#FloresTrip : Meet the KOMODO !!

26 Mei 2014.

Loh Buaya, Pulau Rinca, merupakan lokasi pusat kunjungan wisatawan yang mau melihat komodo, si reptil purba raksasa dari jarak “dekat” di habitat aslinya. Selain di Pulau Rinca, ada beberapa pulau lagi habitat komodo di dalam TN Komodo ini yakni di Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Gili Motang, Pulau Nusa Kode, dan juga pulau-pulau lain yang lebih kecil. Meskipun demikian, komodo tak lagi ditemukan di Pulau Padar, jadi yang mau trekking di Pulau Padar, Insha Allah, aman (huuuff…). Luas TN Komodo sendiri mencapai 173 ribu hektar meliputi wilayah darat dan lautan. Hey, komodo bisa berenang lhoo.. Ati-ati yaa kalau lagi snorkeling di area ini.. Gak deng, katanya sih sudah jarang ditemukan komodo yang asik berenang di spot snorkeling di area TN Komodo ini 😀

IMG_5305Bersebelas di Dermaga Loh Buaya

file000483Our boat

Kawasan ini ditetapkan menjadi TN Komodo sejak tahun 1980. Kemudian ditetapkan pula menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Beberapa tahun lalu, tepatnya 2011, kawasan ini masuk dalam The New 7 Wonders, bersama dengan Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain.

IMG_0633_OKLoh Buaya sendiri merupakan kawasan yang berbukit dengan hutan hujan, padang savanna, dan pantai.

file000335file000339Inget, Komodo bukan Komedi, apalagi Komedo.. Hahahaadeuhh.. :p

Komodo sendiri merupakan hewan berjenis reptil purba yang kini terancam punah. Oleh karena itu, Taman Nasional Komodo dibangun untuk menjaga habitat asli, meneliti, dan melindungi komodo dari kepunahan. Saat kami ke sana, ranger (sebutan untuk guide di TN Komodo) mengatakan total tersisa dua ribuan komodo tersebar di area TN Komodo, terutama di hutan hujan, area savanna, dan di pinggir pantai. Komodo adalah hewan karnivora atau pemakan daging, termasuk bangkai binatang yang sudah mati. Umumnya mereka hanya memakan sesama hewan pula, tapi kalau ia sangat lapar atau ada kondisi yang menyebabkannya menjadi lebih agresif, ia bisa pula menyerang manusia. Jangankan pengunjung atau peneliti, komodo pun beberapa kali menyerang sejumlah ranger.

file000364Si Kolor Ijo lagi bermales-malesan di walking track. Komodo satu ini diberi tanda cat hijau di tubuhnya karena sudah menyerang korban dalam beberapa waktu terakhir, salah satunya ranger di TN Komodo sendiri 😥 Itu penampakan Bendi, guide kami.

file000358See that monkeys? Itu hewan makanannya si komodo. Mereka dan juga hewan-hewan hutan lain seperti ular, babi hutan, burung, dll dibiarkan hidup bebas untuk (secara bebas pula) dimangsa oleh komodo. TN Komodo memang tidak secara khusus memberikan santapan secara rutin kepada komodo, katanya mah biar gak ngemanjain komodonya. Ntar makin males nih hewan disuapin makanan, jadi memang dikondisikan senatural mungkin di habitatnya. So, kalau lapar mau makan, buru sendiri mangsanya, berantem rebutan dulu antar sesama komodo.

file000368Salah satu komodo lagi “bersantai” di depan guest house. Pintu itu harus selalu tertutup, pintu kamar, pintu dapur, pintu kantor TNK.. Ya agar komodo gak nyelonong masuk. Bahaya!!

Komodo ini hewan pemalas, kata ranger kami. Setiap hari hanya tidur-tiduran saja, slow moving. Tapi, kita manusia harus terus waspada pada setiap komodo yang kami temui. Memang terlihat sangat malas, tapi bisa jadi ia sedang berkonsentrasi mengincar mangsanya. Kelihatannya anteng ga bergerak, dalam sekejap tau-tau bisa berlari mengejar mangsa. Uniknya, komodo menggunakan lidah untuk mencium bau, hingga jarak 5 kilo. Dan di lidahnya itu berlumur air liur dengan segambreng bakteri yang mematikan. Jadi kalau kena gigit, bukan robekannya yang mematikan, melainkan bakteri yang terkandung di air liurnya yang bikin mati. Gila emang nih hewan purba satu! Gokils!

