A journey to be a certified PADI Open Water Diver

Awal Maret 2016 akhirnya saya memutuskan untuk apply Open Water Dive course and license. It takes one year from the very first time I took Trial Scuba Diving (TSD) from NAUI and then I took TSD from PADI at the end of 2015.

Saya (dan beberapa teman) berencana trip awal Mei 2016 ke Wakatobi, sebuah kepulauan di Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya.

Yaps, karena itu lah akhirnya yang mendorong diri saya untuk bergegas ambil license open water. Rasanya agak nanggung ke Wakatobi tapi gak nyelem, hehehe… Meskipun yaaaa, dengan snorkeling aja viewnya udah gila-gilaan bagusnya. Nah, apalagi sampe nyelem lebih dalam, hehehe…

Saya dan teman saya, Vina dan Vania (yang ini baru kenal pas di kelas pertama), ambil course di Bubbles Dive Center yang berlokasi di belakang Lotte Shopping Avenue, Kuningan Jakarta. Mereka punya kolam renang sendiri sedalam 1 dan 7 meter. Nah ini yang jadi salah satu alasan kenapa ambil license di Bubbles, lebih privat dan nyaman. Meski harus merogoh kocek lebih dalam, hehehe.. Untuk paket OWD course sampai dapat licensenya dibanderol seharga IDR 6,3 juta.

Kami mulai kelas pertama di tanggal 20 Maret 2016 dengan Mas Tommy sebagai pengajar alias Dive Master (DM). Kontennya ada tes berenang 200m, ngapung 10 menit, kelas kolam, dan kelas teori di dalam kelas. Selain itu, ada pula materi yang perlu kami pelajari sendiri di luar jam belajar yakni materi di buku panduan dan juga materi berupa video pengajaran yang harus kami tonton. Kelas pertama saya dan Vina lalui dengan lancar (meski badan rasa mau rontok, hehehe… capek bangets, serius!!), sementara Vania masih kurang nyaman dengan mask clearing. Memang, belajar diving dan diving itu sendiri selain soal keamanan, kenyamanan juga tak kalah penting. Segala gear yang nempel ama badan kita diusahakan se-fit mungkin ama kontur badan kita agar pergerakan di dalam air pun bisa mudah dinikmati.

Kelas kedua yang mestinya berlangsung di 26 Maret 2016 tertunda karena ada salah satu dari kami yang tiba-tiba berhalangan. Nah, ini salah satu enak/ga enaknya kursus diving. Karena jumlah peserta sedikit, kita jadi bisa menentukan sendiri jadwalnya. Namun, jika kita ambil kursusnya barengan dengan teman-teman, akan cenderung nyari waktu yang semua pada bisa.

Kelas kedua pun diundur ke tanggal 10 April 2016, namun sayangnya di tanggal tersebut saya malah ga enak badan. Karena alasan mengejar waktu ujian (dengan harapan bisa dapet lisence sebelum saya trip ke Wakatobi), akhirnya kelas tersebut pun tetap diadakan tanpa kehadiran saya. Vina dan Vania pun benar-benar mengasah skill-skill dasar di dalam kolam dan kelas.

Kelas ketiga pun diadakan pada tanggal 18 April 2016 dengan full kelas kolam dan teori dari pagi hingga sore hari, ini akibat saya skip kelas di minggu sebelumnya jadi materi skill pun harus dikebut dengan lebih menitikberatkan pada mengasah skill dasar saya. Di kelas kali ini, salah satu rekan trip saya, Rahma, ikutan kelas untuk refreshment karena dia sudah lama ga diving sebelum nanti turun diving lagi di Wakatobi.

Di kelas ketiga ini, saya pribadi betul-betul kesulitan menguasai beberapa skill seperti ngatur bouyancy sampe bisa netral, hovering susyeee yee..hehehe.. But then, lees than one minute sih akhirnya bisa. Well, iniiii baru di kolam nih yaaa, yang belum ada arus dan lain-lainnya.. Di kelas ketiga ini pula kami dapet bonus belajar free diving! Meskipun udah pernah nyoba-nyoba free dive di kolam renang umum pas belajar ama pacar, tapi tetep aja susyee yee untuk bisa apnea ke dalem trus berenang sebelum akhirnya muncul lagi di permukaan, hehehehe..

