#FloresTrip: Trekking di Pulau Gili Lawa Darat

25 Mei 2014. Ini malam pertama kami tinggal di kapal, bermalam di area Gili Lawa. Kami terbangun sedari subuh untuk menikmati permadani taburan bintang di atas sana. Beberapa dari kami memilih tiduran di atas dek kapal. Itu lukisan malam paling indah yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya kala itu. Puas memandangi langit hingga berganti gelap ke terangnya mentari terbit, kami pun bergegas menyantap sarapan pagi kami dan bersiap untuk trekking di Pulau Gili Lawa Darat.

Kawasan Gili Lawa ini merupakan pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Komodo. Selain bisa dicapai dari Labuan Bajo seperti yang kami lakukan, bisa pula berlayar melalui jalur laut dari Lombok. Gili Lawa ada dua bagian, Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Biasanya kapal-kapal yang mau berlayar ke TN Komodo bermalam di kawasan Gili Lawa ini agar tidak terkena angin malam dan arus lautnya cenderung lebih tenang.

Kapal LOB kamiIni kapal LOB kami selama 4D3N

Pukul 06.30 WIB, kapal kami pun bersauh, kami turun membawa perlengkapan trekking seadanya. Iya, seadanya aja, trekking mah gak perlu ribet bawa yang gak perlu: Alat dokumentasi, air minum, dan cemilan secukupnya (durasi trekking PP 2-3 jam). Wong dari trip agent-nya juga kurang detail menginformasikan mengenai medannya, jadi ya bener-bener seadanya ala orang kota banget. Memang medannya tidak berat tapi mungkin perlu ada penjelasan lebih detail agar, paling tidak, wisatawan tidak salah menggunakan alas kaki.

Pulau Gili Lawa DaratPulau Gili Lawa Darat (Kalau lihat begini, bukit savana yang landai kayaknya medannya gancil yah… aslinya maahh…. -____-“)

Medan trekking di Pulau Gili Lawa Darat ini cukup curam dan berbatu tajam. Perlu kesadaran diri yang tinggi untuk menilai kesanggupan diri naik ke atas sana. Tentunya kami naik pun didampingi guide kami, Mas Bendi. Ya tapi emang hanya bersama Bendi aja, sementara kami bersebelas. Bersebelas dengan kondisi fisik dan pengalaman yang beda-beda. Ada yang sudah terbiasa naik gunung, melakukan trekking, ada pula yang baru pertama kali. Ya, saya ini salah satunya! Iya, ini baru pertama kalinya banget! Karena tidak ada pengalaman sebelumnya, tidak ada bayangan pun mengenai medannya (Gaess, kalau sekedar lihat gambar di Google mah kayaknya gampang, landai aman gitu).

Setengah jam pertama mendaki, Belona memutuskan menunggu di bawah saja sementara ada satu orang yang terus melaju bersama guide kami. Iya, dari kami bersebelas, hanya Setian lah yang sudah pernah naik gunung, jadi sekedar trekking di bukit saja mungkin tidak sulit untuknya. Kami mempersilahkannya untuk terus melaju dan melaporkan pada kami pemandangan dari atas sana. Belasan menit kemudian, Siska dan Tasya memutuskan untuk tidak melanjutkan dan kembali turun.

IMG_4924Bersebelas, masih lengkap! Sampai di titik ini saja sebenarnya sudah bisa dapet view mainstream berfoto di Gili Lawa Darat 😉

Sebenarnya, untuk mendapatkan view populer Pulau Gili Lawa Darat tidak perlu hingga sampai ke puncaknya. Tapi namanya sudah jauh jauh sampai ke pulau ini, kalau tidak diusahakan semaksimal mungkin koq ya sayang gitu, hehehe.. Maka, kami yang bertujuh: Saya, Anita, Felona, Wiri, Jessica, Fidia, Dito pun terus melaju.

file000090

Kalo balik badan, foto di atas ini adalah view sebelah kanan. Sementara, foto di bawah ini adalah view samping kiri (yang bisa dinikmati sambil trekking naik, tengok sebelah kanan…). Kalau kata anak jaman sekarang, PETJAAAAHHH, Meeennn!!! <3<3<3file000087

Meski banyak berhenti untuk istirahat ambil napas dan foto-foto, kami persisten terus naik. Medan makin curam dengan bebatuan yang makin tajam, makin seringpula kami terperosok terpeleset terjatuh tertatih, kami terus melaju tanpa guide. Kebetulan Bendi, guide kami, sudah duluan sampai di atas sana bersama Setian. Saya berada di barisan paling depan, berjalan pelan-pelan, nyaris merangkak sanking curamnya, pandangan mata terus ke depan mencari jalan ke atas. Dalam hati terus bergumam, “Come on, don’t give up, dikit lagi sampaaii..” Hingga tiba di satu titik terlintas di pikiran “Ntar turunnya gimana ya, naiknya aja begini?”, saat itulah saya refleks menoleh ke belakang. Saya terhenyak terduduk, kaki gemeter, (katanya Anita yang tepat berada di belakang saya) muka pucat pasi. Mencoba terus tenang dan mencari pijakan dan pegangan pada bebatuan yang ajeg. Seketika itu pula, Anita refleks juga menoleh ke belakang dan bereaksi yang kurang lebih sama seperti saya, shock dengan ketinggian dan kecuraman yang sudah kami lalui dan jadi ngeri sendiri.