IMG_0645_OKBeberapa sisa santapan komodo

Untuk para perempuan, please note, jangan kemari saat lagi haid. Kalaupun pas kebetulan lagi haid, stay ajah di kapal ya! Ya sayang sih, udah jauh-jauh ke Flores tapi ga ketemu Komodo, tapi lebih sayang nyawa kan yah?! Hehehe… Kalau masih sempat, coba pergi ke apotek beli obat untuk memperlambat datangnya haid. Kebetulan reptil purba satu ini cukup sensitif dan bisa jadi agresif kalau mencium bau darah.

file000342Jalan setapak menuju kantor TNK dan walking track TNK

IMG_7416Ibu calon menteri foto dulu depan kantor TNK :p

Turun di dermaga, kami disambut seorang guide lokal TN Komodo untuk mengikuti jalan setapak menuju kantor TNK. Setelah melapor di kantor TNK, kami melanjutkan trekking ditemani oleh seorang ranger. Ia membawa kami ke sebuah papan berisi peta Loh Buaya dan lima pilihan jalur trekking (2 short trekking, 2 medium trekking, dan 1 long trekking). Selain meminta kami untuk memilih jalur trekking yang ingin kami lewati, ranger juga memberikan brief singkat mengenai Dos and Donts selama berada di kawasan Loh Buaya ini. Sebagian dari kami memilih jalur trekking paling pendek (karena masih berasa capek trekking tiga jam pagi hari tadi).

file000354Ini ranger kami (saya lupa namanya -__-*) lagi ngasih brief singkat soal lima pilihan jalur trekking yang bisa dilalui.

???????????????????????????????Kami yang banyak nanya ini itu dan bapak ranger yang gak lelah ngasih brief singkat DOs and DONTs selama di area TNK ini.

Di area ini pula, terdapat cafetaria, dapur, dan guest house. Belum jalan trekking, kami sudah bertemu sekumpulan komodo sedang bermalas-malasan di bawah dapur. Ya, aroma masakan tak hanya menggoda hidung manusia, komodo pun betah berada di dekat area dapur. Bagi yang juga malas ikut trekking, bisa stay nunggu di cafetaria sambil menonton sekumpulan komodo di dekat area dapur. Tapi jangan berharap banyak di cafetarianya karena hanya menjual snack ringan, minuman kemasan, mie instant kemasan (tidak bisa sekalian dimasakin), juga beberapa aksesoris buah tangan seperti kaos, stiker, gantungan kunci, boneka ala TN Komodo. Kalau tujuan utama kemari hanya mau lihat komodo saja sih ya sudah terpenuhi nih tanpa trekking yang short trek pun.

file000374Ini dapur. Lihat apa yang lagi gegoleran bermalas-malasan di bawahnya!!

file000430Ini si Kolor Ijo, lihat tanda di badannya. Kecil amatan yak, tapi ya mungkin nandain gitu aja juga susah bin ngeri sik.. Hiii…

Rombongan kami pun mulai berjalan. Baru seratusan meter berjalan, kami sudah tiba area liang telur komodo. Pada spot ini, komodo betina menyimpan dan menetaskan telur-telurnya. Musim menikah bagi komodo hanya setahun sekali. Komodo adalah hewan yang setia, tidak suka berganti-ganti pasangan, kecuali pasangannya mati dimangsa komodo lain ia cenderung tak berganti pasangan. Setia, sekaligus jahat juga. Jika sedang lapar dan ga ada mangsa, telur-telur komodo saat menetas bisa langsung disantapnya. Eeerrgghh! Kejam!

file000393Salah satu liang penyimpanan dan penetasan telur Komodo. Kata ranger, pada saat kami ke sana, bukan di masa kawin dan nyimpen telur jadi itu liangnya juga kosong. Bikin liang ini juga tidak mudah bagi Komodo, mereka mesti rebutan ama hewan lain dan juga dengan sesama komodo. Arti “rebutan” bagi komodo itu ya bertarung nyawa, yang survive tetap hidup lah yang akan dapet hal yang direbutkan (liang telur, komodo betina, mangsa, dll).

file000452Salah satu anak komodo usia di bawah satu tahun lagi asik tiduran di atas pohon. Ini kami temukan di pohon tepat depan kafetaria.

Anak komodo yang baru bertelur secara otodidak belajar memanjat pohon untuk survival, menghindari komodo-komodo dewasa lapar yang bisa memangsanya. Selama baru menetas hingga usia dua tahun, anak-anak komodo akan langsung terpisah dari orangtuanya dan survive sendiri di atas pohon.

file000420file000396Aslik deh, ngeliat mereka ini jalan-jalan, ngerinya setengah matik! Gak kebayang mereka lari. Duh, bisa pingsan di tempat kali gw.. hehehe..

Kalau suatu hari ketemu komodo dengan perut menggembung lagi asik tidur-tiduran di bawah matahari yang lagi menyengat, kemungkinan besar dia lagi “masak”. What? Gimana maksudnya? Kalau manusia mau makan daging kan biasanya dimasak dulu yaah di kompor. Kalau komodo masaknya saat itu daging udah ada di dalam perutnya. Agar dapat dicerna lebih baik, ia akan mencari tempat yang panas dan tidur-tiduran di sana. Komodo mah ga setiap hari makan, jadi makanannya disimpan dan dicerna secara bertahap di dalam lambungnya.

