Belajar menghormati perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur

Puncak perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur selalu menarik banyak wisatawan, termasuk saya dan temen-temen saya yang belum pernah menyaksikan langsung. Tahun 2013 lalu, kami pun pergi ke Yogya, khusus untuk menyaksikan langsung perayaan umat Buddha langsung di Candi Borobudur. Sama dengan kebanyakan turis lainnya, kami pun menanti ritual pelepasan seribu lampion, yang menjadi penanda berakhirnya prosesi Waisak tahun ini.

Ritual prosesi ibadah Waisak biasanya sudah dimulai dari hari sebelumnya. Namun, biasanya ga banyak diikuti oleh para turis. Makin mendekat ke puncak perayaan, makin banyak turis yang ingin menonton.

Pada hari tersebut sedari pagi hari, sudah berlangsung prosesi kirab biksu dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, salah satu bagian dari prosesi Waisak. Beberapa jalan yang menghubungkan Candi Mendut dan Candi Borobudur pun ditutup sedari pagi. Kalau ingin mengikuti proses sedari pagi hari, pastikan sudah mempelajari rute utama dan jalan alternatifnya. Semakin sore, akan semakin banyak turis yang bergabung untuk menyaksikan. Kemacetan di jalan arah Candi Borobudur tak kan terhindari menjelang sore hari.

Beruntungnya rombongan kami dipandu oleh orang yang paham medan (bukan Medannya Sumut yak :p), sehingga kami ga terlalu lama kejebak macet.

Pastikan sudah tiba dan masuk area Candi Borobudur sebelum jam 5 sore, karena pada jam tersebut pintu masuk akan ditutup untuk persiapan perayaan prosesi puncak Waisak. Paling lambat banget satu jam sebelumnya sudah harus tiba, karena mesti spare waktu untuk ngantri tiket masuk dan jalan ke pintu masuknya.

Sekalian mau pengakuan dosa nih. Mestinya saat masuk ke area wisata Candi Borobudur, kami tidak diperkenankan bawa makanan, tapi kami malah menyelundupkan makanan yang sudah kami persiapkan. But we promise to not nyampah there. We did it! Di dalam area sana pasti akan lama sekali, paling tidak bocah-bocah yang bersama saya ini tak kan rewel soal haus dan lapar. :p

Saat memasuki area taman wisata Candi, sempatkan lah membaca tata cara jalan-jalan di area candi. Ada yang ngeh gak aturan jalan-jalan di Candi Borobudur? Jadi, ada aturannya nih Guys. Kalo masuk dari arah Barat, maka keluar/turunnya gak boleh dari Barat lagi, musti dari arah lain. Trus di setiap lantai mau muter, musti belok kiri dan berjalan searah jarum jam (jadi naik tangga, lalu belok kiri ngiterin candi), trus keluar/turun dari tangga arah yang berbeda dengan tangga masuk.

candi borobudur disterilkan dari pengunjung

Singkat cerita, kami tidak sempat naik ke candi karena sudah jam 5 dan area candi hendak disterilkan untuk persiapan prosesi. Kami pun beranjak ke area perayaan Waisak, panggung utama. Tim saya yang bersebelas ini pun berpisah sesuai dengan maunya masing-masing.

Saya dan dua orang teman mendapatkan spot asik di pinggir stage utama sebelah kanan. We were so excited!! Saat itu, sudah banyak pengunjung yang duduk-duduk memenuhi bibir stage bagian depan, banyak yang udah ready dengan alat perangnya: SLR cam + Tripod + aksesoris2 tambahannya.

pelataran stage utama

Panitia berpolo shirt “Buddhis Muda Indonesia” bikin amazed saat mereka membersihkan stage. Benda-benda asing, kerikil, daun-daun yang jatuh, serangga-serangga yang ada di atas stage, dipungut-pungutin. Detail banget. Segitunya musti bersih nih stage utama untuk dijadikan area prosesi puncak ibadah Waisak. Serangga yang belum mati, dipungut lalu dipindahkan ke pot bunga di pinggir stage. Dikembalikan ke habitatnya.

Suasana di belakang stage depan dan sekitar candi pun sudah ramai. Di sana, ada lilin-lilin kecil berpola yang siap dinyalakan. salah satu bagian pola bertuliskan “Happy Vesakday”.

lilin waisak

Tepat di depan deretan lilin-lilin juga sudah banyak pengunjung yang duduk-duduk sambil mengenakan payung. Sebagian diantaranya juga sudah ready dengan alat perang fotografinya. Mereka menunggu momen lilin-lilin dinyalakan dan para biksu berjalan mengitari area dalam candi melakukan prosesi Pradaksina.

candi borobudur

Kami jalan lagi ke arah depan stage, ceritanya mau dapet view pengunjung+stage utama+Borobudur. Usaha banget, jalan diantara ribuan orang. Diantara barisan pengunjung, panitia membelah kerumunan untuk jalan tamu-tamu kehormatan mereka menuju naik ke stage utama.
Sempat saat kami lagi nyari spot foto, panitia minta untuk bergeser buka jalan. Meski jadi berdesakan dengan yang lain, ya gapapa. Manut ama panitia. Apalagi panitianya sangat santun minta tolongnya. Malu dan gak tau diri lah kalau gak manut.

Akhirnya kami sampai di spot agak jauh ke belakang barisan pengunjung, persis menghadap stage utama. Meski jauh namun spot yang kami (saya lebih tepatnya) cari akhirnya kami dapatkan: view pengunjung+stage utama+Borobudur. Lalu kami duduk di area tersebut, beralaskan plastik yang sudah kami siapkan dan buka payung karena saat itu gerimisnya makin deras.

Di depan stage, panitia sudah menyiapkan karpet terpal orange untuk pengunjung duduk menikmati acara.

Pukul 19:30, hujan makin deras, emosi pengunjung mulai ga terkontrol karena acara tak kunjung dimulai. MC menenangkan pengunjung dan mengajak bersyukur atas berkah hujan yang turun. Ia menyebutkan “Hujan adalah berkah yang patut disyukuri”, ia juga mengingatkan akan ajaran Buddha mengenai pengorbanan.

Pengunjung menyambut dengan “Huuuu” keras.

Hah?! Saya siyok dengan reaksi pngunjung. Hellooo… Orang-orang ini sadar gak sih apa yang mereka lakukan?! Nyokap juga bilang hujan itu berkah dari Tuhan. Mungkin bagi umat Buddha pun juga demikian. Iya atau gak, gak pantes banget nih orang-orang nge-Huuu-in turunnya hujan. Iya, memang pengunjung jadi keujanan dan basah kedinginan, tapi ini nontonin acara outdoor di musim penghujan.

kerumunan pengunjung

MC umumkan acara belum dapat dimulai karena masih menunggu tamu-tamu kehormatan mereka antara lain Menteri Agama RI, Gubernur Jateng, dan beberapa pemuka agama Budha. “Maaf, acara belum dapat kami mulai karena masih menunggu kedatangan Menteri Agama, Suryadarma Ali,” kata pembawa acara. Sontak, pengunjung menyoraki dengan teriakan “huuuu” yang lebih panjang dan keras.
Tak sedikit yang memaki. “Huuu…. Lama!” “Kapan acara lampionnya?,” kira-kira begitu keluhan pengunjung-pengunjung itu. MC pun mencoba menenangkan pengunjung dengan menggunakan kata-kata mutiara dari kitab ajaran Buddha dan tentang ajaran Pengorbanan.
Saya yakin seyakin-yakinnya, gak ada satupun panitia/umat Buddha yg menginginkan / menyengajakan hal tersebut. Saya jadi emosi dan malu dengan kelakuan pengunjung yang norak!! Ish.. gemes!!
Jam 8 malam, akhirnya tamu-tamu kehormatan datang. Kedatangannya disambut sorakan kecewa yang panjang dari pengunjung. Sorakan ini juga terdengar saat pak Menteri membacakan sambutan dan saat pemuka agama Buddha menyebutkan namanya.