“Gimana nih? Lanjut ga?”, saya meragu, karena udah tinggal sedikit lagi sampai puncak bukit tapi treknya makin curam dan tajam.

“Eerr… Gw sampai sini aja deh..”, ujar yang lain.

Kami pun mencari pijakan yang agak landai dan berfoto bersama. Yeaah, we are the mid-trekking team!! We did it!! Bangga!

IMG_4968Bertujuh! Kami tim middle tracking!! Ini fotonya sambil deg-degan jaga keseimbangan… Megang Tongsis GoPro-nya aja mesti dua orang, hahaha…

Kalau naiknya kami setengah jongkok merangkak, maka turunnya pun kami sambil duduk memerosotkan diri. Sebenarnya bisa sih sambil berdiri tapi alas kaki kami tidak memungkinkan, terlalu bahaya. Metode paling aman menggunakan pantat sendiri, hahaha.. Meski tidak sampai atas dan melihat view di balik bukit ini dengan mata kepala sendiri, kami mesti cukup puas dengan pencapaian kami, anak-anak kota yang ga pernah trekking dengan alas kaki yang mungkin kurang proper. Tiba di kapal, nasi goreng telah menanti kami… Yeaaayyy!!

Ternyata Setian sampai kapal lebih dahulu, karena ia dan Bendi melalui jalur trekking lain yang lebih landai. Aah, lesson learned banget nih: Kalau ingin sampai puncak, ga perlu lah nengok-nengok ke belakang, jadinya malah ngeri sendiri dan kembali dikuasai ketakutan-ketakutan. Soal nanti turunnya gimana ya bisa dipikirkan lagi nanti, hihihi.. 😀

Main di Pasar ala Pasar Santa

Ini kali kedua saya ke Pasar Santa di Jakarta Selatan. Kira-kira setahun lalu, saat saya masih aktif olahraga lucu di rumah teman yang berlokasi di dekat Pasar Santa, sesekali saya dan teman-teman makan malam di Sate Padang Ajo Ramon Pasar Santa. Di kali kedua ini, saya dan beberapa sepupu saya tak hanya main di pelataran parkirnya saja. Tapi juga sampai masuk bangunan pasarnya, tepatnya di lantai dua, tempat yang kini jadi salah satu spot gaul yang ngehits di Jakarta. Terutama di akhir pekan, karena mayoritas pedagang di lantai dua ini juga adalah pekerja kantoran, sehingga hanya buka tokonya di akhir pekan saja. Sebagian juga buka dari hari Kamis-Minggu.

Yes! Di Pasar Santa lantai 2, gerai-gerai kecil dipenuhi oleh usaha jualannya anak muda ibukota. Dagangan dari mulai kuliner, vinyl, hingga jasa potong rambut ada di lantai dua ini. Lokasi khas pasar yang dengan sentuhan kekinian sekarang menjadi lebih nyaman untuk dikunjungi. Gak ada kesan sumpek meski selalu ramai di beberapa titik, karena langit-langit yang cukup tinggi.

Berbekal hasil browsing di Instagram @pasarsanta, kami pun bergerilya mencari gerai-gerai “must visit!” ala kami. Baru saja masuk pasar,kami menemukan satu gerai pakaian “Senangsenang” batik yang cukup menarik kami untuk mampir. Keluar dari gerai tersebut, saya sudah menenteng satu paperbag berisi satu helai baju batik mursidah. 50k saja untuk satu tanktop batik. Oh I love shopping in traditional market :*
image

Naik ke lantai dua, kami langsung dihadapkan dengan satu gerai hotdog DOC! Dengan antreannya yang super panjang. Berhadapan dengan gerai DOC adalah CENDUR BAR. Ah, gerai dengan jualan utama duren dan cendol ini juga gak kalah panjang antreannya!
image

Kami memilih untuk masuk ke lorong-lorong untuk mencari gerai lainnya yang gak ngantre, hehehe…
image

Our first stop was JUDAS BAR! Menu Nutella Fiesta dan bentuk botol minuman yang dipajang di etalasenya menarik perhatian kami. Salah satu sepupu saya pun memesan minuman Nutella Fiesta. Ini penampakannya… 🙂 Rasanyaa quite same with Nutella Blast ala D’Journal, ini versi lebih murahnya.
image

Kemudian kami berkeliling lagi dan berhenti di Zucker Waffle. Lucky us, we got the last waffle before sold out. Yeaaayy!! Meski demikian, kami harus menunggu sekitar dua puluhan menit hingga pesanan kami siap disantap. Buat orang dengan ukuran lambung yang kecil, makanan yang mestinya masuk dalam kategori cemilan untuk orang Indonesia ini ngenyangin bangets, gaes!
image