IMG_7482Lihat muke saya, super ngeriii…. 😀

IMG_7500Saya dan beberapa teman rasanya sudah puas berjalan sampai di liang bertelurnya komodo. So, kami berjalan balik ke arah dapur untuk motret komodo di sana. Sementara itu, lima dari kami meneruskan trekkingnya. Bravooo kakak Setian, Tasya, Siska, Felona, dan Anita!! Mereka berhasil menyelesaikan short trekking full dan menemukan view yang luar biasa di atas bukit Loh Buaya! Very recommended untuk menyelesaikan full track (mau yang pendek, medium, maupun yang panjang).

IMG_0700_OKView dari atas bukit Loh BuayaIMG_0713_OKMereka yang berhasil menyelesaikan short track.. Wooohoooo!!

Untuk berfoto bersama komodo diperlukan keberanian tingkat tinggi. Saya sendiri hanya berani paling dekat sampai radius dua meter, hohoho… Bulu kuduk berdiri mulu, apalagi kalau komodonya lagi berjalan atau menatap tajam ke arah kita, hii… Terima kasih untuk Bendi, our guide, yang mau bantu foto-fotoin komodo dalam jarak yang lebih dekat lagi.

IMG_0656_OKLama kelamaan, berani juga foto dari jarak segini… Thanks Bendi! 😀

???????????????????????????????

Sampai jumpaaa lagii, Komodos…

*Some photos courtesy of Tasya, Anita, and Mas Dito.

#FloresTrip: Trekking di Pulau Gili Lawa Darat

25 Mei 2014. Ini malam pertama kami tinggal di kapal, bermalam di area Gili Lawa. Kami terbangun sedari subuh untuk menikmati permadani taburan bintang di atas sana. Beberapa dari kami memilih tiduran di atas dek kapal. Itu lukisan malam paling indah yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya kala itu. Puas memandangi langit hingga berganti gelap ke terangnya mentari terbit, kami pun bergegas menyantap sarapan pagi kami dan bersiap untuk trekking di Pulau Gili Lawa Darat.

Kawasan Gili Lawa ini merupakan pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Komodo. Selain bisa dicapai dari Labuan Bajo seperti yang kami lakukan, bisa pula berlayar melalui jalur laut dari Lombok. Gili Lawa ada dua bagian, Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Biasanya kapal-kapal yang mau berlayar ke TN Komodo bermalam di kawasan Gili Lawa ini agar tidak terkena angin malam dan arus lautnya cenderung lebih tenang.

Kapal LOB kamiIni kapal LOB kami selama 4D3N

Pukul 06.30 WIB, kapal kami pun bersauh, kami turun membawa perlengkapan trekking seadanya. Iya, seadanya aja, trekking mah gak perlu ribet bawa yang gak perlu: Alat dokumentasi, air minum, dan cemilan secukupnya (durasi trekking PP 2-3 jam). Wong dari trip agent-nya juga kurang detail menginformasikan mengenai medannya, jadi ya bener-bener seadanya ala orang kota banget. Memang medannya tidak berat tapi mungkin perlu ada penjelasan lebih detail agar, paling tidak, wisatawan tidak salah menggunakan alas kaki.

Pulau Gili Lawa DaratPulau Gili Lawa Darat (Kalau lihat begini, bukit savana yang landai kayaknya medannya gancil yah… aslinya maahh…. -____-“)

Medan trekking di Pulau Gili Lawa Darat ini cukup curam dan berbatu tajam. Perlu kesadaran diri yang tinggi untuk menilai kesanggupan diri naik ke atas sana. Tentunya kami naik pun didampingi guide kami, Mas Bendi. Ya tapi emang hanya bersama Bendi aja, sementara kami bersebelas. Bersebelas dengan kondisi fisik dan pengalaman yang beda-beda. Ada yang sudah terbiasa naik gunung, melakukan trekking, ada pula yang baru pertama kali. Ya, saya ini salah satunya! Iya, ini baru pertama kalinya banget! Karena tidak ada pengalaman sebelumnya, tidak ada bayangan pun mengenai medannya (Gaess, kalau sekedar lihat gambar di Google mah kayaknya gampang, landai aman gitu).

Setengah jam pertama mendaki, Belona memutuskan menunggu di bawah saja sementara ada satu orang yang terus melaju bersama guide kami. Iya, dari kami bersebelas, hanya Setian lah yang sudah pernah naik gunung, jadi sekedar trekking di bukit saja mungkin tidak sulit untuknya. Kami mempersilahkannya untuk terus melaju dan melaporkan pada kami pemandangan dari atas sana. Belasan menit kemudian, Siska dan Tasya memutuskan untuk tidak melanjutkan dan kembali turun.