Puncak candi borobudur

Sorakan kemarahan juga terdengar jelas saat Pak Gubernur memberikan sambutan yang menyelipkan pesan-pesan kampanye. Kebetulan, keesokan harinya merupakan hari pilkada Jawa Tengah. Yaaa… ini mah saya juga kesel. Sempet-sempetnya kampanye terselubung di acara keagamaan begini. Tapi ya gak nge-huuuu-in juga sih.

Saat sambutan dari pemuka agama Buddha, pengunjung pun terdengar tak bisa tenang. Di sana-sini terdengar suara teriakan dan tawa mereka. Rasanya pengen saya tempelengin satu-satu nih pengunjung yang ga bisa menghargai empunya acara!

 Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dari biksu-biksu sembilan majelis yang hadir saat itu.
Nah ini, kekesalan saya memuncak pada pengunjung-pengunjung yang gak tau diri.
Saat itu hujan masih turun deras, dan mirisnya pada saat pembacaan doa, pengunjung meringsek naik ke panggung untuk mengambil gambar dari jarak dekat. Oh my God, it’s a chaos!! Sang pemimpin doa yang menggunakan mic pun meminta tolong dengan sangat agar pengunjung turun dari stage utama.

view bodobudur dan stage utama

Saya sudah tak mengerti lagi dimana empati para pengunjung yang gak sopan itu. Selama ini saya hanya sering melihat dari foto maupun video saja. Saat itu, kejadian tak mengenakkan tersebut terjadi di depan mata saya.

Prosesi puncak ibadah Waisak ini udah gak khusuk lagi bagi saya. Semoga para biksu memiliki ketahanan mental yang berkali lipat dari saya sehingga gangguan dari pengunjung gak mengganggu konsentrasi ibadah mereka, Amin!

Akhirnya, saya dan teman-teman meninggalkan lokasi perayaan pukul 23.00 malam. Itu belum sampai selesai dan pelepasan lampion ditunda karena cuaca tidak memungkinkan. Pengunjung yang sudah membayar, pulang dengan bersungut-sungut. Ya kalo cuma mau nerbangin lampion mah di mana aja juga bisa, ga perlu ganggu ibadah umat lain lah. Wishes kalian juga tak kan terkabul dengan bersungut-sungut seperti itu, hehehe..

So, guys, tolong banget ya. Kalau mau datang ke perayaan ibadah Waisak di Candi Borobudur, please behave.. Itu acara keagamaan umat Buddha. Mereka senang koq bisa berbagi kebahagiaan dengan memperbolehkan acara ibadahnya ditontonin khalayak banyak. Tapi mereka lagi ibadah. Bayangkan kita lagi beribadah terus ada gangguan dari umat agama lain, ga asik kan?! Saling menghormati ya 🙂

#KrakatoaTrip: The Itinerary

Liburan ke Kepulauan Krakatau, bagi orang Jakarta yang ingin berwisata alam yang rada jauh (gak di sekitaran Kepulauan Seribu), rasanya cukup affordable. Tidak memakan banyak waktu (tidak perlu cuti), murah (budget di bawah satu juta), dan bisa menikmati wisata pantai, gunung, snorkeling, bahkan diving di satu area!

Saya dan beberapa teman, — teman kantor MP, teman SMA, teman kuliah di Psiko, teman kuliah di Belanda, dan temannya teman kantor — (total berenambelas) mengikuti trip Krakatau di akhir Oktober 2014 kemarin. Saat itu masih masuk musim panas/kemarau. Dari banyak paket trip yang ditawarkan, kami memilih bergabung bersama Langlang Buana travel agent (dengan harga paket 325000 IDR dan 75000 IDR untuk sewa alat snorkeling). Sebenarnya, kalau Googling mah banyak banget travel agent yang punya paket trip ke Krakatau dengan berbagai gimmick tentunya. Tinggal pilih yang mana yang paling sesuai kantong dan bisa memenuhi kebutuhan kita saja. Misalnya ada paket trip yang menawarkan bermalam di tenda di pinggir pantai Gunung Anak Krakatau, ada pula yang bermalamnya di rumah penduduk di Pulau Sebesi (satu-satunya pulau berpenghuni di kawasan Kepulauan Krakatau), ada juga yang menyelipkan gimmick menerbangkan lampion di pinggir pantai, dan sebagainya.

Meeting point mayoritas travel agent atau backpackers yang berasal dari Jakarta adalah di Slipi Jaya. Dari situ, guide akan mengarahkan peserta trip untuk naik bis jurusan Pelabuhan Merak. Sebagian travel agent lainnya, meeting point-nya langsung di Pelabuhan Merak, tepatnya di depan Dunkin Donuts (dianggap sebagai spot paling eye-catching).

Dari Pelabuhan Merak, kami naik kapal fery menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Perjalanan memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Selama itu, kami dibebaskan mencari tempat duduk/berdiri/tidur sendiri. Kondisi saat itu, tengah malam dini hari. Ruangan VIP dan ruangan biasa sudah penuh saat kami tiba di depan pintu masuknya. Yak, siapa cepat, dia dapat. Kami pun memilih dek atas kapal untuk numpang tidur karena cenderung tidak gerah. Selama gak hujan sih aman bermalam di atas dek, pastikan saja menggunakan jaket, penutup kepala, atau apapun lah biar gak masuk angin. 

 

Semacam belum puas berada di dek kapal fery, maka di kapal kecil ini pun kami pilih di atas kapal, hahaha… 

 Tiba di Pelabuhan Bakauheni, kami langsung menuju terminal Bakauheni dan naik angkot yang sudah dicarter travel agent kami untuk menuju Pelabuhan Canti. Perjalanan memakan waktu kira-kira satu setengah jam. Tiba di sana, paket sarapan sudah menanti. Sembari menunggu kapal datang, kami shubuhan, sarapan, cuci muka, ganti baju, buang air. Well, meskipun tersedia toilet di sana, namun sangat tidak disarankan untuk mandi karena kondisinya sangat ramai orang yang mau gantian ke toilet. Lagian ngapain mandi deh, wong mau dijemput kapal untuk ke spot main air, hehehe.. Kalau gak betah, disarankan untuk bawa tissue basah untuk “mandi darurat”.

Pantai Sebuku

karang di pantai Sebuku

Pantai Sebuku

Kapal pun datang dan langsung membawa rombongan ke destinasi pertama, Pulau Sebuku! Di pulau in, kami hanya main-main air di pantai. Pemandangannya sangat cantik, gradasi warna dari pantai ke arah pulau di seberangnya sangat memanjakan mata. Pasirnya juga pun sangat putih, bersih, dan halus seperti tepung, meski pun banyak karang di sekitar area pantainya. Ini pulau paling bagus kayaknya nih!

Puas bermain dan berfoto-foto narsis di Pulau Sebuku, rombongan menuju Pulau Sebesi untuk “check in” di rumah penduduk, istirahat sejenak, makan siang, dan berganti pakaian siap-siap untuk snorkeling. Makan siang disediakan di aula desa yang letaknya di dekat dermaga pantai.

Di dekat aula desa, ada warung kecil yang menjajakan makanan ringan ala desa seperti pisang goreng (MUST TRY! Enak banget, men! Rasanya beda dengan pisang goreng ala kota), aneka gorengan lainnya, Indomie, kopi hitam, teh manis, dll. Biasanya sembari nunggu antrean makan, peserta trip jajan di warung ini.

Setelah makan siang, kami pun berangkat menuju spot snorkeling di Geligi. Setelah puas ber-snorkeling ria, kami pun beranjak ke Pulau Umang untuk bermain dan berenang lucu di area pantainya. Meski tidak snorkeling di Pulau ini, namun eksplorasi sekitar pulaunya juga merupakan aktivitas yang menyenangkan! Ada banyak batu-batu hitam besar di sekitar pantai Pulau Umang, namun pasirnya sangat lembut.