Sambil menunggu, saya berkeliling dan mampir ke gerainya POST yang lagi bikin pameran BERSENDIRI, Berani Jalan Sendiri. Entah kenapa rada terharu saat ada di dalam gerai yang satu ini. Beberapa kali, saya traveling ke tempat-tempat baru sendirian. Mayoritas untuk urusan kerjaan sih, tapi kerjaan saya emang harus eksplorasi kan. Kalo orang lain, bawa buku bacaan saat bersendiri, saya justru sibuk mencari market insight saat mesti terjun turun lapangan ke daerah. Ah ya, Saya dapat satu postcardnya. Keren yah!
image

Kemudian kami beranjak ke MOMMADON untuk membeli Cake Milk Bath atau Butterscotch Cheese-nya yang kabarnya sih juara banget. Tapi sayangnya sudah sold out. Mbak-mbak cantik penjaga tokonya bilang kedua menu itu biasanya sold out dalam waktu satu-dua jam setelah toko buka. So, saya hanya kebagian Pannacota Banana. Endess dan unik rasanya 🙂
image

image

Setelah menghabiskan satu waffle Zucker, kami menanti dibukanya toko ROTI ENENG. Yaps, mereka memang baru buka toko rada sore jam 16.30 gitu. Saya cobain es coklat garam laut dan roti tawarnya. Sebenernya penasaran banget ama Nutella Mozarella-nya, tapi karena kekenyangan makan Waffle, saya pun mengurungkan lapernya sang mata. Next time harus coba sik! Es coklat garam lautnya rasanya unik, untuk yang suka ama rasa yang gak biasa-biasa saja, must try deh nih menu, Manis coklat nan asin! Roti tawarnya juga enak, roti tawar jaman dulu gitu. Saya taro di rumah, ga sampe satu hari sudah habis. Padahal biasanya dengan roti tawar bermerek, baru habis setelah dua-tiga hari. Mereka mengaku membuat sendiri segala roti tawar, selai, dan minuman yang dijual di toko ini, all home-made! Very recommended!
image

Sama halnya dengan gerai lainnya, Roti Eneng ini juga lumayan lama nunggu pesanan kami karena ramai. Saya pun kembali berjalan-jalan untuk ngisi waktu. Pas lewat CENDUR BAR, pas lagi ga gitu panjang antreannya. Saya pun bergegas masuk antrean, gak sampai lima menit sudah melakukan pemesanan, satu porsi Es Duren Cendol Ovomaltine yang dibanderol dengan harga 34k. Agak pricey sih tapi pas disantap…. Rasanya cukup sepadan dengan harganya! Durennya, cendolnya, ovomaltine-nya.. luar biasa! Enak banget, men! Pasti bakal beli lagi next time saya kemari!! Hehehe…
image

Sepupu saya juga menyantap Ice Lychee BBOKOGI yang rasanya mirip es serut dikasih potongan buah leci dan ice cream vanila plus corn-nya. Sepupu saya yang lain juga memesan seporsi mie ayam di MIE.CHINO yang katanya sih rasa mienya lebih kenyal dan ayamnya mirip dengan teriyaki. Unik!
image

image

image

Tampaknya “sell with an unique way” menjadi strategi mainstream yang digunakan enterpreneur kaula muda di Pasar Santa ini. Wajar sih, anak muda memang baru berasa keren kalo bisa membuat dan mencoba hal-hal yang gak mainstream (meski lalu diikuti banyak orang, ujung-ujungnya jadi mainstream, hehehe..). Wisata kuliner kami di Pasar Santa kali ini ditutup dengan makan malam di Sate Padang Ajo Ramon yang lokasinya berada di pelataran parkir samping Pasar Santa ini.
image

Di sela lorong tadi, saya juga ketemu sama kucing Pasar Santa yang lagi asik tidur tiduran sementara orang berlalu lalang. Ah lucu sekali dia!
image

Mesti banget balik lagi untuk wisata kuliner di sini sih, karena masih banyak gerai-gerai yang belum sempat dicoba karena panjangnya antrean, sold out, dan penuhnya area lambung kami, hehehe..

Tips trekking di Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau (GAK) adalah bukit ketiga yang pernah saya daki. Tips ini saya tujukan khususnya untuk anak kota yang mungkin gak/belum pernah melakukan pendakian/trekking ringan.