IMG_4924Bersebelas, masih lengkap! Sampai di titik ini saja sebenarnya sudah bisa dapet view mainstream berfoto di Gili Lawa Darat 😉

Sebenarnya, untuk mendapatkan view populer Pulau Gili Lawa Darat tidak perlu hingga sampai ke puncaknya. Tapi namanya sudah jauh jauh sampai ke pulau ini, kalau tidak diusahakan semaksimal mungkin koq ya sayang gitu, hehehe.. Maka, kami yang bertujuh: Saya, Anita, Felona, Wiri, Jessica, Fidia, Dito pun terus melaju.

file000090

Kalo balik badan, foto di atas ini adalah view sebelah kanan. Sementara, foto di bawah ini adalah view samping kiri (yang bisa dinikmati sambil trekking naik, tengok sebelah kanan…). Kalau kata anak jaman sekarang, PETJAAAAHHH, Meeennn!!! <3<3<3file000087

Meski banyak berhenti untuk istirahat ambil napas dan foto-foto, kami persisten terus naik. Medan makin curam dengan bebatuan yang makin tajam, makin seringpula kami terperosok terpeleset terjatuh tertatih, kami terus melaju tanpa guide. Kebetulan Bendi, guide kami, sudah duluan sampai di atas sana bersama Setian. Saya berada di barisan paling depan, berjalan pelan-pelan, nyaris merangkak sanking curamnya, pandangan mata terus ke depan mencari jalan ke atas. Dalam hati terus bergumam, “Come on, don’t give up, dikit lagi sampaaii..” Hingga tiba di satu titik terlintas di pikiran “Ntar turunnya gimana ya, naiknya aja begini?”, saat itulah saya refleks menoleh ke belakang. Saya terhenyak terduduk, kaki gemeter, (katanya Anita yang tepat berada di belakang saya) muka pucat pasi. Mencoba terus tenang dan mencari pijakan dan pegangan pada bebatuan yang ajeg. Seketika itu pula, Anita refleks juga menoleh ke belakang dan bereaksi yang kurang lebih sama seperti saya, shock dengan ketinggian dan kecuraman yang sudah kami lalui dan jadi ngeri sendiri.

“Gimana nih? Lanjut ga?”, saya meragu, karena udah tinggal sedikit lagi sampai puncak bukit tapi treknya makin curam dan tajam.

“Eerr… Gw sampai sini aja deh..”, ujar yang lain.

Kami pun mencari pijakan yang agak landai dan berfoto bersama. Yeaah, we are the mid-trekking team!! We did it!! Bangga!

IMG_4968Bertujuh! Kami tim middle tracking!! Ini fotonya sambil deg-degan jaga keseimbangan… Megang Tongsis GoPro-nya aja mesti dua orang, hahaha…

Kalau naiknya kami setengah jongkok merangkak, maka turunnya pun kami sambil duduk memerosotkan diri. Sebenarnya bisa sih sambil berdiri tapi alas kaki kami tidak memungkinkan, terlalu bahaya. Metode paling aman menggunakan pantat sendiri, hahaha.. Meski tidak sampai atas dan melihat view di balik bukit ini dengan mata kepala sendiri, kami mesti cukup puas dengan pencapaian kami, anak-anak kota yang ga pernah trekking dengan alas kaki yang mungkin kurang proper. Tiba di kapal, nasi goreng telah menanti kami… Yeaaayyy!!

Ternyata Setian sampai kapal lebih dahulu, karena ia dan Bendi melalui jalur trekking lain yang lebih landai. Aah, lesson learned banget nih: Kalau ingin sampai puncak, ga perlu lah nengok-nengok ke belakang, jadinya malah ngeri sendiri dan kembali dikuasai ketakutan-ketakutan. Soal nanti turunnya gimana ya bisa dipikirkan lagi nanti, hihihi.. 😀

Tips trekking di Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau (GAK) adalah bukit ketiga yang pernah saya daki. Tips ini saya tujukan khususnya untuk anak kota yang mungkin gak/belum pernah melakukan pendakian/trekking ringan.

IMG_9354

GAK ini medannya penuh dengan pasir dan bebatuan bekas lahar panas dan lahar dingin. Jadi kalau mau trekking ke sana dengan nyaman, ada beberapa tips seperti di bawah ini:

Pakailah sepatu gunung yang tertutup. Kalo adanya sendal gunung, bisa diakalin dengan menggunakan kaos kaki yang agak tebal. Jangan menggunakan sendal jepit atau sendal/sepatu cantik jika tak mau sendal/sepatunya rusak. Saat melangkah naik/turun, kaki kamu akan rada tenggelam dalam pasir, so kalo gak pake yang tertutup maka pasir dan bebatuan kecil akan mudah masuk ke alas kaki kamu dan membuat langkah menjadi kurang nyaman. Kalo udah rada siang, pasirnya akan cepat panas. Kalau gak pake alas kaki yang gak tebal/tertup maka kita bisa merasakan panasnya pasir vulkanik, hiiii.. Saat saya kesana, saya mengenakan sendal gunung seperti di bawah ini. Rada salah, mestinya pake kaos kaki tebal juga, biar pasir dan bebatuan kecil gak mudah masuk ke telapak kaki.
image

Bawalah masker penutup hidung dan mulut. Saat melangkah akan membuat pasir sangat halus beterbangan. Bayangin yang melangkah itu ada belasan, puluhan, bahkan ratusan orang di dekat kamu.
IMG_9347

Bawalah air minum dan cemilan. Di pulau dan Gunung Anak Krakatau ini ga ada orang jualan makanan, jadi mesti bawa sendiri. Biasanya tourguide bakalan bawain sarapan juga sih tapi makannya ga di atas puncak, melainkan di pantai.