Pantai Umang

foto bareng di Pantai Umang

Foto bareng di Pantai Umang

Beranjak petang, kapal kami pun mulai bergerak lagi. Kami pikir mau ke spot yang “tidak bergerak” lagi untuk mengabadikan momen matahari tenggelam. Nyatanya momen tersebut kami nikmati di atas kapal sembari menuju kembali ke Pulau Sebesi, hahahadeeuuh…


sunset pantai Umang

The golden sky at Umang Beach

Aktivitas malam di Pulau Sebesi hanya makan malam bersama di aula desa dan briefing singkat untuk aktivitas keesokan hari. Di rumah, kami tidur bersama di ruang tamu dan ruang TV, berjajar bagai ikan yang sedang dijemur, hehehe.. Rumah kecil ini muat untuk grup kami yang ber-enambelas orang. Biasanya listrik di pulau ini hanya tersedia dari jam 6 sore hingga 12 malam saja. Meski demikian, dari cerita ibu pemilik rumah, listrik di desa ini sering terputus, seperti saat kami di sana. Kebetulan pas ada kerusakan di gardu listrik desa sehingga selama beberapa hari, penduduk mengandalkan listrik dari genset. 

 

Kami, ber-enambelas, yang menginvasi satu rumah warga untuk menginap satu malam. Makasih Bu, Pak.. 😀 

 Dini hari, sekitar pukul dua pagi, alarm kami mulai memamerkan suaranya. Kami bergegas bangun dan bersiap cuci muka dan sikat gigi serta berganti pakaian. Sedari malam, saat listrik masih menyala, kami sudah menyiapkan barang-barang yang mau dikenakan dan dibawa karena di dini hari, listrik sudah dipadamkan lagi. Berbekal senter dan cahaya dari gadget, kami pun berjalan ke arah aula desa, berkumpul bersama rombongan yang lain.

Pukul tiga pagi, kapal mulai bergerak ke arah Gunung Anak Krakatau. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam, selama itu pula kami melanjutkan tidur kami, hehehe.. Ya dong, mau ngapain lagi coba? Pertama, itu masih jam tidur. Kedua, yaa masih gelap juga, ga ada pemandangan yang bisa dilihat di sekitar. Ketiga, itung-itung sembari mengumpulkan tenaga, hari masih panjang ciiin!

Pukul lima, kapal mendarat di pantai Gunung Anak Krakatau. Rombongan pun bersiap memulai pendakian. Gunung Anak Krakatau merupakan area tak berpenghuni. Meskipun demikian, di dekat pantai, terdapat langgar (musholla kecil) dan toilet darurat. Cerita lengkap mengenai kisah pendakian saya dan teman-teman bisa dibaca di sini. 

   

 

 Pastikan perut ada isinya ya saat memulai pendakian, yaa ngemil-ngemil dikit mah cukup. Jangan lupa bawa air minum, sampai di atas sana pasti haus. Tiba lagi di pantai setelah pendakian, travel agent kami sudah menyiapkan sarapan nasi uduk dalam box-box makan. Anyway, makanannya enak! Entah karena saya yang kelaparan habis trekking atau ya memang enak dan kebetulan saya suka nasi uduk juga.

Saya : “Gila, banyak banget nih nasinya.. Ga bakal abis nih gue, kebanyakan!

Dion: “Wah iya, berdua aja ya, Dzan.. Lo makan duluan aja?

Saya: “Gapapa nih, gak barengan aja? Ok, Gue duluan yak…

Beberapa saat kemudian,

Saya: “Yon, makanannya enak loohh, lo ga mau makan sendiri aja?” *sambil nunjukin box makan saya yang tadinya mau dimakan berdua ama Dion tapi nyatanya saya habiskan sendiri*

Dion: “Laper Dzan?! Hahhahaa… Yaudah, abisin aja.. gue ga biasa makan pagi soalnya nih… Makanya tadi ngajakin berdua aja pas lo bilang nasinya kebanyakan

Setelah turun gunung dan sarapan, kami beranjak menuju Lagoon Cabe untuk snorkeling! It was amazing! Airnya segar dan view di bawah air pun bagus. Gak kalah dari yang saya pernah lihat Kepulauan Komodo. Memang saat itu cuaca lagi bagus, jadi pantulan warna karang dan coral bawah lautnya pun juga jadi cerah. 

 

 

 Setelah snorkeling di Lagoon Cabe, kami kembali ke penginapan untuk bersih-bersih dan check out. Kami berpamitan dengan ibu pemilik rumah dan kembali berkumpul di aula desa untuk makan siang.

Pukul satu siang, kapal kami mulai bergerak meninggalkan Pulau Sebesi menuju dermaga Canti, Lampung. 

 

 

See ya, Gunung Anak Krakatau! 

Kapal fery yang membawa kami kembali ke Pulau Jawa 

Perjalanan hingga sampai di Jakarta lagi memakan waktu kira-kira duabelas jam. Iyak betul, perjalanan PP menghabiskan satu hari sendiri sebenarnya nih! Saya sendiri tiba di Bekasi pukul satu dini hari. Anyway, the trip was so fun!

#FloresTrip : Meet the KOMODO !!

26 Mei 2014.

Loh Buaya, Pulau Rinca, merupakan lokasi pusat kunjungan wisatawan yang mau melihat komodo, si reptil purba raksasa dari jarak “dekat” di habitat aslinya. Selain di Pulau Rinca, ada beberapa pulau lagi habitat komodo di dalam TN Komodo ini yakni di Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Gili Motang, Pulau Nusa Kode, dan juga pulau-pulau lain yang lebih kecil. Meskipun demikian, komodo tak lagi ditemukan di Pulau Padar, jadi yang mau trekking di Pulau Padar, Insha Allah, aman (huuuff…). Luas TN Komodo sendiri mencapai 173 ribu hektar meliputi wilayah darat dan lautan. Hey, komodo bisa berenang lhoo.. Ati-ati yaa kalau lagi snorkeling di area ini.. Gak deng, katanya sih sudah jarang ditemukan komodo yang asik berenang di spot snorkeling di area TN Komodo ini 😀

IMG_5305Bersebelas di Dermaga Loh Buaya

file000483Our boat

Kawasan ini ditetapkan menjadi TN Komodo sejak tahun 1980. Kemudian ditetapkan pula menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Beberapa tahun lalu, tepatnya 2011, kawasan ini masuk dalam The New 7 Wonders, bersama dengan Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain.

IMG_0633_OKLoh Buaya sendiri merupakan kawasan yang berbukit dengan hutan hujan, padang savanna, dan pantai.

file000335file000339Inget, Komodo bukan Komedi, apalagi Komedo.. Hahahaadeuhh.. :p

Komodo sendiri merupakan hewan berjenis reptil purba yang kini terancam punah. Oleh karena itu, Taman Nasional Komodo dibangun untuk menjaga habitat asli, meneliti, dan melindungi komodo dari kepunahan. Saat kami ke sana, ranger (sebutan untuk guide di TN Komodo) mengatakan total tersisa dua ribuan komodo tersebar di area TN Komodo, terutama di hutan hujan, area savanna, dan di pinggir pantai. Komodo adalah hewan karnivora atau pemakan daging, termasuk bangkai binatang yang sudah mati. Umumnya mereka hanya memakan sesama hewan pula, tapi kalau ia sangat lapar atau ada kondisi yang menyebabkannya menjadi lebih agresif, ia bisa pula menyerang manusia. Jangankan pengunjung atau peneliti, komodo pun beberapa kali menyerang sejumlah ranger.

file000364Si Kolor Ijo lagi bermales-malesan di walking track. Komodo satu ini diberi tanda cat hijau di tubuhnya karena sudah menyerang korban dalam beberapa waktu terakhir, salah satunya ranger di TN Komodo sendiri 😥 Itu penampakan Bendi, guide kami.

file000358See that monkeys? Itu hewan makanannya si komodo. Mereka dan juga hewan-hewan hutan lain seperti ular, babi hutan, burung, dll dibiarkan hidup bebas untuk (secara bebas pula) dimangsa oleh komodo. TN Komodo memang tidak secara khusus memberikan santapan secara rutin kepada komodo, katanya mah biar gak ngemanjain komodonya. Ntar makin males nih hewan disuapin makanan, jadi memang dikondisikan senatural mungkin di habitatnya. So, kalau lapar mau makan, buru sendiri mangsanya, berantem rebutan dulu antar sesama komodo.

file000368Salah satu komodo lagi “bersantai” di depan guest house. Pintu itu harus selalu tertutup, pintu kamar, pintu dapur, pintu kantor TNK.. Ya agar komodo gak nyelonong masuk. Bahaya!!

