#KrakatoaTrip: The Itinerary

Liburan ke Kepulauan Krakatau, bagi orang Jakarta yang ingin berwisata alam yang rada jauh (gak di sekitaran Kepulauan Seribu), rasanya cukup affordable. Tidak memakan banyak waktu (tidak perlu cuti), murah (budget di bawah satu juta), dan bisa menikmati wisata pantai, gunung, snorkeling, bahkan diving di satu area!

Saya dan beberapa teman, — teman kantor MP, teman SMA, teman kuliah di Psiko, teman kuliah di Belanda, dan temannya teman kantor — (total berenambelas) mengikuti trip Krakatau di akhir Oktober 2014 kemarin. Saat itu masih masuk musim panas/kemarau. Dari banyak paket trip yang ditawarkan, kami memilih bergabung bersama Langlang Buana travel agent (dengan harga paket 325000 IDR dan 75000 IDR untuk sewa alat snorkeling). Sebenarnya, kalau Googling mah banyak banget travel agent yang punya paket trip ke Krakatau dengan berbagai gimmick tentunya. Tinggal pilih yang mana yang paling sesuai kantong dan bisa memenuhi kebutuhan kita saja. Misalnya ada paket trip yang menawarkan bermalam di tenda di pinggir pantai Gunung Anak Krakatau, ada pula yang bermalamnya di rumah penduduk di Pulau Sebesi (satu-satunya pulau berpenghuni di kawasan Kepulauan Krakatau), ada juga yang menyelipkan gimmick menerbangkan lampion di pinggir pantai, dan sebagainya.

Meeting point mayoritas travel agent atau backpackers yang berasal dari Jakarta adalah di Slipi Jaya. Dari situ, guide akan mengarahkan peserta trip untuk naik bis jurusan Pelabuhan Merak. Sebagian travel agent lainnya, meeting point-nya langsung di Pelabuhan Merak, tepatnya di depan Dunkin Donuts (dianggap sebagai spot paling eye-catching).

Dari Pelabuhan Merak, kami naik kapal fery menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Perjalanan memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Selama itu, kami dibebaskan mencari tempat duduk/berdiri/tidur sendiri. Kondisi saat itu, tengah malam dini hari. Ruangan VIP dan ruangan biasa sudah penuh saat kami tiba di depan pintu masuknya. Yak, siapa cepat, dia dapat. Kami pun memilih dek atas kapal untuk numpang tidur karena cenderung tidak gerah. Selama gak hujan sih aman bermalam di atas dek, pastikan saja menggunakan jaket, penutup kepala, atau apapun lah biar gak masuk angin. 

 

Semacam belum puas berada di dek kapal fery, maka di kapal kecil ini pun kami pilih di atas kapal, hahaha… 

 Tiba di Pelabuhan Bakauheni, kami langsung menuju terminal Bakauheni dan naik angkot yang sudah dicarter travel agent kami untuk menuju Pelabuhan Canti. Perjalanan memakan waktu kira-kira satu setengah jam. Tiba di sana, paket sarapan sudah menanti. Sembari menunggu kapal datang, kami shubuhan, sarapan, cuci muka, ganti baju, buang air. Well, meskipun tersedia toilet di sana, namun sangat tidak disarankan untuk mandi karena kondisinya sangat ramai orang yang mau gantian ke toilet. Lagian ngapain mandi deh, wong mau dijemput kapal untuk ke spot main air, hehehe.. Kalau gak betah, disarankan untuk bawa tissue basah untuk “mandi darurat”.

Pantai Sebuku

karang di pantai Sebuku

Pantai Sebuku

Kapal pun datang dan langsung membawa rombongan ke destinasi pertama, Pulau Sebuku! Di pulau in, kami hanya main-main air di pantai. Pemandangannya sangat cantik, gradasi warna dari pantai ke arah pulau di seberangnya sangat memanjakan mata. Pasirnya juga pun sangat putih, bersih, dan halus seperti tepung, meski pun banyak karang di sekitar area pantainya. Ini pulau paling bagus kayaknya nih!

Puas bermain dan berfoto-foto narsis di Pulau Sebuku, rombongan menuju Pulau Sebesi untuk “check in” di rumah penduduk, istirahat sejenak, makan siang, dan berganti pakaian siap-siap untuk snorkeling. Makan siang disediakan di aula desa yang letaknya di dekat dermaga pantai.

Di dekat aula desa, ada warung kecil yang menjajakan makanan ringan ala desa seperti pisang goreng (MUST TRY! Enak banget, men! Rasanya beda dengan pisang goreng ala kota), aneka gorengan lainnya, Indomie, kopi hitam, teh manis, dll. Biasanya sembari nunggu antrean makan, peserta trip jajan di warung ini.

Setelah makan siang, kami pun berangkat menuju spot snorkeling di Geligi. Setelah puas ber-snorkeling ria, kami pun beranjak ke Pulau Umang untuk bermain dan berenang lucu di area pantainya. Meski tidak snorkeling di Pulau ini, namun eksplorasi sekitar pulaunya juga merupakan aktivitas yang menyenangkan! Ada banyak batu-batu hitam besar di sekitar pantai Pulau Umang, namun pasirnya sangat lembut.