IMG_9337

Be careful. Meski landai tapi pasir dan bebatuannya kurang ajeg. Jadi mesti hati hati banget, terutama saat mau foto foto. Terlalu fokus dengan gaya di kamera, jadi kurang waspada dengan pijakan bisa bahaya juga lho. Terus saling mengingatkan antar anggota tim seperjalanan.

Gunakan pakaian yang nyaman dan gak ribet. Jangan bawa hal-hal yang bikin ribet. Serius deh. Trekkingnya aja mungkin akan bikin kamu ribet, jadi jangan makin nyusahin diri sendiri (apalagi orang lain) dengan bawaan kamu yang super ribet. Hohoho…

Jangan buang sampah di sembarang tempat!
image

Mulailah pendakian dengan hati senang riang gembira! Ini akan menjadi salah satu perjalanan indah… 🙂

Happy traveling! 😀

Menanjak pasir di Gunung Anak Krakatau

Biasanya orang trekking ke Gunung Anak Krakatau (GAK) untuk menyongsong mentari terbit. Saya dan teman-teman gak mau ketinggalan aksi mainstream ini tentunya. Pukul 3 pagi kami bertolak dari Pulau Sebesi (satu satunya pulau di sana yang ada penduduknya, homestaynya traveler) menuju Gunung Anak Krakatau. Durasi perjalanan sekitar 2 jam. Pukul 5 pagi kapal kami berlabuh di sana. Buat kamu kamu yang mau kesana, bawalah kudapan dan air minum karena di sana gak ada kang jualan. Biasanya sih travel agent kita bakalan bawain makanan sarapan tapi dikasihnya pas setelah kita turun gunung.
image

Jam stengah 6 saya dan sebagian teman memulai pendakian. Iya, kami rada telat karena ngantri ke toilet dulu. So guys, sebaiknya paksain ke toilet saat masih di homestay sebelum berangkat. Saat kapal berlabuh di GAK, barulah minum air atau selama di perjalanan naik ke atas, biar gak ketinggalan kayak saya gini, hehehe…

Ini Pertama kalinya trekking dengan medan berpasir mulai dari pantai sampai ke puncak, full pasir!!
image

Medan yang lebih landai daripada saat trekking di pulau Padar Flores NTT yang penuh bebatuan terjal, tapi butiran pasir membuat langkah menjadi sangat berat! Sempet kepikir untuk ga ikutin jalur berpasir melainkan lewat jalur yang banyak bebatuannya, tapi gagal karena bebatuannya pun gak ajeg, diinjek malah lepas jatuh, makin berat. Bebatuan kecil dan pasir sering banget masuk ke sendal saya, bikin telapak kaki sakit.. Amat sangat disarankan untuk pake sepatu tertutup atau pake kaos kaki saat melakukan trekking di sana, biar pasir dan bebatuan kecil gak menghambat jalan atau bahkan mencederai telapak kaki.

IMG_9297

Saat sebagian teman udah sampe atas dan beberapa teman masih di bawah, saya terus bergumam nyemangatin diri sendiri, “little step, one by one, watch your step, watch your step, keep going, you will be there…”
image

Meeeen, langkah langkah besar saya hanya menghasilkan pergerakan kecil, ini sih dibutuhkan persistensi dengan endurance yg tinggi. Hal itu yang sepertinya lagi absen di diri saya saat itu, rasanya. Kayaknya extroversion saya lah yang mendorong saya hingga sampai atas!! Iya, kebutuhan untuk ketemu teman-teman saya yang sudah terlebih dulu tiba di atas menyemangati saya saat persistensi untuk terus berusaha lagi absen entah kemana, hehehe…. 😁😁
image

Pas lihat ke belakang, kaget juga. Meh! Udah sejauh ini saya menanjak. Malah jadi makin semangat untuk terus berjalan.
Dan finally! Tiba juga saya di atas. Sayangnya, mentari sudah keburu naik. Ah, yasudahlah.. Masih untung dapet sunrise di tengah perjalanan trekking tadi 🙂

IMG_9305
image

image

IMG_9325

Saya dan teman-teman pun berfoto dengan latar belakang puncak kawah Gunung Anak Krakatau. Kami memang hanya diperkenankan sampai ke ring dua kawah saja. Ah sampai situ aja susahnya pake banget, hehehe.. Boleh saja naik lagi hingga ring satu kawah tapi makin naik makin panas pasirnya dan makin tajam bebatuannya. Tapi jika sedang meletup letup biasanya sih ga dibolehin oleh penjaga ataupun tourguide kita.
image

Perjalanan turunnya lebih mudah dengan langkah yang lebih lebar lebar dan lebih cepat tapi dengan ditemani debu debu pasir. Sebaiknya memang pake masker nih, terutama yang punya masalah pernapasan.
image

Tiba di pinggir pantai, tour guide sudah menanti bersama tumpukan box makanan. Whoaaaa sarapaaannn!! Dengan porsi yang lumayan banyak untuk ukuran saya, kirain bakalan makan satu box berdua ama teman, ternyata saya bisa menghabiskannya sendiri, hehehe.. Ngabisin banyak energi banget tuh yah trekking 3 jam di Gunung Anak Krakatau.