Komodo ini hewan pemalas, kata ranger kami. Setiap hari hanya tidur-tiduran saja, slow moving. Tapi, kita manusia harus terus waspada pada setiap komodo yang kami temui. Memang terlihat sangat malas, tapi bisa jadi ia sedang berkonsentrasi mengincar mangsanya. Kelihatannya anteng ga bergerak, dalam sekejap tau-tau bisa berlari mengejar mangsa. Uniknya, komodo menggunakan lidah untuk mencium bau, hingga jarak 5 kilo. Dan di lidahnya itu berlumur air liur dengan segambreng bakteri yang mematikan. Jadi kalau kena gigit, bukan robekannya yang mematikan, melainkan bakteri yang terkandung di air liurnya yang bikin mati. Gila emang nih hewan purba satu! Gokils!

IMG_0645_OKBeberapa sisa santapan komodo

Untuk para perempuan, please note, jangan kemari saat lagi haid. Kalaupun pas kebetulan lagi haid, stay ajah di kapal ya! Ya sayang sih, udah jauh-jauh ke Flores tapi ga ketemu Komodo, tapi lebih sayang nyawa kan yah?! Hehehe… Kalau masih sempat, coba pergi ke apotek beli obat untuk memperlambat datangnya haid. Kebetulan reptil purba satu ini cukup sensitif dan bisa jadi agresif kalau mencium bau darah.

file000342Jalan setapak menuju kantor TNK dan walking track TNK

IMG_7416Ibu calon menteri foto dulu depan kantor TNK :p

Turun di dermaga, kami disambut seorang guide lokal TN Komodo untuk mengikuti jalan setapak menuju kantor TNK. Setelah melapor di kantor TNK, kami melanjutkan trekking ditemani oleh seorang ranger. Ia membawa kami ke sebuah papan berisi peta Loh Buaya dan lima pilihan jalur trekking (2 short trekking, 2 medium trekking, dan 1 long trekking). Selain meminta kami untuk memilih jalur trekking yang ingin kami lewati, ranger juga memberikan brief singkat mengenai Dos and Donts selama berada di kawasan Loh Buaya ini. Sebagian dari kami memilih jalur trekking paling pendek (karena masih berasa capek trekking tiga jam pagi hari tadi).

file000354Ini ranger kami (saya lupa namanya -__-*) lagi ngasih brief singkat soal lima pilihan jalur trekking yang bisa dilalui.

???????????????????????????????Kami yang banyak nanya ini itu dan bapak ranger yang gak lelah ngasih brief singkat DOs and DONTs selama di area TNK ini.

Di area ini pula, terdapat cafetaria, dapur, dan guest house. Belum jalan trekking, kami sudah bertemu sekumpulan komodo sedang bermalas-malasan di bawah dapur. Ya, aroma masakan tak hanya menggoda hidung manusia, komodo pun betah berada di dekat area dapur. Bagi yang juga malas ikut trekking, bisa stay nunggu di cafetaria sambil menonton sekumpulan komodo di dekat area dapur. Tapi jangan berharap banyak di cafetarianya karena hanya menjual snack ringan, minuman kemasan, mie instant kemasan (tidak bisa sekalian dimasakin), juga beberapa aksesoris buah tangan seperti kaos, stiker, gantungan kunci, boneka ala TN Komodo. Kalau tujuan utama kemari hanya mau lihat komodo saja sih ya sudah terpenuhi nih tanpa trekking yang short trek pun.

file000374Ini dapur. Lihat apa yang lagi gegoleran bermalas-malasan di bawahnya!!

file000430Ini si Kolor Ijo, lihat tanda di badannya. Kecil amatan yak, tapi ya mungkin nandain gitu aja juga susah bin ngeri sik.. Hiii…

Rombongan kami pun mulai berjalan. Baru seratusan meter berjalan, kami sudah tiba area liang telur komodo. Pada spot ini, komodo betina menyimpan dan menetaskan telur-telurnya. Musim menikah bagi komodo hanya setahun sekali. Komodo adalah hewan yang setia, tidak suka berganti-ganti pasangan, kecuali pasangannya mati dimangsa komodo lain ia cenderung tak berganti pasangan. Setia, sekaligus jahat juga. Jika sedang lapar dan ga ada mangsa, telur-telur komodo saat menetas bisa langsung disantapnya. Eeerrgghh! Kejam!

file000393Salah satu liang penyimpanan dan penetasan telur Komodo. Kata ranger, pada saat kami ke sana, bukan di masa kawin dan nyimpen telur jadi itu liangnya juga kosong. Bikin liang ini juga tidak mudah bagi Komodo, mereka mesti rebutan ama hewan lain dan juga dengan sesama komodo. Arti “rebutan” bagi komodo itu ya bertarung nyawa, yang survive tetap hidup lah yang akan dapet hal yang direbutkan (liang telur, komodo betina, mangsa, dll).

file000452Salah satu anak komodo usia di bawah satu tahun lagi asik tiduran di atas pohon. Ini kami temukan di pohon tepat depan kafetaria.

Anak komodo yang baru bertelur secara otodidak belajar memanjat pohon untuk survival, menghindari komodo-komodo dewasa lapar yang bisa memangsanya. Selama baru menetas hingga usia dua tahun, anak-anak komodo akan langsung terpisah dari orangtuanya dan survive sendiri di atas pohon.

file000420file000396Aslik deh, ngeliat mereka ini jalan-jalan, ngerinya setengah matik! Gak kebayang mereka lari. Duh, bisa pingsan di tempat kali gw.. hehehe..

Kalau suatu hari ketemu komodo dengan perut menggembung lagi asik tidur-tiduran di bawah matahari yang lagi menyengat, kemungkinan besar dia lagi “masak”. What? Gimana maksudnya? Kalau manusia mau makan daging kan biasanya dimasak dulu yaah di kompor. Kalau komodo masaknya saat itu daging udah ada di dalam perutnya. Agar dapat dicerna lebih baik, ia akan mencari tempat yang panas dan tidur-tiduran di sana. Komodo mah ga setiap hari makan, jadi makanannya disimpan dan dicerna secara bertahap di dalam lambungnya.

IMG_7482Lihat muke saya, super ngeriii…. 😀

IMG_7500Saya dan beberapa teman rasanya sudah puas berjalan sampai di liang bertelurnya komodo. So, kami berjalan balik ke arah dapur untuk motret komodo di sana. Sementara itu, lima dari kami meneruskan trekkingnya. Bravooo kakak Setian, Tasya, Siska, Felona, dan Anita!! Mereka berhasil menyelesaikan short trekking full dan menemukan view yang luar biasa di atas bukit Loh Buaya! Very recommended untuk menyelesaikan full track (mau yang pendek, medium, maupun yang panjang).

IMG_0700_OKView dari atas bukit Loh BuayaIMG_0713_OKMereka yang berhasil menyelesaikan short track.. Wooohoooo!!

Untuk berfoto bersama komodo diperlukan keberanian tingkat tinggi. Saya sendiri hanya berani paling dekat sampai radius dua meter, hohoho… Bulu kuduk berdiri mulu, apalagi kalau komodonya lagi berjalan atau menatap tajam ke arah kita, hii… Terima kasih untuk Bendi, our guide, yang mau bantu foto-fotoin komodo dalam jarak yang lebih dekat lagi.

IMG_0656_OKLama kelamaan, berani juga foto dari jarak segini… Thanks Bendi! 😀

???????????????????????????????

Sampai jumpaaa lagii, Komodos…

*Some photos courtesy of Tasya, Anita, and Mas Dito.

#FloresTrip: Trekking di Pulau Gili Lawa Darat

25 Mei 2014. Ini malam pertama kami tinggal di kapal, bermalam di area Gili Lawa. Kami terbangun sedari subuh untuk menikmati permadani taburan bintang di atas sana. Beberapa dari kami memilih tiduran di atas dek kapal. Itu lukisan malam paling indah yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya kala itu. Puas memandangi langit hingga berganti gelap ke terangnya mentari terbit, kami pun bergegas menyantap sarapan pagi kami dan bersiap untuk trekking di Pulau Gili Lawa Darat.

