semalaman pada listrik dari diesel itu. Lumayan lah kita bisa survive! Karena gadget smartphone ga banyak ngabisin batre juga karena di sana tuh signal jarang, hehehe… Ohiya, ga ada AC pun! Tapi tenang, ga butuh AC juga karena dengan buka jendela, angin cepoi-cepoi pun mampu meninabobokan kami.

Salah saut penampakan kamar mungil kami yang terletak di bawah dipan atas..

Salah satu penampakan kamar mungil kami yang terletak di bawah dipan atas..

Di ujung lorong itu adalah toilet mungil kami berukuran 50x50cm kayaknya, hehehe.. dan di pinggir ini lah kami menjemur pakaian renang kami

Di ujung lorong itu adalah toilet mungil kami berukuran 50x50cm kayaknya, hehehe.. dan di pinggir ini lah kami menjemur pakaian renang kami

Ketiga, be effective be efficient! Terutama juga soal tempat. Ini kapal memang kecil dan mestinya ya cukup menampung kami belasan orang. Tapi emang dasar orang kota biasa di tempat yang luas ya mesti adaptasi juga. Kamar tidur itu cukup untuk berdua. Artinya, cukup untuk dua orang tidur selonjoran, saja. Iya, ga bisa deh tuh kamu tidur dengan berbagai macam gaya, sempit cin! Kira-kira hanya 2m x 1m x 2 m. Untuk kamar saya, lebih sempit lagi karena diperuntukkan empat orang dengan tempat tidur tingkat. Saya kebetulan dapet kebagian tidur di kasur bawah, bangun tidur mesti pelan-pelan kalau ga mau kepala terbentur tempat tidur atas, hehehe…

Mau berfoto dengan view yang OK?! Wah, segambreng banget view bagus di mari... Motret ngasal juga jadinya WOW! :)

Mau berfoto dengan view yang OK?! Wah, segambreng banget view bagus di mari… Motret ngasal juga jadinya WOW! 🙂

Keempat, enjoy your trip! Seriously, ini pengalaman yang asik banget! Selain pemandangan yang ga abis-abis bikin terpana, udara yang segar, makanan buatan para awak kapal ini enak-enak banget! Entah berlebihan atau kami yang emang ga ada pilihan lain juga dan laper. Tapi kayaknya emang enak-enak banget ya. Ga melulu disuguhin makanan laut, seringnya malah makanan internasional. Ya, mungkin karena para awak kapal lebih sering punya client turis asing ketimbang lokal.

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Beberapa makanan yang disajikan untuk makan malam

Selamat makan :)

Selamat makan 🙂

Kelima, always prepare for the worst case! Hmmm, this might be a very rare moment, but this happened to us. And we’ll never forget it! Kejadiannya pas di hari ketiga, sore-sore, lagi bengong antara capek abis trekking di dua tempat dan abis berenang juga, abis ngemil-ngemil lucu, kapal pun bertolak menuju Pulau Kalong. Ngejar sebelum sunset untuk dapetin momen kalong beterbangan dengan latar sunset gitu.

BRAK! Tiba-tiba kapal oleng, yang lagi pada bengong pun shock langsung cari pegangan, beberapa barang yang berada di atas dipan dan meja pun bergulingan ke satu sisi oleng kapal. Saya yang saat itu lagi megang DSLR milik saya bergegas memasukannya ke drybag saya, juga DSLR teman saya yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan saya. Antisipasi kapal oleng dan kita mesti nyebur bersama barang-barang gak tahan air ini. Beberapa awak pun sibuk turun ke air dan kapten berusaha menyeimbangkan kapal dengan memberikan instruksi di sisi mana kami harus berdiri. Seisi kapal panik, well, at least, kami, si anak kota bersebelas ini jelas PANIK! Sementara kapten masih bisa hahahehe, juga para awak kapal terlihat biasa saja. Setelah kapal sedikit terkendali, kapten pun turun ke air. Oh my God! Kapal pun dinyatakan karam karena menabrak karang!