IMG_9354

GAK ini medannya penuh dengan pasir dan bebatuan bekas lahar panas dan lahar dingin. Jadi kalau mau trekking ke sana dengan nyaman, ada beberapa tips seperti di bawah ini:

Pakailah sepatu gunung yang tertutup. Kalo adanya sendal gunung, bisa diakalin dengan menggunakan kaos kaki yang agak tebal. Jangan menggunakan sendal jepit atau sendal/sepatu cantik jika tak mau sendal/sepatunya rusak. Saat melangkah naik/turun, kaki kamu akan rada tenggelam dalam pasir, so kalo gak pake yang tertutup maka pasir dan bebatuan kecil akan mudah masuk ke alas kaki kamu dan membuat langkah menjadi kurang nyaman. Kalo udah rada siang, pasirnya akan cepat panas. Kalau gak pake alas kaki yang gak tebal/tertup maka kita bisa merasakan panasnya pasir vulkanik, hiiii.. Saat saya kesana, saya mengenakan sendal gunung seperti di bawah ini. Rada salah, mestinya pake kaos kaki tebal juga, biar pasir dan bebatuan kecil gak mudah masuk ke telapak kaki.
image

Bawalah masker penutup hidung dan mulut. Saat melangkah akan membuat pasir sangat halus beterbangan. Bayangin yang melangkah itu ada belasan, puluhan, bahkan ratusan orang di dekat kamu.
IMG_9347

Bawalah air minum dan cemilan. Di pulau dan Gunung Anak Krakatau ini ga ada orang jualan makanan, jadi mesti bawa sendiri. Biasanya tourguide bakalan bawain sarapan juga sih tapi makannya ga di atas puncak, melainkan di pantai.

IMG_9337

Be careful. Meski landai tapi pasir dan bebatuannya kurang ajeg. Jadi mesti hati hati banget, terutama saat mau foto foto. Terlalu fokus dengan gaya di kamera, jadi kurang waspada dengan pijakan bisa bahaya juga lho. Terus saling mengingatkan antar anggota tim seperjalanan.

Gunakan pakaian yang nyaman dan gak ribet. Jangan bawa hal-hal yang bikin ribet. Serius deh. Trekkingnya aja mungkin akan bikin kamu ribet, jadi jangan makin nyusahin diri sendiri (apalagi orang lain) dengan bawaan kamu yang super ribet. Hohoho…

Jangan buang sampah di sembarang tempat!
image

Mulailah pendakian dengan hati senang riang gembira! Ini akan menjadi salah satu perjalanan indah… 🙂

Happy traveling! 😀

Menanjak pasir di Gunung Anak Krakatau

Biasanya orang trekking ke Gunung Anak Krakatau (GAK) untuk menyongsong mentari terbit. Saya dan teman-teman gak mau ketinggalan aksi mainstream ini tentunya. Pukul 3 pagi kami bertolak dari Pulau Sebesi (satu satunya pulau di sana yang ada penduduknya, homestaynya traveler) menuju Gunung Anak Krakatau. Durasi perjalanan sekitar 2 jam. Pukul 5 pagi kapal kami berlabuh di sana. Buat kamu kamu yang mau kesana, bawalah kudapan dan air minum karena di sana gak ada kang jualan. Biasanya sih travel agent kita bakalan bawain makanan sarapan tapi dikasihnya pas setelah kita turun gunung.
image

Jam stengah 6 saya dan sebagian teman memulai pendakian. Iya, kami rada telat karena ngantri ke toilet dulu. So guys, sebaiknya paksain ke toilet saat masih di homestay sebelum berangkat. Saat kapal berlabuh di GAK, barulah minum air atau selama di perjalanan naik ke atas, biar gak ketinggalan kayak saya gini, hehehe…

Ini Pertama kalinya trekking dengan medan berpasir mulai dari pantai sampai ke puncak, full pasir!!
image

Medan yang lebih landai daripada saat trekking di pulau Padar Flores NTT yang penuh bebatuan terjal, tapi butiran pasir membuat langkah menjadi sangat berat! Sempet kepikir untuk ga ikutin jalur berpasir melainkan lewat jalur yang banyak bebatuannya, tapi gagal karena bebatuannya pun gak ajeg, diinjek malah lepas jatuh, makin berat. Bebatuan kecil dan pasir sering banget masuk ke sendal saya, bikin telapak kaki sakit.. Amat sangat disarankan untuk pake sepatu tertutup atau pake kaos kaki saat melakukan trekking di sana, biar pasir dan bebatuan kecil gak menghambat jalan atau bahkan mencederai telapak kaki.

IMG_9297

Saat sebagian teman udah sampe atas dan beberapa teman masih di bawah, saya terus bergumam nyemangatin diri sendiri, “little step, one by one, watch your step, watch your step, keep going, you will be there…”
image

Meeeen, langkah langkah besar saya hanya menghasilkan pergerakan kecil, ini sih dibutuhkan persistensi dengan endurance yg tinggi. Hal itu yang sepertinya lagi absen di diri saya saat itu, rasanya. Kayaknya extroversion saya lah yang mendorong saya hingga sampai atas!! Iya, kebutuhan untuk ketemu teman-teman saya yang sudah terlebih dulu tiba di atas menyemangati saya saat persistensi untuk terus berusaha lagi absen entah kemana, hehehe…. 😁😁
image