Setelah lulus semua uji dan tes teori maupun kolam, pada tanggal 23-24 April 2016, kami pun ujian open water di laut, tepatnya di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu. Totalnya akan ada 4 kali dive selama di sana.

Ini cerita yang akan saya ceritakan lebih detail. Karena cerita ini akan bikin kamu-kamu mungkin akan mempertimbangkan lagi dan lagi untuk ambil lisence Diving ini. Here we go!

 

IMG_20160423_133455

Pulau Sepa, Kepulauan Seribu. Lokasi ini memang sering dijadikan tempat ujian diving 🙂

Hari pertama:
Dive 1:
Target: inget semua yang dipelajari di kolam, tenang.. Deep and sloooow… Don’t panic and enjoy the views!

Everything went smoothly. Ga pake mikir. Sanking ga mikirnya, disuruh nempel ama buddy, ya beneran nempel.. Kmana-mana bareng, sampe turun lebih dalam ninggalin Dive Master (DM), Mas Tommy, pun bareng! Hingga akhirnya tetiba bisa mikir, malah ga bisa control buoyancy, naik deh ke permukaan bagai balon udara..berdua juga! Duh, jangan dicontoh ya.. Ini bahaya banget.. Sampe atas, abis lah kami diomelin DM 😅😅

Dive 2:
Target: Jangan jauh-jauh dari Mas Tommy, usahain stay di atasnya dia. Yang ada, gue dan Vina kebanyakan mikir malah ga bs mempertahankan posisi. Boro-boro bisa hovering, bisa gak heboh naik turun aja susah banget! Alhasil kami bergandengan tangan dan makin intim!! Hahahadeeuuuhh… 😂😂😂😂

Di akhir hari, sempat kami, para student, ini menertawakan kelakuan kami. Ngapaiiin coba deh ambil kursus menyelam?! Udah lah mahal (gearsnya, lisencenya, trip divingnya, dll), ribet (bawa alatnya, persiapannya, mesti mikul tabung gas yg super berat mampus gilak, beresin peralatannya stelah diving, dll), bahaya bangeet (well, konon diving itu olahraga beresiko tinggi kedua setelah terjun payung yaa..), musti adaptasinya susah (yoi, biasa napas pake idung, saat diving mesti napas nitrogen pake mulut.. Phew!), dll, dst, dsb..

But, we are at the point of no return! Just go ahead… \m/  😇🙌


Hari kedua:
Dive 3:
Target: tenaaanngg…musti bisa hovering pokoknya! Tapi sanking hebohnya, gue jadi boros napas. Tabung awal paling banyak 220lt, tapi paling cepet abis.. Yang lain masih 70-120lt, gue udah 40lt.. Kacau! 😅😂


Dive 4:
Target: Let it be lah.. 😅 Enjoy aja, jangan kebanyakan mikir.. Deeep and slooooowww….. Dan berkat kesabaran DM gue, mas Tommy, akhirnya berhasil juga gue hovering, meski gayanya juga masih aneh, hahaha… And this was the gong, finally, when we arrived the surface, he said, “Congratulations, you are now a diver!!”


Yeheeeyyyyyy….. 🎉🎉🎉🎉🎉

Akhirnya satu resolusi tahun 2015 saya bisa terealisasi, meski telat setahun, hehehe.. 😁😎

Buat kalian yang kepikiran mau ambil lisence diving, pikirin baik-baik dulu deh.. Ribet dan nyusahin banget, aselik!! Tapiiii, kalo pengen liat keindahan bawah laut dengan mata kepala sendiri, well, it’s worth every penny laahhh…

And, Wakatobi, here we come!!! 😍😇🙌🌊🏊

#OWDlisence #openwater #latepost

Kereta “mewah” Kualanamu

Beberapa waktu lalu, pertama kalinya saya menggunakan jasa transportasi Kereta Kualanamu dari Bandara Kualanamu ke Stasiun Kereta Medan. Lebih afdol sebagai anker (anak kereta) kalau sudah mencoba naik transportasi umum kebanggaan orang Sumatera Utara ini. Secara frekuensi, keretanya tidak sesering Commuter Line di Jabodetabek, tapi rata-rata satu jam sekali pasti ada. Waktu tempuh ke Kota Medan berkisar antara 40-50an menit.