Well yess, kami pun mesti mengurangi beban kapal agar kapal bisa didorong menjauhi karang. Dan satu ember gentong besar berisi air tawar yang sudah kami hemat-hemat itu pun harus dibuang isinya. Huhuhu, cedih! Padahal ini malam terakhir untuk bisa agak puas menggunakan air tawar itu untuk mandi. Setelah kondisi kapal lumayan stabil, kami mencoba cari bala bantuan, dengan teriak-teriak dan melambaikan handuk ke arah kapal manapun yang terlihat di jangkauan mata kami. Singkat cerita, kapal karam kami berhasil diselamatkan oleh kapal daruratnya Black Manta (kapal LOB juga tapi yang kelas VVIP gitu, jauh lebih besar, mewah, gagah, cruise-nya Flores deh nih!).

Nah, itu ruangan sang kapten mengemudikan kapal

Nah, itu ruangan sang kapten mengemudikan kapal

Ketua rombongan kami, Mas Dito justru yang kelihatan paling panik. Ia pun bergegas menelpon pihak agen wisata yang berada di kota dan meminta agar kami bisa bermalam di Labuan Bajo saja sebagai pertanggungjawaban. Kejadian ini ternyata menyinggung sang kapten kapal, si orang Flores asli. Kami pun ditegur karena dianggap tidak memercayai dia dan timnya untuk bisa solve problem. Drama bergulir, kami diem-dieman, hahahaha… Tapi akhirnya mencair juga karena kami semua ternyata lapar x)))

Sungguh pengalaman yang ga bakalan terlupa deh… x)))

*All photographs courtesy of Mas Dito, Mba Fidia, Kak Anita, Kak Felona, and me.

Advertisements

#FloresTrip: Trekking di Pulau Gili Lawa Darat

25 Mei 2014. Ini malam pertama kami tinggal di kapal, bermalam di area Gili Lawa. Kami terbangun sedari subuh untuk menikmati permadani taburan bintang di atas sana. Beberapa dari kami memilih tiduran di atas dek kapal. Itu lukisan malam paling indah yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya kala itu. Puas memandangi langit hingga berganti gelap ke terangnya mentari terbit, kami pun bergegas menyantap sarapan pagi kami dan bersiap untuk trekking di Pulau Gili Lawa Darat.

Kawasan Gili Lawa ini merupakan pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Komodo. Selain bisa dicapai dari Labuan Bajo seperti yang kami lakukan, bisa pula berlayar melalui jalur laut dari Lombok. Gili Lawa ada dua bagian, Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Biasanya kapal-kapal yang mau berlayar ke TN Komodo bermalam di kawasan Gili Lawa ini agar tidak terkena angin malam dan arus lautnya cenderung lebih tenang.

Kapal LOB kamiIni kapal LOB kami selama 4D3N

Pukul 06.30 WIB, kapal kami pun bersauh, kami turun membawa perlengkapan trekking seadanya. Iya, seadanya aja, trekking mah gak perlu ribet bawa yang gak perlu: Alat dokumentasi, air minum, dan cemilan secukupnya (durasi trekking PP 2-3 jam). Wong dari trip agent-nya juga kurang detail menginformasikan mengenai medannya, jadi ya bener-bener seadanya ala orang kota banget. Memang medannya tidak berat tapi mungkin perlu ada penjelasan lebih detail agar, paling tidak, wisatawan tidak salah menggunakan alas kaki.

Pulau Gili Lawa DaratPulau Gili Lawa Darat (Kalau lihat begini, bukit savana yang landai kayaknya medannya gancil yah… aslinya maahh…. -____-“)

Medan trekking di Pulau Gili Lawa Darat ini cukup curam dan berbatu tajam. Perlu kesadaran diri yang tinggi untuk menilai kesanggupan diri naik ke atas sana. Tentunya kami naik pun didampingi guide kami, Mas Bendi. Ya tapi emang hanya bersama Bendi aja, sementara kami bersebelas. Bersebelas dengan kondisi fisik dan pengalaman yang beda-beda. Ada yang sudah terbiasa naik gunung, melakukan trekking, ada pula yang baru pertama kali. Ya, saya ini salah satunya! Iya, ini baru pertama kalinya banget! Karena tidak ada pengalaman sebelumnya, tidak ada bayangan pun mengenai medannya (Gaess, kalau sekedar lihat gambar di Google mah kayaknya gampang, landai aman gitu).

