Wisata Konflik di Kupang

Kayak gak lagi di Indonesia Timur! Indah banget nih jalanan kota Kupang yang bersih dan rindang

Kayak gak lagi di Indonesia Timur! Indah banget nih jalanan kota Kupang yang bersih dan rindang

November 2013 lalu, saya ditugaskan ke Kota Kupang, ibukota dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berlokasi di pulau Timor, yang sebagian areanya merupakan Negara Timor Leste, suatu negara yang pada tahun 2002 memerdekakan diri berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdirinya Negara Timor Leste bukan hanya perkara satu bagian lepas dari NKRI dan berdikari sendiri. Tetapi juga meninggalkan sejuta masalah kemanusiaan. Saya akan ceritakan kemudian.

Tarifnya masih 60.000IDR

Tarifnya masih 60.000IDR

Selamat datang di Kota Kupang :D

Selamat datang di Kota Kupang 😀

Seperti biasa, perjalanan biztrip akan didominasi oleh agenda kerja dengan selipan jalan-jalan menikmati kota, tentu saja, hehehe… Namun, kali ini berbeda. Jadwal yang berubah di tengah jalan membuat saya memiliki lebih banyak waktu luang untuk eksplorasi ketimbang untuk bekerja, yeay! #eh

Taman Doa

Taman Doa

Hari pertama saya tiba di sana, saya habiskan untuk berjalan-jalan di sekitar penginapan. Saya pun mengontak teman kuliah saya, Bang Dekson. Sebenarnya, jaman kuliah dulu sih ga pernah ngobrol dikit pun sama dia, tapi saya aware dengan eksistensinya di sekitaran kantin kampus. Sebelum saya tiba di Kupang, saya mengontak salah satu teman seangkatan saya di kampus, menanyakan apakah dia masih tinggal di Kupang. Ternyata sudah pindah tugas dan saya direkomendasikan untuk mengontak Dekson. Jadi lah, sore itu saya bertemu dengan Dekson dan dikenalkan dengan Kupang di sore hari. Kami makan ikan bakar di tempat kulineran dekat pantai Teddis.

Ikan segar yang dapat ditemukan di sekitaran Pantai Tedis

Ikan segar yang dapat ditemukan di sekitaran Pantai Tedis

Saya menginap di Hotel Flobamora 2 dengan biaya 250.000/malam (harga tahun 2013), dengan fasilitas kamar mandi dalam dan sebuah ruang tamu. Iya, jadi total ada tiga ruangan di kamar saya. Hotel ini terletak di pinggir jalan besar pusat perbelanjaan.

Hotel Flobamora 2 tampak depan

Hotel Flobamora 2 tampak depan

Hotel tempat saya menginap 2 malam

Hotel tempat saya menginap 2 malam

Jangan bayangkan pusat perbelanjaan itu seperti mall besar di Jakarta ya. Pusat perbelanjaan yang saya maksud itu lebih seperti satu jalan dengan deretan toko-toko aneka macam produk jualan, dari baju hingga perangkat elektronik. Di sana belum ada mall. Adanya hanya Ramayana Robinson (dua lantai) dan satu gerai KFC di depannya.

(Mall) Ramayana satu-satunya di Kota Kupang

(Mall) Ramayana satu-satunya di Kota Kupang

Resto fastfood KFC satu satunya di Kota Kupang

Resto fastfood KFC satu satunya di Kota Kupang

Hari berikutnya, saya habiskan untuk bekerja sekaligus mengeksplorasi kota Kupang, sebuah kota kecil di Timur. Tata kotanya pun cukup apik, mudah sekali menghapal pola jalan di sana. Saya sama sekali tidak nyasar di kota yang saat itu belum tersedia detail jalannya di Gmap. Kebetulan pagi itu, Dekson sedang ada kerjaan, jadi saya pun bepergian sendiri menggunakan angkot. Jangan bayangkan angkotnya seperti di pulau Jawa ya..hehehe.. Angkot di Kupang ini cukup heboh penampilannya. Sama halnya seperti di Manado, angkot di kota Kupang ini juga tak kalah hingar bingar dari diskotek-diskotek di Jakarta. Sound system yang digarap serius, pilihan lagu-lagu yang update, dan juga aksesoris mobil yang menarik.

Teropong, spedometer, boneka ular panjang berwarna-warni, gantungan bintang, ah you named it lah, banyak bangettt aksesorisnya!! x)))

Teropong, spedometer, boneka ular panjang berwarna-warni, gantungan bintang, ah you named it lah, banyak bangettt aksesorisnya!! x)))

Dimana lagi bisa nemu angkot berCCTV dengan layar pemantaunya ada di sebelah spion tengah pengemudi?!?

Dimana lagi bisa nemu angkot berCCTV dengan layar pemantaunya ada di sebelah spion tengah pengemudi?!?

speaker soundsystem umumnya diletakkan di bawah jok penumpang, heboh lah ini angkot!

speaker soundsystem umumnya diletakkan di bawah jok penumpang, heboh lah ini angkot!

Penampakan angkot Kupang di Jalan utama kota Kupang

Penampakan angkot Kupang di Jalan utama kota Kupang

Gimana gak dibilang update, kalau di awal November 2013, angkot yang saya tumpangi sudah memainkan lagu-lagunya Adele yang bahkan di Jakarta saja belum happening banget! X))

Di hari ketiga, saya diajak berkeliling sampai ke luar Kota Kupang oleh Dekson. Yang menarik, saya tidak diajak melihat tempat wisata melainkan ke daerah rentan konflik. Wow!!

Ga deng, sebenarnya, saat itu, bang Dekson ini mau ngajakin makan jagung susu di pinggir pantai. Katanya dia, jagung pinggir pantai yang enaak itu adanya di luar kota Kupang. Sayangnya, sampai di lokasi ternyata sedang tidak ada yang berjualan. Kepalang tanggung sudah jauh-jauh keluar kota, jadilah ia memberikan tour ke daerah pinggiran sekitar Kota Kupang.

Seperti yang saya sebutkan di awal, lepasnya provinsi Timor Leste dari NKRI, membawa segudang masalah bagi Indonesia sendiri. Banyak penduduk asli Timor Leste yang masih ingin menjadi warga negara Indonesia, sehingga mereka pun berpindah dan menjadi pengungsi di negara sendiri. Kamp-kamp pengungsian yang disediakan pemerintah Indonesia tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pengungsi yang banyak. Sehingga banyak pengungsi yang akhirnya berusaha mandiri hidup di luar kamp dan bergabung dengan penduduk asli sekitar.

salah satu rumah penduduk pengungsi

salah satu rumah penduduk pengungsi

rumah penduduk

rumah penduduk

Di sepanjang jalan yang kami lewati adalah pemukiman penduduk dengan jarak antar rumah yang berjauhan dan juga tipe rumah yang berbeda. Rumah dengan bangunan batu bata, beton, semen merupakan ciri rumah penduduk asli. Sedangkan rumah dengan bangunan temporer seperti dari bambu, rotan, tempahan pisang merupakan ciri rumah penduduk pengungsi.

Rumah pengungsi diantara pemukiman penduduk

Rumah pengungsi diantara pemukiman penduduk

Kepindahan mereka ke lokasi baru bukan tanpa membawa masalah. Misalnya saja, soal kebutuhan dasar. Sebagian besar area NTT merupakan daerah yang tandus, kurang air, curah hujannya pun rendah. Hanya ada beberapa sungai dengan debit air yang cukup untuk menghidupi penduduk di sekitarnya. Jadi, bisa dibayangkan jika tiba-tiba ada penambahan penduduk yang cukup signifikan di suatu daerah. Mata air di sana mungkin tidak mencukupi. Tak hanya itu, pasokan makanan pun juga kurang memadai. Kecukupan kesediaan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan lainnya pun mengikuti. Tak bisa dihindari konflik antar warga pun terjadi. Penduduk dengan rumah temporer yang mudah dibakar/hancurkan pun menjadi sasaran empuk untuk menebar teror pengusiran. Buat mereka, nyawa bayar nyawa. Tauran warga yang memakan korban pun tak jarang terjadi di sekitar sini.

Miris ya! Di satu sisi, para pengungsi ini masih pengen jadi warga negara RI. Tapi di sisi lain, kayak ga diterima di negaranya sendiri. T_T

Dengan kebutuhan pokok yang berat terpenuhi dan suhu udara yang cenderung panas dan kering, menjadi wajar jika orang sana cenderung berwatak keras dan mudah tersulut emosinya. Tapi jangan salah, mereka ini sebenarnya ramah. Coba saja sapa mereka dengan ramah, mereka pasti akan memberikan senyuman yang lebih lebar dari yang orang Indonesia Barat bisa berikan 😀

Jagung bakar pinggir pantai Tedis

Jagung bakar pinggir pantai Tedis

Suasana sore di Pantai Tedis

Suasana sore di Pantai Tedis

Sore harinya, bang Dekson menepati janjinya untuk mengajak saya makan jagung bakar di pinggir Pantai, tapi di pantai Teddy Kota Kupang. Salah satu spot wisata penduduk maupun turis, Pantai Teddy. Setelah makan jagung bakar dan menikmati sunset di pantai Teddy, kami pun beranjak untuk ke toko oleh-oleh. Saya penasaran ingin membeli kain Kupang. Dekson kemudian mengajak saya makan sate ayam yang katanya paling enak di Kupang.