Kawasan Gili Lawa ini merupakan pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Komodo. Selain bisa dicapai dari Labuan Bajo seperti yang kami lakukan, bisa pula berlayar melalui jalur laut dari Lombok. Gili Lawa ada dua bagian, Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Biasanya kapal-kapal yang mau berlayar ke TN Komodo bermalam di kawasan Gili Lawa ini agar tidak terkena angin malam dan arus lautnya cenderung lebih tenang.

Kapal LOB kamiIni kapal LOB kami selama 4D3N

Pukul 06.30 WIB, kapal kami pun bersauh, kami turun membawa perlengkapan trekking seadanya. Iya, seadanya aja, trekking mah gak perlu ribet bawa yang gak perlu: Alat dokumentasi, air minum, dan cemilan secukupnya (durasi trekking PP 2-3 jam). Wong dari trip agent-nya juga kurang detail menginformasikan mengenai medannya, jadi ya bener-bener seadanya ala orang kota banget. Memang medannya tidak berat tapi mungkin perlu ada penjelasan lebih detail agar, paling tidak, wisatawan tidak salah menggunakan alas kaki.

Pulau Gili Lawa DaratPulau Gili Lawa Darat (Kalau lihat begini, bukit savana yang landai kayaknya medannya gancil yah… aslinya maahh…. -____-“)

Medan trekking di Pulau Gili Lawa Darat ini cukup curam dan berbatu tajam. Perlu kesadaran diri yang tinggi untuk menilai kesanggupan diri naik ke atas sana. Tentunya kami naik pun didampingi guide kami, Mas Bendi. Ya tapi emang hanya bersama Bendi aja, sementara kami bersebelas. Bersebelas dengan kondisi fisik dan pengalaman yang beda-beda. Ada yang sudah terbiasa naik gunung, melakukan trekking, ada pula yang baru pertama kali. Ya, saya ini salah satunya! Iya, ini baru pertama kalinya banget! Karena tidak ada pengalaman sebelumnya, tidak ada bayangan pun mengenai medannya (Gaess, kalau sekedar lihat gambar di Google mah kayaknya gampang, landai aman gitu).

Setengah jam pertama mendaki, Belona memutuskan menunggu di bawah saja sementara ada satu orang yang terus melaju bersama guide kami. Iya, dari kami bersebelas, hanya Setian lah yang sudah pernah naik gunung, jadi sekedar trekking di bukit saja mungkin tidak sulit untuknya. Kami mempersilahkannya untuk terus melaju dan melaporkan pada kami pemandangan dari atas sana. Belasan menit kemudian, Siska dan Tasya memutuskan untuk tidak melanjutkan dan kembali turun.

IMG_4924Bersebelas, masih lengkap! Sampai di titik ini saja sebenarnya sudah bisa dapet view mainstream berfoto di Gili Lawa Darat 😉

Sebenarnya, untuk mendapatkan view populer Pulau Gili Lawa Darat tidak perlu hingga sampai ke puncaknya. Tapi namanya sudah jauh jauh sampai ke pulau ini, kalau tidak diusahakan semaksimal mungkin koq ya sayang gitu, hehehe.. Maka, kami yang bertujuh: Saya, Anita, Felona, Wiri, Jessica, Fidia, Dito pun terus melaju.

file000090

Kalo balik badan, foto di atas ini adalah view sebelah kanan. Sementara, foto di bawah ini adalah view samping kiri (yang bisa dinikmati sambil trekking naik, tengok sebelah kanan…). Kalau kata anak jaman sekarang, PETJAAAAHHH, Meeennn!!! <3<3<3file000087

Meski banyak berhenti untuk istirahat ambil napas dan foto-foto, kami persisten terus naik. Medan makin curam dengan bebatuan yang makin tajam, makin seringpula kami terperosok terpeleset terjatuh tertatih, kami terus melaju tanpa guide. Kebetulan Bendi, guide kami, sudah duluan sampai di atas sana bersama Setian. Saya berada di barisan paling depan, berjalan pelan-pelan, nyaris merangkak sanking curamnya, pandangan mata terus ke depan mencari jalan ke atas. Dalam hati terus bergumam, “Come on, don’t give up, dikit lagi sampaaii..” Hingga tiba di satu titik terlintas di pikiran “Ntar turunnya gimana ya, naiknya aja begini?”, saat itulah saya refleks menoleh ke belakang. Saya terhenyak terduduk, kaki gemeter, (katanya Anita yang tepat berada di belakang saya) muka pucat pasi. Mencoba terus tenang dan mencari pijakan dan pegangan pada bebatuan yang ajeg. Seketika itu pula, Anita refleks juga menoleh ke belakang dan bereaksi yang kurang lebih sama seperti saya, shock dengan ketinggian dan kecuraman yang sudah kami lalui dan jadi ngeri sendiri.

“Gimana nih? Lanjut ga?”, saya meragu, karena udah tinggal sedikit lagi sampai puncak bukit tapi treknya makin curam dan tajam.

“Eerr… Gw sampai sini aja deh..”, ujar yang lain.

Kami pun mencari pijakan yang agak landai dan berfoto bersama. Yeaah, we are the mid-trekking team!! We did it!! Bangga!

IMG_4968Bertujuh! Kami tim middle tracking!! Ini fotonya sambil deg-degan jaga keseimbangan… Megang Tongsis GoPro-nya aja mesti dua orang, hahaha…

Kalau naiknya kami setengah jongkok merangkak, maka turunnya pun kami sambil duduk memerosotkan diri. Sebenarnya bisa sih sambil berdiri tapi alas kaki kami tidak memungkinkan, terlalu bahaya. Metode paling aman menggunakan pantat sendiri, hahaha.. Meski tidak sampai atas dan melihat view di balik bukit ini dengan mata kepala sendiri, kami mesti cukup puas dengan pencapaian kami, anak-anak kota yang ga pernah trekking dengan alas kaki yang mungkin kurang proper. Tiba di kapal, nasi goreng telah menanti kami… Yeaaayyy!!

Ternyata Setian sampai kapal lebih dahulu, karena ia dan Bendi melalui jalur trekking lain yang lebih landai. Aah, lesson learned banget nih: Kalau ingin sampai puncak, ga perlu lah nengok-nengok ke belakang, jadinya malah ngeri sendiri dan kembali dikuasai ketakutan-ketakutan. Soal nanti turunnya gimana ya bisa dipikirkan lagi nanti, hihihi.. 😀

Main di Pasar ala Pasar Santa

Ini kali kedua saya ke Pasar Santa di Jakarta Selatan. Kira-kira setahun lalu, saat saya masih aktif olahraga lucu di rumah teman yang berlokasi di dekat Pasar Santa, sesekali saya dan teman-teman makan malam di Sate Padang Ajo Ramon Pasar Santa. Di kali kedua ini, saya dan beberapa sepupu saya tak hanya main di pelataran parkirnya saja. Tapi juga sampai masuk bangunan pasarnya, tepatnya di lantai dua, tempat yang kini jadi salah satu spot gaul yang ngehits di Jakarta. Terutama di akhir pekan, karena mayoritas pedagang di lantai dua ini juga adalah pekerja kantoran, sehingga hanya buka tokonya di akhir pekan saja. Sebagian juga buka dari hari Kamis-Minggu.

Yes! Di Pasar Santa lantai 2, gerai-gerai kecil dipenuhi oleh usaha jualannya anak muda ibukota. Dagangan dari mulai kuliner, vinyl, hingga jasa potong rambut ada di lantai dua ini. Lokasi khas pasar yang dengan sentuhan kekinian sekarang menjadi lebih nyaman untuk dikunjungi. Gak ada kesan sumpek meski selalu ramai di beberapa titik, karena langit-langit yang cukup tinggi.