Kenapa waktu tempuhnya bisa beda-beda? Karena waktu tempuh tiap perjalanan sudah dihitung dengan waktu berhenti di tengah jalan saat gantian rel dengan kereta lain. Dengan kata lain, jika tidak ada insiden luar biasa maka durasi perjalanan akan tepat waktu.

Berbeda dengan CommLine yang tiap hari saya tumpangi. Penumpang hanya tau kalau durasi perjalanan normal tanpa hambatan dari Bekasi ke Manggarai sekitar 27-30 menit, itu dengan kecepatan optimal dan gak pake antre gantian rel atau masuk stasiun besar Jatinegara atau Manggarai. Sementara setiap hari, ada saja kereta2 yang mesti antre masuk stasiun maupun gantian rel dengan kereta jarak jauh. Penumpang diminta untuk mengalkulasi dan menghapal sendiri durasi tiap perjalanan kereta.

Di sana, stasiunnya sangat keren dan dilengkapi dengan ruang tunggu yang sangat luas! Terasa bersih. Cling banget! Macam habis dipel. 😂 Sedangkan di sini, hanya di beberapa tempat saja yang sudah menggunakan ubin, itu pun setiap hari dipel tapi ga tampak kayak habis dipel 😅 Meski demikian, kondisi kayak bgini udah lumayan membaik banget dibandingkan dengan kondisi stasiun saat saya kuliah dulu (sepuluh tahunan lalu laaah).

Di sana pula, jumlah penumpang pun dibatasi dengan jumlah kursi. Ga ada cerita penumpang berdiri meski waktu tempuhnya hanya sebentar. Maka, di waktu prime time, memesan tiket jauh sebelum waktu keberangkatan akan sangat disarankan.

Sementara itu, jumlah penumpang kereta CL dibatasi dengan konsensus para penumpang. Yes, jika di suatu pintu gerbong sudah terlihat sangat penuh, maka bisa saja para penumpang terutama yang berdiri di depan pintu menolak penumpang yang mau ikut naik. Pemandangan ini sangat lumrah terjadi, apalagi jika penumpang ular kaleng ini sudah bisa berempati terhadap daging kornet yang sering dipaksakan muatannya dalam wadah.

Namun demikian, dilihat dari harga tiketnya, rasanya semua jadi make sense. Ada harga, ada rupa. Tiket perjalanan durasi kurang dari satu jam dan sudah pasti dapat nomor kursi serta jaminan ketepatan waktu berangkat dan tiba dibanderol sebesar IDR 100,000. Sementara tiket Bekasi-Manggarai hanya IDR 2,000 sajaaaa!!

Saya mah Alhamdulillaahhh, tiket kereta dari Kota Satelit ke Pusat Kota Jakarta cuma segitu. Ga kebayang mesti bayar seratus ribu tiap hari sekali jalan dengan fasilitas yang sama kerennya dengan Kualanamu… 😅😅😅

“Ngenest” di penghujung 2015

Di penghujung tahun 2015 dapet kesempatan untuk menghadiri gala premiere film “Ngenest”. Film bergenre drama komedi yang diangkat dari trilogi buku “Ngetawain Hidup ala Ernest” ini dibintangi dan disutradarai sendiri oleh si penulisnya langsung Ernest Prakasa. Sebelum bergelut di dunia cinematografi, Ernest sendiri sudah lebih dulu terkenal sebagai seorang komika (Stand Up Comedian).
IMG_20151228_194826

“Terima kasih udah nonton film papa aku..”, ujar Sky sesaat sebelum pemutaran perdana film Ngenest

Film keluaran StarVision ini bercerita tentang keresahan Ernest sebagai seorang keturunan Cina. Sejak masa kecilnya, ia sering di-bully sekitarnya hingga meninggalkan trauma mendalam di diri Ernest. Ia pun bertekad untuk menikah dengan pribumi agar keturunannya tidak mengalami kepahitan yang ia rasakan sebagai keturunan Cina.