Sate ayam paling enak di kota Kupang

Sate ayam paling enak di kota Kupang

Bang Dexon yang berulangtahun dan menemani saya di Kupang Trip kali ini

Bang Dexon yang berulangtahun dan menemani saya di Kupang Trip kali ini

Saat itu, saya bilang, “Eh, makan sate tuh kan ga bagus buat kesehatan karena ada sisa pembakaran yang juga akan kita makan di dagingnya.” Seketika itu juga, abang saya satu ini ngakak! Di tengah makan malam itu, ayahnya menelpon untuk ngucapin selamat ultah. Aaah, ternyata ultah kau hari ini, bang!! Haseeekkk, ada yang bayarin makan maleemmm… hiphip hoeraaa!! \\^,^// *Padahal ultah kami hanya beda dua hari, hihihi.. Sesama scorpion ternyata!

Sunrise di Kota Kupang

Sunrise di Kota Kupang

Keesokan harinya, diantarkan oleh taksi hotel, saya pun beranjak ke Bandara. Sepanjang jalan, saya mendapati kecantikan Kota Kupang ini. Sungguh, saya mesti kembali untuk eksplorasi lebih banyak di kota ini. Semoga!

Driver taksi di Kupang yang mengantar saya kembali ke Bandara El Tari, Kupang

Driver taksi di Kupang yang mengantar saya kembali ke Bandara El Tari, Kupang

Kenalan sama nona manis dari Maumere, NTT

Kenalan sama nona manis dari Maumere, NTT

Penerbangan saya ke Denpasar mesti transit dulu ke Maumere, Flores. Saya yang kebutuhan eksplorasinya tinggi pun minta izin ikut turun dari pesawat untuk sekedar menghirup udara tanah Flores dan foto-foto. Gak boleh sebenarnya karena hanya transit untuk turunin dan naikin penumpang saja, hehehe.. Dari sini saya berkenalan dengan satu gadis manis asal Maumere bernama Berti yang hendak ke Jakarta untuk English camp di kampus UI (Ah, kampus saya!!). Kami bertukar nomor telpon dan hingga kini masih sering kontak.. 😀

Proyek Kebaikan April 2015: 365 Kartu Pos untuk Jonathan Pitre

Let’s make at least one smile for him.. 🙂

*Reblog chibiranranhelpcenter.com

Chibi Ranran Help Center

Jonathan Pitre yang kini berusia 14 tahun hidup di Russell Ontario, Kanada. Ia menderita penyakit bernama Recessive Dystrophic Epidermolysis Bullosa (RDEB) atau biasa disingkat EB yaitu penyakit genetik langka yang menyebabkan kulit melepuh tanpa henti, tersayat, dan menjadi luka.

Untuk kasus yang parah seperti Jonathan, ia akan merasa kesakitan teramat sangat ketika berjalan, makan, bahkan mandi. Jonathan kini menjadi duta EB dari Debra Canada (debracanada.org) sebuah organisasi peduli EB yang didirikan tahun 1998.

Chibi Ranran Help Center telah mengontak Debra Canada dan berhasil mendapatkan persetujuan serta alamat Jonathan. Untuk itu, dalam Proyek Kebaikan April 2015, Chibi Ranran Help Center akan mengirimkan 365 kartu pos yang berisi kata-kata semangat untuk Jonathan selama satu tahun penuh.

Kami akan menuliskan 365 pesan pertama dari teman-teman dan mengirimkan kartu pos tersebut ke Kanada. Bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi, silahkan menuliskan kata-kata penyemangat untuk Jonathan ke email chibiranranhelpcenter@yahoo.com dengan format:
1. Memakai bahasa Inggris
2…

View original post 171 more words

Double trekking at Taman Nasional Kelimutu

IMG_7983

Yeheeyyy…. Akhirnya kami tiba juga di puncak view point dari Gunung Danau Kelimutu, Desa Moni, Kabupaten Ende, Flores, NTT ini. Hmmmm, tapi mana Danau Kelimutunya ya? Sejauh mata memandang hanya kabut putih saja yang terlihat. Memang, saat itu masih pukul 5.30 pagi, cuaca mendung sesekali gerimis, kabut pun masih enggan beranjak menyelimuti area Taman Nasional Kelimutu hingga kami tidak bisa melihat yang mana danaunya. Ditemani para monyet gunung yang berkeliaran dan menjadi objek foto, kami dan wisatawan lain pun menanti hingga kabut naik.

Pagar pembatas area danau yang tertutup kabut

Satu malam sebelumnya, kami menginap di salah satu losmen warga lokal di Desa Moni. Ini merupakan desa yang lokasinya paling dekat dengan Taman Nasional Kelimutu, spot wisata wajib kunjung jika Anda bertandang ke Kabupaten Ende, Flores, NTT. Ryan, Guide plus driver kami, menjemput di penginapan sekitar pukul 4 pagi untuk mulai trip ke TN Kelimutu ini agar kami bisa mendapatkan momen matahari terbit di atas tugu view point TN Kelimutu.

Meski saat itu cuaca kurang cerah, alias mendung disertai hujan rintik-rintik, kami toh tetap melanjutkan rencana perjalanan kami. Tiba di lokasi parkir TN setengah jam kemudian dan kondisi suhu udara dingin mencekam disertai hujan. Ah, tak ada satupun dari kami yang berani turun keluar dari mobil. Bbrrrrrrrr…….!!

hutan arboretum

Sekitar pukul lima pagi, hujan sudah mereda dan kami pun memutuskan untuk memulai pendakian. Trek menuju view point sudah tersedia, wisatawan tinggal mengikuti saja alur jalan setapak dan papan penunjuk jalan yang terpasang di sepanjang trek.

Selain Danau tiga warna, kawasan wisata ini juga merupakan hutan Arboretum dengan koleksi floranya. Jalur pendakian dimulai dengan jalan setapak masuk hutan yang rimbun. Meski dilatarbelakangi kisah mistis pada ketiga danau berwarna Kelimutu, namun kawasan wisata ini tidak terkesan mencekam dan mengerikan koq.

View point pertama

Setelah berjalan kira-kira lima ratus meter, kami pun tiba di view point pertama. Di sini kami menikmati pemandangan salah satu danau berwarna Kelimutu, yakni yang terletak paling rendah bernama Danau Tiwu Ata Mbupu, atau danau jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Bersebelahan berbatas sedikit celah diantara dinding keduanya adalah Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, atau danau untuk jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Dari view point pertama, kedua danau ini sudah bisa terlihat, meski Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai belum terlihat sepenuhnya.

Trekking lagi ke view point tugu puncak, barulah bisa melihat ketiga danau. Yang terletak di paling timur atau paling atas adalah Danau Tiwu Ata Polo atau danau untuk jiwa-jiwa orang jahat yang telah meninggal. Danau ini terlihat paling mencekam warna dan auranya. Ketiga danau ini diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh-roh orang yang sudah meninggal dan diyakini memiliki kekuatan alam yang sangat besar.

Tidak ada yang tahu pasti kedalaman dari ketiga danau Kelimutu ini. Beberapa kali penelitian dengan berbagai metode dilakukan tak juga membuahkan hasil. Salah satu usahanya dengan menenggelamkan tali dengan pemberat ke dalam danau namun tali tersebut pun akhirnya tenggelam. Konon memang segala sesuatu yang sudah terjatuh ke dalam danau tak bisa naik lagi, dari benda-benda kecil hingga besar sampai manusia. Keterangan kedalaman yang tertera di papan informasi hanyalah perkiraan saja dari kesimpulan penelitian yang telah dilakukan.

Danau ini tak pernah kekeringan juga kebanjiran, apapun musimnya. Ketiga danau ini memiliki warna yang berbeda-beda satu sama lain dan kerap berubah warna dari waktu ke waktu. Para ahli geologi percaya perubahan warna ini disebabkan karena kandungan mineral vulkanik, lumut di dalam danau, juga dari pedar cahaya matahari. Pada saat kami mengunjunginya, warnanya yakni hijau toska, hijau lumut, dan merah cokelat pekat. Meski demikian, cerita mistis mengenai ketiga danau ini masih dipercaya oleh penduduk di Flores.

trek ke view point puncak

Puas menikmati pemandangan di view point pertama, kami pun melanjutkan trekking ke puncak tugu view point. Jalannya lebih menanjak tapi sudah dilengkapi dengan tangga dan pagar pembatas. Sejauh tidak iseng melewati area yang tidak disarankan sih aman-aman saja. Tiba di atas sudah ada beberapa wisatawan yang didominasi dengan wisatawan asing.