Berbekal hasil browsing di Instagram @pasarsanta, kami pun bergerilya mencari gerai-gerai “must visit!” ala kami. Baru saja masuk pasar,kami menemukan satu gerai pakaian “Senangsenang” batik yang cukup menarik kami untuk mampir. Keluar dari gerai tersebut, saya sudah menenteng satu paperbag berisi satu helai baju batik mursidah. 50k saja untuk satu tanktop batik. Oh I love shopping in traditional market :*
image

Naik ke lantai dua, kami langsung dihadapkan dengan satu gerai hotdog DOC! Dengan antreannya yang super panjang. Berhadapan dengan gerai DOC adalah CENDUR BAR. Ah, gerai dengan jualan utama duren dan cendol ini juga gak kalah panjang antreannya!
image

Kami memilih untuk masuk ke lorong-lorong untuk mencari gerai lainnya yang gak ngantre, hehehe…
image

Our first stop was JUDAS BAR! Menu Nutella Fiesta dan bentuk botol minuman yang dipajang di etalasenya menarik perhatian kami. Salah satu sepupu saya pun memesan minuman Nutella Fiesta. Ini penampakannya… 🙂 Rasanyaa quite same with Nutella Blast ala D’Journal, ini versi lebih murahnya.
image

Kemudian kami berkeliling lagi dan berhenti di Zucker Waffle. Lucky us, we got the last waffle before sold out. Yeaaayy!! Meski demikian, kami harus menunggu sekitar dua puluhan menit hingga pesanan kami siap disantap. Buat orang dengan ukuran lambung yang kecil, makanan yang mestinya masuk dalam kategori cemilan untuk orang Indonesia ini ngenyangin bangets, gaes!
image

Sambil menunggu, saya berkeliling dan mampir ke gerainya POST yang lagi bikin pameran BERSENDIRI, Berani Jalan Sendiri. Entah kenapa rada terharu saat ada di dalam gerai yang satu ini. Beberapa kali, saya traveling ke tempat-tempat baru sendirian. Mayoritas untuk urusan kerjaan sih, tapi kerjaan saya emang harus eksplorasi kan. Kalo orang lain, bawa buku bacaan saat bersendiri, saya justru sibuk mencari market insight saat mesti terjun turun lapangan ke daerah. Ah ya, Saya dapat satu postcardnya. Keren yah!
image

Kemudian kami beranjak ke MOMMADON untuk membeli Cake Milk Bath atau Butterscotch Cheese-nya yang kabarnya sih juara banget. Tapi sayangnya sudah sold out. Mbak-mbak cantik penjaga tokonya bilang kedua menu itu biasanya sold out dalam waktu satu-dua jam setelah toko buka. So, saya hanya kebagian Pannacota Banana. Endess dan unik rasanya 🙂
image

image

Setelah menghabiskan satu waffle Zucker, kami menanti dibukanya toko ROTI ENENG. Yaps, mereka memang baru buka toko rada sore jam 16.30 gitu. Saya cobain es coklat garam laut dan roti tawarnya. Sebenernya penasaran banget ama Nutella Mozarella-nya, tapi karena kekenyangan makan Waffle, saya pun mengurungkan lapernya sang mata. Next time harus coba sik! Es coklat garam lautnya rasanya unik, untuk yang suka ama rasa yang gak biasa-biasa saja, must try deh nih menu, Manis coklat nan asin! Roti tawarnya juga enak, roti tawar jaman dulu gitu. Saya taro di rumah, ga sampe satu hari sudah habis. Padahal biasanya dengan roti tawar bermerek, baru habis setelah dua-tiga hari. Mereka mengaku membuat sendiri segala roti tawar, selai, dan minuman yang dijual di toko ini, all home-made! Very recommended!
image

Sama halnya dengan gerai lainnya, Roti Eneng ini juga lumayan lama nunggu pesanan kami karena ramai. Saya pun kembali berjalan-jalan untuk ngisi waktu. Pas lewat CENDUR BAR, pas lagi ga gitu panjang antreannya. Saya pun bergegas masuk antrean, gak sampai lima menit sudah melakukan pemesanan, satu porsi Es Duren Cendol Ovomaltine yang dibanderol dengan harga 34k. Agak pricey sih tapi pas disantap…. Rasanya cukup sepadan dengan harganya! Durennya, cendolnya, ovomaltine-nya.. luar biasa! Enak banget, men! Pasti bakal beli lagi next time saya kemari!! Hehehe…
image

Sepupu saya juga menyantap Ice Lychee BBOKOGI yang rasanya mirip es serut dikasih potongan buah leci dan ice cream vanila plus corn-nya. Sepupu saya yang lain juga memesan seporsi mie ayam di MIE.CHINO yang katanya sih rasa mienya lebih kenyal dan ayamnya mirip dengan teriyaki. Unik!
image

image

image

Tampaknya “sell with an unique way” menjadi strategi mainstream yang digunakan enterpreneur kaula muda di Pasar Santa ini. Wajar sih, anak muda memang baru berasa keren kalo bisa membuat dan mencoba hal-hal yang gak mainstream (meski lalu diikuti banyak orang, ujung-ujungnya jadi mainstream, hehehe..). Wisata kuliner kami di Pasar Santa kali ini ditutup dengan makan malam di Sate Padang Ajo Ramon yang lokasinya berada di pelataran parkir samping Pasar Santa ini.
image

Di sela lorong tadi, saya juga ketemu sama kucing Pasar Santa yang lagi asik tidur tiduran sementara orang berlalu lalang. Ah lucu sekali dia!
image

Mesti banget balik lagi untuk wisata kuliner di sini sih, karena masih banyak gerai-gerai yang belum sempat dicoba karena panjangnya antrean, sold out, dan penuhnya area lambung kami, hehehe..

Tips trekking di Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau (GAK) adalah bukit ketiga yang pernah saya daki. Tips ini saya tujukan khususnya untuk anak kota yang mungkin gak/belum pernah melakukan pendakian/trekking ringan.

IMG_9354

GAK ini medannya penuh dengan pasir dan bebatuan bekas lahar panas dan lahar dingin. Jadi kalau mau trekking ke sana dengan nyaman, ada beberapa tips seperti di bawah ini:

Pakailah sepatu gunung yang tertutup. Kalo adanya sendal gunung, bisa diakalin dengan menggunakan kaos kaki yang agak tebal. Jangan menggunakan sendal jepit atau sendal/sepatu cantik jika tak mau sendal/sepatunya rusak. Saat melangkah naik/turun, kaki kamu akan rada tenggelam dalam pasir, so kalo gak pake yang tertutup maka pasir dan bebatuan kecil akan mudah masuk ke alas kaki kamu dan membuat langkah menjadi kurang nyaman. Kalo udah rada siang, pasirnya akan cepat panas. Kalau gak pake alas kaki yang gak tebal/tertup maka kita bisa merasakan panasnya pasir vulkanik, hiiii.. Saat saya kesana, saya mengenakan sendal gunung seperti di bawah ini. Rada salah, mestinya pake kaos kaki tebal juga, biar pasir dan bebatuan kecil gak mudah masuk ke telapak kaki.
image

Bawalah masker penutup hidung dan mulut. Saat melangkah akan membuat pasir sangat halus beterbangan. Bayangin yang melangkah itu ada belasan, puluhan, bahkan ratusan orang di dekat kamu.
IMG_9347

Bawalah air minum dan cemilan. Di pulau dan Gunung Anak Krakatau ini ga ada orang jualan makanan, jadi mesti bawa sendiri. Biasanya tourguide bakalan bawain sarapan juga sih tapi makannya ga di atas puncak, melainkan di pantai.

IMG_9337

Be careful. Meski landai tapi pasir dan bebatuannya kurang ajeg. Jadi mesti hati hati banget, terutama saat mau foto foto. Terlalu fokus dengan gaya di kamera, jadi kurang waspada dengan pijakan bisa bahaya juga lho. Terus saling mengingatkan antar anggota tim seperjalanan.