Menurut saya, ini adalah film Indonesia terbaik tahun 2015! Bagaimana tidak?! Alur cerita pas, tidak berlebihan. Pacing juga terasa pas, gak bikin ngantuk, sukses pula memainkan emosi penonton hingga mencapai klimaks. Perasaan sepanjang nonton pun campur aduk, dari senang, miris, kzl, sedih (sampai menitikan air mata!), sampai bahagia lagi.. Konten cerita juga disampaikan dengan sangat keren! Meski sarat komedi namun message utama keresahan Ernest tetap kental terasa. Saya bahkan bisa bilang this movie is really touchy!

Selepas nonton, Ernest dan keluarga stand by di pintu keluar studio (mungkin) untuk kasih kesempatan para penonton untuk bisa berinteraksi atau ngasi feedback langsung ke dia. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mungkin Ernest masih ingat. Saat itu saya bilang ke dia, “Filmnya bagus, saya jadi sedih!”

Ernest (mungkin) bingung, dia bilang, “Koq sedih? Seneng dong mestinya..”

*kebanyakan “mungkin” yaa.. biar samaan ama sontreknya gituu, hihihi… I love the soundtrack by The Overtunes as well!!!

IMG_20151228_192225

Nonton duluan sebelum rilis 30 Desember 2015 lalu 😉

Yang sebenarnya mau saya katakan tuh begini… Maaf ini agak spoiler buat yang belum nonton. Sepertiga (atau seperempat) bagian terakhir film ini adalah bagian terpenting, yang kalau eksekusinya buruk maka gak bakalan ninggalin kesan yang mendalam bahkan bikin penonton (at least gue) jadi sedih. Di bagian tersebut diceritakan kekalutan Ernest karena pasangannya (Meira) makin gencar minta dibuahi (aduh, diksi gue parah banget… ya gitu lah maksudnya.. ngerti kan) karena sudah tidak sabar ingin punya anak. Long short story, Ernest setuju kemudian diceritakan Meira hamil dan Ernest makin hari makin kalut menanti kelahiran buah hatinya (yang ada kmungkinan memiliki ciri fisik orang Cina). Entah ini beneran atau gak (di buku sih bagian kekalutan ini kayaknya ga ada yah kan yah?! Belum baca ulang nih saya) tapi nuansa efek bullying jaman masih muda itu berasa banget. Terlihat ekspresi keputusasaannya yang meskipun sudah berhasil nikah ama pribumi tapi masih ada juga kemungkinan anaknya memiliki ciri fisik keturunan Cina.

And that makes me sad!

Yang berkeliaran di kepala gue: “Gila ya, Bullying effect sampai segitunya banget!!” Rasanya pengen jitakin satu-satu bocah-bocah hingga orang dewasa yang hari gini masih aja ngebully orang lain hanya karena alasan beda suku, agama, ras, IQ, kelas sosial, dan alasan-alasan gak penting lainnya.

Trus bikin gue jadi pengen balik jadi so-called aktivis anti-bullying yang ngasih training ke sekolah-sekolah di bawah payung Yayasan Sejiwa atau Kampus Psikologi UI like the old days… Iya, nanti gue ceritain di postingan yang lain yah soal aktivitas gue ini. Sekarang kan lagi bahas soal film Ngenest! Hehehe..

Okeh, mari balik bahas filmnya.

Thanks to Arie Kriting yang katanya berperan untuk mengoptimalkan unsur-unsur komedi yang betebaran di film ini. Aselik, lucuknya asik.. Gak maksa and so natural!! Banyak ketawa lepas sepanjang nonton.

Talent lain yang juga saya acungi jempol adalah pasangan papa mamanya Meira (hahaha.. Ini mah luwar biyasaaakkk lucuknya!!), Acho (yang jadi dokter kandungan), Duo Awwe dan Adjisdoaibu (yang juga jadi host di pemutaran Perdana film ini..!!), dan juga komika komika lainnya.

Saya sih mau banget nonton film ini lagi di bioskop!