Setengah jam pertama mendaki, Belona memutuskan menunggu di bawah saja sementara ada satu orang yang terus melaju bersama guide kami. Iya, dari kami bersebelas, hanya Setian lah yang sudah pernah naik gunung, jadi sekedar trekking di bukit saja mungkin tidak sulit untuknya. Kami mempersilahkannya untuk terus melaju dan melaporkan pada kami pemandangan dari atas sana. Belasan menit kemudian, Siska dan Tasya memutuskan untuk tidak melanjutkan dan kembali turun.

IMG_4924Bersebelas, masih lengkap! Sampai di titik ini saja sebenarnya sudah bisa dapet view mainstream berfoto di Gili Lawa Darat 😉

Sebenarnya, untuk mendapatkan view populer Pulau Gili Lawa Darat tidak perlu hingga sampai ke puncaknya. Tapi namanya sudah jauh jauh sampai ke pulau ini, kalau tidak diusahakan semaksimal mungkin koq ya sayang gitu, hehehe.. Maka, kami yang bertujuh: Saya, Anita, Felona, Wiri, Jessica, Fidia, Dito pun terus melaju.

file000090

Kalo balik badan, foto di atas ini adalah view sebelah kanan. Sementara, foto di bawah ini adalah view samping kiri (yang bisa dinikmati sambil trekking naik, tengok sebelah kanan…). Kalau kata anak jaman sekarang, PETJAAAAHHH, Meeennn!!! <3<3<3file000087

Meski banyak berhenti untuk istirahat ambil napas dan foto-foto, kami persisten terus naik. Medan makin curam dengan bebatuan yang makin tajam, makin seringpula kami terperosok terpeleset terjatuh tertatih, kami terus melaju tanpa guide. Kebetulan Bendi, guide kami, sudah duluan sampai di atas sana bersama Setian. Saya berada di barisan paling depan, berjalan pelan-pelan, nyaris merangkak sanking curamnya, pandangan mata terus ke depan mencari jalan ke atas. Dalam hati terus bergumam, “Come on, don’t give up, dikit lagi sampaaii..” Hingga tiba di satu titik terlintas di pikiran “Ntar turunnya gimana ya, naiknya aja begini?”, saat itulah saya refleks menoleh ke belakang. Saya terhenyak terduduk, kaki gemeter, (katanya Anita yang tepat berada di belakang saya) muka pucat pasi. Mencoba terus tenang dan mencari pijakan dan pegangan pada bebatuan yang ajeg. Seketika itu pula, Anita refleks juga menoleh ke belakang dan bereaksi yang kurang lebih sama seperti saya, shock dengan ketinggian dan kecuraman yang sudah kami lalui dan jadi ngeri sendiri.

“Gimana nih? Lanjut ga?”, saya meragu, karena udah tinggal sedikit lagi sampai puncak bukit tapi treknya makin curam dan tajam.

“Eerr… Gw sampai sini aja deh..”, ujar yang lain.

Kami pun mencari pijakan yang agak landai dan berfoto bersama. Yeaah, we are the mid-trekking team!! We did it!! Bangga!

IMG_4968Bertujuh! Kami tim middle tracking!! Ini fotonya sambil deg-degan jaga keseimbangan… Megang Tongsis GoPro-nya aja mesti dua orang, hahaha…

Kalau naiknya kami setengah jongkok merangkak, maka turunnya pun kami sambil duduk memerosotkan diri. Sebenarnya bisa sih sambil berdiri tapi alas kaki kami tidak memungkinkan, terlalu bahaya. Metode paling aman menggunakan pantat sendiri, hahaha.. Meski tidak sampai atas dan melihat view di balik bukit ini dengan mata kepala sendiri, kami mesti cukup puas dengan pencapaian kami, anak-anak kota yang ga pernah trekking dengan alas kaki yang mungkin kurang proper. Tiba di kapal, nasi goreng telah menanti kami… Yeaaayyy!!

Ternyata Setian sampai kapal lebih dahulu, karena ia dan Bendi melalui jalur trekking lain yang lebih landai. Aah, lesson learned banget nih: Kalau ingin sampai puncak, ga perlu lah nengok-nengok ke belakang, jadinya malah ngeri sendiri dan kembali dikuasai ketakutan-ketakutan. Soal nanti turunnya gimana ya bisa dipikirkan lagi nanti, hihihi.. 😀