IMG_9229

#KrakatoaTrip
#GunungAnakKrakatau

Candi Prambanan, penolakan cinta a la Loro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Laki-laki jaman sekarang mesti bersyukur karena syarat cinta diterima tak serumit yang dialami laki-laki di zaman kerajaan dulu kala. Raden Bandung Bondowoso misalnya. Ia diminta membuat 1000 candi dalam waktu satu malam sebagai syarat cintanya diterima oleh Loro Jonggrang. Bandung Bondowoso nyaris berhasil jika saja Loro Jonggrang (yang sebenarnya ingin menolak cinta Bandung Bondowoso) tidak merekayasa waktu seakan sudah pagi. Bandung Bondowoso yang merasa dikelabui (dan yang terpenting, cintanya ditolak) pun marah dan mengutuk Loro Jonggrang menjadi Arca.

image

Candi Prambanan, atau yang sering juga disebut sebagai Candi Loro Jonggrang, konon adalah mahakarya cinta sang Bandung Bondowoso. Legenda asal muasal Candi Prambanan ini masih diceritakan hingga saat ini. Meski cerita aslinya mungkin ya tidak seperti ini, tentunya.

Candi Prambanan yang dibangun sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur merupakan candi Hindu termegah yang pernah dibangun di Jawa Kuno.
image

Pada Mei 2006 terjadi gempa bumi skala 5,9 SR di daerah Bantul dan sekitarnya. Kawasan Candi Prambanan pun telak terkena dampaknya. Banyak bangunan candi yang rusak parah terutama Candi Brahma.
Hingga akhir Desember 2014 lalu, kawasan candi masih dalam proses pemugaran. Namun demikian, kawasan wisata ini tetap dibuka untuk umum. Ada satu monumen kecil di dalam zona inti sebagai penanda dahsyatnya gempa bumi tersebut.

Kalau berkunjung di sana, jangan nanya “yang mana Candi Prambanan-nya?” yaaa… Awalnya saya juga bertanya-tanya demikian. Ternyataaaa, Prambanan adalah nama desa lokasi kompleks candi Hindu terbesar ini dibangun. Hadeeeeh..
image

Aslinya nih, ada total 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan tersebut. Tapi saat ini hanya tersisa 18 candi. Delapan candi utama yang terdiri dari tiga candi Trimurti (candi Siwa, Wishnu, dan Brahma), tiga candi Wahana (candi Nandi, Garuda, dan Angsa), dan dua candi Apit (terletak di antara Trimurti dan Wahana). Delapan candi kecil di zona inti yang terdiri dari : empat candi Kelir (di setiap empat penjuru mata angin) dan empat candi patok (di setiap ujung sudut halaman dalam zona inti). Dulu ada 224 candi Perwara yang letaknya di luar zona inti. Tapi sekarang, baru dua candi perwara yang sudah selesai dipugar. Sementara ratusan candi perwara lainnya hanya bertumpuk berserakan mengelilingi zona inti.
image

Naik lah ke area candi utama! Pengunjung diperkenankan naik hingga ruangan terdalam. Di sana ada arca (yang dipercaya sebagai) Loro Djonggrang. Namun di ruang utama tersebut sangatlah gelap dan sejuk. Sejuk ini efek dari dikelilingin bebatuan dan tanpa cahaya, saya rasa.
Memang ada beberapa spot yang ditutup karena alasan keamanan. Karena proses pemugaran dan identifikasi kerusakan belum rampung hingga saat ini. Di depan masing-masing candi utama, terdapat papan informasi yang berisi QR code. Yes, if you wanna know further, you can scan it with your mobile. Simple, paperless!
image

Selain berjalan-jalan di area Candi Prambanan, pengunjung juga bisa menonton pagelaran sendratari Ramayana. Tapi mesti cek jadwalnya terlebih dahulu sebelum berkunjung ke Yogya karena tidak setiap hari ada pementasan. Best view-nya saat pagelaran diadakan di outdoor, yakni saat musim panas, karena kita bisa menonton sendratari dengan berlatarkan Candi Prambanan di malam hari.
image

Bertandang ke Karaton Solo Surakarta Hadiningrat

Perjalanan saya mengunjungi Karaton Surakarta Hadiningrat agak terhambat karena insiden kebakaran di Pasar Klewer. Beberapa jalan menuju Karaton ditutup agar tidak menghalangi akses petugas pemadam dan pihak terkaitke Pasar Klewer. Lokasi kebakaran memang masih dalam area kekaratonan. Luas memang.