Ya, kawasan Indonesia Timur, termasuk TN Kelimutu ini memang lebih menarik minat wisatawan asing ketimbang domestik. Mereka seperti ada di mana-mana. Seperti saat kami baru mau berangkat dari penginapan, tahu-tahu sudah ada satu bule perempuan di mobil yang kami carter. Lho!

Sebagai tuan rumah yang baik, kami bersedia berbagi kendaraan dengan si bule kere ini. Namanya Anna, bekerja di salah satu NGO di Kupang. Sepanjang perjalanan di mobil, ia banyak bertanya mengenai beberapa spot wisata di Indonesia. Salah satu yang saya ingat, ia bertanya tentang Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di Kota Semarang. Wow! Bahkan wisatawan lokal saja mungkin masih lebih tertarik ke Masjid Istiqlal di Kota Jakarta Pusat karena kesohorannya. Padahal, menurut saya, Masjid Agung Jawa Tengah ini lebih menawarkan keunikan untuk menarik wisatawan seperti adanya payung raksasa bak di Masjidil Haram, Arab Saudi, juga menara Masjid untuk bisa melihat Kota Semarang dari ketinggian.

prasasti di atas view point puncak

Setelah kira-kira satu setengah jam menunggu dan kabut masih setia terbang rendah, wisatawan asing pun sudah banyak yang meninggalkan area view point utama ini. Tersisa beberapa wisatawan lokal yang karena kesamaan nasip (gagal mendapatkan momen sunrise di atas puncak view point Kelimutu untuk difoto), yang berujung pada selfie bersama, hahahaha… Yayayaa…. Ada hikmahnya juga nunggu lama, jadi nambah teman baru 🙂

para penjaja di atas puncak gunung kelimutu

Anyway, di atas view point ini, ada seorang ibu berjualan kudapan pagi seperti Popmie, kopi seduhan, jambu kelutuk (iyah!), dan lainnya. Juga ada lapak jualan kain tenun khas Flores. Sambil menunggu, kami pun menyeduh Popmie yang dibanderol seharga sepuluh ribu rupiah (harga di akhir Mei 2014). Air seduhan yang mendidih ini segera mendingin karena suhu udara di atas sana. Mesti hati-hati memang, kayaknya sudah mendingin tapi koq lidah serasa terbakar, hehehe…

Atas saran guide kami, dan juga banyak wisatawan yang turun gunung, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Desa Moni dan kembali lagi saat cuaca sudah cerah. Kami kembali ke penginapan untuk sarapan dan beristirahat.

Sekitar pukul sepuluh pagi, kami kembali ke TN Kelimutu. Saat itu, kabut sudah naik, suhu sudah lebih bersahabat, dan keindahan ketiga danau berwarna Kelimutu pun sudah dapat dinikmati (dan difoto, tentunya).

IMG_7962

Meng- Uber Gojek, nge- Grabtaxi ! 

Percepatan arus informasi dan perkembangan teknologi yang makin pesat, membuat sejumlah aksi-reaksi pekerjaan kini makin cepat pula bergulir. Terutama bagi warga di ibukota dan kota-kota satelit di sekitarnya, makin tinggi mobilitasnya, makin rendah pula ketahanan diri terhadap berbagai tekanan (sumber stress). Kali ini saya ga bahas soal stress dan copingnya, melainkan tentang sarana mobilitas yang setahun terakhir ini lagi happening banget di ibukota dan beberata kota lainnya.

Terkait dengan perkembangan teknologi dan arus informasi yang makin cepat, muncul lah beberapa aplikasi ‘pemanggil’ sarana transportasi. Kalau biasanya, untuk naik taksi atau ojek, kita mesti telfon operator atau jalan ke luar gedung dan nyari transportasi di pinggir jalan. Sekarang tinggal buka gadget, klik aplikasinya, order kendaraannya, dan duduk manis menunggu.


Paling tidak, saat ini, ada tiga aplikasi pemanggil taksi/ojek. Saya akan bahas satu persatu berdasarkan pengalaman saya menggunakan ketiga layanan aplikasi tersebut.


Uber. Aplikasi ini sudah dijalankan di 30 negara dunia, seperti Malaysia, Inggris, Jerman, dan lainnya. Layanan yang diberikan berupa mobil plat hitam yang dibisa dipesan, gampangnya kayak mobil rental gitu, sesuai lah sama tagline-nya “Everyone’s private driver”. Di Jabodetabek sendiri, Uber memang bekerja sama dengan pemilik rental mobil.

Untuk dapat menggunakan layanan ini, pengguna harus men-download aplikasi Uber di Goole Play maupun di Appstore. Lalu, masukan data diri dan nomer Kartu kredit. Yaps, pembayaran dari layanan ini memang menggunakan credit card. Setelah itu, pengguna bisa langsung pesan armadanya. Ada dua jenis, UberX (Avanza, Xenia, Innova) dan UberBlack (Fortuner, Mercy, Alphard, dll). Lalu, akan keluar tuh pilihan driver dan mobilnya. Pilihlah driver dengan reputasi yang baik (lihat bintangnya, skala 1-5, jadi kalo ada yang reputasinya 4 koma ya lumayan). Rating reputasi ini diperoleh dari nilai rata2 yang dikasih pengguna Uber yang pernah dilayani oleh driver tersebut. Uniknya lagi, kita bisa juga split tagihannya bersama teman yang juga ikut di mobil yang kita pesan tersebut.

Penasaran nyoba tapi pengen dapet gratisannya dulu? Masukin aja kode refferal saya: i1vigue. Kamu bakalan langsung dapet credit Rp 75000 yang bisa langsung digunakan dari pertama kali menggunakan layanan Uber. Pengalaman saya dulu, saya sempet dua kali kena gratisan karena dua kali pertama itu, mobilisasi saya memang di tempat yang ga jauh-jauh amat. Dibandingkan dengan biaya taksi tarif bawah, menurut saya, Uber jauh lebih affordable!


Gojek. Aplikasi ini asli buatan anak negeri. Saya bahkan sudah menggunakan layanannya sejak belum ada aplikasi Go-jek! Saat itu, Awal Oktober 2014, masih pake sistem manual. Order layanan via Whatsapp/BBm. Saya ingat, layanan yang saya rekues adalah antar paket kado ultah. Pesan kurir jam 10 pagi disela meeting, kurir datang jam 11 saat saya selesai meeting, dan paket sampai ke teman saya yang berulang tahun jam 12an. WOW!! Penyelamat banget! Padahal pagi2 udah senewen gegara kurir yang saya pesan tiba2 membatalkan orderan saya.. Hehehe..

Saya justru baru install aplikasi Gojek baru beberapa bulan belakangan. Layanannya kini meluas, selain antar paket dan Ojek, sekarang juga ada Go-food! Ini lagi happening banget sekaran, layanan minta tolong beliin makanan/minuman. Juga ada Go-shopping, prinsipnya sama seperti Gofood tapi jenis belanjaan non makanan/minuman.

Layanan Ojeknya sendiri cukup OK menurut saya, karena dia memberikan pelanggannya masker kepala dan mulut. Ngerti banget anxiety desirenya pengguna ojek macem saya ini, hehehe…

Di Gojek, semua rincian tagihan layanan diberitahukan di awal. Jadi, kalau kita pesen ojek trus di tengah jalan macet, tarifnya akan tetap sama dengan kesepakatan di awal. Ya tapi boleh juga koq kita nambahin pas kita bayar. Metode pembayaran ya ada dua macam, cash (tunai) maupun dengan Gojek Credit! Apa itu Gojek Credit? Itu semacam e-wallet tempat kamu bisa claim redeem vouchers (dari refferal maupun promo Gojek) atau transfer uang kamu ke situ. Cashless!

Belum pernah pake aplikasi ini dan penasaran pengen nyoba? Sok atuhinstall aplikasinya dari Google Play maupun Appstore, dan masukan kode refferal saya: 542589889. Niscaya kamu bakalan langsung dapet credit Rp 50.000 yang bisa langsung digunakan untuk nge-Gojek!

Ohiya, Ini ada kode promo penambahan credit 50k dengan memasukan kode “bali0215”. Kalau belum pernah pake aplikasi ini dan memasukan kedua kode tadi (kode refferal saya dan kode promo bali0215, maka akan langsung dapet 100k, asik kaaann 🙂


GrabTaxi. Sama halnya seperti Uber, aplikasi layanan ini juga sudah dijalankan di beberapa negara Asia Tenggara. Kalau Uber bekerja sama dengan rental mobil untuk pengadaan armadanya, GrabTaxi bekrmitra dengan perusahaan taksi yang sudah existing, seperti Express, Taxiku, danlainnya. Meski bekerjasama dengan taksi-taksi tersebut, namun tidak semua driver bisa beradiliasi dengan GrabTaxi. Yaps, ada seleksi tertentu yang diterapkan GrabTaxi, minimal driver mesti melek teknologi ntuk bisa menggunakan aplikasi GrabTaxi.