Anyway, selama pengalaman saya nonton Gala Premiere sejak Lima tahun terakhir… Ini event gala premiere yang niat, berkonsep, dan paling menghibur!! Hostnya yang semangat banget ngelawak terus sepanjang sebelum dan sesudah pemutaran. Kapan lagi ngantri keluar studio kelar nonton ditemani oleh dua host kocak…?!? Mevvaah!! *standing ovation to @Adjisdoaibu @awwe_

IMG_20151228_214215

Ngantre keluar studio gak pernah se-entertaining ini!! x))

Si Bintang utama, Ernest Prakasa sendiri dengan muka sumringah di dekat pintu keluar, asik berinteraksi dengan penontonnya. Juga yang gak kalah keren dan (menurut gue) Cina banget…. Souvenir Gala Premiere berupa Angpau merah mengkilat dengan logo film Ngenest. Ternyata isinya stiker, gantungan kunci, kalender mungil, dan magnet kulkas.. Semuanya berlogo promo film Ngenest. It’s a great strategy sik.. Ketimbang bagi-bagi kaos yang mungkin cuma dipake sesekali doang, itu pun dipake di rumah yang exposure promonya mungkin ga banyak. Mending stiker, gantungan kunci yang mungkin akan dipake dan lebih banyak orang yang liat. Murah dan tujuannya tercapai! Brilian… Me Likey!!

IMG_20151228_233943

Dapet angpau dari Ernest! 🙂

Oh my! Koq saya jadi rasis gini sik?!? Maaf yaa, Nest.. *toyor-toyor gue*

Happy first anniversary, my blog :)

Yeaaayy, satu tahun sudah saya eksis di dunia per-blog-an, khususnya di adzaniah.com ini. Thank you for all reader 🙂

Blog ini adalah komitmen saya untuk tetap menulis dan berbagi pengalaman. Biar makin komit, saya ambil paket berbayar, biar berasa rugi kalau tidak nge-blog, hehehe..). Target posting sebulan dua kali bisa dibilang tidak terlalu sukses karena mulai pertengahan tahun 2015, postingan pun makin jarang (bahkan kadang hanya me-repost postingan orang lain). I don’t want to blame my schedule, then, hahaha… Memang saya-nya saja yang makin jadi pemalas! *toyor*

Jadi inget tahun lalu, bikin akunnya aja pake didorong-dorong teman saya, Agungpuma (empunya ngobrolbasket.com dan ngobrolmotorcross.com). Thanks, dude!

Awalnya mau fokus di traveling,tapi seiring berjalannya waktu, topiknya pun melebar kemana-mana. Beberapa kali juga saya cek statistik akun saya ini, memang yang paling banyak dibaca justru topik umum non-traveling. Seperti postingan tentang transportasi online atau seputar Chia Seeds, atau review film ternyata jauh lebih disukai / lebih banyak dibaca. Readernya bisa mencapai ribuan.

Meski sudah tidak benar-benar fokus ke traveling saja, spiritnya sih sama, berbagi informasi.

Beberapa waktu lalu saya menemukan gambar ini beredar di Facebook saya (Kurang tahu originalnya dari siapa, jadi gak bisa kasih sumber fotonya, maaf..). Hmm, it’s steal my attention at that time! Dipikir-pikir (namanya juga anak T mentok, kebanyakan mikir memang sih.. hehehe..), bener juga sih.. Kalau saban momen pergantian tahun, biasanya kan mikir: Apa aja yang sudah berhasil dicapai (based on resolusi awal tahun), apa saja yang ga ada di resolusi tapi eh bisa tercapai juga, apa aja yang belum bisa tercapai dan butuh evaluasi agar bisa dicapai tahun depan.

0793df79-9058-4958-afe3-57500b837e4e-medium

As a J person, I do things based on what I’d targeted. Tapi sebagai orang yang pengen semuanya balance, saya berusaha fleksibel. Dalam arti, saya gak se-ambisius itu koq ngejar semua yang saya targetin, apalagi kalau target-target saya berhubungan dengan orang lain juga. Misalnya, nikah. Dulu sempet punya target bisa nikah sebelum usia 30. Sekarang, ketemu jodoh aja belum, ya sudah. Hal ini gak bikin saya bersikap “mau aja lah sama yang mau sama gue”. Intinya saya ga mau maksa, saya pemilih, dan saya pun berkompromi juga.