Naik taksi maupun naik becak, sang pengemudi tak mahal memberikan berbagai macam informasi mengenai area kekaratonan ini. Dari mulai masuk area pemukiman warga. Beberapa rumah dalam satu area yang dibatasi dengan satu pintu besar sebagai pintu masuk. Mungkin ibarat satu RT gitu kali yah.

Awalnya saat melewati satu jalanan yang kanan kiri tembok putih besar, terdapat beberapa pintu layu besar yang tertutup. Saya pikir, wah besar sekali rumah rumah di daerah dekat karaton, pintunya saja sebesar ini, tapi kenapa gak ada jendelanya ya? Tembok saja dengan satu pintu besar.

Ketika melewati beberapa pintu besar yang kebetulan terbuka, ternyata di dalamnya terdapat jalanan lagi dengan sejumlah rumah rumah penduduk. Oalaah, pintu pintu besar ini semacam cluster mini tooh..

Supir taksi menurunkan saya di depan loket pembelian tiket masuk di area belakang karaton. Tk jauh dari loket tiket, ada pintu besar tertutup yang di depannya dijaga oleh dua orang abdi dalem (bener gak sih namanya abdi dalem?!). Beberapa wisatawan bergantian berfoto di depan pintu besar tersebut bersama kedua abdi dalem.

20150107-163014.jpg

Di bagian depan pintu masuk area Karaton dan Museum Karaton, ada patung besar Sultan Hamengkubuwono X yang juga ramai dijadikan spot foto oleh wisatawan.

Memasuki area karaton yang berupa halaman dan pendopo, ada beberapa peraturan yang mesti dipatuhi. Tidak boleh mengenakan kacamata hitam, tidak boleh mengenakan topi, berpakaian sopan, dan mengenakan sepatu. Okeh, meski panas banget, topi kipas beserta sunglasses saya ini mesti masuk ke tas dulu. Untungnya udah browsing sebelum kemari, jadi pas make celana panjang dan kaos berlengan serta sneaker.

Tapi tenang aja, untuk yang mengenakan celana/rok pendek, akan dipinjamkan kain batik (seperti saat mengunjungi Pura Besakih di Bali). Untuk yang mengenakan sendal, maka sendal harus dititipkan dan masuk area karaton tanpa alas kaki alias nyeker!!

Sebagai orang Jawa (yang lahir, tumbuh besar di Jakarta), saya memahami aturan ini. Apalagi Solo yang masih menjunjung tinggi nilai kesopanan. Berpakaian itu ya mesti tertutup sampai ke mata kaki. Untuk alas kaki, sandal dianggap sebagai alas kaki yang dikenakan di dalam rumah dan saat le toilet, sehingga tidak diperkenankan masuk ke area karaton yang dianggap suci. Topi dan kacamata? Ah, nanti juga tau kenapa 🙂

image

Ini area halaman dan pendopo karaton. Satu satunya area yang diperbolehkan untuk dimasuki oleh wisatawan. Halaman yang sangat rindang meski pohon pohonnya memiliki daun jarang jarang. Suasananya adem dan sejuk. Padahal sebelum memasuki area ini, yang juga outdoor, rasanya mentari dan hawanya sangat panas! You dont even need hat and or sunglasses here..

image

Puas berfoto dan berkeliling, saya pun beranjak ke area museum karaton. Beberapa benda pusaka seperti kereta kencana, periuk nasi, dan lainnya dipamerkan di sana. Entah asli atau replika tapi hawa di area museum rasanya kental nuansa kleniknya, meski tidak ada kesan menyeramkan ya.

image

Keluar dari area museum, saya dihampiri satu tukang becak, ditawari diantar berkeliling area kekaratonan Surakarta ini. Herannya, meski banyak abang becak tapi yang menghampiri saya hanya satu orang saja. Respect others? Maybe.
image

Akhirnya saya meluluh, deal di angka Rp 20000 untuk sampai ke Kampung Kauman dengan melewati Pasar Klewer. Saya diantar ke pasar Klewer bagian belakang dan bagian depan. Ini bagian depan, meski sudah diberi police line, namun warga dan wisatawan tetap datang sekedar menonton, termasuk saya.

image

Tak jauh dari Pasar Klewer, adalah Masjid Agung Surakarta Hadiningrat. Si abang becak menawarkan diri untuk menunggu sementara saya masuk untuk mengabadikan momen. Saya hanya masuk hingga pekarangannya saja yang saat itu sangat ramai, bersamaan dengan jam sholat Dhuhur.

image

Setelah dari Masjid, kami pun langsung menuju kampung wisata batik Kauman. Abang becak, lagi lagi menawarkan diri menunggu. Ingat pengalaman sulitnya mnencari taksi, saya pun mengiyakan tanpa bernegosiasi harga. Yaudahlahyaaaa…

image

Saya pun keluar masuk beberapa showroom hingga 2,5 jam!!! Ya ampun, gak kerasa bangeets!! Hehehe… Akhirnya saya pun diantar abang becak yg sudah rela menunggu tanpa protes ke tempat teman saya memarkirkan mobilnya. Di perjalanan ia bertanya apakah saya berbelanja di showroom yang terakhir saya datangi. Rupanya, abang becak ataupun supir taksi yang mengantar pelanggan ke showroom tersebut dan terjadi pembelian, maka mereka berhak atas sekian persen rupiah dari total belanjaan si pelanggan. Sayangnya, si abang becak tak diberi uang sama sekali padahal belanjaan saya dan teman saya di sana lumayan, mencapai jutaan!