GrabTaxi juga bekerjasama dengan beberapa aktivis di berbagai bidang untuk memberikan support dana dan mengajak kita, penggunakan untuk ikutan berkontribusi sekaligus mendapatkan potongan harga argo. Lho! Koq bisa?! Gamoangnya sih, follow saja @GrabTaxiID, di situ secara berkala diinfokan kode-kode promonya juga berbagai gimmick seperti bagi-bagi tiket nonton gratis. Seru kan?!

Mengenai keamanan dari layanan ketiga aplikasi ini sebenarnya serupa dengan layanan taksi pada umumnya. Informasi nama driver, foto driver, dan dan nomor kontaknya langsung kita dapatkan segera setelah kita dapat konfirmasi driver yang menjawab / mengambil orderan kita. Kontak pengaduan dari ketiga layanan ini jugtercantum di aplikasinya, dan ketiganya punya akun twitter yang aktif.

So, buat kamu yang belum nyoba tapi penasaran. Install dulu aja aplikasinya. Kalau masih ragu atau takut, coba dulu untuk mobilisasi jarak dekat dengan teman.. It’s so easy and guna banget!

Menjelajah Gorontalo

Salah satu business trip yang pernah saya jalani adalah ke Gorontalo. Berangkat sedari pagi hari dari Kota Manado via mobil travel yang tarifnya ditentukan dari posisi kursi. Saya pilih di tengah, saat itu tarifnya masih Rp 80.000/seat.

Mobil Toyota Avanza yang saya tumpangi terisi penuh dengan mayoritas ibu-ibu yang doyan ngomong, ramai sepanjang perjalanan. Kami mulai perjalanan pukul 8 pagi menyusuri jalan raya Trans Sulawesi.

Mobil ini beberapa kali berhenti di pinggir jalan sesuai rekues penumpangnya. Iya, bisa rekues pokoknya. Mau jajan buah-buahan pinggir jalan atau snack ringan atau mau buang air, tinggal bilang ke pak supirnya.

View sepanjang jalan Trans Sulawesi ini kalau tidak hutan elok, pemukiman ala Sulawesi, ya pantai nan cantik.. Luwar biasa! ❤

IMG-20120209-WA0019

Pukul 6 sore, mobil travel ini selesai mengantarkan saya ke penginapan. Saya pun bergegas check in dan prepare untuk meeting malam dengan tim lapangan saya di Gorontalo.

687

Keesokan harinya, saya mulai petualangan saya di Gorontalo. Dengan menyewa sebuah bentor, saya pun berkeliling. Kota ini tidak ramai. Meski belum ada mall, namun penduduknya peduli penampilan. Buktinya hampir di tiap jalan ada sedikitnya satu distro (toko pakaian) dan satu salon. bahkan ada satu jalan, di daerah dekat perbukitan, salonnya banyak sekali. Saya sempat berpikir apakah memang mata pencaharian penduduk di sini adalah usaha salon ya?

Meski belum ada mall, tapi ada satu bangunan pusat perbelanjaan yang didominasi oleh department store Matahari dan beberapa gerai makanan. Juga ada satu gerai resto fastfood KFC di kota ini. Ah, senangnya!

IMG-20120210-WA0000

Makanan khas di Gorontalo adalah Binte Biluhuta, semacam bubur tapi pake sayuran dan jagung. Kira-kira penampakannya seperti ini. Makanan ini bisa ditemukan dimana-mana sepertinya. Saya memesannya untuk sarapan pagi di Pasar Sentral di Gorontalo. Sebenarnya rasanya enak, tapi karena saat itu saya belum doyan makan sayur jadinya ga saya habiskan -__-*

686

Makanan oleh-oleh khas Gorontalo adalah Pia. Iya, Pia. Rasanya berbeda dengan Pia yang basa ditemukan di Pulau Jawa maupun Pulau Sumatera. Pia Gorontalo lebih kering dengan keju panggang dan ukuran kue yang cenderung lebih besar. Yummy!

Karena ini biztrip maka waktu saya didominasi untuk urusan pekerjaan. Hanya di selipan waktu luang saja bisa agak ngabur dikit untuk melihat kota Gorontalo. Salah satunya mengunjungi pinggir laut Gorontalo (letaknya di pelabuhan Gorontalo).

691

Setelah ke Pelabuhan, saya pun bergegas ke tempat oleh-oleh untuk membeli beberapa buah tangan. Tak lama, kembali ke penginapan untuk check out dan beranjak ke Bandara Jalaludin yang terletak lumayan jauh di Kabupaten Gorontalo. Dan saya ke sana naik ojek motor. Iya, dengan membawa segambreng bawaan selama satu minggu @,@

690

Saya memang belum sempat sesana kemari di Gorontalo ini, padahal katanya nih, bawah lautnya itu indah banget! Memang mesti kembali lagi ke Gorontalo untuk bener-bener liburan nih.. See you, Gorontalo! 😀

-Februari 2012-

Belajar menghormati perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur

Puncak perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur selalu menarik banyak wisatawan, termasuk saya dan temen-temen saya yang belum pernah menyaksikan langsung. Tahun 2013 lalu, kami pun pergi ke Yogya, khusus untuk menyaksikan langsung perayaan umat Buddha langsung di Candi Borobudur. Sama dengan kebanyakan turis lainnya, kami pun menanti ritual pelepasan seribu lampion, yang menjadi penanda berakhirnya prosesi Waisak tahun ini.

Ritual prosesi ibadah Waisak biasanya sudah dimulai dari hari sebelumnya. Namun, biasanya ga banyak diikuti oleh para turis. Makin mendekat ke puncak perayaan, makin banyak turis yang ingin menonton.

Pada hari tersebut sedari pagi hari, sudah berlangsung prosesi kirab biksu dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, salah satu bagian dari prosesi Waisak. Beberapa jalan yang menghubungkan Candi Mendut dan Candi Borobudur pun ditutup sedari pagi. Kalau ingin mengikuti proses sedari pagi hari, pastikan sudah mempelajari rute utama dan jalan alternatifnya. Semakin sore, akan semakin banyak turis yang bergabung untuk menyaksikan. Kemacetan di jalan arah Candi Borobudur tak kan terhindari menjelang sore hari.

Beruntungnya rombongan kami dipandu oleh orang yang paham medan (bukan Medannya Sumut yak :p), sehingga kami ga terlalu lama kejebak macet.

Pastikan sudah tiba dan masuk area Candi Borobudur sebelum jam 5 sore, karena pada jam tersebut pintu masuk akan ditutup untuk persiapan perayaan prosesi puncak Waisak. Paling lambat banget satu jam sebelumnya sudah harus tiba, karena mesti spare waktu untuk ngantri tiket masuk dan jalan ke pintu masuknya.

Sekalian mau pengakuan dosa nih. Mestinya saat masuk ke area wisata Candi Borobudur, kami tidak diperkenankan bawa makanan, tapi kami malah menyelundupkan makanan yang sudah kami persiapkan. But we promise to not nyampah there. We did it! Di dalam area sana pasti akan lama sekali, paling tidak bocah-bocah yang bersama saya ini tak kan rewel soal haus dan lapar. :p

Saat memasuki area taman wisata Candi, sempatkan lah membaca tata cara jalan-jalan di area candi. Ada yang ngeh gak aturan jalan-jalan di Candi Borobudur? Jadi, ada aturannya nih Guys. Kalo masuk dari arah Barat, maka keluar/turunnya gak boleh dari Barat lagi, musti dari arah lain. Trus di setiap lantai mau muter, musti belok kiri dan berjalan searah jarum jam (jadi naik tangga, lalu belok kiri ngiterin candi), trus keluar/turun dari tangga arah yang berbeda dengan tangga masuk.

candi borobudur disterilkan dari pengunjung

Singkat cerita, kami tidak sempat naik ke candi karena sudah jam 5 dan area candi hendak disterilkan untuk persiapan prosesi. Kami pun beranjak ke area perayaan Waisak, panggung utama. Tim saya yang bersebelas ini pun berpisah sesuai dengan maunya masing-masing.

Saya dan dua orang teman mendapatkan spot asik di pinggir stage utama sebelah kanan. We were so excited!! Saat itu, sudah banyak pengunjung yang duduk-duduk memenuhi bibir stage bagian depan, banyak yang udah ready dengan alat perangnya: SLR cam + Tripod + aksesoris2 tambahannya.

pelataran stage utama

Panitia berpolo shirt “Buddhis Muda Indonesia” bikin amazed saat mereka membersihkan stage. Benda-benda asing, kerikil, daun-daun yang jatuh, serangga-serangga yang ada di atas stage, dipungut-pungutin. Detail banget. Segitunya musti bersih nih stage utama untuk dijadikan area prosesi puncak ibadah Waisak. Serangga yang belum mati, dipungut lalu dipindahkan ke pot bunga di pinggir stage. Dikembalikan ke habitatnya.