Pantai Umang

foto bareng di Pantai Umang

Foto bareng di Pantai Umang

Beranjak petang, kapal kami pun mulai bergerak lagi. Kami pikir mau ke spot yang “tidak bergerak” lagi untuk mengabadikan momen matahari tenggelam. Nyatanya momen tersebut kami nikmati di atas kapal sembari menuju kembali ke Pulau Sebesi, hahahadeeuuh…


sunset pantai Umang

The golden sky at Umang Beach

Aktivitas malam di Pulau Sebesi hanya makan malam bersama di aula desa dan briefing singkat untuk aktivitas keesokan hari. Di rumah, kami tidur bersama di ruang tamu dan ruang TV, berjajar bagai ikan yang sedang dijemur, hehehe.. Rumah kecil ini muat untuk grup kami yang ber-enambelas orang. Biasanya listrik di pulau ini hanya tersedia dari jam 6 sore hingga 12 malam saja. Meski demikian, dari cerita ibu pemilik rumah, listrik di desa ini sering terputus, seperti saat kami di sana. Kebetulan pas ada kerusakan di gardu listrik desa sehingga selama beberapa hari, penduduk mengandalkan listrik dari genset. 

 

Kami, ber-enambelas, yang menginvasi satu rumah warga untuk menginap satu malam. Makasih Bu, Pak.. 😀 

 Dini hari, sekitar pukul dua pagi, alarm kami mulai memamerkan suaranya. Kami bergegas bangun dan bersiap cuci muka dan sikat gigi serta berganti pakaian. Sedari malam, saat listrik masih menyala, kami sudah menyiapkan barang-barang yang mau dikenakan dan dibawa karena di dini hari, listrik sudah dipadamkan lagi. Berbekal senter dan cahaya dari gadget, kami pun berjalan ke arah aula desa, berkumpul bersama rombongan yang lain.

Pukul tiga pagi, kapal mulai bergerak ke arah Gunung Anak Krakatau. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam, selama itu pula kami melanjutkan tidur kami, hehehe.. Ya dong, mau ngapain lagi coba? Pertama, itu masih jam tidur. Kedua, yaa masih gelap juga, ga ada pemandangan yang bisa dilihat di sekitar. Ketiga, itung-itung sembari mengumpulkan tenaga, hari masih panjang ciiin!

Pukul lima, kapal mendarat di pantai Gunung Anak Krakatau. Rombongan pun bersiap memulai pendakian. Gunung Anak Krakatau merupakan area tak berpenghuni. Meskipun demikian, di dekat pantai, terdapat langgar (musholla kecil) dan toilet darurat. Cerita lengkap mengenai kisah pendakian saya dan teman-teman bisa dibaca di sini. 

   

 

 Pastikan perut ada isinya ya saat memulai pendakian, yaa ngemil-ngemil dikit mah cukup. Jangan lupa bawa air minum, sampai di atas sana pasti haus. Tiba lagi di pantai setelah pendakian, travel agent kami sudah menyiapkan sarapan nasi uduk dalam box-box makan. Anyway, makanannya enak! Entah karena saya yang kelaparan habis trekking atau ya memang enak dan kebetulan saya suka nasi uduk juga.

Saya : “Gila, banyak banget nih nasinya.. Ga bakal abis nih gue, kebanyakan!

Dion: “Wah iya, berdua aja ya, Dzan.. Lo makan duluan aja?

Saya: “Gapapa nih, gak barengan aja? Ok, Gue duluan yak…

Beberapa saat kemudian,

Saya: “Yon, makanannya enak loohh, lo ga mau makan sendiri aja?” *sambil nunjukin box makan saya yang tadinya mau dimakan berdua ama Dion tapi nyatanya saya habiskan sendiri*

Dion: “Laper Dzan?! Hahhahaa… Yaudah, abisin aja.. gue ga biasa makan pagi soalnya nih… Makanya tadi ngajakin berdua aja pas lo bilang nasinya kebanyakan

Setelah turun gunung dan sarapan, kami beranjak menuju Lagoon Cabe untuk snorkeling! It was amazing! Airnya segar dan view di bawah air pun bagus. Gak kalah dari yang saya pernah lihat Kepulauan Komodo. Memang saat itu cuaca lagi bagus, jadi pantulan warna karang dan coral bawah lautnya pun juga jadi cerah. 

 

 

 Setelah snorkeling di Lagoon Cabe, kami kembali ke penginapan untuk bersih-bersih dan check out. Kami berpamitan dengan ibu pemilik rumah dan kembali berkumpul di aula desa untuk makan siang.

Pukul satu siang, kapal kami mulai bergerak meninggalkan Pulau Sebesi menuju dermaga Canti, Lampung. 

 

 

See ya, Gunung Anak Krakatau! 

Kapal fery yang membawa kami kembali ke Pulau Jawa 

Perjalanan hingga sampai di Jakarta lagi memakan waktu kira-kira duabelas jam. Iyak betul, perjalanan PP menghabiskan satu hari sendiri sebenarnya nih! Saya sendiri tiba di Bekasi pukul satu dini hari. Anyway, the trip was so fun!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s