Pas lihat ke belakang, kaget juga. Meh! Udah sejauh ini saya menanjak. Malah jadi makin semangat untuk terus berjalan.
Dan finally! Tiba juga saya di atas. Sayangnya, mentari sudah keburu naik. Ah, yasudahlah.. Masih untung dapet sunrise di tengah perjalanan trekking tadi 🙂

IMG_9305
image

image

IMG_9325

Saya dan teman-teman pun berfoto dengan latar belakang puncak kawah Gunung Anak Krakatau. Kami memang hanya diperkenankan sampai ke ring dua kawah saja. Ah sampai situ aja susahnya pake banget, hehehe.. Boleh saja naik lagi hingga ring satu kawah tapi makin naik makin panas pasirnya dan makin tajam bebatuannya. Tapi jika sedang meletup letup biasanya sih ga dibolehin oleh penjaga ataupun tourguide kita.
image

Perjalanan turunnya lebih mudah dengan langkah yang lebih lebar lebar dan lebih cepat tapi dengan ditemani debu debu pasir. Sebaiknya memang pake masker nih, terutama yang punya masalah pernapasan.
image

Tiba di pinggir pantai, tour guide sudah menanti bersama tumpukan box makanan. Whoaaaa sarapaaannn!! Dengan porsi yang lumayan banyak untuk ukuran saya, kirain bakalan makan satu box berdua ama teman, ternyata saya bisa menghabiskannya sendiri, hehehe.. Ngabisin banyak energi banget tuh yah trekking 3 jam di Gunung Anak Krakatau.

IMG_9229

#KrakatoaTrip
#GunungAnakKrakatau

Candi Prambanan, penolakan cinta a la Loro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Laki-laki jaman sekarang mesti bersyukur karena syarat cinta diterima tak serumit yang dialami laki-laki di zaman kerajaan dulu kala. Raden Bandung Bondowoso misalnya. Ia diminta membuat 1000 candi dalam waktu satu malam sebagai syarat cintanya diterima oleh Loro Jonggrang. Bandung Bondowoso nyaris berhasil jika saja Loro Jonggrang (yang sebenarnya ingin menolak cinta Bandung Bondowoso) tidak merekayasa waktu seakan sudah pagi. Bandung Bondowoso yang merasa dikelabui (dan yang terpenting, cintanya ditolak) pun marah dan mengutuk Loro Jonggrang menjadi Arca.

image

Candi Prambanan, atau yang sering juga disebut sebagai Candi Loro Jonggrang, konon adalah mahakarya cinta sang Bandung Bondowoso. Legenda asal muasal Candi Prambanan ini masih diceritakan hingga saat ini. Meski cerita aslinya mungkin ya tidak seperti ini, tentunya.

Candi Prambanan yang dibangun sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur merupakan candi Hindu termegah yang pernah dibangun di Jawa Kuno.
image

Pada Mei 2006 terjadi gempa bumi skala 5,9 SR di daerah Bantul dan sekitarnya. Kawasan Candi Prambanan pun telak terkena dampaknya. Banyak bangunan candi yang rusak parah terutama Candi Brahma.
Hingga akhir Desember 2014 lalu, kawasan candi masih dalam proses pemugaran. Namun demikian, kawasan wisata ini tetap dibuka untuk umum. Ada satu monumen kecil di dalam zona inti sebagai penanda dahsyatnya gempa bumi tersebut.

Kalau berkunjung di sana, jangan nanya “yang mana Candi Prambanan-nya?” yaaa… Awalnya saya juga bertanya-tanya demikian. Ternyataaaa, Prambanan adalah nama desa lokasi kompleks candi Hindu terbesar ini dibangun. Hadeeeeh..
image

Aslinya nih, ada total 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan tersebut. Tapi saat ini hanya tersisa 18 candi. Delapan candi utama yang terdiri dari tiga candi Trimurti (candi Siwa, Wishnu, dan Brahma), tiga candi Wahana (candi Nandi, Garuda, dan Angsa), dan dua candi Apit (terletak di antara Trimurti dan Wahana). Delapan candi kecil di zona inti yang terdiri dari : empat candi Kelir (di setiap empat penjuru mata angin) dan empat candi patok (di setiap ujung sudut halaman dalam zona inti). Dulu ada 224 candi Perwara yang letaknya di luar zona inti. Tapi sekarang, baru dua candi perwara yang sudah selesai dipugar. Sementara ratusan candi perwara lainnya hanya bertumpuk berserakan mengelilingi zona inti.
image

Naik lah ke area candi utama! Pengunjung diperkenankan naik hingga ruangan terdalam. Di sana ada arca (yang dipercaya sebagai) Loro Djonggrang. Namun di ruang utama tersebut sangatlah gelap dan sejuk. Sejuk ini efek dari dikelilingin bebatuan dan tanpa cahaya, saya rasa.
Memang ada beberapa spot yang ditutup karena alasan keamanan. Karena proses pemugaran dan identifikasi kerusakan belum rampung hingga saat ini. Di depan masing-masing candi utama, terdapat papan informasi yang berisi QR code. Yes, if you wanna know further, you can scan it with your mobile. Simple, paperless!
image