House of Raminten: resto gemulai khas Yogyakarta

Adalah Hamzah HS yang berperan sebagai Raminten dalam sebuah sitkom di Yogya TV. Ia kemudian membangun rumah makan House of Raminten ini di Yogyakarta, karena kecintaannya pada makanan dan minuman tradisional khas Yogyakarta seperti jamu dan sego kucing.

Menu yang ditawarkan merupakan menu makanan umum namun disajikan dengan berbeda.

Menu yang biasa ditemukan di angkringan pinggir jalan, naik kelas menjadi makanan restoran dengan harga yang kompetitif (baca: beda tipis). Kita bisa menemukan sego kucing yang harganya di bawah 5000IDR.

20150116-195530.jpg

Tapi, kamu perlu hati-hati dengan segala menu berembel-embel “Jumbo” karena benar-benar ukuran jumbo bangets!!

20150116-195639.jpg

Yang juga unik di House of Raminten ini adalah waiternya yang kabarnya adalah homoseksual. Ini WOW banget! Berapa banyak siih tempat usaha yang bisa open-minded mempekerjakan homoseksual (yang udah coming out)?!? Kalau ada perusahaan yang gembar gembor open minded dan ga bedain orang berdasarkan preferensi seksualnya, pasti tidak ada yang segembar gembor HoR ini yang malah menjadikan ini sebagai diferensiasinya. Pengunjung pun malah makin banyak, bukan jadi takut. Paradox marketing skali kan!

Packaging dari HoR ini pun juga menjadi daya tarik tersendiri. Ruangan resto didesain sedemikian rupa hingga kesan njowo sangat kental sekali. Dengan menggunakan ornamen ukiran-ukiran khas rumah Jawa, musik gamelan, wardrobe waiter yang menggunakan kain batik dan jarik, dan lainnya. Namun demikian, unsur modern pun tak ktinggalan disertakan. Di salah satu sudut terdapat TV LCD dengan channel internasional. House of Raminten beroperasi 24 jam dan masih sering kepenuhi pengunjung.

Nice place to visit nih 🙂

20150116-195918.jpg

Kampung Batik Solo, Kampung yang sadar pariwisata

Setelah Pasar Klewer, Kampung batik Laweyan dan Kauman adalah toplist tempat yang harus banget dikunjungi buat pecinta batik. Pada awalnya kedua kampung ini adalah rumah para pembatik yang biasa memasok kain dan pakaian jadi batik ke pasar Klewer.

image

Kemarin Minggu, Pasar Klewer terbakar hingga satu harian penuh. Sulit memadamkan api karena selain bangunan, kain-kain batik berlapis malam juga membuat api sulit dipadamkan. Saya berkunjung ke sana, dalam perjalanan mengeksplorasi area Karaton Surakarta.

image

Kampung Wisata Batik Kauman berada dekat dengan Pasar Klewer dan masih dalam area Karaton Surakarta. Kamu bisa naik becak dari Karaton Surakarta ke Kauman. Ada beberapa showroom yang hanya menjual kain dan pakaian jadi. Ada pula yang juga mempertontonkan proses pembuatan batik. Ada juga toko yang yang sekaligus memamerkan beragam jenis motif batik, seperti halnya museum batik Kauman. Harganya sangat beragam, dari yang ratusan ribu hingga jutaan.

image

Kampung Wisata Batik Laweyan, lokasinya rada jauh dari Kampung Wisata Batik Kauman. Sama halnya seperti di Kauman, Kampung Laweyan pun memiliki daya tarik yang hampir sama. Saya berkunjung ke Omah Laweyan dan menurut saya, motif batik yang ditawarkan lebih saya sukai daripada yang dijajakan di Kauman. Namun emang harganya juga lebih mahal. Kata supir taksi yang mengantar saya, di Omah Laweyan memang cenderung lebih mahal. Ada lagi toko di Laweyan yang harganya lebih murah tapi saya belum sempat ke sana.

image

Solo memang pantas dijuluki kota batik. Sebenarnya tak hanya di Kauman, Laweyan, Danar Hadi, maupun di Pasar Klewer saja, tapi tampaknya di setiap jalan ada toko batik. Ini juga yang menjadikan Solo sebagai kota yang sarat budaya. Batik dan kekaratonan bisa menjadi pusat daya tarik wisatawan dan berdampak secara langsung pada perkembangan ekonomi masyarakatnya. Jika dan hanya jika semua elemen pemerintah dan penduduknya juga sudah sadar pariwisata.