Suasana di belakang stage depan dan sekitar candi pun sudah ramai. Di sana, ada lilin-lilin kecil berpola yang siap dinyalakan. salah satu bagian pola bertuliskan “Happy Vesakday”.

lilin waisak

Tepat di depan deretan lilin-lilin juga sudah banyak pengunjung yang duduk-duduk sambil mengenakan payung. Sebagian diantaranya juga sudah ready dengan alat perang fotografinya. Mereka menunggu momen lilin-lilin dinyalakan dan para biksu berjalan mengitari area dalam candi melakukan prosesi Pradaksina.

candi borobudur

Kami jalan lagi ke arah depan stage, ceritanya mau dapet view pengunjung+stage utama+Borobudur. Usaha banget, jalan diantara ribuan orang. Diantara barisan pengunjung, panitia membelah kerumunan untuk jalan tamu-tamu kehormatan mereka menuju naik ke stage utama.
Sempat saat kami lagi nyari spot foto, panitia minta untuk bergeser buka jalan. Meski jadi berdesakan dengan yang lain, ya gapapa. Manut ama panitia. Apalagi panitianya sangat santun minta tolongnya. Malu dan gak tau diri lah kalau gak manut.

Akhirnya kami sampai di spot agak jauh ke belakang barisan pengunjung, persis menghadap stage utama. Meski jauh namun spot yang kami (saya lebih tepatnya) cari akhirnya kami dapatkan: view pengunjung+stage utama+Borobudur. Lalu kami duduk di area tersebut, beralaskan plastik yang sudah kami siapkan dan buka payung karena saat itu gerimisnya makin deras.

Di depan stage, panitia sudah menyiapkan karpet terpal orange untuk pengunjung duduk menikmati acara.

Pukul 19:30, hujan makin deras, emosi pengunjung mulai ga terkontrol karena acara tak kunjung dimulai. MC menenangkan pengunjung dan mengajak bersyukur atas berkah hujan yang turun. Ia menyebutkan “Hujan adalah berkah yang patut disyukuri”, ia juga mengingatkan akan ajaran Buddha mengenai pengorbanan.

Pengunjung menyambut dengan “Huuuu” keras.

Hah?! Saya siyok dengan reaksi pngunjung. Hellooo… Orang-orang ini sadar gak sih apa yang mereka lakukan?! Nyokap juga bilang hujan itu berkah dari Tuhan. Mungkin bagi umat Buddha pun juga demikian. Iya atau gak, gak pantes banget nih orang-orang nge-Huuu-in turunnya hujan. Iya, memang pengunjung jadi keujanan dan basah kedinginan, tapi ini nontonin acara outdoor di musim penghujan.

kerumunan pengunjung

MC umumkan acara belum dapat dimulai karena masih menunggu tamu-tamu kehormatan mereka antara lain Menteri Agama RI, Gubernur Jateng, dan beberapa pemuka agama Budha. “Maaf, acara belum dapat kami mulai karena masih menunggu kedatangan Menteri Agama, Suryadarma Ali,” kata pembawa acara. Sontak, pengunjung menyoraki dengan teriakan “huuuu” yang lebih panjang dan keras.
Tak sedikit yang memaki. “Huuu…. Lama!” “Kapan acara lampionnya?,” kira-kira begitu keluhan pengunjung-pengunjung itu. MC pun mencoba menenangkan pengunjung dengan menggunakan kata-kata mutiara dari kitab ajaran Buddha dan tentang ajaran Pengorbanan.
Saya yakin seyakin-yakinnya, gak ada satupun panitia/umat Buddha yg menginginkan / menyengajakan hal tersebut. Saya jadi emosi dan malu dengan kelakuan pengunjung yang norak!! Ish.. gemes!!
Jam 8 malam, akhirnya tamu-tamu kehormatan datang. Kedatangannya disambut sorakan kecewa yang panjang dari pengunjung. Sorakan ini juga terdengar saat pak Menteri membacakan sambutan dan saat pemuka agama Buddha menyebutkan namanya.

Puncak candi borobudur

Sorakan kemarahan juga terdengar jelas saat Pak Gubernur memberikan sambutan yang menyelipkan pesan-pesan kampanye. Kebetulan, keesokan harinya merupakan hari pilkada Jawa Tengah. Yaaa… ini mah saya juga kesel. Sempet-sempetnya kampanye terselubung di acara keagamaan begini. Tapi ya gak nge-huuuu-in juga sih.

Saat sambutan dari pemuka agama Buddha, pengunjung pun terdengar tak bisa tenang. Di sana-sini terdengar suara teriakan dan tawa mereka. Rasanya pengen saya tempelengin satu-satu nih pengunjung yang ga bisa menghargai empunya acara!

 Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dari biksu-biksu sembilan majelis yang hadir saat itu.
Nah ini, kekesalan saya memuncak pada pengunjung-pengunjung yang gak tau diri.
Saat itu hujan masih turun deras, dan mirisnya pada saat pembacaan doa, pengunjung meringsek naik ke panggung untuk mengambil gambar dari jarak dekat. Oh my God, it’s a chaos!! Sang pemimpin doa yang menggunakan mic pun meminta tolong dengan sangat agar pengunjung turun dari stage utama.

view bodobudur dan stage utama

Saya sudah tak mengerti lagi dimana empati para pengunjung yang gak sopan itu. Selama ini saya hanya sering melihat dari foto maupun video saja. Saat itu, kejadian tak mengenakkan tersebut terjadi di depan mata saya.

Prosesi puncak ibadah Waisak ini udah gak khusuk lagi bagi saya. Semoga para biksu memiliki ketahanan mental yang berkali lipat dari saya sehingga gangguan dari pengunjung gak mengganggu konsentrasi ibadah mereka, Amin!

Akhirnya, saya dan teman-teman meninggalkan lokasi perayaan pukul 23.00 malam. Itu belum sampai selesai dan pelepasan lampion ditunda karena cuaca tidak memungkinkan. Pengunjung yang sudah membayar, pulang dengan bersungut-sungut. Ya kalo cuma mau nerbangin lampion mah di mana aja juga bisa, ga perlu ganggu ibadah umat lain lah. Wishes kalian juga tak kan terkabul dengan bersungut-sungut seperti itu, hehehe..

So, guys, tolong banget ya. Kalau mau datang ke perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur, please behave.. Itu acara keagamaan umat Buddha. Mereka senang koq bisa berbagi kebahagiaan dengan memperbolehkan acara ibadahnya ditontonin khalayak banyak. Tapi mereka lagi ibadah. Bayangkan kita lagi beribadah terus ada gangguan dari umat agama lain, ga asik kan?! Saling menghormati ya 🙂

“Filosofi Kopi” the movie

Entah kapan baca buku kumpulan cerpennya Dee Lestari yang Filosofi Kopi ini. Sangking sudah lamanya, saya pun juga sudah lupa sama sekali dengan jalan cerita di cerpennya itu. Mungkin sekitar satu dekade yang lalu, sekitar tahun 2005, seingat saya.

poster film filkop

Buzz film ini memang santer di timeline media sosial yang saya follow, bahkan sejak filmnya belum rilis. Membuat saya berniat menontonnya. Pertama, karena disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko. Saya menggemari karya-karyanya sejak lama. Dari jaman dia bikin videoklipnya Maliq n D’Essentials, film Hari Untuk Amanda, sampai si Filosofi Kopi ini.

filosofi kopi cerpenKedua, karena film ini diangkat dari tulisannya Dee Lestari. Ga mudah mengejawantahkan karya tulis ke dalam karya audio visual seperti film. Dan sejauh ini, karya karya tulisnya Dee Lestari berhasil diangkat menjadi karya audio visual baik dalam bentuk videoklip lagu maupun film. Ada sensasi yang berbeda saat membaca tulisannya, mendengarkan lagu/musiknya, dan menonton filmnya. Dan saya ingin merasakan sensasi itu lagi saat menonton Filosofi Kopi ini.

Ketiga, saya memang doyan nonton film Indonesia genre non-horror. Keempat, Chicco men! Eh bener kan spellingnya?!? Kayaknya sih bener.. Ini artis sinetron yang kini sudah menjelma jadi artis layar lebar. Gilak, dulu saya kerjaannya mantengin sinetronnya Chicco setiap episode, tiap hari, tiap menit! Sejak nonton film Cahaya dari Timur, kayak gak ada sisa sisa aktor sinetron stripping di karakternya Chicco, bahkan saya sampai lupa bahwa itu Chicco, si artis sinetron stripping yang pernah saya brief di backstage salah satu event awarding di salah satu TV swasta beberapa tahun silam, yang lagi akting jadi pelatih bola. *standing applause*

Review ini bukan untuk memberikan spoiler buat yang belum menontonnya, hehehe… Saya menikmati alur plot ceritanya yang sebenarnya simple, sederhana, dan ringan, pacing tidak terlalu cepat maupun lambat, pas! Konflik pun tidak menukik tajam (seperti film-film bergenre drama kebanyakan), tapi mampu memberikan efek dramatis yang mendalam. Film yang dengan santai menggulirkan kisah kecintaan pada profesi, pada biji kopi, pada persahabatan, dan akhirnya pada inti dari semuanya, keluarga.