Selain berjalan-jalan di area Candi Prambanan, pengunjung juga bisa menonton pagelaran sendratari Ramayana. Tapi mesti cek jadwalnya terlebih dahulu sebelum berkunjung ke Yogya karena tidak setiap hari ada pementasan. Best view-nya saat pagelaran diadakan di outdoor, yakni saat musim panas, karena kita bisa menonton sendratari dengan berlatarkan Candi Prambanan di malam hari.
image

Bertandang ke Karaton Solo Surakarta Hadiningrat

Perjalanan saya mengunjungi Karaton Surakarta Hadiningrat agak terhambat karena insiden kebakaran di Pasar Klewer. Beberapa jalan menuju Karaton ditutup agar tidak menghalangi akses petugas pemadam dan pihak terkaitke Pasar Klewer. Lokasi kebakaran memang masih dalam area kekaratonan. Luas memang.

Naik taksi maupun naik becak, sang pengemudi tak mahal memberikan berbagai macam informasi mengenai area kekaratonan ini. Dari mulai masuk area pemukiman warga. Beberapa rumah dalam satu area yang dibatasi dengan satu pintu besar sebagai pintu masuk. Mungkin ibarat satu RT gitu kali yah.

Awalnya saat melewati satu jalanan yang kanan kiri tembok putih besar, terdapat beberapa pintu layu besar yang tertutup. Saya pikir, wah besar sekali rumah rumah di daerah dekat karaton, pintunya saja sebesar ini, tapi kenapa gak ada jendelanya ya? Tembok saja dengan satu pintu besar.

Ketika melewati beberapa pintu besar yang kebetulan terbuka, ternyata di dalamnya terdapat jalanan lagi dengan sejumlah rumah rumah penduduk. Oalaah, pintu pintu besar ini semacam cluster mini tooh..

Supir taksi menurunkan saya di depan loket pembelian tiket masuk di area belakang karaton. Tk jauh dari loket tiket, ada pintu besar tertutup yang di depannya dijaga oleh dua orang abdi dalem (bener gak sih namanya abdi dalem?!). Beberapa wisatawan bergantian berfoto di depan pintu besar tersebut bersama kedua abdi dalem.

20150107-163014.jpg

Di bagian depan pintu masuk area Karaton dan Museum Karaton, ada patung besar Sultan Hamengkubuwono X yang juga ramai dijadikan spot foto oleh wisatawan.

Memasuki area karaton yang berupa halaman dan pendopo, ada beberapa peraturan yang mesti dipatuhi. Tidak boleh mengenakan kacamata hitam, tidak boleh mengenakan topi, berpakaian sopan, dan mengenakan sepatu. Okeh, meski panas banget, topi kipas beserta sunglasses saya ini mesti masuk ke tas dulu. Untungnya udah browsing sebelum kemari, jadi pas make celana panjang dan kaos berlengan serta sneaker.

Tapi tenang aja, untuk yang mengenakan celana/rok pendek, akan dipinjamkan kain batik (seperti saat mengunjungi Pura Besakih di Bali). Untuk yang mengenakan sendal, maka sendal harus dititipkan dan masuk area karaton tanpa alas kaki alias nyeker!!

Sebagai orang Jawa (yang lahir, tumbuh besar di Jakarta), saya memahami aturan ini. Apalagi Solo yang masih menjunjung tinggi nilai kesopanan. Berpakaian itu ya mesti tertutup sampai ke mata kaki. Untuk alas kaki, sandal dianggap sebagai alas kaki yang dikenakan di dalam rumah dan saat le toilet, sehingga tidak diperkenankan masuk ke area karaton yang dianggap suci. Topi dan kacamata? Ah, nanti juga tau kenapa 🙂

image

Ini area halaman dan pendopo karaton. Satu satunya area yang diperbolehkan untuk dimasuki oleh wisatawan. Halaman yang sangat rindang meski pohon pohonnya memiliki daun jarang jarang. Suasananya adem dan sejuk. Padahal sebelum memasuki area ini, yang juga outdoor, rasanya mentari dan hawanya sangat panas! You dont even need hat and or sunglasses here..

image

Puas berfoto dan berkeliling, saya pun beranjak ke area museum karaton. Beberapa benda pusaka seperti kereta kencana, periuk nasi, dan lainnya dipamerkan di sana. Entah asli atau replika tapi hawa di area museum rasanya kental nuansa kleniknya, meski tidak ada kesan menyeramkan ya.

image

Keluar dari area museum, saya dihampiri satu tukang becak, ditawari diantar berkeliling area kekaratonan Surakarta ini. Herannya, meski banyak abang becak tapi yang menghampiri saya hanya satu orang saja. Respect others? Maybe.
image

Akhirnya saya meluluh, deal di angka Rp 20000 untuk sampai ke Kampung Kauman dengan melewati Pasar Klewer. Saya diantar ke pasar Klewer bagian belakang dan bagian depan. Ini bagian depan, meski sudah diberi police line, namun warga dan wisatawan tetap datang sekedar menonton, termasuk saya.