Gunakan pakaian yang nyaman dan gak ribet. Jangan bawa hal-hal yang bikin ribet. Serius deh. Trekkingnya aja mungkin akan bikin kamu ribet, jadi jangan makin nyusahin diri sendiri (apalagi orang lain) dengan bawaan kamu yang super ribet. Hohoho…

Jangan buang sampah di sembarang tempat!
image

Mulailah pendakian dengan hati senang riang gembira! Ini akan menjadi salah satu perjalanan indah… 🙂

Happy traveling! 😀

Menanjak pasir di Gunung Anak Krakatau

Biasanya orang trekking ke Gunung Anak Krakatau (GAK) untuk menyongsong mentari terbit. Saya dan teman-teman gak mau ketinggalan aksi mainstream ini tentunya. Pukul 3 pagi kami bertolak dari Pulau Sebesi (satu satunya pulau di sana yang ada penduduknya, homestaynya traveler) menuju Gunung Anak Krakatau. Durasi perjalanan sekitar 2 jam. Pukul 5 pagi kapal kami berlabuh di sana. Buat kamu kamu yang mau kesana, bawalah kudapan dan air minum karena di sana gak ada kang jualan. Biasanya sih travel agent kita bakalan bawain makanan sarapan tapi dikasihnya pas setelah kita turun gunung.
image

Jam stengah 6 saya dan sebagian teman memulai pendakian. Iya, kami rada telat karena ngantri ke toilet dulu. So guys, sebaiknya paksain ke toilet saat masih di homestay sebelum berangkat. Saat kapal berlabuh di GAK, barulah minum air atau selama di perjalanan naik ke atas, biar gak ketinggalan kayak saya gini, hehehe…

Ini Pertama kalinya trekking dengan medan berpasir mulai dari pantai sampai ke puncak, full pasir!!
image

Medan yang lebih landai daripada saat trekking di pulau Padar Flores NTT yang penuh bebatuan terjal, tapi butiran pasir membuat langkah menjadi sangat berat! Sempet kepikir untuk ga ikutin jalur berpasir melainkan lewat jalur yang banyak bebatuannya, tapi gagal karena bebatuannya pun gak ajeg, diinjek malah lepas jatuh, makin berat. Bebatuan kecil dan pasir sering banget masuk ke sendal saya, bikin telapak kaki sakit.. Amat sangat disarankan untuk pake sepatu tertutup atau pake kaos kaki saat melakukan trekking di sana, biar pasir dan bebatuan kecil gak menghambat jalan atau bahkan mencederai telapak kaki.

IMG_9297

Saat sebagian teman udah sampe atas dan beberapa teman masih di bawah, saya terus bergumam nyemangatin diri sendiri, “little step, one by one, watch your step, watch your step, keep going, you will be there…”
image

Meeeen, langkah langkah besar saya hanya menghasilkan pergerakan kecil, ini sih dibutuhkan persistensi dengan endurance yg tinggi. Hal itu yang sepertinya lagi absen di diri saya saat itu, rasanya. Kayaknya extroversion saya lah yang mendorong saya hingga sampai atas!! Iya, kebutuhan untuk ketemu teman-teman saya yang sudah terlebih dulu tiba di atas menyemangati saya saat persistensi untuk terus berusaha lagi absen entah kemana, hehehe…. 😁😁
image

Pas lihat ke belakang, kaget juga. Meh! Udah sejauh ini saya menanjak. Malah jadi makin semangat untuk terus berjalan.
Dan finally! Tiba juga saya di atas. Sayangnya, mentari sudah keburu naik. Ah, yasudahlah.. Masih untung dapet sunrise di tengah perjalanan trekking tadi 🙂

IMG_9305
image

image

IMG_9325

Saya dan teman-teman pun berfoto dengan latar belakang puncak kawah Gunung Anak Krakatau. Kami memang hanya diperkenankan sampai ke ring dua kawah saja. Ah sampai situ aja susahnya pake banget, hehehe.. Boleh saja naik lagi hingga ring satu kawah tapi makin naik makin panas pasirnya dan makin tajam bebatuannya. Tapi jika sedang meletup letup biasanya sih ga dibolehin oleh penjaga ataupun tourguide kita.
image

Perjalanan turunnya lebih mudah dengan langkah yang lebih lebar lebar dan lebih cepat tapi dengan ditemani debu debu pasir. Sebaiknya memang pake masker nih, terutama yang punya masalah pernapasan.
image

Tiba di pinggir pantai, tour guide sudah menanti bersama tumpukan box makanan. Whoaaaa sarapaaannn!! Dengan porsi yang lumayan banyak untuk ukuran saya, kirain bakalan makan satu box berdua ama teman, ternyata saya bisa menghabiskannya sendiri, hehehe.. Ngabisin banyak energi banget tuh yah trekking 3 jam di Gunung Anak Krakatau.

IMG_9229

#KrakatoaTrip
#GunungAnakKrakatau

Candi Prambanan, penolakan cinta a la Loro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Laki-laki jaman sekarang mesti bersyukur karena syarat cinta diterima tak serumit yang dialami laki-laki di zaman kerajaan dulu kala. Raden Bandung Bondowoso misalnya. Ia diminta membuat 1000 candi dalam waktu satu malam sebagai syarat cintanya diterima oleh Loro Jonggrang. Bandung Bondowoso nyaris berhasil jika saja Loro Jonggrang (yang sebenarnya ingin menolak cinta Bandung Bondowoso) tidak merekayasa waktu seakan sudah pagi. Bandung Bondowoso yang merasa dikelabui (dan yang terpenting, cintanya ditolak) pun marah dan mengutuk Loro Jonggrang menjadi Arca.

image

Candi Prambanan, atau yang sering juga disebut sebagai Candi Loro Jonggrang, konon adalah mahakarya cinta sang Bandung Bondowoso. Legenda asal muasal Candi Prambanan ini masih diceritakan hingga saat ini. Meski cerita aslinya mungkin ya tidak seperti ini, tentunya.

Candi Prambanan yang dibangun sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur merupakan candi Hindu termegah yang pernah dibangun di Jawa Kuno.
image

Pada Mei 2006 terjadi gempa bumi skala 5,9 SR di daerah Bantul dan sekitarnya. Kawasan Candi Prambanan pun telak terkena dampaknya. Banyak bangunan candi yang rusak parah terutama Candi Brahma.
Hingga akhir Desember 2014 lalu, kawasan candi masih dalam proses pemugaran. Namun demikian, kawasan wisata ini tetap dibuka untuk umum. Ada satu monumen kecil di dalam zona inti sebagai penanda dahsyatnya gempa bumi tersebut.

Kalau berkunjung di sana, jangan nanya “yang mana Candi Prambanan-nya?” yaaa… Awalnya saya juga bertanya-tanya demikian. Ternyataaaa, Prambanan adalah nama desa lokasi kompleks candi Hindu terbesar ini dibangun. Hadeeeeh..
image

Aslinya nih, ada total 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan tersebut. Tapi saat ini hanya tersisa 18 candi. Delapan candi utama yang terdiri dari tiga candi Trimurti (candi Siwa, Wishnu, dan Brahma), tiga candi Wahana (candi Nandi, Garuda, dan Angsa), dan dua candi Apit (terletak di antara Trimurti dan Wahana). Delapan candi kecil di zona inti yang terdiri dari : empat candi Kelir (di setiap empat penjuru mata angin) dan empat candi patok (di setiap ujung sudut halaman dalam zona inti). Dulu ada 224 candi Perwara yang letaknya di luar zona inti. Tapi sekarang, baru dua candi perwara yang sudah selesai dipugar. Sementara ratusan candi perwara lainnya hanya bertumpuk berserakan mengelilingi zona inti.
image

Naik lah ke area candi utama! Pengunjung diperkenankan naik hingga ruangan terdalam. Di sana ada arca (yang dipercaya sebagai) Loro Djonggrang. Namun di ruang utama tersebut sangatlah gelap dan sejuk. Sejuk ini efek dari dikelilingin bebatuan dan tanpa cahaya, saya rasa.
Memang ada beberapa spot yang ditutup karena alasan keamanan. Karena proses pemugaran dan identifikasi kerusakan belum rampung hingga saat ini. Di depan masing-masing candi utama, terdapat papan informasi yang berisi QR code. Yes, if you wanna know further, you can scan it with your mobile. Simple, paperless!
image

Selain berjalan-jalan di area Candi Prambanan, pengunjung juga bisa menonton pagelaran sendratari Ramayana. Tapi mesti cek jadwalnya terlebih dahulu sebelum berkunjung ke Yogya karena tidak setiap hari ada pementasan. Best view-nya saat pagelaran diadakan di outdoor, yakni saat musim panas, karena kita bisa menonton sendratari dengan berlatarkan Candi Prambanan di malam hari.
image

Bertandang ke Karaton Solo Surakarta Hadiningrat

Perjalanan saya mengunjungi Karaton Surakarta Hadiningrat agak terhambat karena insiden kebakaran di Pasar Klewer. Beberapa jalan menuju Karaton ditutup agar tidak menghalangi akses petugas pemadam dan pihak terkaitke Pasar Klewer. Lokasi kebakaran memang masih dalam area kekaratonan. Luas memang.