Filosofi Kopi mengangkat settting cerita kekinian yang coba di-blend dengan conventional value. Ben dan Jody. Ben mewakili si seniman kopi conventional yang punya obsesi besar. Jody mewakili si business-man urban yang rasional. Plot utama cerita ada pada kisah pertarungan ego keduanya, baik terhadap satu sama lain maupun akhirnya terhadap diri mereka sendiri. Tokoh El masuk sebagai “ujian” keseimbangan antara Ben dan Jody, yang membuat mereka berjarak untuk kemudian bisa sampai pada titik keseimbangan yang lebih ajeg.

Tapi ada sedikit hal yang buat saya ini mengganggu, hal teknis sih. Mungkin kalau pas menonton, kamu gak menyadari hal ini bakalan biasa aja. Masalahnya, saya ngeh! Pergerakan kamera kurang smooth, terutama pada scene yang sebenernya bisa stand-still aja, bener gak sih istilahnya gitu? Jadi terkesan kameranya goyang-goyang. Kalau menyadari hal ini, nontonnya jadi gak nyaman. Jadi selama menonton, saya coba mengabaikan hal tersebut.

Secara keseluruhan, saya menikmati film Filosofi Kopi ini. Film ini mampu menumbuhkan emosi positif menyenangkan dan melegakan setelah menontonnya, jadi kalau ada yang ngajak nonton film ini lagi, saya pasti mau! Tontonlah, dukung Film Indonesia Berkualitas, yuk sebelum film ini turun dari jaringan bioskop Indonesia. 😀

#KrakatoaTrip: The Itinerary

Liburan ke Kepulauan Krakatau, bagi orang Jakarta yang ingin berwisata alam yang rada jauh (gak di sekitaran Kepulauan Seribu), rasanya cukup affordable. Tidak memakan banyak waktu (tidak perlu cuti), murah (budget di bawah satu juta), dan bisa menikmati wisata pantai, gunung, snorkeling, bahkan diving di satu area!

Saya dan beberapa teman, — teman kantor MP, teman SMA, teman kuliah di Psiko, teman kuliah di Belanda, dan temannya teman kantor — (total berenambelas) mengikuti trip Krakatau di akhir Oktober 2014 kemarin. Saat itu masih masuk musim panas/kemarau. Dari banyak paket trip yang ditawarkan, kami memilih bergabung bersama Langlang Buana travel agent (dengan harga paket 325000 IDR dan 75000 IDR untuk sewa alat snorkeling). Sebenarnya, kalau Googling mah banyak banget travel agent yang punya paket trip ke Krakatau dengan berbagai gimmick tentunya. Tinggal pilih yang mana yang paling sesuai kantong dan bisa memenuhi kebutuhan kita saja. Misalnya ada paket trip yang menawarkan bermalam di tenda di pinggir pantai Gunung Anak Krakatau, ada pula yang bermalamnya di rumah penduduk di Pulau Sebesi (satu-satunya pulau berpenghuni di kawasan Kepulauan Krakatau), ada juga yang menyelipkan gimmick menerbangkan lampion di pinggir pantai, dan sebagainya.

Meeting point mayoritas travel agent atau backpackers yang berasal dari Jakarta adalah di Slipi Jaya. Dari situ, guide akan mengarahkan peserta trip untuk naik bis jurusan Pelabuhan Merak. Sebagian travel agent lainnya, meeting point-nya langsung di Pelabuhan Merak, tepatnya di depan Dunkin Donuts (dianggap sebagai spot paling eye-catching).

Dari Pelabuhan Merak, kami naik kapal fery menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Perjalanan memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Selama itu, kami dibebaskan mencari tempat duduk/berdiri/tidur sendiri. Kondisi saat itu, tengah malam dini hari. Ruangan VIP dan ruangan biasa sudah penuh saat kami tiba di depan pintu masuknya. Yak, siapa cepat, dia dapat. Kami pun memilih dek atas kapal untuk numpang tidur karena cenderung tidak gerah. Selama gak hujan sih aman bermalam di atas dek, pastikan saja menggunakan jaket, penutup kepala, atau apapun lah biar gak masuk angin. 

 

Semacam belum puas berada di dek kapal fery, maka di kapal kecil ini pun kami pilih di atas kapal, hahaha… 

 Tiba di Pelabuhan Bakauheni, kami langsung menuju terminal Bakauheni dan naik angkot yang sudah dicarter travel agent kami untuk menuju Pelabuhan Canti. Perjalanan memakan waktu kira-kira satu setengah jam. Tiba di sana, paket sarapan sudah menanti. Sembari menunggu kapal datang, kami shubuhan, sarapan, cuci muka, ganti baju, buang air. Well, meskipun tersedia toilet di sana, namun sangat tidak disarankan untuk mandi karena kondisinya sangat ramai orang yang mau gantian ke toilet. Lagian ngapain mandi deh, wong mau dijemput kapal untuk ke spot main air, hehehe.. Kalau gak betah, disarankan untuk bawa tissue basah untuk “mandi darurat”.

Pantai Sebuku

karang di pantai Sebuku

Pantai Sebuku

Kapal pun datang dan langsung membawa rombongan ke destinasi pertama, Pulau Sebuku! Di pulau in, kami hanya main-main air di pantai. Pemandangannya sangat cantik, gradasi warna dari pantai ke arah pulau di seberangnya sangat memanjakan mata. Pasirnya juga pun sangat putih, bersih, dan halus seperti tepung, meski pun banyak karang di sekitar area pantainya. Ini pulau paling bagus kayaknya nih!

Puas bermain dan berfoto-foto narsis di Pulau Sebuku, rombongan menuju Pulau Sebesi untuk “check in” di rumah penduduk, istirahat sejenak, makan siang, dan berganti pakaian siap-siap untuk snorkeling. Makan siang disediakan di aula desa yang letaknya di dekat dermaga pantai.

Di dekat aula desa, ada warung kecil yang menjajakan makanan ringan ala desa seperti pisang goreng (MUST TRY! Enak banget, men! Rasanya beda dengan pisang goreng ala kota), aneka gorengan lainnya, Indomie, kopi hitam, teh manis, dll. Biasanya sembari nunggu antrean makan, peserta trip jajan di warung ini.

Setelah makan siang, kami pun berangkat menuju spot snorkeling di Geligi. Setelah puas ber-snorkeling ria, kami pun beranjak ke Pulau Umang untuk bermain dan berenang lucu di area pantainya. Meski tidak snorkeling di Pulau ini, namun eksplorasi sekitar pulaunya juga merupakan aktivitas yang menyenangkan! Ada banyak batu-batu hitam besar di sekitar pantai Pulau Umang, namun pasirnya sangat lembut.

Pantai Umang

foto bareng di Pantai Umang

Foto bareng di Pantai Umang

Beranjak petang, kapal kami pun mulai bergerak lagi. Kami pikir mau ke spot yang “tidak bergerak” lagi untuk mengabadikan momen matahari tenggelam. Nyatanya momen tersebut kami nikmati di atas kapal sembari menuju kembali ke Pulau Sebesi, hahahadeeuuh…


sunset pantai Umang

The golden sky at Umang Beach

Aktivitas malam di Pulau Sebesi hanya makan malam bersama di aula desa dan briefing singkat untuk aktivitas keesokan hari. Di rumah, kami tidur bersama di ruang tamu dan ruang TV, berjajar bagai ikan yang sedang dijemur, hehehe.. Rumah kecil ini muat untuk grup kami yang ber-enambelas orang. Biasanya listrik di pulau ini hanya tersedia dari jam 6 sore hingga 12 malam saja. Meski demikian, dari cerita ibu pemilik rumah, listrik di desa ini sering terputus, seperti saat kami di sana. Kebetulan pas ada kerusakan di gardu listrik desa sehingga selama beberapa hari, penduduk mengandalkan listrik dari genset. 

 

Kami, ber-enambelas, yang menginvasi satu rumah warga untuk menginap satu malam. Makasih Bu, Pak.. 😀 

 Dini hari, sekitar pukul dua pagi, alarm kami mulai memamerkan suaranya. Kami bergegas bangun dan bersiap cuci muka dan sikat gigi serta berganti pakaian. Sedari malam, saat listrik masih menyala, kami sudah menyiapkan barang-barang yang mau dikenakan dan dibawa karena di dini hari, listrik sudah dipadamkan lagi. Berbekal senter dan cahaya dari gadget, kami pun berjalan ke arah aula desa, berkumpul bersama rombongan yang lain.