image

Tak jauh dari Pasar Klewer, adalah Masjid Agung Surakarta Hadiningrat. Si abang becak menawarkan diri untuk menunggu sementara saya masuk untuk mengabadikan momen. Saya hanya masuk hingga pekarangannya saja yang saat itu sangat ramai, bersamaan dengan jam sholat Dhuhur.

image

Setelah dari Masjid, kami pun langsung menuju kampung wisata batik Kauman. Abang becak, lagi lagi menawarkan diri menunggu. Ingat pengalaman sulitnya mnencari taksi, saya pun mengiyakan tanpa bernegosiasi harga. Yaudahlahyaaaa…

image

Saya pun keluar masuk beberapa showroom hingga 2,5 jam!!! Ya ampun, gak kerasa bangeets!! Hehehe… Akhirnya saya pun diantar abang becak yg sudah rela menunggu tanpa protes ke tempat teman saya memarkirkan mobilnya. Di perjalanan ia bertanya apakah saya berbelanja di showroom yang terakhir saya datangi. Rupanya, abang becak ataupun supir taksi yang mengantar pelanggan ke showroom tersebut dan terjadi pembelian, maka mereka berhak atas sekian persen rupiah dari total belanjaan si pelanggan. Sayangnya, si abang becak tak diberi uang sama sekali padahal belanjaan saya dan teman saya di sana lumayan, mencapai jutaan!

House of Raminten: resto gemulai khas Yogyakarta

Adalah Hamzah HS yang berperan sebagai Raminten dalam sebuah sitkom di Yogya TV. Ia kemudian membangun rumah makan House of Raminten ini di Yogyakarta, karena kecintaannya pada makanan dan minuman tradisional khas Yogyakarta seperti jamu dan sego kucing.

Menu yang ditawarkan merupakan menu makanan umum namun disajikan dengan berbeda.

Menu yang biasa ditemukan di angkringan pinggir jalan, naik kelas menjadi makanan restoran dengan harga yang kompetitif (baca: beda tipis). Kita bisa menemukan sego kucing yang harganya di bawah 5000IDR.

20150116-195530.jpg

Tapi, kamu perlu hati-hati dengan segala menu berembel-embel “Jumbo” karena benar-benar ukuran jumbo bangets!!

20150116-195639.jpg

Yang juga unik di House of Raminten ini adalah waiternya yang kabarnya adalah homoseksual. Ini WOW banget! Berapa banyak siih tempat usaha yang bisa open-minded mempekerjakan homoseksual (yang udah coming out)?!? Kalau ada perusahaan yang gembar gembor open minded dan ga bedain orang berdasarkan preferensi seksualnya, pasti tidak ada yang segembar gembor HoR ini yang malah menjadikan ini sebagai diferensiasinya. Pengunjung pun malah makin banyak, bukan jadi takut. Paradox marketing skali kan!

Packaging dari HoR ini pun juga menjadi daya tarik tersendiri. Ruangan resto didesain sedemikian rupa hingga kesan njowo sangat kental sekali. Dengan menggunakan ornamen ukiran-ukiran khas rumah Jawa, musik gamelan, wardrobe waiter yang menggunakan kain batik dan jarik, dan lainnya. Namun demikian, unsur modern pun tak ktinggalan disertakan. Di salah satu sudut terdapat TV LCD dengan channel internasional. House of Raminten beroperasi 24 jam dan masih sering kepenuhi pengunjung.

Nice place to visit nih 🙂

20150116-195918.jpg

Traveling at 2014

Malam tahun baru 2015 kali ini dihabiskan di rumah bersama keluarga. Momen yang jarang kami dapatkan, setelah sepanjang tahun saya banyak berkeliling eksplorasi Indonesia dan juga kesibukan di luar sana yang membuat saya sering pulang terlalu larut dan berangkat pagi. Gak banyak keliling kemana-mana sih sebenernya, lebih sering pulang larut aja. Tapi cukup banyak jalan-jalan ke luar kota, for leisure wise, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

I love traveling. In Indonesia.

Saya membagi jenis liburan menjadi dua jenis: liburan yang santai-santai atau effortless holiday dan liburan yang butuh usaha ekstra atau effortfull holiday.

Liburan santai-santai di sekitar Denpasar, Ubud, Semarang, Yogya, dan Solo. Tipe liburan yang eksplorasi kota, atau lebih familiar disebut city tour. Mengunjungi beberapa spot cultural, menonton pagelaran khas kota, wisata kuliner, dan hunting benda-benda keren. Budget untuk leisure-nya juga lebih besar biasanya, karena objektifnya agar effortless.

image

image

image

image

Akhir Mei dan akhir Oktober kemarin, saya melakukan effortfull holiday. Effortfull dengan budget yang coba ditekan, karena meski sudah berhemat pun tetap mesti keluar budget besar karena infrastruktur lokasinya yang memang sulit.