Naik taksi maupun naik becak, sang pengemudi tak mahal memberikan berbagai macam informasi mengenai area kekaratonan ini. Dari mulai masuk area pemukiman warga. Beberapa rumah dalam satu area yang dibatasi dengan satu pintu besar sebagai pintu masuk. Mungkin ibarat satu RT gitu kali yah.

Awalnya saat melewati satu jalanan yang kanan kiri tembok putih besar, terdapat beberapa pintu layu besar yang tertutup. Saya pikir, wah besar sekali rumah rumah di daerah dekat karaton, pintunya saja sebesar ini, tapi kenapa gak ada jendelanya ya? Tembok saja dengan satu pintu besar.

Ketika melewati beberapa pintu besar yang kebetulan terbuka, ternyata di dalamnya terdapat jalanan lagi dengan sejumlah rumah rumah penduduk. Oalaah, pintu pintu besar ini semacam cluster mini tooh..

Supir taksi menurunkan saya di depan loket pembelian tiket masuk di area belakang karaton. Tk jauh dari loket tiket, ada pintu besar tertutup yang di depannya dijaga oleh dua orang abdi dalem (bener gak sih namanya abdi dalem?!). Beberapa wisatawan bergantian berfoto di depan pintu besar tersebut bersama kedua abdi dalem.

20150107-163014.jpg

Di bagian depan pintu masuk area Karaton dan Museum Karaton, ada patung besar Sultan Hamengkubuwono X yang juga ramai dijadikan spot foto oleh wisatawan.

Memasuki area karaton yang berupa halaman dan pendopo, ada beberapa peraturan yang mesti dipatuhi. Tidak boleh mengenakan kacamata hitam, tidak boleh mengenakan topi, berpakaian sopan, dan mengenakan sepatu. Okeh, meski panas banget, topi kipas beserta sunglasses saya ini mesti masuk ke tas dulu. Untungnya udah browsing sebelum kemari, jadi pas make celana panjang dan kaos berlengan serta sneaker.

Tapi tenang aja, untuk yang mengenakan celana/rok pendek, akan dipinjamkan kain batik (seperti saat mengunjungi Pura Besakih di Bali). Untuk yang mengenakan sendal, maka sendal harus dititipkan dan masuk area karaton tanpa alas kaki alias nyeker!!

Sebagai orang Jawa (yang lahir, tumbuh besar di Jakarta), saya memahami aturan ini. Apalagi Solo yang masih menjunjung tinggi nilai kesopanan. Berpakaian itu ya mesti tertutup sampai ke mata kaki. Untuk alas kaki, sandal dianggap sebagai alas kaki yang dikenakan di dalam rumah dan saat le toilet, sehingga tidak diperkenankan masuk ke area karaton yang dianggap suci. Topi dan kacamata? Ah, nanti juga tau kenapa 🙂

image

Ini area halaman dan pendopo karaton. Satu satunya area yang diperbolehkan untuk dimasuki oleh wisatawan. Halaman yang sangat rindang meski pohon pohonnya memiliki daun jarang jarang. Suasananya adem dan sejuk. Padahal sebelum memasuki area ini, yang juga outdoor, rasanya mentari dan hawanya sangat panas! You dont even need hat and or sunglasses here..

image

Puas berfoto dan berkeliling, saya pun beranjak ke area museum karaton. Beberapa benda pusaka seperti kereta kencana, periuk nasi, dan lainnya dipamerkan di sana. Entah asli atau replika tapi hawa di area museum rasanya kental nuansa kleniknya, meski tidak ada kesan menyeramkan ya.

image

Keluar dari area museum, saya dihampiri satu tukang becak, ditawari diantar berkeliling area kekaratonan Surakarta ini. Herannya, meski banyak abang becak tapi yang menghampiri saya hanya satu orang saja. Respect others? Maybe.
image

Akhirnya saya meluluh, deal di angka Rp 20000 untuk sampai ke Kampung Kauman dengan melewati Pasar Klewer. Saya diantar ke pasar Klewer bagian belakang dan bagian depan. Ini bagian depan, meski sudah diberi police line, namun warga dan wisatawan tetap datang sekedar menonton, termasuk saya.

image

Tak jauh dari Pasar Klewer, adalah Masjid Agung Surakarta Hadiningrat. Si abang becak menawarkan diri untuk menunggu sementara saya masuk untuk mengabadikan momen. Saya hanya masuk hingga pekarangannya saja yang saat itu sangat ramai, bersamaan dengan jam sholat Dhuhur.

image

Setelah dari Masjid, kami pun langsung menuju kampung wisata batik Kauman. Abang becak, lagi lagi menawarkan diri menunggu. Ingat pengalaman sulitnya mnencari taksi, saya pun mengiyakan tanpa bernegosiasi harga. Yaudahlahyaaaa…

image

Saya pun keluar masuk beberapa showroom hingga 2,5 jam!!! Ya ampun, gak kerasa bangeets!! Hehehe… Akhirnya saya pun diantar abang becak yg sudah rela menunggu tanpa protes ke tempat teman saya memarkirkan mobilnya. Di perjalanan ia bertanya apakah saya berbelanja di showroom yang terakhir saya datangi. Rupanya, abang becak ataupun supir taksi yang mengantar pelanggan ke showroom tersebut dan terjadi pembelian, maka mereka berhak atas sekian persen rupiah dari total belanjaan si pelanggan. Sayangnya, si abang becak tak diberi uang sama sekali padahal belanjaan saya dan teman saya di sana lumayan, mencapai jutaan!

House of Raminten: resto gemulai khas Yogyakarta

Adalah Hamzah HS yang berperan sebagai Raminten dalam sebuah sitkom di Yogya TV. Ia kemudian membangun rumah makan House of Raminten ini di Yogyakarta, karena kecintaannya pada makanan dan minuman tradisional khas Yogyakarta seperti jamu dan sego kucing.

Menu yang ditawarkan merupakan menu makanan umum namun disajikan dengan berbeda.

Menu yang biasa ditemukan di angkringan pinggir jalan, naik kelas menjadi makanan restoran dengan harga yang kompetitif (baca: beda tipis). Kita bisa menemukan sego kucing yang harganya di bawah 5000IDR.

20150116-195530.jpg

Tapi, kamu perlu hati-hati dengan segala menu berembel-embel “Jumbo” karena benar-benar ukuran jumbo bangets!!

20150116-195639.jpg

Yang juga unik di House of Raminten ini adalah waiternya yang kabarnya adalah homoseksual. Ini WOW banget! Berapa banyak siih tempat usaha yang bisa open-minded mempekerjakan homoseksual (yang udah coming out)?!? Kalau ada perusahaan yang gembar gembor open minded dan ga bedain orang berdasarkan preferensi seksualnya, pasti tidak ada yang segembar gembor HoR ini yang malah menjadikan ini sebagai diferensiasinya. Pengunjung pun malah makin banyak, bukan jadi takut. Paradox marketing skali kan!

Packaging dari HoR ini pun juga menjadi daya tarik tersendiri. Ruangan resto didesain sedemikian rupa hingga kesan njowo sangat kental sekali. Dengan menggunakan ornamen ukiran-ukiran khas rumah Jawa, musik gamelan, wardrobe waiter yang menggunakan kain batik dan jarik, dan lainnya. Namun demikian, unsur modern pun tak ktinggalan disertakan. Di salah satu sudut terdapat TV LCD dengan channel internasional. House of Raminten beroperasi 24 jam dan masih sering kepenuhi pengunjung.

Nice place to visit nih 🙂

20150116-195918.jpg