Pukul tiga pagi, kapal mulai bergerak ke arah Gunung Anak Krakatau. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam, selama itu pula kami melanjutkan tidur kami, hehehe.. Ya dong, mau ngapain lagi coba? Pertama, itu masih jam tidur. Kedua, yaa masih gelap juga, ga ada pemandangan yang bisa dilihat di sekitar. Ketiga, itung-itung sembari mengumpulkan tenaga, hari masih panjang ciiin!

Pukul lima, kapal mendarat di pantai Gunung Anak Krakatau. Rombongan pun bersiap memulai pendakian. Gunung Anak Krakatau merupakan area tak berpenghuni. Meskipun demikian, di dekat pantai, terdapat langgar (musholla kecil) dan toilet darurat. Cerita lengkap mengenai kisah pendakian saya dan teman-teman bisa dibaca di sini. 

   

 

 Pastikan perut ada isinya ya saat memulai pendakian, yaa ngemil-ngemil dikit mah cukup. Jangan lupa bawa air minum, sampai di atas sana pasti haus. Tiba lagi di pantai setelah pendakian, travel agent kami sudah menyiapkan sarapan nasi uduk dalam box-box makan. Anyway, makanannya enak! Entah karena saya yang kelaparan habis trekking atau ya memang enak dan kebetulan saya suka nasi uduk juga.

Saya : “Gila, banyak banget nih nasinya.. Ga bakal abis nih gue, kebanyakan!

Dion: “Wah iya, berdua aja ya, Dzan.. Lo makan duluan aja?

Saya: “Gapapa nih, gak barengan aja? Ok, Gue duluan yak…

Beberapa saat kemudian,

Saya: “Yon, makanannya enak loohh, lo ga mau makan sendiri aja?” *sambil nunjukin box makan saya yang tadinya mau dimakan berdua ama Dion tapi nyatanya saya habiskan sendiri*

Dion: “Laper Dzan?! Hahhahaa… Yaudah, abisin aja.. gue ga biasa makan pagi soalnya nih… Makanya tadi ngajakin berdua aja pas lo bilang nasinya kebanyakan

Setelah turun gunung dan sarapan, kami beranjak menuju Lagoon Cabe untuk snorkeling! It was amazing! Airnya segar dan view di bawah air pun bagus. Gak kalah dari yang saya pernah lihat Kepulauan Komodo. Memang saat itu cuaca lagi bagus, jadi pantulan warna karang dan coral bawah lautnya pun juga jadi cerah. 

 

 

 Setelah snorkeling di Lagoon Cabe, kami kembali ke penginapan untuk bersih-bersih dan check out. Kami berpamitan dengan ibu pemilik rumah dan kembali berkumpul di aula desa untuk makan siang.

Pukul satu siang, kapal kami mulai bergerak meninggalkan Pulau Sebesi menuju dermaga Canti, Lampung. 

 

 

See ya, Gunung Anak Krakatau! 

Kapal fery yang membawa kami kembali ke Pulau Jawa 

Perjalanan hingga sampai di Jakarta lagi memakan waktu kira-kira duabelas jam. Iyak betul, perjalanan PP menghabiskan satu hari sendiri sebenarnya nih! Saya sendiri tiba di Bekasi pukul satu dini hari. Anyway, the trip was so fun!

Let’s get cooking!

*judulnya minjem tagline dari channel kokiku.tv*

Saya adalah orang yang ga bisa enjoy ada di dapur. Selain karena ga tau mau ngapain di dapur, tempat itu merupakan tempat paling sering saya ngalamin accident. Dari mulai kompor meleduk, gelas pecah yang merobek jari kelingking saya, sampai kepleset jatuh yang entah udah berapa kali. Pokoknya saya ga betah berlama lama di dapur dan berinteraksi dengan peralatan dapur deh.

Beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk keluar dari rutinitas pekerjaan saya. Salah satu faktor pendorongnya adalah saya ingin punya waktu lebih untuk melakukan atau belajar hal hal baru lain yang selama ini rasanya sulit diselipkan diantara rutinitas kerja. Salah satunya mengakrabkan diri dengan dapur.

Memang sudah setahun belakangan saya senang bikin light food/drink semacam jus, smoothies, dan minuman lainnya. Sementara untuk mengolah makanan, baru mentok di mie instan, sup krim instan, telur dadar, dan martabak mie. Itupun mesti manggil adik saya untuk sekedar bantu nyalain kompor. Iyah, setelah insiden komper mleduk beberapa tahun silam, saya trauma nyalain kompor sendiri.

Niat mengakrabkan diri dengan dapur pun makin terdorong dengan kebawelan si pacar (bahkan sejak dari zaman pdkt -___-“) yang pengen woman abilities saya meningkat, terutama pada bagian cooking ability! Oke dear.. :*

Makanan pertama yang saya buat adalah puding coklat. Yang memang sih, bikinnya puding instan gitu. Tapi senang banget pas pudingnya berhasil jadi dessert yang enak, hehehe..

Sama halnya seperti ngajarin anak kecil, mulai dari yang mudah dulu. Biarkan merasakan keberhasilan untuk memupuk kepercayaan diri dan self esteem. Baru kemudian, level kesulitannya dinaikkan.

Suatu hari saat sedang asik gonta ganti channel, saya menemukan program acara “Urban Cook” di channel AFC. Ini acara masak-masak yang dibawakan dengan style MTV. Ga deng! Hahaha… Host merangkap chef-nya membawakan acara ini dengan santai, anak muda, ngegampangin banget! Sesuai dengan nama programnya, Urban Cook, resep dan cara membuatnya dikemas semudah mungkin. Tidak seperti acara serupa yang host dan chefnya tuh kaku dan terkesan ribet dengan segala resepnya yang segambreng. Penonton (baca: saya) pun jadi tertarik untuk nyoba masak resep-resep yang dia bawakan di acara tersebut.

Selepas menonton acara itu, saya langsung browsing ke fanpage-nya Urban Cook Kompas di Facebook, account chefnya @Yudabustara di Instagram, dan channel serupa “Kokiku.tv” di Youtube. Benar-benar pas untuk masyarakat urban, easy to access via socmed, two-way interactionnya juga jalan (kalau bingung, bisa langsung tanya ama chefnya), resepnya update, dan chefnya ga bosan meng-encourage followersnya bahwa resepnya nih mudah. Ah, rasanya pengen segera mencoba semua resepnya!

Sejauh ini, baru berhasil mencoba bikin minuman dan makanan sarapan atau dessert sih. Masih yang sesuai minat. Belum berani bikin yang makanan besar. Step by step kali ya, hehehe..

Let’s get cooking! 😀

#FloresTrip : Meet the KOMODO !!

26 Mei 2014.

Loh Buaya, Pulau Rinca, merupakan lokasi pusat kunjungan wisatawan yang mau melihat komodo, si reptil purba raksasa dari jarak “dekat” di habitat aslinya. Selain di Pulau Rinca, ada beberapa pulau lagi habitat komodo di dalam TN Komodo ini yakni di Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Gili Motang, Pulau Nusa Kode, dan juga pulau-pulau lain yang lebih kecil. Meskipun demikian, komodo tak lagi ditemukan di Pulau Padar, jadi yang mau trekking di Pulau Padar, Insha Allah, aman (huuuff…). Luas TN Komodo sendiri mencapai 173 ribu hektar meliputi wilayah darat dan lautan. Hey, komodo bisa berenang lhoo.. Ati-ati yaa kalau lagi snorkeling di area ini.. Gak deng, katanya sih sudah jarang ditemukan komodo yang asik berenang di spot snorkeling di area TN Komodo ini 😀

IMG_5305Bersebelas di Dermaga Loh Buaya

file000483Our boat

Kawasan ini ditetapkan menjadi TN Komodo sejak tahun 1980. Kemudian ditetapkan pula menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Beberapa tahun lalu, tepatnya 2011, kawasan ini masuk dalam The New 7 Wonders, bersama dengan Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain.