Helloooowh, saya nyari responden untuk penelitian saja, harus benar-benar pas dengan kriteria ideal. Padahal cuma buat responden selama beberapa jam saja lho. Nah, apalagi untuk nyari pasangan yang untuk selamanya? #eh

So, yess, I will be married when I am (and him, of course) really READY!

Untuk mencapainya, ya pantesin diri aja dulu. Sembari terbuka saja, jika ada yang ngajakin kenalan atau jalan bareng. Hey, jalan bareng berduaan itu bukan nge-date ya! In my definition, dating is when two persons are in romantic relationship. Iya, kalau sudah resmi pacaran, baru deh namanya nge-date.

Sembari gak ada pasangan, ya puas-puasin dulu lah punya banyak teman dari berbagai kalangan, ngabisin waktu dengan keluarga, melakukan hal-hal yang ingin dilakukan… Focus on making great memories with surroundings.

Sempat kepikiran untuk mencoba mewujudkan mimpi jaman dulu, kuliah lagi di luar negeri. Iya, dulu sempet pengen kuliah di Belanda (that’s why pernah ambil kuliah program studi Belanda di UI tahun 2003 silam). Kenapa Belanda? Saya juga tidak tahu awalnya. Sekarang baru realize banyak budaya di Belanda yang cocok dengan ke-ESTJ-an saya. Bisa makin saklek nih kalau sampai terwujud tinggal di sana, hehehe… Kumpulin modal dulu kali yah. Secara rencana nikah dan berkeluarga entah kapan bisa terwujud, duitnya bisa digunakan untuk yang lain dulu, mehehehe…

Above all, saya masih ngerasa kurang “memberi”. Tangan masih sering ada di bawah, ketimbang di atas. Terinspirasi dari Raya juga, sekarang kalau mau trip kemana-mana, saya usahakan bawa buku bacaan. Akan diusahain banget ketemu dengan penduduk lokal (terutama anak-anak).

Life paradox: Melipatgandakan senang-senang dengan cara berbagi senang-senang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Let’s do this!!

Well, thanks 2015! You gave me priceless experiences, mostly I’d never ever imagine.

For 2016, I would like to discover many skills by stepping outside my comfort zone, enjoying life, more grateful, and be happier.

Pantai Ular (Ngurtavur), Kei Island, Maluku

IMG_7984

Ngurtavur Beach

Pantai Ngurtavur, terletak di Pulau Warbal, Kepulauan Kei Kecil, Kab. Maluku Tenggara, Maluku, Indonesia. Pantai ini disebut juga sebagai Pantai Ular karena pantai ini memiliki gusung yang mengular sepanjang 2 km dengan lebar kira-kira 7 meter. Gusung ini baru bisa terlihat demikian saat kondisi air surut. Wisatawan dapat berjalan sepanjang gusung dan merasakan sensasi berjalan di tengah laut (karena kanan dan kirinya langsung pantai laut). Kawasan pantai Ngurtavur ini dalam setahun belakangan tertutup untuk wisatawan karena termasuk daerah yang dilindungi adat setempat. Tepat di pangkal pantai mengular dipasang sasi (janur, semacam penanda area adat yang terlarang dikunjungi).

IMG_7996

Sasi, penanda area adat yang terlarang dikunjungi

Sebenarnya wisatawan masih bisa berkunjung dan menikmati keelokan pantai Ngurtavur ini, tapi memang ada sejumlah prosedur yang perlu dilakukan, seperti meminta izin terlebih dahulu ke kepada desa dan ketua adat. Itulah yang kami lakukan saat mengunjungi pantai eksotis ini. Begini ceritanya…