Kepulauan Komodo, Gunung Danau Kelimutu, dan Kepulauan Krakatau. Timur dan Barat. Snorkeling di area Kepulauan Komodo dan Kepulauan Krakatau. Trekking mendaki Pulau Padar, Pulau Gili Laba Darat, Gunung Danau Kelimutu, dan Gunung Anak Krakatau.

image

image

image

image

image

image

Alhamdulillah bisa jalan-jalan ke banyak tempat bersama keluarga dan teman-teman terbaik. Semoga di tahun 2015 akan lebih sering untuk liburan, baik untuk urusan senang-senang maupun pekerjaan. Semoga keduanya bisa berjalan beriringan J

Traveling is more than a journey.
It’s a learning process.

Happy new year 2015!

Kampung Batik Solo, Kampung yang sadar pariwisata

Setelah Pasar Klewer, Kampung batik Laweyan dan Kauman adalah toplist tempat yang harus banget dikunjungi buat pecinta batik. Pada awalnya kedua kampung ini adalah rumah para pembatik yang biasa memasok kain dan pakaian jadi batik ke pasar Klewer.

image

Kemarin Minggu, Pasar Klewer terbakar hingga satu harian penuh. Sulit memadamkan api karena selain bangunan, kain-kain batik berlapis malam juga membuat api sulit dipadamkan. Saya berkunjung ke sana, dalam perjalanan mengeksplorasi area Karaton Surakarta.

image

Kampung Wisata Batik Kauman berada dekat dengan Pasar Klewer dan masih dalam area Karaton Surakarta. Kamu bisa naik becak dari Karaton Surakarta ke Kauman. Ada beberapa showroom yang hanya menjual kain dan pakaian jadi. Ada pula yang juga mempertontonkan proses pembuatan batik. Ada juga toko yang yang sekaligus memamerkan beragam jenis motif batik, seperti halnya museum batik Kauman. Harganya sangat beragam, dari yang ratusan ribu hingga jutaan.

image

Kampung Wisata Batik Laweyan, lokasinya rada jauh dari Kampung Wisata Batik Kauman. Sama halnya seperti di Kauman, Kampung Laweyan pun memiliki daya tarik yang hampir sama. Saya berkunjung ke Omah Laweyan dan menurut saya, motif batik yang ditawarkan lebih saya sukai daripada yang dijajakan di Kauman. Namun emang harganya juga lebih mahal. Kata supir taksi yang mengantar saya, di Omah Laweyan memang cenderung lebih mahal. Ada lagi toko di Laweyan yang harganya lebih murah tapi saya belum sempat ke sana.

image

Solo memang pantas dijuluki kota batik. Sebenarnya tak hanya di Kauman, Laweyan, Danar Hadi, maupun di Pasar Klewer saja, tapi tampaknya di setiap jalan ada toko batik. Ini juga yang menjadikan Solo sebagai kota yang sarat budaya. Batik dan kekaratonan bisa menjadi pusat daya tarik wisatawan dan berdampak secara langsung pada perkembangan ekonomi masyarakatnya. Jika dan hanya jika semua elemen pemerintah dan penduduknya juga sudah sadar pariwisata.

Clothes for Vacation

Saya adalah salah satu orang yang punya kebiasaan untuk mengelompokan segala sesuatu, termasuk baju. Saya menumpuk baju di lemari berdasarkan kategorinya. Ada baju ke kantor, baju jalan ke mall, baju di rumah, baju kondangan, baju batik, dan baju jalan2 ke luar kota. Yaps, sanking senangnya jalan2 ke luar kota, saya sampe punya satu kategori pakaian khusus untuk hobi tersebut. Dari sekian lembar atau helai (atau apa yah yang sesuai padanan katanya??) baju yang biasa saya bawa ke luar kota, ada satu baju dengan jenis kaos TShirt, yang hampir selalu saya bawa serta saat bepergian ke luar kota.

20141228-010502.jpg

image

Nih kaos jalan-jalan keluar kota yang paling sering saya ajak. Biasanya saya kenakan di hari saya ke airport (entah pergi atau saat pulang) atau di hari saya mengunjungi objek wisata yang mainstream dikunjungi turis asing.

Selain karena kaos ini sangat nyaman, saya juga senang dengan tulisan pada bagian depan kaos. I dont need to say a word, my tshirt already done that, hahaha…

Saat berkunjung ke objek wisata mainstream di suatu kota, saya menyiapkan mental untuk kembali merasakan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia.

Ada satu kaos lagi yang juga sering saya ajak jalan2 ke luar kota, terutama saat saya pergi untuk tujuan bekerja. Biasanya saya extend ambil cuti untuk liburan satu dua hari setelah selesai bekerja. Di hari saya tidak bekerja tersebut, saya biasanya mengenakannya. Maksudnya sih biar makin berasa “nih saya lagi liburan lhoooo…, tapi liburannya sambil kerja nih di M”
Hahahahhaa…
image

image