IMG_0633_OKLoh Buaya sendiri merupakan kawasan yang berbukit dengan hutan hujan, padang savanna, dan pantai.

file000335file000339Inget, Komodo bukan Komedi, apalagi Komedo.. Hahahaadeuhh.. :p

Komodo sendiri merupakan hewan berjenis reptil purba yang kini terancam punah. Oleh karena itu, Taman Nasional Komodo dibangun untuk menjaga habitat asli, meneliti, dan melindungi komodo dari kepunahan. Saat kami ke sana, ranger (sebutan untuk guide di TN Komodo) mengatakan total tersisa dua ribuan komodo tersebar di area TN Komodo, terutama di hutan hujan, area savanna, dan di pinggir pantai. Komodo adalah hewan karnivora atau pemakan daging, termasuk bangkai binatang yang sudah mati. Umumnya mereka hanya memakan sesama hewan pula, tapi kalau ia sangat lapar atau ada kondisi yang menyebabkannya menjadi lebih agresif, ia bisa pula menyerang manusia. Jangankan pengunjung atau peneliti, komodo pun beberapa kali menyerang sejumlah ranger.

file000364Si Kolor Ijo lagi bermales-malesan di walking track. Komodo satu ini diberi tanda cat hijau di tubuhnya karena sudah menyerang korban dalam beberapa waktu terakhir, salah satunya ranger di TN Komodo sendiri 😥 Itu penampakan Bendi, guide kami.

file000358See that monkeys? Itu hewan makanannya si komodo. Mereka dan juga hewan-hewan hutan lain seperti ular, babi hutan, burung, dll dibiarkan hidup bebas untuk (secara bebas pula) dimangsa oleh komodo. TN Komodo memang tidak secara khusus memberikan santapan secara rutin kepada komodo, katanya mah biar gak ngemanjain komodonya. Ntar makin males nih hewan disuapin makanan, jadi memang dikondisikan senatural mungkin di habitatnya. So, kalau lapar mau makan, buru sendiri mangsanya, berantem rebutan dulu antar sesama komodo.

file000368Salah satu komodo lagi “bersantai” di depan guest house. Pintu itu harus selalu tertutup, pintu kamar, pintu dapur, pintu kantor TNK.. Ya agar komodo gak nyelonong masuk. Bahaya!!

Komodo ini hewan pemalas, kata ranger kami. Setiap hari hanya tidur-tiduran saja, slow moving. Tapi, kita manusia harus terus waspada pada setiap komodo yang kami temui. Memang terlihat sangat malas, tapi bisa jadi ia sedang berkonsentrasi mengincar mangsanya. Kelihatannya anteng ga bergerak, dalam sekejap tau-tau bisa berlari mengejar mangsa. Uniknya, komodo menggunakan lidah untuk mencium bau, hingga jarak 5 kilo. Dan di lidahnya itu berlumur air liur dengan segambreng bakteri yang mematikan. Jadi kalau kena gigit, bukan robekannya yang mematikan, melainkan bakteri yang terkandung di air liurnya yang bikin mati. Gila emang nih hewan purba satu! Gokils!

IMG_0645_OKBeberapa sisa santapan komodo

Untuk para perempuan, please note, jangan kemari saat lagi haid. Kalaupun pas kebetulan lagi haid, stay ajah di kapal ya! Ya sayang sih, udah jauh-jauh ke Flores tapi ga ketemu Komodo, tapi lebih sayang nyawa kan yah?! Hehehe… Kalau masih sempat, coba pergi ke apotek beli obat untuk memperlambat datangnya haid. Kebetulan reptil purba satu ini cukup sensitif dan bisa jadi agresif kalau mencium bau darah.

file000342Jalan setapak menuju kantor TNK dan walking track TNK

IMG_7416Ibu calon menteri foto dulu depan kantor TNK :p

Turun di dermaga, kami disambut seorang guide lokal TN Komodo untuk mengikuti jalan setapak menuju kantor TNK. Setelah melapor di kantor TNK, kami melanjutkan trekking ditemani oleh seorang ranger. Ia membawa kami ke sebuah papan berisi peta Loh Buaya dan lima pilihan jalur trekking (2 short trekking, 2 medium trekking, dan 1 long trekking). Selain meminta kami untuk memilih jalur trekking yang ingin kami lewati, ranger juga memberikan brief singkat mengenai Dos and Donts selama berada di kawasan Loh Buaya ini. Sebagian dari kami memilih jalur trekking paling pendek (karena masih berasa capek trekking tiga jam pagi hari tadi).

file000354Ini ranger kami (saya lupa namanya -__-*) lagi ngasih brief singkat soal lima pilihan jalur trekking yang bisa dilalui.

???????????????????????????????Kami yang banyak nanya ini itu dan bapak ranger yang gak lelah ngasih brief singkat DOs and DONTs selama di area TNK ini.

Di area ini pula, terdapat cafetaria, dapur, dan guest house. Belum jalan trekking, kami sudah bertemu sekumpulan komodo sedang bermalas-malasan di bawah dapur. Ya, aroma masakan tak hanya menggoda hidung manusia, komodo pun betah berada di dekat area dapur. Bagi yang juga malas ikut trekking, bisa stay nunggu di cafetaria sambil menonton sekumpulan komodo di dekat area dapur. Tapi jangan berharap banyak di cafetarianya karena hanya menjual snack ringan, minuman kemasan, mie instant kemasan (tidak bisa sekalian dimasakin), juga beberapa aksesoris buah tangan seperti kaos, stiker, gantungan kunci, boneka ala TN Komodo. Kalau tujuan utama kemari hanya mau lihat komodo saja sih ya sudah terpenuhi nih tanpa trekking yang short trek pun.

file000374Ini dapur. Lihat apa yang lagi gegoleran bermalas-malasan di bawahnya!!

file000430Ini si Kolor Ijo, lihat tanda di badannya. Kecil amatan yak, tapi ya mungkin nandain gitu aja juga susah bin ngeri sik.. Hiii…

Rombongan kami pun mulai berjalan. Baru seratusan meter berjalan, kami sudah tiba area liang telur komodo. Pada spot ini, komodo betina menyimpan dan menetaskan telur-telurnya. Musim menikah bagi komodo hanya setahun sekali. Komodo adalah hewan yang setia, tidak suka berganti-ganti pasangan, kecuali pasangannya mati dimangsa komodo lain ia cenderung tak berganti pasangan. Setia, sekaligus jahat juga. Jika sedang lapar dan ga ada mangsa, telur-telur komodo saat menetas bisa langsung disantapnya. Eeerrgghh! Kejam!

file000393Salah satu liang penyimpanan dan penetasan telur Komodo. Kata ranger, pada saat kami ke sana, bukan di masa kawin dan nyimpen telur jadi itu liangnya juga kosong. Bikin liang ini juga tidak mudah bagi Komodo, mereka mesti rebutan ama hewan lain dan juga dengan sesama komodo. Arti “rebutan” bagi komodo itu ya bertarung nyawa, yang survive tetap hidup lah yang akan dapet hal yang direbutkan (liang telur, komodo betina, mangsa, dll).

file000452Salah satu anak komodo usia di bawah satu tahun lagi asik tiduran di atas pohon. Ini kami temukan di pohon tepat depan kafetaria.

Anak komodo yang baru bertelur secara otodidak belajar memanjat pohon untuk survival, menghindari komodo-komodo dewasa lapar yang bisa memangsanya. Selama baru menetas hingga usia dua tahun, anak-anak komodo akan langsung terpisah dari orangtuanya dan survive sendiri di atas pohon.

file000420file000396Aslik deh, ngeliat mereka ini jalan-jalan, ngerinya setengah matik! Gak kebayang mereka lari. Duh, bisa pingsan di tempat kali gw.. hehehe..

Kalau suatu hari ketemu komodo dengan perut menggembung lagi asik tidur-tiduran di bawah matahari yang lagi menyengat, kemungkinan besar dia lagi “masak”. What? Gimana maksudnya? Kalau manusia mau makan daging kan biasanya dimasak dulu yaah di kompor. Kalau komodo masaknya saat itu daging udah ada di dalam perutnya. Agar dapat dicerna lebih baik, ia akan mencari tempat yang panas dan tidur-tiduran di sana. Komodo mah ga setiap hari makan, jadi makanannya disimpan dan dicerna secara bertahap di dalam lambungnya.

IMG_7482Lihat muke saya, super ngeriii…. 😀

IMG_7500Saya dan beberapa teman rasanya sudah puas berjalan sampai di liang bertelurnya komodo. So, kami berjalan balik ke arah dapur untuk motret komodo di sana. Sementara itu, lima dari kami meneruskan trekkingnya. Bravooo kakak Setian, Tasya, Siska, Felona, dan Anita!! Mereka berhasil menyelesaikan short trekking full dan menemukan view yang luar biasa di atas bukit Loh Buaya! Very recommended untuk menyelesaikan full track (mau yang pendek, medium, maupun yang panjang).

IMG_0700_OKView dari atas bukit Loh BuayaIMG_0713_OKMereka yang berhasil menyelesaikan short track.. Wooohoooo!!

Untuk berfoto bersama komodo diperlukan keberanian tingkat tinggi. Saya sendiri hanya berani paling dekat sampai radius dua meter, hohoho… Bulu kuduk berdiri mulu, apalagi kalau komodonya lagi berjalan atau menatap tajam ke arah kita, hii… Terima kasih untuk Bendi, our guide, yang mau bantu foto-fotoin komodo dalam jarak yang lebih dekat lagi.

IMG_0656_OKLama kelamaan, berani juga foto dari jarak segini… Thanks Bendi! 😀

???????????????????????????????

Sampai jumpaaa lagii, Komodos…

*Some photos courtesy of Tasya, Anita, and Mas Dito.