Sejak dari pantai Ngurbloat, kami ingin sekali mengunjungi Pantai Ngurtavur. Padahal spot tersebut ga ada di paket itenarary kami, so kami harus menambah biayanya (most likely tour agent memang tidak akan memasukan spot ini ke paketnya karena ya itu tadi, area tersebut terlarang secara adat). Berbekal tekat kuat (cailaahhh….) dan kegigihan tour guide kami yang ingin memuaskan kliennya yang BM (banyak mau) ini, akhirnya berangkatlah kami ke pantai Ngurtavur. So much thanks yaaa Kakaban Trip team!! 😀

foto 3 kursi kondangan

Kapal yang membawa kami ke Pantai Ngurtavur lengkap dengan kursi kondangannya, hehehe…

DCIM104GOPRO

On our way to Ngurtavur Beach

Perjalanan kami pun sempat mengalami kendala. Lihat gambar di atas, yaps, itu penampakan kapal motor yang kami tumpangi, lengkap dengan kursi plastik bak di kondangan! Hahaha… tour guide kami ini emang juara untuk memuaskan kliennya mengarungi lautan kurleb satu jam. Tapi ternyata, gulungan ombak lumayan bikin khawatir di tengah jalan. Akhirnya, kami menepi ke sebuah pulau untuk ganti formasi duduk. Yaps, akhirnya kami belasan orang ini duduk di bawah, selonjoran. Kursi plastik bebas tugas, mr. boatman pun lebih tenang mengarungi lautan!

DCIM104GOPRO

Bye bye kursi kondangan…. Siap-siap dihantam ombak!!

Setelah hampir satu jam, kami pun tiba di pantai Ngurtavur. Kondisi saat itu, air masih pasang sehingga gusung mengular belum tampak. Tour guide lokal kami meminta agar kami tidak bermain terlalu jauh dulu, sementara ia akan pergi minta izin ke kepala desa dan ketua adat. Kami pun menurut, hanya berfoto-foto santai di area itu. Tak lama kami pun dihampiri oleh seorang warga. Aktivitas hahahehe dan fotafoto kami pun terhenti. Long short story, beliau menegur dan menasehati kami. Kami pun menurut, mendengarkan teguran, nasihat, dan cerita beliau. Beliau juga meminta kami untuk meminta izin terlebih dahulu ke kepala desa dan ketua adat, ya kami semua. Waduuuhh, ga boleh banget nih main-main dan potapoto di mari, pak?!?

IMG_5940

Warga yang menegur rombongan kami (sebelah kiri)

Untungnya tour guide lokal kami segera datang dengan mengantongi izin dari kepala desa dan ketua adat untuk kami mengeksplorasi pantai Ngurtavur. Yeaaayy! Bapak-bapak yang tadi menegur kami pun menjadi ramah, ia mengajak kami ke kapalnya yang penuh dengan rumput laut hasil panen. Saya dan beberapa teman mencicip rumput laut asli dari laut tersebut. Hmm, enak… Cuma yaa gitu, rasa air laut, hihihi…

IMG_7955

Rumput laut rasa air laut yang sangat otentik x))

Jam menunjukkan pukul 1 siang dan air belum juga surut. Kami pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Tak lupa mengajak si bapak tadi untuk piknik makan siang bersama kami. Makanan dan minuman dibawa dari Kei Kecil, karena di lokasi ini tidak ada yang jual makanan or semacamnya. Berhubung pulau dan pantai ini memang tidak dikondisikan sebagai area wisata, fasilitas umumnya pun minim seperti toilet. Jangan harap ada bilik dengan toilet yang minim. Bahkan ada biliknya (yang terbuat dari dedaunan) saja sudah bersyukur, hehehe.. di dalamnya ga ada toilet, ya kalau mau buang air ya di tanah saja langsung. Oia, jangan lupa juga bawa plastik untuk membawa sampah pribadi yaa… 😉

 

IMG_5946

Selagi menanti air surut

Setelah makan siang, saya bermain perahu kano, sementara beberapa teman ada yang sudah asik berfoto-foto dengan sasi, ada pula yang boci di pinggir pantai. Memang, menurut bapak yang menegur kami tadi, air biasanya surut pukul 3 siang hingga pukul 11 malam. Sementara, saat kami tiba di sana baru pukul 12 siang.

IMG_8158

Main kano for the first time! 😀

IMG_4443

De’ Tantes boci..

Kami pun mulai berjalan menyusuri gusung mengular saat air mulai surut di pukul 2 siang. Kami bertujuhbelas yang anak kota tulen ini pun bahagia banget bisa main di pantai Ngurtavur dan ngalamin sensasi jalan di antara dua sisi pantai. Pasirnya halus banget, ga perlu pake alas kaki, malah jadi berat atau beresiko hilang terbawa arus pantai. Sesekali, air membasahi kaki kami saat melintasi gusung yang agak rendah.

DCIM105GOPRO

Cantiiiiiik bangets………..pantainya <3<3

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berjalan di tengah laut

Pemandangannya pun menakjubkan, pasir putih berpadu warna tosca air laut dan biru langit, ditambah ga ada orang lain lagi selain kami di sana. Kehadiran segerombolan burung Pelican Australia di pantai Ngurtavur ini pun menambah kebahagiaan kami. Ga setiap waktu, segerombilan Pelican Australia mampir ke Indonesia, khususnya ke pantai Ngurtavur ini.

IMG_8502

Pelican Australia aja senang ke Pantai Ngurtavur 🙂

DCIM108GOPROG5754842.

Group photo di ujungnya gusung Ngurtavur

Tak terasa, akhirnya kami pun sampai juga di ujung gusung pasir ini, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Wah, cepat juga ya.. tak terasa kulit sudah menggosong dan kain pantai yang kami jemur di pulau pun sudah kering lagi. Kapal yang kami labuhkan di pinggir pulaupun menjemput kami di ujung gusung (Alhamdulillah yaa cin, ga perlu balik lagi jalan 2 kilo, hahaha…).

Well, it’s time to go back to pulau Kei Kecil. See ya, Pantai Ngurtavur!

IMG_8619

See ya!

Credit photo by  Rahadi Ari “Kakaban Trip”, Rahma Tarigan, Dito Hendrato, and my private collection. 

Chicago dan Quiet Car

Just read this blog from bersendiri.com
Ternyata ada yah, produk transportasi umum semacam Quiet Car, yang penumpangnya bisa menikmati keheningan dalam perjalanan. Saya baru tahu 🙂

Saya beberapa kali, tak disengaja tentunya, mengalami situasi seperti di dalam Quiet Car, terutama saat berkendaraan umum di jam gak sibuk dan gak ada anak kecil di dalam kendaraan umum tersebut. Yeah, dewasa ini orang-orang dewasa cenderung lebih senang bercengkerama dan berinteraksi melalui dunia maya, sekalipun dengan teman yang secara lokasi berada radius kurang dari 1-2 meter.

Terkadang saya merindukan masa sepuluh tahun lalu yang kita bisa ngobrol asik dengan orang (yang bahkan ga dikenal) seperjalanan di kendaraan umum. Tapi terkadang juga, saat sedang lelah dengan urusan duniawi, disapa atau ada orang nanya sesuatu kepada saya saja, saya males-malesan ngerespon karena terlalu asik dengan akun-akun media sosial saya.

Media sosial, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat…

bersendiri: (pergi) sendirian namun tidak kesepian

Saya tidak pernah tahu bahwa di dunia ini ada istilah ‘quiet car’ hingga perjalanan saya ke Chicago, musim semi 2014 lalu.  Setelah seharian mengellingi Chicago dan mengunjungi setiap tempat dalam daftar ambisius yang saya buat, saya hanya ingin duduk tenang di dalam kereta selama satu jam ke depan sambil meluruskan kedua kaki yang terasa kebas. Ketika saya mendekat ke kereta commuter yang akan  membawa saya pulang, saya melihat tulisan quiet car di gerbong yang saya masuki. Hmm? Quiet car? Sounds like a good idea. Sounds like the perfect ride for ‘bersendiri’.

Saya menatap penumpang sekeliling saya di dalam gerbong. Semua orang duduk diam dan tenang. Ada yang membaca buku, ada pula yang sibuk dengan gadget mereka.  Sebagian dari mereka bersandar pada dinding kereta sembari memejamkan mata ditemani dengan headphone di telinga. Tak ada yang bicara. Semua sibuk bersendiri. Aneh rasanya, Hening. Quiet car ini seperti mesin waktu yang masuk ke sebuah…

View original post 206 more words